Dia tampak bahagia sekali dengan rumah mewah berlantai dua dengan arsitektur Belanda itu, senyum di wajahnya, membuatku tidak bosan-bosannya memandang, ia tak pernah lagi berpaling dariku. Pengkhianatan cintanya padaku, telah dibayar lunas dan aku telah melupakannya. Dhea, kau adalah isteriku yang tercantik dan termanis sepanjang hidupku. Apapun keinginanmu, kupenuhi... Itu adalah tugas, kewajiban dan tanggung jawabku sebagai suami. Itulah impianku.
Masih ada satu tugas lagi yang harus diselesaikan. Jonas. CEO muda itu masih mengharapkan Dhea kembali bekerja untuknya. Tidak, ini harus diselesaikan, aku harus mengakhiri semuanya. Aku tak ingin ada orang lain merusak kebahagian kami, tak ingin ada orang lain menjamah dan memiliki isteriku. Selama Jonas masih berusaha mengembangkan sayapnya di Karang Dua ini, aku takkan bisa tenang. Aku harus memikirkan cara supaya dia segera angkat kaki, pergi sejauh mungkin. Dia tak boleh lagi melibatkan diri lebih dalam lagi dengan Dhea. Mungkin cara ini yang lebih tepat menurutku.
***
Jonas tersentak manakala aku memutuskan untuk membeli seluruh aset dan saham perusahaannya. Ia menganggap ku bercanda, mungkin sudah tahu latar belakang keluargaku yang melarat dari Dhea.
"Bung, sebutkan saja nilai nominal uang yang harus kubayar untukmu, jangan ragu-ragu," kataku sambil menatap tajam ke arahnya sementara buku cek dan pena telah kusiapkan untuk menulis.
Jonas ragu-ragu, bisa kulihat dari pancaran matanya. Aku kembali berkata, "Kau takut, aku tak mampu mengelola perusahaan ini karena aku berasal dari pemuda dusun yang tidak tahu apa-apa mengenai sistem perbankan ?"
"Bu ... Bukan begitu. Jangan salah paham, mas," kata Jonas salah tingkah.
"Kau enggan menyebutkannya ?" desakku.
Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Jonas benar-benar tidak mampu memutuskannya. Kesabaranku habis juga, kuserahkan buku cek dan pena itu kepada Jonas sambil berkata, "Bantu aku menulis jumlah nominalnya, bung... ? Kau bisa menuliskannya pada buku cek ini,"
"Mengapa kau memaksaku, mas ?" tanya Jonas. Aku tersenyum inilah yang kutunggu-tunggu.
"Baik," sahutku, "Kau ingin tahu yang sebenarnya. Maka kutegaskan sekarang saja. Aku tahu, kau masih menaruh harapan pada Dhea, isteriku, bukan ? Padahal dia sudah mengundurkan diri tempo hari,"
Sepasang mata Jonas terbelalak. Aku tidak peduli dan kembali melanjutkan perkataanku, "Aku melakukan ini semua... demi Dhea. Dulu, aku merasa bersalah karena banyak hal : tak mampu memberinya kebahagiaan, tak mampu memposisikan diriku sebagai suami yang baik. Lalu kau muncul, membujuknya dengan berbagai cara hingga kalian diam-diam menjalin hubungan gelap. Kau pikir, aku tidak tahu ? Aku rela menjadi alas kakinya, rela menjadi sampah dan diabaikan orang. Namun, aku tak menyerah begitu saja... Tekadku sudah bulat dan hingga perlahan tapi pasti, aku berhasil mengembalikan harga diriku. Bisa kau bayangkan bagaimana derita dan perjuanganku untuk mengembalikan jati diriku sebagai pria. Setelah Dhea mengundurkan diri, kau masih saja terus menghubungi dan memintanya untuk kembali ke sisimu ! Maka kuputuskan untuk mengakhiri semuanya tanpa melukai hati dan perasaan Dhea. Satu-satunya cara adalah ini. Kau tidak rugi seperserpun sekalipun seluruh aset dan saham perusahaannya kubeli. Kaupun juga bisa memulai bisnis yang lebih baik di tempat lain. Tapi, ingatlah, berhentilah mengganggu kehidupan kami. Biarkan kami menjalani bahtera rumah tangga kami tanpa adanya pihak ketiga. Apakah kau mengerti sekarang ?"
***
Aku menggendong jasad bayi yang sudah kaku itu dalam pelukanku. Masih kuingat tangisannya sebelum dia meregang nyawa, ia menangis dengan suara seperti dicekik saat kukeringkan darahnya.
Hatiku menangis, tak dapat kuhitung lagi berapa banyak bayi yang harus kutumbalkan untuk pesugihan terkutuk ini. Sepasang mataku menatap ke arah gundukan-gundukan tanah mengelilingi bangunan yang kufungsikan sebagai gudang penyimpanan barang. Di dalam gundukan itulah, terkubur puluhan, ratusan mungkin juga ribuan jasad bayi mungil yang baru dilahirkan oleh ibunya. Selain itu juga terkubur mayat-mayat pelacur jalanan yang usianya tergolong masih muda dan jelita. Dulunya mereka kugunakan sebagai jelmaan kuyang untuk menculik bayi-bayi merah yang baru lahir. Aku telah menyekutukan diri dengan jin, dan bisa melihat kekejaman yang kulakukan semata-mata demi membahagiakan dan menyenangkan Dhea, isteriku.
Aku duduk bersimpuh dengan tangan-tangan gemetar menguburkan bayi dalam gendonganku pada lubang yang memang sudah kusediakan. Aku menangis dan merasa menyesal telah melakukan semuanya itu.
Aku ingat semua petuah-petuah dan nasihat Ki Sena, guruku...
"Nak Doni, semuanya ada sebab dan akibat, seseorang tak mungkin dapat menghindar dari kesalahan namun semuanya itu bisa kau kendalikan. Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai... Itulah karma. Kau telah menyekutukan diri dengan jin, maka, kau harus menanggung resikonya. Baik ataupun buruk. Kau bisa membuat isterimu tunduk bahkan kau bisa membuat CEO muda bernama Jonas itu bertekuk lutut di hadapanmu, kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan karena kau memiliki segalanya, itu adalah buah yang menurutku bagus. Tetapi, sadarkah, kau baik-buruk berjalan beriringan ?"
Itulah nasihat dan petuah Guru yang bijak menurutku. Aku sadar sesuatu yang buruk tengah mendekatiku dan aku tak mungkin lolos dari maut.
"Guru... ijinkanlah saya meminta bantuan Guru lagi. Tapi, tak perlu khawatir, saya tidak meminta yang aneh-aneh lagi. Anggap saja ini adalah permintaan saya yang terakhir. Kelak, jika saya meninggal, saya mohon Guru menemani saya, setidaknya berdoalah untukku agar semua kesalahanku diampuni oleh Allah SWT. Doakanlah aku agar aku layak menghadap kehadirat-Nya. Aku tidak peduli lagi dengan segala harta milikku,"
Itu adalah permintaanku yang terakhir... Sebab, aku hanyalah manusia yang lemah dan rapuh, tak berdaya saat ajal menjemput.
Tugasku di dunia ini, mungkin belumlah selesai. Akan tetapi, setelah berhasil mewujudkan impian dan cita-citaku, matipun aku rela.
__________