Kamu tau bagaimana menjadi titik buta diri sendiri? Menjadi seseorang yang asing...
#
"Kak Lin kata Mama siap-siap."
"Hah siap-siap?" bingung Lina saat membaca notip dari adik perempuannya
"Siap-siap apa? Emang mau kemana?"
"Emang Kakak nggak mau pergi ke acara resepsi pernikahan Kak Ina?"
"Cepet nanti diomelin Mama."
"Siapa yang jemput?"
"Nanti abang Indra yang jemput." " Ya udah aku siap-siap dulu." Lina menepuk dahi sembari mengomel didepan layar handpone
"Malas banget dandan, mending seadanya aja lah toh nggak ada yang bisa dilirik juga."
"Lin!" seru seseorang dari arah ruang tamu
"Eh bang Indra!?"
"Lah katanya udah siap, kenapa masih belum ganti baju." omel kak Indra
"Tadi aku baru dichat sama Ninda, Lina nggak tau kalau abang udah otw ke sini."
"Ya udah cepet siap-siap, awass ya kalau lama abang tinggal."
"Yee nggak ikhlas banget bang."
"Eeh mau kemana?"cegah bang Indra
"Tadi katanya cepet-cepet buat ganti baju, gimana sih Bang."
"Ohh iya lupa." ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Belum juga tua udah plinplan." omel Lina sembari berjalan ke kamar
"Ya udah sih, nggak usah bawel kamu."
"Abang tunggu diluar kalau lama ditinggal."
"Iyaa ... Iyaa."
#
"Bang rame banget ih, Mama mana kok nggak kelihatan?"
"Tuh Mama dideket sana." tunjuk bang Indra ke arah pojok pelaminan
"Oh iya, Lina ke sana aja deh."
"Nggak makan dulu?"
"Nggak ah mau foto dulu, nanti lipstick Lina hilang."
"Astaga punya adek asemm kek gini."
"Yee biarin ngapa, kan tadi aku mau bawa liptin dilarang sama Abang."
"Ya kamu ngapain juga bawa liptin, gitu aja udah cantikkan."
"Helehh, ya udah Lina kesana dulu bye." Lina segera berjalan ke arah kerumunan dekat pojok
"Mah!"
"Sana samperin sepupu kamu."
"Ya Allah Mah aku baru nyampe langsung disuruh nyamperin manten."
"Gini amat hidup aku."
"Udah nggak usah bawel, dia nyariin kamu dari tadi."
"Iyaa iyaa aku kesana dulu." Lina berjalan gontai ke arah pelaminan
"Ciee yang cantik hari ini."
"Lina!" seru Ina yang kemudian mencubit tangan Lina
"Awww ihh sakit Na."
"Tadi kenapa nggak mau ke sini hah?"
"Hehee, capekk Na tapi kan ujung-ujungnya aku datengkan."
"Dateng karena disuruh Mamakan." Lina nyengir kuda seketika
"Aku mau fotoo dung."
"Ya udah panggil Mas photographer nya sana."
"Mass ... Fotoin ya."senyum Lina
"Oke Mba."
#*
Ini awal kisah patahku, saat senja dengan paksa membuatku terluka tanpa maaf kata. Mungkin saat itu aku terlihat sangat konyol, membuang semua rasa malu hanya untuk senja yang tak tahu malu.
Untuk pertama kalinya, aku menjadi diri yang asing jauh dari kata baik-baik saja, aku berjalan dengan penuh luka dan air mata.
Sedemikian patah hingga lukanya masih belum bisa ku balut dengan baik, ini kisahku, kisah seorang Lina yang pernah jatuh sedalam laut yang tak pernah tau dangkalnya.
***
"Lin udah cukup, kamu nggak harus kayak gini, sejak kapan kamu jadi bego kek gini." ucap Aya mencoba menahan tangan Lina yang sudah mulai berdarah
"Biarin Ay tolong jangan menahanku seperti ini, aku capek." isak Lina
"Stupid Lina! Hanya karena cowok brengsek itu kamu ngelukain diri sendiri."
"Jangan bodoh!"
"Lepas Ay nanti kamu luka."
"Lebih baik aku yang luka ketimbang kamu Lin." Aya merebut paksa silet yang ada ditangan Lina
"Aww." ringis Aya. Saat tangannya juga ikut tergores silet, tapi dia berhasil membuang silet itu ke lantai
Plak! (sebuah tamparan mendarat lekas di pipi Lina)
"Jangan bodoh Lin."
"Ehee hikss... Eheee .." Lina terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya
"Sejak kapan kamu jadi lemah kayak gini Lin? Lihat, apa pantas tangan mulus itu kamu gores-gores tanpa rasa kasihan?"
"Aku harus gimana Ay? Dadaku rasanya sakit, sesak ... Sakit banget."
"Lihat aku Lin. Apa Lina yang selama ini aku kenal selemah ini? Bukankah kamu juga pernah berkali-kali jatuh dan berkali-kali bangkit kembali."
"Kali ini beda Ay ..."
"Apa bedanya Lin jelasin ke aku."
"Dia tega ninggalin aku hanya karena cewek yang lebih cantik."
"Apa aku selalu kurang dimata dia?"
"Bukan kamu yang kurang Lin tapi dia yang terlalu bodoh."
Aya memeluk tubuh Lina dengan isak tangis, ini kali pertama dia melihat Lina menjadi orang asing, wanita kuat yang selama ini dia kenal seketika hilang senyap hanya karena laki-laki bodoh yang dia cintai
##
Lina berjalan gontai ke arah taman pinggir kota, di lihatnya semburat jingga yang begitu mempesona, tapi entah kenapa seketika hatinya menjadi sakit.
Entah itu karena kehilangan seseorang yang amat dia sukai, atau karena rasa sesak sakitnya di khianati.
"Ku kira hanya warnamu saja yang candu, nyatanya memory luka ini juga kau tabuhkan lagi."
"Aku harus bagaimana? Ini kali pertama aku jatuh cinta, dan seketika harus di kandaskan secara paksa." ucap Lina sembab
"Tidak ada yang baik-baik saja sekarang, semuanya hancur tanpa sisa." Lina meneteskan bulir-bulir bening dengan pilu
"Lufi?" ucapnya lirih. Saat retinanya melihat sosok yang dia kenali, Lina berdiri dari duduknya lalu berlari ke arah laki-laki tinggi yang sedang menikmati senja bersama seorang wanita
"Lufi ..."
"Lina?"
"Kenapa kamu tega sama aku? Kenapa kamu nyakitin aku sampai kayak gini?"
"Lina tenang dulu."
"Apa salah aku Fi? Sampai kamu tega ninggalin aku demi cewek ini." isak Lina
"Lin ini nggak seperti apa yang kamu pikirkan."
"Lin apa kamu lupa? Kita udah lama putus, bahkan itu sudah bertahun-tahun yang lalu."
"Nggak, kamu pasti bohong kita baru jadian 2 bulan Fi."
"Lin bukan aku laki-laki yang kamu sayang."
"Apa maksud kamu? Kalau bukan kamu lalu siapa?"
"Bahkan saat aku dirumah sakit pun kamu yang jagain aku, kamu yang ngerawat aku, lalu kenapa sekarang kamu bilang gitu, Hahhh ehee .."
"Itu karena kamu sedang sakit Lin. Apa kamu ingat kenapa kamu bisa dirumah sakit?'' Lina terdiam dengan isakan
"Kamu mengalami kecelakaan Lin. Benturan keras membuat kamu melupakan hal-hal penting dalam hidup kamu."
"Maksud kamu aku amnesia?"
"Nggak mungkin."
"Kamu ingat cincin dijari manis kamu Lin?" Lina menatap lamat cincin yang ada dijari manisnya, lalu menggeleng pelan ke arah Lufi
"Kamu sudah tunangan 3 bulan yang lalu."
"Nggak mungkin." ucap Lina lirih
"Lufi benar Lin. Maaf aku bukan teman yang baik karena tidak menceritakan semuanya." ucap Aya yang tiba-tiba muncul diantara mereka
"Aya ..."
"Ikutlah denganku, akan ku tunjukan sesuatu Lin." Aya menarik tangan Lina pergi menjauh, Lufi dan pacarnya juga ikut menyusul dibelakang
***
"Namanya Fero, kalian ketemu di acara pernikahan Ina sepupu kamu 4 tahun yang lalu, kalian saling suka saat pandangan pertama." ucap Aya lirih
Sebuah batu nisan dengan setumpuk bunga-bunga tengah terpampang didepan mereka
"Saat itu kalian sedang naik motor berdua, sepulang dari butik untuk persiapan baju pengantin." isak Aya. Lina terduduk lunglai dengan linangan air mata
"Kalian mengalami kecelakaan saat hendak menghindari truk yang oleng." Lina memegangi kepalanya. Sesuatu seperti sekelebat bayang masa lalu tengah menghujani memory kepalanya
"Untungnya kamu masih selamat Lin."
_Flash back _
"Fero awass!" teriak Lina. Saat mendapati truk angkutan besar tengah oleng didepan mereka, Fero reflect membelokkan motornya ke arah pohon besar
"Maaf Lin!" seru Fero
"Nggak, Fero jangan!" Fero mendorong tubuh Lina dengan kuat, Lina jatuh di padang rumput dan mengalami benturan, sedang Fero dengan pasrah menghantam pohon besar didepannya
#
"Hikss ... Eheehee ..." Lina menangis sejadi-jadinya
"Fero ... " isak Lina. Sepertinya Lina kembali mengingat semuanya, kenangan buruk yang dia lupakan kini dengan brutal menghantam dada sesaknya
"Ehee ... Hehee hikss, kenapa semuanya terlalu sakit untuk aku ingat, kenapa kamu nggak biarin aku tiada bersama kamu."
"Andai kamu nggak ngedorong aku waktu itu, mungkin kita sudah bersama di atas sana."
"Fero ... Hheee hikss hehee .." Aya memeluk tubuh Lina dengan erat, hatinya juga ikut sakit ketika melihat sahabatnya menderita
"Lin aku nggak maksud buat nyakitin kamu, tapi maaf aku juga nggak bisa biarin kamu salah paham terus sama aku juga Tina."
"Harusnya aku yang minta maaf Fi. Maaf aku udah nyusahin kamu selama ini."
"Maaf aku udah bikin kalian harus menahan semua ini."
"Tina. Maafin aku ya."
"Nggak papa Lin. Aku nggak keberatan, aku tau ini semua juga bukan keinginan kamu dan kita semua." Tina ikut memeluk Lina dengan hangat
***
Seorang wanita tengah berlari kecil di pemakaman umum, sebuah buket bunga lily tengah ia pegang dengan erat, langkahnya terhenti disebuah batu nisan yang sangat terawat
"Hey, apa kabar? Maaf ya aku terlambat hari ini."
"Bunga lily, ini bunga terakhir di toko, untungnya aku masih sempat membelinya." senyum Lina. Sembari meletakkan buket bunganya diatas makam Fero
"hari ini peringatan hari jadi kita yang ke-5, kamu masih ingat?"
"Untuk pertama kalinya, aku merayakannya tanpa kamu, tanpa tawa darimu, tanpa sikap konyolmu." isak Lina
"Aku menyayangi selalu, bahagialah disana, tetaplah menatapku dari atas sana."
"Aku akan selalu mendoakan kamu ketika Tuhan membangunkanku di sepertiga malamku."
"Kamu seperti senja, indah, menawan dan memikat,.. Dan aku terbuai walau pada akhirnya kamu meninggalkanku."
"Dan untuk kali ini aku rela menjadi penikmat senja yang terluka." isak Lina dengan sebuah senyuman pilu
_End_
Kalau respond baik, nanti saya buatin part 2 nya...😶