Hari ini, Andini dan Bagas mengucap ikrar suci pernikahan, setelah 4 bulan mereka melakukan perkenalan dan pendekatan.
Karena usia Andini sudah mencapai angka yang matang bagi seorang perempuan, 35 tahun usia di mana hampir semua teman-teman nya sudah mempunyai momongan, bahkan ada di antara mereka yang anak nya sudah menginjak usia remaja.
Bukan nya Andini tidak pernah menjalin kasih dengan seorang pria, sudah tiga kali menjalin hubungan, tapi tiga kali itu juga kandas, dengan alasan klise jika mereka semua belum siap untuk berumah tangga.
Sampai akhir nya, takdir mempertemukan nya dengan seorang pria yang mempunyai paras wajah di atas rata-rata, dengan tubuh atletis nya, di tambah penampilan nya yang selalu tampil cool dan trendi.
Bagas nama pria itu, pertemuan yang tidak di sengaja di antara mereka, Saat pulang kerja Andini mampir ke salah satu supermarket untuk membeli kebutuhan rumah yang sudah habis.
Saat akan pulang ternyata hujan turun dengan deras nya, aplikasi ojek online pun sangat susah di dapat Andini, mungkin karena hujan yang turun dengan deras nya, di tambah suara petir yang bersahutan.
"Pasti semua jalan banyak yang sudah banjir..."Batin Andini kesal, sesekali mengecek aplikasi ojek online nya yang belum ada deliver yang nyangkut, sesekali dia melirik jam di tangan nya.
Lagi-lagi Andini mendengus kesal, tanpa di sadari sepasang mata elang sedang memperhatikan nya.
Sampai akhir nya, pria bermata elang itu mendekati Andini, sekedar basa basi untuk mengajak berkenalan dan akhir nya menawar kan bantuan mengantar Andini pulang.
3 bulan kedekatan mereka, akhir nya pria ber paras rupawan dan bertubuh atletis yang ber nama Bagas itu, melamar Andini.
Antara bahagia dan bingung, perkenalan yang menurut Andini terlalu singkat untuk melangkah ke pelaminan, apa lagi perbedaan usia mereka yang berjarak 10 tahun, di mana usia Bagas baru menginjak 25 tahun.
Karena Bagas saat itu benar-benar meyakinkan Andini dengan keseriusan nya, di tambah orang tua yang sudah mendesak nya untuk menikah, akhir nya Andini pun menerima lamaran Bagas.
Di 4 bulan perkenalan, tepat hari ini mereka melangsungkan pernikahan yang di gelar dengan sederhana, karena dari mulai lamaran sampai resepsi Bagas hanya membawa tante dan om nya saja.
Dengan alasan kedua orang tua Bagas sudah meninggal dunia, dan semua keluarga nya tinggal jauh di pelosok, jadi membutuhkan biaya besar untuk mengundang kedatangan mereka.
Orang tua Andini, tidak mempermasalahkan itu, mereka sudah sangat bahagia, karena anak perempuan mereka sudah mendapatkan jodoh, seorang pria muda, tampan dan mapan.
Tapi jauh di lubuk hati Andini, masih terbersit suatu keraguan, dia pun tidak mengerti padahal mereka sudah menjadi suami istri yang sah.
Saat acara akad dan resepsi selesai, Andini merasa keanehan pada diri Bagas di ritual malam pertama.
Bagas menutup mata Andini dengan kain hitam, dan mematikan lampu kamar.
Ini adalah yang pertama buat Andini, tapi Bagas langsung melakukan nya dan terasa sangat kasar, Andini merasakan kuku Bagas yang tajam menjamah tubuh nya, begitu juga dengan lidah Bagas, yang di rasakan Andini sangat panjang, dan terasa gigi Bagas sangat runcing, saat menyentuh kulit nya seperti sebuah taring.
Ingin sekali Andini melepas tutup mata nya, tapi tiba-tiba tangan nya terasa kaku.
Pagi nya tubuh Andini terasa sakit semua, dan sangat terasa perih, dan betapa kaget nya ternyata seluruh tubuh nya penuh dengan cakaran.
Esok hari nya, Bagas langsung pamit kepada orang tua Andini, untuk membawa Andini tinggal di rumah nya, dan meminta Andini berhenti bekerja, dengan alasan dia menginginkan agar Andini tidak kecapean, karena dia ingin Andini segera hamil, dan dia juga mengatakan jika penghasilan nya sebagai kontraktor lebih dari cukup untuk menghidupi mereka, keputusan yang sangat di setujui oleh kedua orang tua Andini.
Singkat cerita mereka pun pindah ke rumah Bagas, tapi Bagas menolak halus ketika orang tua Andini ingin mengantar mereka, Lagi-lagi orang tua Andini memaklumi nya, sedang kan Andini semakin merasakan keresahan di hati nya, tanpa tahu apa sebab nya.
Saat mereka sampai, menurut penglihatan Andini, rumah-rumah di lingkungan tempat tinggal Bagas, bangunan nya sama semua, tapi suasana nya begitu sunyi dan senyap, padahal saat itu adalah hari libur.
"Kenapa lingkungan di sini sepi sekali, padahal ini hari libur..?"Tanya Andini saat sampai di halaman rumah Bagas.
"Karena ini hari libur, justru mereka menghabiskan waktu di luar rumah, setelah sibuk bekerja...;"Jawab Bagas dingin, langsung melangkah kan kaki nya masuk ke dalam.
Perasaan Andini semakin tidak enak, bulu-bulu halus nya, tiba-tiba berdiri, seperti merasakan aura berbeda, padahal rumah Bagas sangat rapi dan bersih.
Bagas menunjukkan letak kamar tidur mereka, Andini langsung masuk ke dalam kamar Bagas, lebih tepat nya kamar mereka, sedang kan Bagas menuju dapur untuk membuat kopi.
Di dalam kamar, Andini lebih merasakan sesuatu yang berbeda di hati nya, tapi dia menipis semua nya, mencoba untuk tenang.
Kamar Bagas juga sangat rapi dan bersih, Andini pun langsung membuka lemari pakaian, di sana baju-baju Bagas tersusun rapi, masih banyak ruang untuk menyusun pakaian Andini yang hanya membawa sedikit.
Saat Andini sibuk memasukkan pakaian nya ke dalam lemari, tiba-tiba dia merasakan ada hembusan napas di telinga nya.
Seketika Andini pun menoleh, sunyi tidak ada siapa-siapa, seketika bulu kuduk nya merinding kembali.
Andini dengan cepat memasukkan pakaian nya kembali ke lemari, dan setelah rapi, dia pun bergegas keluar dari kamar untuk menyusul Bagas di dapur.
Dengan sedikit berlari, dia keluar dari kamar, saat sampai di ambang pintu.
Bug....
Tubuh nya menabrak sesuatu yang sangat keras, sehingga tubuh mungil Andini pun jatuh ke lantai.
"Akhhh...",Jerit Andini, antara terkejut dan sakit.
Saat dia melihat apa yang di tabrak di depan nya, mata Andini langsung terbelalak tak percaya, seketika lidah nya menjadi kelu, tubuh nya bergetar hebat dengan keringat dingin yang membasahi tubuh nya, Andini pun tak sadar kan diri.
Andini mengerjap kan mata nya berlahan, mencoba menyesuaikan dengan cahaya redup di ruangan, dan mencoba mengumpulkan ingatan nya kembali, tubuh nya kembali bergetar mengingat apa yang di lihat nya sebelum pingsan.
"Kamu sudah sadar..."Suara dingin membuyarkan lamunan Andini.
"Mas Bagas..."Andini langsung memeluk Bagas dan menangis tersedu-sedu.
"Mas aku takut, tadi aku menabrak sesosok makhluk tinggi besar dengan wajah menyeramkan...",Ucap Andini, masih terus menangis sambil memeluk Bagas.
Hening, tidak ada respon sama sekali dari Bagas, jangan kan untuk merespon perkataan Andini, membalas pelukan pun tidak.
Andini mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh, dia pun melepaskan pelukannya dan mengusap air mata nya, langsung menatap wajah Bagas yang sedang menatap nya dengan sorotan tajam dan menakut kan.
"Mas..."Panggil Andini lirih, yang mulai di selimuti rasa takut.
Bagas menyeringai, memperlihatkan gigi nya yang runcing dan tajam, sontak Andini pun langsung terkejut dan mundur ke belakang, dia tidak mampu mengeluarkan suara nya, tenggorokan nya terasa kering sekali, hanya buliran bening yang keluar dari mata nya.
Berlahan wajah dan tubuh Bagas berubah penuh bulu, dengan kuku yang sangat panjang, wajah nya pun begitu menyeramkan, dengan mata menyala berwarna merah.
"Bagas sudah meninggal, kamu adalah istri ku..."Makhluk itu berkata dengan suara yang sangat menakutkan, dan tawa yang menggema kencang.
Andini hanya mampu menggelengkan kepala nya tidak percaya, dengan buliran bening membasahi pipi nya, ingin sekali dia berteriak tapi lidah nya terasa sangat kelu, kepala nya terasa berputar-putar, tidak percaya dengan kenyataan yang di alami nya, sampai akhir nya semua terasa gelap bagi Andini.