"Guru," sapaku pada Ki Sena yang saat itu duduk bersila menghadap sebuah meja altar dengan berbagai macam sesajen di atasnya. Kepulan asap tipis dari dupa yang termakan oleh bara api, melayang-layang tipis menebarkan aroma harum, memenuhi ruangan.
Laki-laki berusia sekitar 58 tahun itu menoleh ke arahku. Tatap matanya tenang namun di balik ketenangannya itu tersimpan sebuah kekuatan besar, membuatku tak berani memandangnya lama-lama.
"Kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan, nak Doni," katanya dengan suara berat.
"Terima kasih atas bantuan guru. Jika tidak ada Guru yang membantuku, mungkin aku masih menjadi pemuda pengangguran,"
"Itu sudah menjadi tugas dan kewajibanku. Tapi, ingatlah ada harga yang harus kau bayar dan itu tidak murah, nak,"
"Guru, demi membahagiakannya, apapun aku harus melakukannya dan aku sanggup membayarnya sekalipun itu dengan nyawaku. Aku tidak ingin siapapun merebut isteriku, termasuk si Jonas itu. Akan tetapi, aku heran mengapa masih ada sosok-sosok mengerikan mendatangiku. Bukankah semua persyaratannya sudah kupenuhi ?" tanyaku.
Ki Sena mengelus jenggotnya, "Aku tahu itu. Kau masih ingat, saat kau menyamar menjadi Jonas dan bercinta dengannya ?"
"Tentu saja aku masih ingat, Guru. Walau sebenarnya aku lebih menyukai diriku yang asli bukan sosok Jonas, genderuwo atau yang lain. Tetapi, aku menginginkannya sejak malam pertama di pernikahan kami dulu,"
"Aku mengerti. Tapi, permasalahannya adalah karena aku menggunakan kekuatan salah satu sosok yang jahat. Tumbal yang biasa digunakan untuk pesugihanmu, sudah tidak cocok lagi," jelas Ki Sena, "Tumbal itu harus diganti dengan darah bayi yang baru lahir, nak," sambungnya.
"Sampai sejauh itukah, Guru?" tanyaku.
"Setidaknya, kau harus menemukan 5 bayi merah, keringkan darahnya dan kubur jasad bayi-bayi itu di gudang penyimpanan barang antik mu. Batas waktumu adalah sampai di malam bulan purnama nanti. Jika tidak, aku tak berani menjamin apa yang akan terjadi padamu, kelak. Kau tidak bisa lepas dari perjanjian yang kaubuat dulu,"
Aku tersenyum kecut, mendadak aku teringat sesuatu, "Guru, kudengar di sebuah daerah, ada banyak kejadian, dimana, ibu-ibu yang hamil tua dan saat tiba waktunya untuk bersalin, mendadak kehilangan bayinya. Apakah ini sejenis pesugihan atau bukan ?"
"Bukan itu kebanyakan dilakukan oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya tetap awet muda dan cantik. Maka, mereka melakukan ritual pemanggilan Kuyang,"
Aku tersenyum lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ki Sena. Semula pria itu terkejut, tak lama kemudian tertawa, "Kau benar-benar licik, baiklah aku akan membantumu. Dasar licik,"
"Demi membahagiakan isteri, aku harus melakukannya," kataku.
***
Bianca. Wanita muda itu ditemani suaminya, Paidi berjalan-jalan di halaman depan rumahnya. Sesekali ia berhenti sejenak memegangi pinggangnya yang serasa kebas dan kaku, sementara tangan kanannya menggosok-gosok perut buncitnya. 5 bulan sudah usia janin di dalam kandungan wanita berumur 25 tahun itu.
"Kalau capek, istirahatlah dulu, sayang..." kata Paidi.
"Mana bisa istirahat, kalau tidak ada tempat untuk duduk," sahut Bianca ketus.
Paidi menepuk-nepuk bahu Bianca, "Tuh, di depan kita ada gazebo, tinggal jalan sebentar saja, sampai. Kenapa musti cemberut begitu ?" katanya sambil kembali menuntun isterinya dan sampailah di gazebo. Setelah memastikan tempat duduk aman dan bersih, ia membantu Bianca duduk dengan nyaman.
"Kau ini kenapa, sayang... Dari tadi marah-marah melulu," tanya Paidi sambil menyeka keringat di wajah isterinya.
"Aku tidak ingin ditinggal sendirian terus, mas," ujar Bianca kesal.
"Oh, itu... Aku, kan bekerja demi masa depan kita, sayang. Dengarlah, usia kandunganku sudah 5 bulan, sedang rawan-rawannya. Jika ada masalah, kau bicarakan baik-baik denganku. Tidak baik untuk kesehatanmu juga bayi dalam kandunganmu, sayang..."
"Aku tahu, mas... Aku cuma takut," ujar Bianca.
"Apa yang kau takutkan, sayang ?"
Bianca menatap suaminya dalam-dalam, "Apa benar, mas tidak tahu ?" Paidi menggelengkan kepala.
"Rumor yang beredar di penduduk Karang Tiga ini. Bukan cuma disini akan tetapi, dusun sebelah dan sekitarnya juga telah mendengarnya, mas..."
"Rumor apa ?"
"Akhir-akhir ini, banyak wanita hamil dan tiba saatnya untuk bersalin, kehilangan bayinya secara misterius," jelas Bianca.
"Benarkah ? Memangnya ada kejadian seperti itu?"
"Kau bisa menanyakannya langsung pada Jinten, tetangga sebelah. Padahal kita berdua sebelum menetap disini sama-sama tahu bahwa ia tengah mengandung 7 bulan. Tetapi, begitu tiba saatnya bersalin, bayi dalam kandungannya hilang entah kemana," jelas Bianca, "Jinten juga sering ditinggal suaminya bekerja, mas. Aku... Aku tidak ingin mengalami nasib yang sama dengannya. Aku takut, mas..." Bianca mengakhiri ceritanya dengan menangis tersedu-sedu. Paidi memeluk dan berusaha menenangkannya.
***
Malam itu, Bianca tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berulang kali terbangun saat terdengar suara aneh di langit-langit ruangan kamar tidurnya. Ia mencoba membangunkan Paidi yang tertidur pulas di sampingnya. Paidi seakan bagaikan orang mati, yang terdengar hanyalah dengkurannya.
"Plakk!!"
"Mas, bangunlah !" Bianca yang sudah kehabisan kesabaran membentak dan menampar pipi suaminya.
Tentu saja Paidi terkejut dan melompat bangun, "A...ada apa, sayang ?" katanya gugup sementara punggung tangan kanannya menyeka air liur yang membasahi sudut bibirnya. Sepasang matanya yang setengah tertutup beralih memandang wajah Bianca yang merah padam karena kesal.
"Sakit sekali pipiku. Tidak bisakah kau membangunkanku dengan tidak menampar ?" katanya sambil meringis kesakitan, pipi kirinya terasa panas.
"Dengkuranmu menggangguku, mas," kata wanita itu. Sekalipun ia tampak galak tapi sebenarnya ada ketakutan memancar di wajahnya, "Maafkan aku, mas... Aku sudah membangunakanmu berkali-kali, tapi kau tak mendengarnya,"
"Iya, tidak apa-apa. Katakan ada apa, sayang ?" tanya Paidi yang perlahan-lahan sudah mengembalikan kesadarannya dan iapun mendengar suara aneh dari langit-langit, "Suara apa itu ?" tanyanya.
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya, "Suara itu seperti berasal dari pasak-pasak kayu di atas sana," ujarnya.
"Kalau begitu, biar kuperiksa," ujar Paidi hendak turun dari pembaringan, tapi, Bianca segera menyambar tangannya, "Jangan tinggalkan aku sendirian, mas..." rengeknya manja.
Paidi tersenyum sambil meraih lampu senter, "Baiklah, kau boleh ikut, hati-hati,"
Bianca segera memeluk erat tangan kiri Paidi, tubuhnya panas dingin dan jantungnya berdetak dengan kencang manakala lampu senter sudah diarahkan ke pasak-pasak kayu Meranti di langit-langit sana.
Jantung mereka seakan berhenti berdetak, rahang mereka seakan kaku melihat sebuah bayangan hitam melayang-layang dari pasak satu ke pasak yang lain. Bayangan itu berhenti dan perlahan-lahan berbalik, barulah pasangan itu dapat melihat bentuk dan wujudnya yang mengerikan.
Sebuah kepala wanita, berambut hitam, panjang dan tergerai. Sepasang bola matanya hitam, ia menyeringai, lidahnya terjulur keluar dan air liur menetes membasahi lantai. Dia tidak memiliki daging, kulit dan badan. Paru-paru, jantung, hati, ginjal dan limpa nyaris menyatu dengan usus-ususnya yang terburai.
Sosok itu melayang rendah perlahan, ia mendekati pasangan muda itu yang kini terpaku bagai terkena sihir. Ia melayang mengintai mereka dan berhenti tepat di dekat perut buncit Bianca. Ia membuka mulutnya dan...
Bianca menjerit kesakitan, perutnya mulas dan isinya bagaikan disedot keluar.
"Aaakkkhhh.... Sakit sekali, to....to.... Tolong,"
Paidi tampak shock sekali, seumur hidup tidak pernah bertemu dengan sosok mengerikan seperti di hadapannya.
Kejadian itu berlangsung cepat sekali, Bianca roboh tak sadarkan diri dan makhluk itu menghilang. Paidi bagai terbangun dari tidurnya dan mendapati tubuh isterinya tergolek lemas tak berdaya.
__________