"Kletekk kletek kletek." Terdengar suara batangan bambu yang di gesekkan pada pagar besi, suaranya semakin lama semakin nyaring dan kemudian semakin mengecil dan menghilang. Sepertinya ada seseorang yang dengan sengaja melakukannya sambil lewat.
Adhi luwih terbangun dari tidurnya karena mendengarkan suara tersebut, ia kemudian mengintip dari tirai jendela rumahnya namun tidak ada siapa pun disana. Ia memutuskan untuk tidur kembali, namun matanya tak kunjung terpejam hingga pagi menjelang.
Setelah usai melaksanakan sholat subuh, ia barulah merasa tenang dan tertidur.
•••••••••••
Sudah beberapa hari kebelakang, desa dimana Adhi luwih dan keluarganya tinggal ini menjadi sangat sepi dan mencekam setelah di temukannya mayat seorang wanita tanpa kepala di rumah keluarga seorang guru ngaji. Dia adalah kakak perempuan dari guru ngaji yang kami panggil Pak Atta, seseorang yang bersahaja dimata kami semua. Meskipun usia kami tak terpaut jauh, tapi kami menghormatinya sebagai guru ngaji maka kami memanggilnya dengan sebutan Pak.
Perkenalkan, nama saya Adhi luwih. Saya adalah seorang gadis, adik dari Asrho luwih, orang terpandang di desa kami. Kakakku setiap sore sehabis isya selalu memanggil Pak Atta untuk mengajariku mengaji, sudah seminggu ini Pak Atta selalu datang terlambat. Oh iya dia selalu menggunakan sarung sejak pertama bertemu, namun entah kenapa sudah beberapa hari ini ia seperti menyembunyikan sesuatu di sarungnya yang selalu ia lipat ke atas.
▪▪▪▪▪▪
Malam ini kakakku beserta istrinya yang sedang bertugas ke kota belum juga datang, sedangkan aku sendirian di rumah. Saat Pak Atta datang untuk mengajariku mengaji, ia tetap memakai sarung yang dilipat ke atas seperti membawa sesuatu. Ingin bertanya tapi segan, takut melanggar prifasi.
Aku mengambilkan Pak Atta air minum karena dia kelihatan sangat tegang, namun saat di dapur.
"Aaaaaaaaa..... prankk." Aku terkejut dan melemparkan gelas ke arah jendela dapur dan berlari kembali ke ruangan tamu.
"Ada apa?" tanya Pak Atta padaku.
"Itu Pak, ada kepala melayang di dekat jendela dapur." kataku, tubuhku gemetar ketakutan memeluk bantal kursi disana.
"Astagfirulloh, masa iya sih neng? A_apa neng melihat wajahnya?" tanya Pak Atta padaku tegang.
"T_tidak Pak, rambutnya menutupi wajahnya, hanya terlihat putih-putih dan darah saja." kataku dengan terbata-bata karena saking takutnya.
"Pak Ashro masih belum pulang juga ya neng?" tanyanya masih sambil duduk memegangi sarungnya. Sepertinya ia enggan untuk melihat mengecek ke dapur.
"Iya pak, tolong temani saya sebentar lagi." kataku memelas.
"I_iya neng."
Wajah Pak Atta tampak gelisah saat aku melihat ke arah sarungnya, tapi aku tak perduli. Aku yang ketakutan terus saja mengedarkan pandanganku ke segela arah takut jika kepala itu masuk kedalam rumah ini.
Setengah jam berlalu, aku sudah sedikit tenang.
"Neng, sudah malam. Bapak harus pulang, takut nanti jadi fitnah."
"Tapi pak, saya takut kalau-kalau kepala itu datang lagi."
"Tidak akan neng, kalau bapak disini terus malah nanti kepala itu tidak pergi-pergi." celetuknya.
Aku tertawa kecil mendengarnya menganggap sebagai gurauan. Tak selang beberapa lama, deru mobil pun datang, sorotan lampu mobil menembus ke kaca jendela kami. Entah kenapa aku senang sekali melihatnya karena itu pasti Kakak dan kaka iparku yang datang.
"Itu Pak. Ashro sudah pulang neng, saya permisi pamit ya."
"Baik Pak, terimakasih sudah menemani saya."
"Sama-sama."
Kami sama-sama keluar rumah, menghampiri Kakakku yang baru turun dari mobil.
"Loh Pak Atta, jam berapa ini?" tanya Kak Ashro.
"Maaf Pak Ashro, neng Adhi tadi minta ditemani." kata Pak Atta sambil memegangi sarungnya yang terlihat seperti membawa sesuatu.
"Iya Kak, nanti aku ceritakan di dalam. Ayo kita masuk." Kataku, bola mataku tak hentinya melirik ke segala arah.
"Oh baiklah kalau begitu."
"Saya pamit Pak Ashro, bu, neng Adhi." membungkukkan kepalanya dan berlalu keluar pagar rumah kami.
Aku benar-benar ketakutan menyaksikan kepala itu melayang mengikuti Pak Atta.
Di dalam rumah.
"Kakak ipar, tolong malam ini tidur denganku ya.. " pintaku memohon.
"Loh kenapa?" tanya kaka iparku.
"I_itu tadi ada kepala bergentanyangan di jendela dapur, dan tadi aku lihat dia mengikuti pak Atta." kataku terbata.
"Astagfirulloh, yang bener kamu dek?" tanya kaka ipar terkejut.
"I_iya."
"Kalian tidak usah takut, di rumah ini tidak akan ada makhluk seperti itu yang berani masuk ke dalam." ucap ka Ashro meyakinkan.
▪▪▪▪▪▪▪▪▪
Seperti biasa sore ini pun suasana desa sangat sepi, padahal jam masih menunjukan jam 16.30. Sudah beberapa hari ini juga, para aparat polisi menyusuri jejak mencari pelaku pembunuhan.
Banyak warga bercerita jika mereka sering sekali mendengar tangisan dan melihat penampakkan kepala melayang, beberapa hari lalu di gudang Pak Haji Rimas pengusaha perabotan, para pekerjanya dikejutkan dengan penampakkan kepala tersebut sampai-sampai ada pekerja yang jatuh sakit karena saking ketakutannya.
Ada juga warga yang melihat kepala di kebun pisang di dekat sumur yang tak terpakai lagi, saat itu ada warga yang sedang menebang pisang yang sudah matang. Ia lari tunggang langgang meninggalkan buah pisang yang ia ambil dan menceritakannya kepada warga lain.
Banyak juga warga yang sering di ganggu saat malam karena pagar rumahnya yang bersuara seperti di gesekkan batang kayu ke pagarnya.
Seperti malam ini juga.
"Kleteekkk kletekkk kletekk.. " Suara batang bambu yang digesekkan ke pagar rumahku terdengar lagi. Aku sangat penasaran, aku mencoba mengintip keluar, tetapi suasana sangat gelap karena lampu di luar yang tiba-tiba mati. Aku mengerutkan dahi, mengintip kembali, namun tiba-tiba kepala itu ada di depanku dengan mata melotot dan lidah yang menjulur panjang keluar serta mengeluarkan darah. Meskipun terhalang oleh kaca jendela, namun itu benar-benar sangat menakutkan dan aku ingin menjerit tapi suaraku tercekat. Aku tak bergerak sedikitpun, nafasku tersengal dan CETAK semua menjadi gelap. Saat aku terbangun, aku melihat Pak Atta bertengkar dengan Kakak perempuannya. Entah apa yang mereka ributkan karena aku tak bisa mendengarnya meskipun aku berada diantara mereka, tapi kelihatannya itu sangat serius sampai-sampai kakak perempuannya menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan marah. Sampai tiba-tiba Pak Atta pergi ke dapur dan mengambil pisau kemudian menggorok leher kakak perempuannya yang sedang lengah dengan brutal hingga kepalanya terlepas dari badannya. Ia kemudian menyimpan kepalanya di dalam plastik dan karung lalu menaruhnya di plafon rumah dengan pakaian yang bersimbah darah.
Aku menutup mulutku dan terhuyung melihatnya, kakiku lemas seketika. Namun tidak hanya itu saja, ketika mataku dituntut untuk berkedip aku sudah berpindah lagi di jalanan yang gelap dan aku melihat Pak Atta yang tergesa-gesa membawa sesuatu di sarungnya. Ia kemudian berbelok ke arah kebun yang sangat gelap dan melemparkan bungkusan yang ia keluarkan dari sarungnya ke dalam sumur disana. Tapi tak berselang lama ia menimba kembali sumur tersebut dan membawa bungkusan itu kembali ke rumahnya.
Saat mataku berkedip lagi, hari sangat terang. Namun aku tak mengetahui dimana tempat ini, hanya ada gedung tinggi dan suara-suara burung walet terdengar bersautan. Aku menengok kesana kemari kebingungan, tapi pandanganku terhenti saat melihat Pak Atta berdiri di depan sebuah sumur ia mengeluarkan bungkusan karung di balik sarungnya dan membuka bungkusan itu yang ternyata itu adalah kepala Kakak perempuannya dan melemparkannya kedalam sumur itu. Jadi selama ini pak Atta selalu membawa potongan kepala itu kemana-mana disarungnya. Aku menutup kembali mulutku, dan semuanya menjadi gelap kembali.
Saat aku terbangun, aku berada di kamarku kembali. Ada Kak Ashro dan istrinya disampingku, Aku langsung memeluk kakak iparku dan menangis sesegukan, aku sangat bersyukur telah kembali. Kata Kak Ashro aku pingsan setelah menjerit tadi malam. Aku kemudian menceritakan yang terjadi padaku tadi, ini adalah hal seram pertama dalam hidupku karena baru kali ini aku bisa melihat hantu dan dia ajak berkomunikasi semacam itu, lalu Kak Ashro menghubungi polisi dan menceritakan yang ku alami tadi.
Polisi itu pun berfikir dan menelpon kembali rekannya untuk mendatangi beberapa gedung walet yang ada di desa kami, dan akhirnya menemukan barang bukti kepala yang mereka cari kemudian langsung membawa pak Atta ke kantor polisi untuk di interogasi, pak Atta akhirnya mengaku. Sambil menangis ia menceritakan bahwa ia bertengkar dengan kakak perempuannya karena soal harta warisan dan ia menjadi gelap mata karena kakaknya memaki-maki dirinya. Namun pak Atta juga sangat menyesali perbuatannya, sejak pak Atta menerima hukuman yang pantas, desa kami menjadi tenang kembali. Sudah tidak ada suara menakutkan dan kepala yang bergentayangan lagi.
.