Aku tak pernah memperlihatkan kesedihanku di hadapan keluarga ku, aku tak pernah mengeluhkan segala risau ku pada keluarga ku. semua ku lakukan hanya agar mereka tenang dan tak mencemaskan ku.
aku teramat menyayangi mereka, aku rela melakukan segala hal hanya untuk membahagiakan mereka, hingga aku lupa bahwa aku sendiri butuh untuk bahagia.
aku terlalu berfokus pada satu titik hingga aku melupakan titik yang lain..
aku terlalu meyakini satu kenyataan hingga aku melupakan kenyataan yang lainnya.
aku lupa jika dunia ini luas, aku lupa jika kehidupan ini keras, dan aku lupa jika status tak menjamin segalanya.
Hingga aku di tampar oleh kenyataan lain yang membuat ku tersadar. kenyataan yang membuat ku bagaikan di tusuk seribu belati, keluarga yang ku perjuangkan kebahagiaan nya ternyata tak memperdulikan ku, mereka hanya peduli pada apa yang ku berikan pada nya..
bahkan tanpa belas kasih mereka rela mengorbankan ku hanya untuk kesenangan semata.
aku anak ke 3 dari 4 bersaudara, aku anak yang rela melakukan segala sesuatu tanpa perduli pada diriku sendiri hanya demi orang yang bahkan tak menginginkan aku.
aku kira selama ini mereka sama sayang nya padaku, perhatian dan kata kata manis mereka ternyata semuanya palsu semua itu hanya topeng untuk menutupi semua kejelekan mereka.
ibuku dengan tanpa rasa bersalah menyerahkan ku pada salah satu keluarga kaya untuk di nikahkan dengan anak lelaki nya yang aku sendiri tak tau bagaimana rupanya.
saat ini acara sedang berlangsung dengan meriah di kediaman ku.. pernikahan yang aku bayangkan akan sangat membahagiakan ternyata tak kan pernah ku dapat.
aku hanya bisa termenung menatap kosong ke arah jendela kamar ku. sedangkan di luar tepatnya di halaman rumah yang tak terlalu luas, di tengah tengah orang yang hadir menjadi saksi, seseorang tengah berjabat tangan dengan wali dari mempelai pengantin wanita.
"saudara Reyhan Pratama Bin Andri Husada saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Mikhayla putri Binti Bagas Wijaya dengan maskawin nya berupa uang 5jt rupiah dan seperangkat alat sholat Tunai"
"Saya terima nikahnya dan kawin nya Mikhayla putri Binti Bagas Wijaya dengan maskawinnya yang tersebut di bayar tunai"
"Bagaimana para saksi SAH?"
SAH
SAH
SAH
jawaban serempak dari para saksi menjadi awal dari status dan kehidupan ku. tanpa komando air mataku jatuh dengan sendirinya, aku menangis dalam diam, bukan, bukan tangis bahagia namun tangis yang menyiratkan banyak luka.
pintu kamar tiba tiba di buka, dan seseorang masuk kedalam. dengan segera aku menghapus air mata yang masih dengan setia mengalir di pipiku, ku rapihkan penampilan ku yang sedikit berantakan.. lalu aku berbalik melihat siapa yang masuk kedalam kamarku. tenyata dia ibuku, ibu yang selama ini Ku sayangi dengan segenap hati yang dengan rela menjual kebahagiaan ku demi harta.
aku bisa melihat senyum terpancar dari wajahnya. senyum bahagia tanpa beban, seolah kejadian ini tak membuatnya sedih karena status ku telah berubah begitu pun dengan tanggung jawabnya yang telah lepas.
aku berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihan ku.
"hai sayang sudah waktunya untukmu bertemu dengan suami mu" ucapnya dengan senyum yang semakin lebar.
aku hanya mengangguk dan menghampiri nya, lalu setelah itu ibu menuntunku ke halaman dimana acara berlangsung. aku hanya menunduk tanpa mau menoleh ke depan maupun ke samping. aku terlalu takut, takut kalau aku tak bisa mengontrol diriku untuk tak menangis. hingga aku tak sadar tanganku sudah berpindah ke genggaman orang lain, yaitu suamiku. aku memberanikan diri untuk mendongak melihat bagaimana wajah dari suami ku, dan dapat ku lihat wajah tampan dengan senyum tipis yang terlihat sangat di paksakan, aku juga dapat merasakan genggamannya mengerat membuat tanganku sakit.. dari sini aku mengerti bahwa dia juga terpaksa melakukan pernikahan ini.
acara pun berlangsung dengan bagaiman mestinya..
aku melangkah mengikuti suamiku menuju kamar pengantin kami. sesampainya di kamar aku hanya berdiri kaku, merasa canggung dengan situasi saat ini. tak ada yang mau memulai percakapan disini,, aku yang tak tau harus berbicara apa dan dia yang sepertinya enggan untuk berbicara padaku, jangankan berbicara menatapku saja sepertinya dia enggan.
waktu pun berlalu dan hari pun berganti. saat ini aku sedang mengemas barang barang ku, aku dan suamiku berencana untuk pindah ke apartemen suamiku,, tidak sebenarnya ini keputusan sepihak dari suamiku, aku hanya mengikuti apa apa saja yang di ucapkan nya, aku terlalu takut untuk menolak.
"semuanya udah beres?" tanya suamiku
"udah mas" jawabku
"ya udah ayo kita berangkat sekarang"
kamipun berlalu menghampiri keluargaku yang berada di ruang tengah.
"mah kami pamit dulu ya" ucap suamiku
"loh udah mau pindah aja?" tanya ibuku
"kenapa gak disini dulu aja lebih lama, baru juga seminggu nikah" sambung ibuku
"iya mah,, gak papa mau mandiri aja. sayang juga apartemen gak ada yang urus" jawab suamiku
"ya udah kalau itu emang udah jadi keputusan kalian, mamah gak bisa cegah, kalian hati hati ya" ucap ibuku
"iya ma" ucap suamiku sembari mencium tangan ibuku.
"kamu juga hati hati ya, nurut sama suami" ucap mama padaku, aku hanya tersenyum mengangguk sembari mencium tangan nya. begitupun dengan saudara ku yang lainnya
"yaudah mah kalau begitu kami berangkat, Assalamualaikum"
"walaikumsalamm"
aku dan suamiku pun masuk ke mobil yang sudah siap mengantar kami ke tujuan.
hening .. itu yang terjadi saat ini suasana di dalam mobil sepi tanpa ada yang berbicara hanya suara kendaraan lain yang meramaikan jalanan yang terdengar.
sesampainya di apartemen suamiku aku pun menata barang barang ku di kamar baru kami. apartemen nya tak terlalu mewah begitupun dengan luasnya, hanya terdapat 1 kamar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi.
tak ada perbincangan serius maupun santai antara kami sesudah berlangsung nya acara itu.
satu kenyataan lagi yang baru ku ketahui,, ternyata suamiku ini adalah seorang gay, orang tuanya menikahkan kami agar keluarga nya tak menjadi cemoohan orang lain. dan perjanjian konyol antara keluarga suamiku dan keluarga ku adalah siasat agar aku tak mampu untuk menolak pernikahan ini.
seminggu berlalu, dan sampai saat ini pun tak pernah ku rasakan suasana hangat dalam rumah tanggaku, meskipun kami tinggal satu atap bahkan tidur satu kamar, tapi aku merasa seperti ada dinding kokoh yang menghalangi kami. aku merasa tak mampu menggapai suamiku. aku sudah berusaha mendekati nya namun dia seakan enggan untuk merespon ku.
aku tau pernikahan ini konyol, tapi aku berusaha menerima semuanya. aku mencoba memahami apa yang menjadi keinginan suamiku dan mengabaikan sakit hatiku. aku hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupku, oleh sebab itu aku akan berusaha memperjuangkan ikatan suci ini meskipun aku harus berkorban lebih banyak lagi.
aku tetaplah aku yang dulu, yang selalu mementingkan orang lain dari pada diriku sendiri.
aku tetaplah aku yang dulu yang rela melakukan segala hal demi kebahagiaan orang lain.
aku tetaplah aku yang dulu, yang pandai menyembunyikan luka dengan senyuman.
saat ini aku hanya sendiri di apartemen, sore tadi suamiku pergi entah kemana.. dan karena bosan aku pun memutuskan untuk pergi ke roof top apartemen ini..
setibanya di roof top, pemandangan indah menyambut ku semilir angin menyapaku. aku duduk di salah satu kursi yang di sediakan di sana.. suasana sore menjelang malam membuat keadaan menjadi lebih menenangkan.
kebetulan hanya aku sendiri di sini, demi mengusir rasa bosan aku memutuskan untuk menghubungi sahabat ku melalui video call.
aku segera menekan tombol video di pojok atas room chat ku dengannya, telepon pun terhubung dan muncullah wajah Sabahat ku.
"hai ya ampun kangen banget, gimana kabarnya?" tanya ku riang
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanyanya
"Alhamdulillah baik juga" jawabku
"maaf ya gak bisa hadir di hari bahagia kamu" ucapnya merasa bersalah
"udah gak papa aku gak masalah kok, yang pentingkan doanya" ucapku sembari tersenyum tulus
"terus gimana sekarang?" tanya nya ambigu
aku hanya tersenyum getir sembari berucap "gak ada yang berubah, semua tetap sama"
aku dapat melihat raut kekhawatiran di wajahnya, karena memang selama ini hanya dia yang tau bagaimana aku, dan dia juga yang dengan tulus mensuport aku dalam setiap keadaanku, nasib yang sama yang menjadikan kami bisa saling mengasihi dan mengerti satu sama lain.
"kamu tau, ada kalanya kita harus bersikap egois demi diri kita sendiri, demi kebahagiaan kita sendiri. memang di wajibkan untuk seorang anak berbakti kepada ibunya, tapi bukan dengan seperti ini caranya. kamu berhak bahagia, kamu mempunyai hak untuk memilih" jelasnya panjang lebar.
"aku tau kekhawatiran mu, aku tau maksud baikmu. tapi apa yang harus ku pilih kalau pilihan itu sendiri tak ada yang menguntungkan untukku?" jawabku tenang.
"masih banyak pilihan, kamu hanya tinggal memilih mana yang membuatmu bahagia dan membuatmu nyaman, jangan mau terbelenggu dengan sesuatu yang menyakitkan" jelasnya lagi
" memilih antara tak di anggap lagi dan berkorban gak ada yang membahagiakan. semua menyakitkan, tapi akan lebih sakit lagi bila keluarga ku tak mau menganggapku lagi. karena sejatinya tempat ternyaman untuk menghindar dari segala hiruk pikuk dunia hanya keluarga" ucapku disertai dengan Ari mata yang meluncur bebas tanpa izin.
"cengeng banget kan? gini aja udah nangis"ucapku berusaha memecahkan suasana yang menyesakkan hati sembari mengusap kasar air mataku.
"Andai,, andai ayah masih ada semua gak akan jadi seperti ini. keluarga ku gak akan berantakan begini" ucapku parau
"kamu tau dulu sebelum ayah meninggal semuanya terasa indah, padahal kehidupan kami dulu sangat amat memprihatinkan tapi kami mampu melewatinya, semua terasa mudah meski dengan keadaan yang serba kekurangan. tapi sekarang setelah ayah meninggal semua orang seakan berubah ke wujud aslinya, gak ada lagi ibu yang perhatian dengan tulus, gak ada lagi candaan hangat dari seorang kakak untuk adiknya, gak ada lagi tutur kata sopan dari seorang adik pada kakaknya. semua berubah dalam waktu singkat" ucapku, dapat ku lihat dia berusaha menahan tangisnya di tengah senyum yang melingkupi bibirnya.
"Aku rindu ayah, aku rindu bagaimana mana dia bertingkah konyol di depan anak anak nya, bagaimana dia berjuang demi tekad anaknya yang ingin melanjutkan pendidikan hingga dia rela bolak balik dengan jarak tempuh yang jauh.aku sakit melihat bagaimana ia menangis di sepertiga malam karena merasa gagal menjaga anak lelakinya. cara dia berbangga diri atas prestasi ku yang menang lomba hapalan Alquran, bagaimana wajah sangar beserta malu saat ia memintaku untuk mengajarinya mengaji, padahal di usiaku yang baru 11 tahun harusnya ia yang mengajariku bukan malah sebaliknya. cara bagaimana ia memanjakan adikku.. aku rindu semua itu, aku rindu segala sesuatu tentang ayahku.. aku rindu pelukan hangat nya, aku rindu ayahku, aku rindu padanya. aku lelah, aku ingin menyerah. selama ini aku bertahan hanya karena ayah..rasa penyesalan karena belum bisa membahagiakan nya menjadikan tekad untuk aku membahagiakan keluarga demi menebus rasa penyesalan itu" ucapku menahan sakit di dada karena berusaha untuk tidak menangis.
Namun saat aku melihat sahabat ku sudah berlinang air mata aku tak mampu lagi menahan segala sesak ini, sehingga aku memutuskan sambungan telepon secara sepihak..
setelahnya aku menangis dalam diam, meluapkan segala emosi yang tertahan dengan cara menangis.
tanpa di sadari ada beberapa pasang mata yang mendengarkan kisah pilu ini..
setelah beberapa saat aku menenangkan diri, aku memutuskan untuk kembali ke apartemen suamiku. aku beranjak berdiri dan berbalik namun sesuatu yang tak terduga membuatku diam mematung.
aku terdiam membisu selama beberapa saat hingga sebuah suara menyadarkan aku.
"maaf maaf maaf" ucap seseorang yang saat ini tengah memelukku.
aku tak mengerti apa yang baru saja terjadi, namun aku bisa melihat di sana di depan pintu roof top berdiri 5 orang dengan keadaan menangis. aku tau mereka siapa meskipun aku tak begitu mengenalnya, mereka adalah teman dari suamiku, dan orang yang saat ini memelukku adalah suamiku.
aku tak tau harus berbuat apa aku merasa Dejavu dengan suasana ini.
pelukannya semakin mengerat dan kata maaf selalu terlontar, hingga ucapan nya membuat ku tak mampu lagi membendung Ari mata akan rasa sedih dan bahagia.
" maaf karena aku tak berusaha untuk menerima takdir ini sehingga aku melampiaskan nya padamu, maaf karena sudah menjadi suami yang begitu buruk untukmu. maaf jika perlakuan ku banyak menyakiti mu,, untuk sekarang akan berusaha menerima pernikahan ini, aku akan membuka hati dan belajar mencintaimu. mari kita mulai dari awal, bantu aku untuk sembuh dari kelainan ini, dan ingatkan aku jiga aku mulai melakukan kesalahan lagi" ucapnya dengan suara bergetar dan pelukan yang semakin erat.
aku menangis terharu,, aku membalas pelukannya tak kalah erat.
"aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau meminta maaf, aku memaklumi semua perlakuan mu karena aku tau perasaanmu. maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang kau dambakan" ucapku
Ya Allah terimakasih karena telah mengabulkan doa hamba mu ini.. terimakasih atas hidayah mu ini,, aku tau kau memiliki rencana lain yang lebih indah dari yang ku mau. terimakasih yaallah dan Berkahilah selalu kehidupan kami yaallah....!