"Larilah sekencang mungkin! Hahaha ...."
"Hhh ...."
Aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Sosoknya tak terlihat, tapi aku tahu dia sedang mengejarku. Punggungku semakin memanas bersamaan dengan napasku yang sudah tak beraturan. Jantungku rasanya ikut berlari di dalam dada. Bahkan aku hampir tak bisa lagi menghirup udara karena terasa berat. Sebisa mungkin tak ku hentikan kaki ini meski rasanya sudah tak kuat lagi.
"Hahaha ...." Suara itu terdengar seperti tawa seorang pria, sangat mengerikan.
Aku tak berani menoleh dan hanya fokus ke depan. Tak peduli lagi bagaimana keadaan jalanan di bawah sana. Terkadang rasa sakit seperti tertusuk benda tajam sangat terasa di telapak kaki. Aku tetap berlari lurus ke depan sekencang mungkin. Mencoba menjauhi dari sosok yang kini sedang mengejarku.
Jalanan yang sepi dan gelap seakan tanpa ujung. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tersesat sampai di sini?
Aku tidak mendengar lagi suara itu. Aku mulai memperlambat kakiku. Semakin lama semakin pelan. Aku sudah tidak kuat lagi. Napasku hampir habis dan kakiku sudah tidak kuat berlari. Aku berhenti. Seketika aku menjatuhkan diri di jalan beraspal ini. Berbaring sambil mengatur napas yang tersengal-sengal.
"Hah hah hah ...."
Aku mencoba untuk mengatur tempo napasku. Aku adalah atlet lari di sekolah. Tentu sudah biasa berlari dan berlomba dengan yang lain untuk menjadi juara. Namun, ini kali pertama aku berlomba dengan sosok tak kasat mata. Ah, kami tidak berlomba. Akulah yang dikejar olehnya.
Kulihat sekitar. Benar-benar gelap tanpa penerangan sedikitpun. Aku tahu ini bukan hutan. Karena tidak mungkin ada hutan yang jalannya sudah beraspal. Aku mulai tenang. Tempo napasku sudah mulai normal kembali, tapi rasanya masih lelah sekali. Aku bangun dan duduk. Memijat kaki berharap lelahnya bisa sedikit terobati.
Mengingat kembali sosok apa yang baru saja mengejarku. Tubuh besar dan hitam, juga penuh dengan rambut panjang di seluruh tubuhnya. Wajahnya, ah ... aku mual jika harus membayangkannya. Wajah yang hancur dengan mata yang sepertinya akan keluar dari tempatnya. Orang bilang itu adalah sosok genderuwo. Ya benar, itu sosok genderuwo. Baunya sangat busuk menusuk hidung. Bahkan sampai kini aku masih mencium baunya.
Tunggu, bau busuk itu sudah hilang sebelumnya. Kenapa sekarang muncul lagi? Ya Tuhan, jangan sampai apa yang aku pikirkan menjadi nyata. Tubuhku mulai memanas kembali. Bulu kudukku meremang. Jantungku mulai berdegup kuat seperti ingin melompat dari rongga dada. Aku merasakan kedatangannya lagi. Dekat, sangat dekat. Bau busuk itu sangat kuat hingga perutku ikut bereaksi.
"Huek ...." Aku menutup mulut untuk menahan sesuatu yang ingin keluar dari perut.
Aku ingin segera bangkit, tapi rasanya sangat sulit. Kakiku tiba-tiba tidak bisa digerakkan. Aku merasakannya. Punggungku terasa tebal. Dia, dia ada di belakangku.
Meski tak berani, aku paksakan kepalaku untuk menoleh ke belakang. Penasaran sekaligus memastikan. Perlahan ku gerakkan leherku. Beberapa helai rambut terlihat menjuntai di bahuku.
Ya Tuhan ... tolong aku!
Dan benar, genderuwo itu ikut duduk tepat di belakangku. Wajahnya persis di samping telingaku saat aku melihatnya. Aku bergetar. Mataku benar-benar terbuka lebar tak percaya. Aku ingin teriak sekencang mungkin. Namun, mulutku tak mau terbuka dan gigiku seakan mengatup rapat. Aku hanya bisa menangis melihat dia tertawa menunjukkan gigi taringnya.
Aku mencoba sekuat mungkin untuk bergerak dan berteriak. Dan ....
"Toni!" Radit sudah berdiri di samping tempat tidur milikku.
"Aaa ...." Aku terduduk di atas tempat tidur.
"Kamu kenapa?" tanya Radit teman satu sekolahku.
"Aku kenapa?" Ku tanya balik Radit.
"Lah, mana ku tau kamu kenapa. Tiba-tiba berteriak tak jelas. Menganggu saja."
Radit membaringkan tubuhnya kembali di tempat tidur. Sedangkan aku masih terengah-engah. Aku lihat kaos yang ku kenakan sudah basah semua. Mungkin karena banyaknya keringat yang keluar. Aku melepas kaos yang kupakai dan menaruhnya di ujung kasur. Aku bangkit dan segera mencari kaos dalam lemari.
Setelah memakainya, aku duduk kembali di tempat tidur dan meraih sebotol air mineral di atas nakas. Rasanya kering sekali tenggorokanku. Sepertinya aku memang baru saja berlari jauh. Namun nyatanya itu semua hanya mimpi, tapi rasanya begitu nyata. Bahkan rasa lelah di kaki masih sangat terasa.
Ini sudah ketiga kalinya aku bermimpi hal yang mengerikan. Dari mulai yang bertemu pocong di sudut sekolah hingga tadi dikejar genderuwo. Ku lirik jam di dinding, pukul satu lewat tiga puluh menit. Orang bilang mimpi di jam ini memang benar-benar sesuatu yang nyata. Apa iya seperti itu?
Dengkuran halus terdengar dari tempat tidur di sampingku. Radit sudah kembali pulas rupanya. Aku dan Radit adalah salah satu penghuni asrama SMP Karya Bangsa. Kami tinggal di sini baru tiga bulan. Sekolah menyediakan asrama khusus bagi para siswa dan siswi yang berprestasi dalam bidang olahraga. Kami dianjurkan untuk tinggal di asrama agar para pelatih bisa memantau kami lebih intens.
Aku senang saja karena memang jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Dengan tinggal di asrama sudah jelas akan menghemat ongkos pulang pergi. Hehe.
Aku dan Radit masuk dalam klub lari di sekolah. Sedikit banyak dalam dua bulan ini sudah menyumbang tujuh medali untuk sekolah. Namun baru beberapa hari ini aku mengalami hal yang janggal selama tinggal di asrama. Aku mulai bermimpi tentang hantu dan sering merasa ada yang mengikuti ke manapun.
Kuraup wajahku dengan kedua tangan mencoba menghilangkan perasaan ngeri yang baru saja ku alami. Aku berbaring kembali dan memejamkan mata. Kali ini aku mencoba membaca doa sebelum tidur. Berharap aku tidak kembali bermimpi buruk dan bisa tidur dengan nyenyak. Besok aku harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah.