[HOROR] TEROR POCONG MELUDAH
“Rin, udah belum?” panggilan dari suara cempreng milik seorang gadis yang berdiri di depan toilet itu mengundang jawaban samar dari dalam sana.
“Wait five minute. Gue lagi ganti pembalut.”
“Buruan, ada mayat dataaaang!” seru gadis bernama Amara itu. Saat ini ia tengah menemani temannya yang masih berada di dalam toilet.
Amara memilih keluar lebih dahulu dari toilet, karena tidak tahan dengan bau dari tempat tersebut. Saat keluar dari toilet, ia malah harus menunggu di antara keheningan lorong-lorong rumah sakit. Suasana kian mencekam, didukung dengan pencahayaan yang minim karena di lorong tersebut ada beberapa bohlam lampu yang mati dan berkedip-kedip. Walaupun sudah cukup lama bertugas di state forensik, tetap saja Amara yang notabene penakut kerap kali dibuat merinding.
Salah satu tempat yang sering membuat buluk kuduk Amara merinding adalah toilet umum di pojok lorong yang lokasinya cukup dekat dengan kamar mayat. Bukan satu atau dua cerita mistis yang kerap terdengar dari tempat ini, saking banyaknya. Namun, ketimbang memutar ke tempat yang lebih jauh hanya untuk numpang ke toilet, kebanyakan orang lebih memilih mendatangi toilet ini.
“Aurrin, udah belum sih?!” kesal Amara.
Entah berapa lagi temannya itu berada di dalam sana. Yang pasti, bulu kuduk Amara sudah berdiri semua. Ditambah lagi notifikasi dari grup chat yang terus berdatangan. Menimbun pesan satu dengan pesan lainnya. Satu topik yang Amara tangkap, yaitu ada mayat datang, dan mereka diminta untuk segera hadir untuk melakukan PL.
PL sendiri adalah pemeriksaan luar, yaitu proses mengidentifikasi jenazah lewat pakaian, kulit, rambut, badan, kaki, tangan, mulut, dan gigi. Tanpa harus mengubek-ubek organ dalam jenazah.
“Udah, yuk.”
“Astagfirullah!” Amara terperanjat. Ia hampir saja melemparkan botol Tupperware berisi es kopi pada Amara saking kagetnya. “Lo bisa nggak sih kalau muncul intro dulu? Kaget gue.”
“Sorry.”
“Dasar,” kesal Amara.
Gadis cantik yang memiliki bola mata berwarna ember itu tersenyum jumawa. “Sorry, elah. Beneran, tadi gue nggak ada niat buat kagetin lo,” katanya seraya membuang sesuatu ke dalam tong sampah yang ada di luar toilet.
“Buang apaan lo?”
“Roti jepang.”
“Hah?” Amara loading untuk beberapa sekon.
“Pembalut bekas pakai,” tutur Aurrin. “Lemot banget itu otak. Kebanyakan hafalan lo?”
Amara mendengus. “Nggak dicuci dulu, ya?”
“Kagak ada waktu, nyet. Katanya ada mayat datang.”
“Iya sih. Tapi….”
“Udah, lah. Ayok. Katanya kita harus buru-buru. Disuruh PL, ‘kan?”
Amara mengangguk. “Iya. Tapi, lo kebiasaan kalau habis pakai pembalut nggak dicuci. Itu tuh nggak boleh.”
“Elah, bodo amat. Yang penting udah ganti sama yang baru. Nggak usah ribet,” ujar Aurrin seraya berjalan mendahului Amara. Ia memang paling anti dengan sesuatu yang ribet. Jika bisa langsung dibuang ke tong sampah, kenapa pula harus merepotkan diri untuk mencuci?
“Woi, tungguin gue!”
Amara yang sudah ditinggal Aurrin langsung bergegas mengejar. Jika bukan karena menemani Aurrin ganti pembalut, ia ogah sekali datang ke sini. Mendingan nahan pipis sama pup, sekalipun itu tidak dianjurkan oleh medis. Jika sudah kebelet dan kepalang tanggung, baru Amara akan minta ditemani datang ke sini. Seringnya sih numpang di toilet yang ada di dalam ruangan dokter spesialis yang membantu meraka selama menjalankan koas di rumah sakit ini.
“Kenapa lo tiba-tiba berhenti, Rin?” tanya Amara. Ia hampir saja menubruk punggung Aurrin jika tidak cepat-cepat mengerem.
“Kita jalan sini aja, deh. Lebih cepet.”
“Kagak mau! Jalan situ serem,” tolak Amara.
“Tapi jalan sini lebih cepet, Ra.”
Amara tetap menggelengkan kepala. Mereka memang harus segera sampai ke instalasi forensik yang berlokasi di belakang rumah sakit. Jalan utama agak memutar, jadi Aurrin menyarankan jalan alternatif yang akan langsung membawa mereka ke instalasi forensik. Namun, di jalan alternatif itu terdapat pohon beringin besar yang konon katanya dihuni oleh sosok tinggi besar yang tubuhnya dipenuhi oleh rambut. Sosok itu kerap menampakkan diri pada malam-malam tertentu. Misalnya seperti malam ini, malam jum’at.
“Jalan sini aja, titik.”
Aurrin berdecak sebal seraya mengangguk. “Lagian ngapain pakai takut segala sih? Mana ada hantu yang gentayangan jam segini,” ledek Aurrin.
“Nyebut lo. Ini lagi maghrib, Rin. Jam-jam rawan.”
“Halah, b to the cot alias bacot,” sanggah Aurrin. Ia kembali melanjutkan langkah seraya bersiul kecil.
Amara hanya bisa menghela napas melihat kelakuan sahabatnya itu. Aurrin memang tidak percaya dengan yang namanya mahluk halus. Walaupun teman-teman koas mereka banyak yang kerap kali mengalami kejadian mistis, namun Aurrin tetap tidak mudah percaya, karena ia sendiri tidak pernah mengalami kejadian mistis selama koas di sini.
Baru saja hendak belok ke arah belakang rumah sakit, langkah kaki Aurrin kembali terhenti. Tepat di lorong pertigaan.
“Kenapa lagi, Rin?”
“Itu….” telunjuk Aurrin terangkat. Mengarah ke satu tempat. “….cewek yang lagi berdiri di sana, ngapain?”
Amara menoleh, mengikuti arah telunjuk Aurrin. Ternyata yang Aurrin maksud adalah seorang perempuan yang menggunakan gaun putih di bawah lutut. Tengah berdiri menghadap tembok, dengan bagian kening menempel pada dinding. Wajahnya tidak tampak jelas, karena tertutup oleh rambutnya yang panjang dan tergerai.
“Gue juga nggak tahu, Rin.”
“Kita samperin dulu gimana? Takutnya itu keluarga pasien yang salah nyari ruangan. Ke arah sana ‘kan cuma ada kamar mayat.”
Amara tampak berpikir. “Tapi, kita udah ditunggu buat PL.”
“Sebentar aja, Ra. Kasihan. Kayaknya lagi nyari sanak-saudaranya, sampai putus asa begitu.”
“Ya udah,” ujar Amara kemudian. Menyetujui ide Aurrin. Aurrin memang pada dasarnya gampang iba. Walaupun anaknya anaknya selengehan, kasar ketika bicara, dan ceplas-ceplos.
Mereka berdua kemudian berjalan lurus, alih-alih berbelok. Menghampiri perempuan dengan gaun putih, serta rambut hitam yang digerai tersebut.
“Permisi, Mbak.”
Aurrin yang pertama kali buka suara saat mereka sudah menghampiri perempuan tersebut. Jika dilihat dari dekat, Aurrin dan Amara bisa melihat keseluruhan kondisi si perempuan. Kulitnya putih, cenderung pucat. Gaun putih di bawah lutut yang dikenakannya tampak lusuh, lecek, serta kotor di beberapa bagian. Rambut panjangnya yang tergerai bebas juga acak-acakan, seperti tidak disisir beberapa hari. Satu lagi, perempuan itu juga ternyata tidak menggunakan alas kaki.
“Mbak sedang apa ya, di sini?”
Aurrin memberanikan diri menyentuh bahu perempuan itu dikarenakan perkataannya tak kunjung mendapat jawaban.
“Mbak keluarga pasien atau apa, ya? Soalnya di area ini hanya ada kamar mayat….” Kalimat Amara yang belum rampung diucapkan terputus begitu saja saat perempuan bergaun putih itu membalikkan badan.
Wajah perempuan itu tampak sangat pucat, kedua matanya juga dihiasi oleh kantung mata yang menghitam. Sorot matanya juga tampak kosong. Ditambah dengan kondisi mulut yang terbuka lebar, sehingga membuat beberapa tetes air liur mengalir dari mulut hingga rahang, bahkan berceceran di permukaan lantai.
“Rin.” Amara langsung memeluk lengan temannya. Ketakutan melihat wajah perempuan tersebut. “K-ayaknya dia ODGJ deh,” bisik Amara. Ia menatap Aurrin dengan wajah ketakutan.
Aurrin mengangguk samar. Ia kemudian mundur selangkah sembari menoleh ke samping, mengambil ancang-ancang. “Kalau gitu kita tinggalin dia di sini dulu, Ra. Nanti kita hubungin salah satu petugas RSJ buat ngurus cewek ini.”
“I-ya.”
Baru saja Aurrin hendak buka suara lagi saat memalingkan wajah ke depan, kedua bola matanya langsung membesar kala tidak menemukan sosok perempuan yang ia tanyai beberapa saat lalu. Keterkejutan juga tercetak jelas di wajah Amara. Padahal mereka hanya memalingkan pandangan selama beberapa detik untuk bicara, lantas kemana perginya perempuan tadi?
Apakah mungkin perempuan tadi bisa menghilang secepat kilat?
“Rin, cewek itu ke mana?” lirih Amara, semakin dibuat kebingungan dan ketakutan.
“Gue mana tahu, Ra. Tadi di masih berdiri di depan kita,” jawab Aurrin, sama bingungnya dengan Amara. Ia menoleh ke kanan dan kiri, namun tak kunjung menemukan keberadaan perempuan tadi. Yang tertinggal hanyalah air liur bekas perempuan tadi di atas permukaan lantai.
“Rin.”
“Hmm?”
“Jangan-jangan cewek tadi ….hantu?!”
**
“Jenazah berjenis kelamin perempuan, diperkirakan berusia di bawah tiga puluh tahun. Berat badan 58 kilogram. Tinggi badan 169 centimeter. Ras mongoloid. Warga Negara Indonesia. Jenazah ditemukan di sebuah ruko terbengkalai dengan kondisi telanj*ng, serta terdapat luka bekas ikatan di leher, kaki, dan tangan.”
Aris, konsulen sekaligus pengawas proses pemeriksaan luar memimpin mereka. Amara dan Aurrin benar-benar datang terlambat, beberapa menit terakhir sebelum PL dilaksanakan. Sudah ada enam peserta koas saat Amara dan Aurrin datang. Kedelapan peserta koas termasuk Amara dan Aurrin, langsung dibagi menjadi empat tim. Amara kebagian tugas mengidentifikasi bagian bawah jenazah. Sedangkan Aurrin kebagian tugas mengidentifikasi bagian atas jenazah.
Jenazah yang baru saja datang ditemukan di ruko terbengkalai dengan kondisi telanj*ng. Jika dilihat dari kondisi jenazah saat ditemukan, kemungkinan besar jenazah merupakan korban pembunuhan. Tubuhnya juga sudah kaku saat ditemukan, mungkin sudah meninggal sejak beberapa jam yang lalu. Kondisi jenazah kali ini bisa dibilang lebih baik, ketimbang jenazah yang datang kemarin malam dengan kondisi busuk serta sudah tak berbentuk. Ditambah lagi bau busuk yang sangat menyengat. Para peserta koas yang kebagian tugas untuk melakukan PL sampai-sampai dibuat mual dan muntah setelah keluar dari ruang otopsi.
“Ra, jangan ngelamun terus. Lo ‘kan bagian nyatet,” komentar Naza—salah satu peserta koas yang kebagian satu tim dengan Aurrin.
“Sorry, sorry. Gue kurang minum nih kayaknya, jadi nggak fokus.”
Aurrin tersenyum canggung, kemudian ikut melihat bagian atas jenazah yang sedang diperiksa oleh Naza. Naza tidak merespon lebih lanjut, lalu kembali memeriksa bagian atas jenazah. Aurrin bertugas mencatat berbagai hasil pemeriksaan, mulai dari warna rambut, karakteristik rambut, ada atau tidaknya luka di wajah, benjolan di kepala, memar, dan sebagainya. Sesekali mereka juga berdiskusi sebelum mencatat hasil pemeriksaan yang mereka temukan.
Sebenarnya alasan kenapa Aurrin kedapatan melamun adalah karena ia masih kepikiran insiden mistis yang terjadi beberapa saat lalu. Apa benar perempuan yang ia lihat bersama Amara tadi adalah hantu?
Jika bukan hantu, melainkan manusia, memang ada manusia yang bisa menghilang dalam sekejap mata? Kemungkinan besar tidak ada.
Toh, di tempat tersebut tidak ada tempat untuk bersembunyi, kecuali kamar mayat. Masa iya perempuan itu menyelinap masuk ke kamar mayat?
Lagipula tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana, karena pasti ada petugas yang berjaga di sana.
“Lo berdua dari PL tadi kayaknya ngelamun terus, deh. Kenapa sih? Ada tugas yang belum selesai?”
Naza menyodorkan dua botol air mineral di hadapan kedua temannya. Saat ini mereka sedang berada kantin rumah sakit. Mencari sesuatu untuk mengisi perut setelah melakukan panggilan visum.
“Nggak kok. Cuma lagi kurang fokus aja,” sahut Aurrin. “Iya, nggak Ra?”
Amara terlonjak. “Hah? I-ya.”
“Tuh, ‘kan, lo pasti barusan ngelamun lagi, ya, Ra?” tebak Naza. Melihat ekspresi Amara saja, ia sudah bisa berspekulasi demikian.
“Mara tuh lagi mikirin kucingnya di kosan. Tadi pagi lupa dikasih makan,” sanggah Aurrin.
“Masa? Tumben lo lupa ngasih anak lo makan, Ra?”
“Namanya juga manusia, Za. Manusiawi kalau lupa sama sesuatu,” komentar Amara. Mengikuti permainan Aurrin yang memilih berbohong.
“Dih, kasihan banget si Garfield punya Emak pelupa kayak lo, Ra. Waktu dapat tugas malam minggu lalu, lo juga lupa ngasih Garfield makan, ‘kan?”
Amara tersenyum kecil. “Iya. Untung si Aurrin ngasih anak gue makan sebelum piket.”
“Makanya jangan kebanyakan makan micin,” komentar Aurrin seraya mencomot pentol berlumuran bumbu kacang yang tengah dinikmati oleh Amara.
“Beli sendiri sana. Kebiasaan, suka banget nyomot punya gue,” sewot Amara. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil botol air mineral yang tadi dibawakan oleh Naza. Ia butuh air untuk melegakan tenggorokan.
Namun, baru saja memegang botol air mineral tersebut, Amara langsung menarik tangannya lagi dengan gerakan cepat. Hal itu tentu membuat menarik perhatian Aurrin serta Naza. Karena gerakan tiba-tiba itu, botol air mineralnya sampai-sampai jatuh ke lantai.
“Ra, lo kenapa?” tanya Aurrin yang kebetulan duduk di samping Amara.
Amara tidak menjawab, namun ia mengangkat tangannya, kemudian menunjukkan telapak tangannya ke pada Aurrin.
“L-ihat, Rin.”
Aurrin menunduk. Melihat telapak tangan Aurra. Ia menyipitkan mata, melihat apa yang ada di telapak tangan tersebut.
“Lendir?” Aurra menatap Amara. Sedangkan Amara hanya mengangguk dengan wajah shock.
“Lendir?” ulang Naza. “Lendir apaan? Tadi gue bawa botol itu nggak nyentuh apa-apa tuh. Apalagi lendir,” tambahnya.
“Lo lihat aja sendiri, Za. Itu di telapak tangan Mara ada apa coba? Lendir!”
“Mana, coba gue lihat.”
Naza menarik tangan Amara, meneliti apa yang yang sebenarnya dilihat oleh Amara dan Aurra. “Lah, beneran lendir?”
“Lihat ‘kan lo?”
Naza mengangguk. “Iya. Tapi, tadi itu botol bersih.”
Kebingungan. Itulah raut wajah yang tercipta di wajah Naza. Begitu pula dengan Amara dan Aurrin. Kenapa tiba-tiba saja ada lendir di botol air mineral Amara? Padahal jelas-jelas Naza bilang jika botol air mineral yang itu baru dibeli, dan masih dalam kondisi bersih. Tidak ada apapun yang menempel di botol tersebut.
“Rin, lo sadar nggak sih kalau lendir yang tadi mirip sama ludah hantu perempuan yang kita temui?”
“Hantu apaan,” sentak Aurrin sewot.
Amara yang sedang mengeringkan rambut menggunakan hair dryer bahkan langsung terdiam saking kagetnya. Sepulang dari panggilan visum, ia memang langsung bersih-bersih, mandi, serta keramas. Pantang baginya tidur tanpa keramas, apalagi setelah ada panggilan visum. Kalau dilanggar, konon katanya bisa kedatangan arwah jenazah yang divisum. Lewat mimpi, ataupun lewat penampakkan di depan mata.
Semenjak bertugas di state forensik, ada saja mitos dan pantangan yang harus diikuti. Tidak sedikit cerita dari teman-teman koas nya yang mengalami kejadian mistis, jadi mitos dan pantangan yang ada dipercaya memang harus diikuti. Namanya juga berkerja bersama jenazah, pasti itulah resikonya.
“Nggak usah nge-gas juga kali,” ucap Amara tak kalah sewot. “Memangnya lo nggak perhatiin lendir tadi? Itu tuh sama banget kayak ludah hantu tadi.”
“Lo salah lihat kali. Tadi Naza bilang apa? Kemungkinan itu bukan lendir, bisa jadi liquid apaan gitu. Nggak sengaja nempel di botol lo.”
Amara menggelengkan kepala. Ia kemudian mematikan hair dryer supaya lebih leluasa bicara. “Gue yakin itu lendir, Rin.”
“Serah lo deh,” ujar Aurrin. Ia yang sejak pulang scrool Instagram, alih-alih bersih-bersih, kemudian beranjak dari tempatnya. “Kalau menurut gue sih positif thinking aja.”
Setelah berkata demikian, Aurrin berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti, dalaman, serta pembalut baru. Lalu masuk ke kamar mandi, masih dengan perhatian yang fokus pada handphone di tangan. Ia memang sudah biasa membawa handphone ke kamar mandi untuk menemani aktivitasnya di dalam sana.
Aurrin biasa memutar lagu lewat aplikasi YT music untuk menemani acara bersih-bersih di kamar mandi. Ia juga suka sekali jika bernyanyi di dalam kamar mandi, bodo amat dengan mitos yang mengatakan jika dilarang menyanyi di kamar mandi. Aurrin tidak percaya pada hal sepeti itu.
“This ain’t build a b*tch (a b*tch). You don’t get to pick and choose.”
Sembari melucuti pakaiannya satu per satu, Aurrin asik menembangkan lagi Build a B*tch milik Bella Poarch yang diputar dari handphone yang disimpan di atas nakas. Selesai dengan urusan pakaian, Aurrin lekas mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
“This ain’t build a b*tch (a b*tch). I’am filled with flaws and attitude.”
Masuk ke bait kedua lagu, Aurrin menyanyi seraya mengambil botol body wash favoritnya. Body wash berwarna putih yang mengeluarkan aroma honey dan shea butter yang dapat melembabkan kulit hingga 8 jam. Namun, alih-alih cairan berwarna putih yang mengeluarkan aroma honey dan shea butter yang keluar saat Aurrin menuangkan sabun ke telapak tangan, ia malah menemukan cairan kental berwarna bening mirip air liur.
“Apaan nih?” jerit Aurrin.
Musik yang sedang diputar juga tiba-tiba mati, bersamaan dengan padamnya lampu di kamar mandi. Seketika gelap menguasai ruang di sekitar Aurrin.
“Ra, nggak usah bercanda deh. Nggak lucu, anj*rr!” seru Aurrin dengan nada kesal yang tidak dapat disembunyikan. “Maraaa!” panggilnya lagi, namun masih tidak ada sahutan dari luar sana.
Sialnya lagi saat ini isa sudah terlanjur basah. Ditambah lagi kondisi di sekitarnya gelap, ia jadi tidak dapat melihat di mata letak handuk yang tadi ia letakkan sembarangan.
“Anj*ng banget si Mara,” umpat Aurrin seraya berjalan sambil berpegangan pada dinding. Baru saja beberapa langkah berjalan, ia menemukan sesuatu yang aneh.
“Tunggu, ini apaan lengket?”
Aurrin menggerakkan tangannya yang baru saja menyentuh permukaan dinding yang terasa lengket. Seperti ada cairan yang menutupi permukaan tersebut. Tapi, cairan apa? teksturnya lengket, dan berbau tidak sedap.
“Maraaa, nyalain lampunya. Gue hitung sampai tiga, kalau nggak lo hidupin, siap-siap lo tidur di….” Baru saja akan mengakhiri kalimatnya dengan gertakan yang lebih berani, tiba-tiba lampu menyala. Membuat Aurrin seketika itu pula menyipitkan mata karena banjiran cahaya yang memasuki retina mata.
Namun, satu objek membuat kedua bola matanya terbelalak hebat, yaitu sesuatu yang tengah merayap di atas dinding. Tepat di atas dinding yang dilumuri cairan lengket berbau tidak sedap yang tadi Aurrin temukan di tengah kegelapan.
“AHKKKK?!”
**
Amara dan Aurrin diteror. Itu adalah kesimpulan yang dapat mereka ambil. Semenjak insiden di dekat kamar mayat Maghrib tadi, mereka sudah dua kali mendapati lendir yang sama di tempat yang berbeda. Parahnya lagi Aurrin bahkan langsung diperlihatkan wujud asli si peneror, yaitu perempuan bergaun putih dengan rambut kusut dan mulut terbuka yang mengeluarkan ludah. Merayap di atas dinding kamar mandi kosan meraka.
Parno. Itulah kondisi yang sekarang dialami oleh Aurrin dan Amara. Mereka sama-sama tidak bisa memejamkan mata hingga dini hari, dan hanya bisa terjaga dengan waspada. Mereka sempat berencana untuk menginap, namun ide itu urung terlaksana teman-teman dekat mereka sedang ada tugas jaga.
“Rin, gimana kalau hantu itu datang lagi?” lirih Amara dengan tatapan waspada ke sekelilingnya. Ia juga mendekap erat kucingnya yang bernama Garfield. Kucing berbulu oren yang sejak tadi mengeong terus, padahal sudah diberi makan.
“Gue nggak tahu, Ra. Berd’oa aja supaya itu hantu nggak muncul lagi.”
“Sekarang lo percaya, ‘kan?”
Aurrin mengangguk dengan tatapan kosong. “Gue lihat sendiri di kamar mandi, Ra.”
“Tenang, Rin. Kita harus tenang,” sahut Amara. “Kalau besok masih begini, kita pindah dulu ke kosan Naza atau Nisa buat beberapa hari.”
“Ide lo kedengaran lebih baik.”
“Sekarang lebih baik kita istirahat, Rin. Apalagi besok lo ada shift pagi.”
“Hmm. Lo juga.”
Pada akhirnya Amara dan Aurrin memberanikan diri untuk tetap tidur di kosan mereka. Mau bagaimana lagi, mereka tidak punya keluarga di sini, kecuali teman-temannya. Mereka adalah anak rantau yang menetap di kota ini karena sedang mengenyam pendidikan.
Pada kenyataannya, tidur dalam kondisi gelisah tetap tidak menghasilkan apa-apa. Alih-alih kantuk yang datang semakin larut nya malam, yang ada hanyalah rasa gelisah yang kian bertambah. Hal itu pula yang dirasakan oleh Aurrin. Ia tidak dapat memejamkan mata barang sejenak, karena ingatan soal insiden di kamar mandi terus berputar di kepala. Menoleh ke samping, ia menemukan Amara yang sudah terlelap bersama dengan kucing kesayangannya. Hewan yang memiliki pendengaran lebih rendah dari manusia itu pada akhirnya bisa terlelap, setelah mengeong terus-terusan.
Baru saja memiliki kesempatan untuk merasakan kantuk, suara-suara yang datang dari sembarang arah membuat Aurrin kembali terganggu. Membuka mata, Aurrin kemudian menatap ke sekeliling kamar kosan miliknya. Mencari tahu asal muasal datangnya suara-suara tersebut. Namun, hasilnya nihil. Ia tidak menemukan apa-apa. Merasa situasi kembali janggal, Aurrin memutuskan untuk membangunkan Amara yang tidur di sampingnya. Akan tetapi, ketika hendak bergerak untuk membangunkan Amara, tiba-tiba tubuh Aurrin terasa berat dan kaku. Ia tidak dapat bergerak sama sekali.
“Badan gue kenapa?” lirihnya risau.
Aurrin berusaha dengan susah payah menggerakkan tubuhnya, namun nihil. Ia tidak dapat bergerak, tubuhnya terasa begitu berat. Seperti ada beban puluhan kilogram yang menindih tubuh bagian atasnya. Membuat Aurrin kesulitan bergerak, serta kesulitan untuk mengatur napas. Paru-parunya mulai terasa terhimpit seiring dengan berjalannya waktu. Pasokan oksigen di dalam tubuhnya kian menipis.
“Raa…. Maraaa….”
Aurrin mencoba memanggil Mara yang sekarang tidur dengan posisi memunggunginya. Wajah Aurrin sudah merah padam, karena pasokan oksigen yang dipompa oleh jantung kian menipis. Sesak. Aurrin merasakan sesak pada paru-parunya.
“Raa…. Uhuk…. uhuk….”
“Raa….”
Aurrin merasa tercekik. Lehernya seperti dililit tali. Pasokan oksigen yang semakin menipis memperburuk kondisi Aurrin yang tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali. Tubuhnya berat, kaku, seolah-olah membeku.
“Raaaa…..”
Amara berbalik, masih dengan kondisi terlelap. Bersamaan dengan itu, Garfield tiba-tiba bangun dan mengeong ketakutan. Membuat si pemilik ikut membuka mata.
“Raaa ….tooo ….long…”
“Astagfirullah, Rin. Lo kenapa?!” kaget Amara. Ia langsung beranjak dari posisi berbaring. “Lo kenapa Rin?” Amara segera meraih tubuh Aurrin, mencoba mengguncangnya beberapa kali.
“Se ….sak ….Raa …”
“Istighfar, Rin. Istighfar!” instruksi Amara dengan tubuh bergetar. Air mata juga mulai bercucuran dari matanya.
Sungguh, Amara saat ini merasa sangat ketakutan melihat kondisi Aurrin yang wajahnya sudah merah padam. Ditambah lagi tubuh Aurrin sangat kaku dan susah digerakkan. Amara bisa melihat betapa kesulitannya Aurrin untuk sekedar menghirup oksigen.
“Istighfar, Rin. Baca istighfar,” ujar Amara lagi dengan tangan yang sudah tremor. Ia kemudian membaca do’a apa saja yang teringat di kepalanya.
“Raaaaa….”
Aurrin memanggil dengan suara tercekik yang dapat Amara dengar untuk terakhir kalinya. Sesak di rongga dada kemudian berhasil merenggut kesadaran Aurrin.
“AURRIN!”
**
“Ketindihan adalah kondisi yang disebut juga sleep paralysis. Kondisi di mana seseorang ingin bangun dari tidur, tetapi tidak dapat bergerak dan berbicara. Hal itu biasanya terjadi dalam hitungan detik hingga menit. Berikut tujuh cara mengatasi ketindihan saat tidur.”
“Aurrin itu bisa bicara, Za. Cuma tubuhnya aja kaku, sama kayak dicekik. Aurrin bahkan sampai butuh di-oksigen.”
Naza yang sedang membaca beberapa artikel mengenai “ketindihan” tersebut tampak mengangguk paham. “Ketindihan memang sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, tetapi secara logika juga masih dapat dijelaskan. Menurut kedokteran yang ahli di bidangnya, salah satu penyebab ketindihan adalah pola tidur yang buruk. Kayak kita-kita ini yang lagi koas ‘kan pola tidurnya buruk, karena nggak teratur. Jadi bisa aja mengalami ketindihan. Menurut penelitian, ketindihan sering terjadi pada para pekerja shift, kayak kita.”
Amara menghela napas lelah. Susah memang bicara dengan Naza yang selalu mengutamakan logika. Padahal Naza belum tahu saja apa yang mereka alami.
Menurut Naza yang berpegang teguh pada penjabaran tentang “ketindihan” yang bisa dijelaskan secara logika, hal itu lumrah terjadi pada mereka yang bekerja shift. Sebagai peserta koas, mereka hanya sempat tidur tiga atau empat jam, makan sehari sekali, kemudian berkutat dengan tugas dan laporan.
Sebenarnya insiden ketindihan itu sudah berlalu semenjak dua hari yang lalu. Namun, hingga detik ini Aurrin dan Amara masih terus mengingatnya. Aurrin bahkan enggan tidur di kosan dua hari ini, namun teror lendir itu masih terus terjadi.
“Mendingan kamu cari Ustadz atau orang pintar, Ra,” usul laki-laki yang duduk di samping Naza.
“Lo percaya sama cerita gue, Bar?”
“Why no’t?” laki-laki dengan alis tebal itu mengedipkan bahu. “Lo lupa kalau temen satu kosan gue juga pernah diganggu sama kayak gitu? Gue awalnya juga nggak percaya. Tapi, ada momen di mana gue lihat sendiri dia minum dua gelas kopi item yang baru diseduh.”
“Terus waktu itu lo gimana, Bar?”
Bara tampak berpikir seraya mengunyah nasi goreng. “Hmm. Waktu itu temen gue yang satu lagi telepon orang tuanya, terus bilang duduk permasalahannya gimana. Sorenya, orang tua temen gue datang sambil bawa orang pinter gitu.”
“Gitu, ya?” Amara tampak mempertimbangkan ide tersebut. Lama-kelamaan teror itu semakin menjadi-jadi. Bahkan ketika mereka sudah pindah tempat tinggal ke kosan teman mereka.
“Hm. Coba aja dulu, siapa tahu cara ini berhasil.”
“Iya deh. Nanti gue coba cari Ustadz atau orang pinter buat….” Kalimat Amara terpotong begitu saja karena tiba-tiba lagu Snowman milik Sia yang dijadikan ringtone terdengar mengalun. “Bentar, gue angkat telepon dari Aurrin dulu.”
Naza dan Bara mengangguk bersamaan. Saat ini mereka tengah kebagian shift malam, dan tengah mengisi perut di kantin.
“Halo, Rin. Ada apa?”
Pertanyaan Amara tidak langsung mendapat jawaban dari Aurrin. Membuat Amara menautkan kening, cukup lama sambungan telepon itu hanya berisi keheningan.
“Rin?”
“....”
“Aurrin?”
“Ra!” jerit suara di seberang sana, berhasil membuat Amara refleks menjauhkan handphone dari telinga.
“Kenapa pakai acara teriak-teriak segala sih, Rin? Memangnya nggak bisa—“
“Ra, tolongin gue. Tolongin gue, gue takut Ra!”
“Tenang dulu, Rin. Bicara pelan-pelan. Kenapa lo ketakutan? Bukannya ada Nisa sama Garfield yang nemenin lo?”
“Gue takut, Ra,” rintih suara Aurrin di seberang.
Amara sudah tidak bisa berpikir positif lagi mendengarnya. Aurrin itu anaknya tidak mudah ketakutan, kecuali jika benar-benar ada yang telah mengguncang jiwanya.
“Ra, lo mau kemana?” tanya Naza ketika Amara buru-buru membenahi barang-barangnya.
“Balik.”
“Eh, lo barusan baru dipanggil dokter Jose buat jadi asistennya.”
“Hah?” Amara loading seketika.
“Dokter Jose butuh asisten buat visum. Dia minta lo jadi asistennya.”
“Tapi, Aurrin butuh gue,” ujar Amara frustasi. Tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari dokter Jose—salah satu dokter forensik yang membantu para peserta koas. Padahal timing-nya tidak pas. Amara harus segera pulang, karena Aurrin membutuhkannya.
**
“LO MAU APA SIH DARI GUE?!”
Teriakan frustasi kembali terdengar dari kosan dengan nomer kamar 14 tersebut. Suara-suara dari luar kamar juga tidak kondusif, mereka beramai-ramai pada memanggil si penghuni kosan untuk membuka pintu. Mereka khawatir karena mendengar suara jeritan histeris dan tangisan dari dalam kosan tersebut. Namun, si penghuni yang notabene sedang ketakutan setengah mati hanya bisa menjerit histeris, tanpa mempedulikan panggilan orang-orang di luar sana.
Bola mata ember milik itu bergerak gelisah, kemudian kembali menatap pada satu titik, yaitu tembok yang berlumuran cairan lengket seperti air liur, tetapi berbau tidak sedap yang merembes dari sela-sela dinding sampai turun ke bawah. Mengotori lantai di bawahnya. Di dekat pintu, ada seonggok tubuh yang tidak sadarkan diri karena tidak sengaja terkena lemparan lampu tidur. Ada pula mahluk berbulu oren yang tergeletak di kaki meja rias. Kucing oren bertubuh gemuk itu entah masih hidup atau tidak, setelah terlempar begitu saja dari atas tempat tidur.
“Gue mohon, jangan ganggu gue,” pintanya bersungguh-sungguh.
Aurrin frustasi. Si pemilik bola mata ember dan kulit putih seperti porselen itu sudah tampak seperti mayat hidup semenjak dua hari yang lalu. Lebih tepatnya, semenjak Aurrin mendapatkan teror misterius bersama Amara. Walaupun sudah pindah kosan, mereka tetap saja mendapatkan teror tersebut. Bahkan hari ini semakin parah.
“AHHHKK, PERGI?!” teriak Aurrin saat si peneror kembali menampakkan diri di pojok ruangan.
Sosok perempuan dengan gaun putih selutut itu tampak mengawasi Aurrin yang ketakutan di atas tempat tidur.
“PERGI, SETAN. PERGI. JANGAN GANGGU GUE!”
Tubuh Aurrin bergidik ngeri kala melihat sosok itu menghilang dalam segenap mata. Walaupun sudah menghilang, hal itu tidak mengurangi sedikitpun rasa takut Aurrin.
Bola mata ember miliknya kemudian mengintai keseluruhan ruangan yang sudah seperti kapal pecah. Barang-barang berserakan di mana-mana, tong sampah di dekat pintu juga tergeletak di lantai, sedangkan isinya berhamburan.
“RIN, BUKA PINTUNYA. INI GUE.”
Kemudian telinga Aurrin mendengar suara familiar milik sahabatnya, Amara. Sedikit rasa lega mulai melingkupi rongga dada.
“Raa, tolongin gue!” panggil Aurrin dengan air mata yang kembali berjatuhan. Sosok hantu perempuan itu juga kembali muncul di dinding yang dilumuri oleh cairan seperti air liur. Merayap seperti hewan yang memiliki organ pelekat di telapak tangan dan kakinya.
“RA, TOLONGIN GUE?!”
Aurrin kembali histeris saat sosok perempuan itu membuka mulutnya lebar-lebar, sehingga air liurnya jatuh ke mana-mana, termasuk mengenai wajah cantik Aurrin.
“RA, TOLONG. TOLONGIN ….GUE?!”
Aurrin yang tadinya hanya terpaku di atas tempat tidur, menggunakan seluruh kekuatan yang ia miliki untuk berlari dengan cepat ke arah pintu. Namun naas, kakinya yang digunakan untuk berlari menginjak liur hantu perempuan yang masih menempel di dinding, sehingga Aurrin terpeleset dan kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh tersungkur di depan pintu.
“Hiks …. Hiks ….to ….longin gue ….Ra….”
Kaki Aurrin sekarang terasa sakit. Kemungkinan besar terkilir saat ia terpeleset. Ketika digerakkan begitu nyeri, sehingga ia kesulitan berdiri. Pupus sudah harapan Aurrin untuk melarikan diri, kecuali pintu terbuka dari luar.
“Raa ….tolongin gue….”
**
Pintu berhasil dibuka setengah jam kemudian, setelah kakak Nisa—pemilik kamar kosan yang ditinggali sementara oleh Aurrin dan Amara datang dan mendobrak pintu. Laki-laki yang kebetulan seorang pemadam kebakaran itu tidak pandang bulu ketika harus mendobrak pintu, tidak peduli jika pintu itu berakhir rusak parah. Yang terpenting adalah keselamatan para penghuninya.
Kosan Nisa memang kosan khusus putri, jadi tidak ada laki-laki saat kejadian. Kebetulan kakak Nisa datang, karena sengaja ingin menjenguk sang adik. Ketika pintu berhasil dibuka, Amara langsung menjerit histeris melihat Nisa dan Aurrin yang sama-sama tidak sadarkan diri. Para penghuni kosan lain yang ada di tempat kejadian juga dibuat kebingungan serta ketakutan melihat kondisi dua gadis yang ada di kosan nomer 14 tersebut.
Amara dan Nisa kemudian dibawa ke pusat kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tidak terkecuali Garfiel—kucing kesayangan Amara yang ikut menjadi korban.
Amara juga langsung menghubungi orang tuanya serta orang tua Aurrin, kemudian menceritakan musibah apa yang baru saja menimpa mereka berdua.
“Waktu itu wujudnya gimana, dek?”
“Perempuan pakai gaun putih di bawah lutut, Pak. Rambutnya sepinggang, digerai,” tutur Amara.
Kedatangan orang tua Amara ternyata tidak seorang diri, melainkan bersama seorang laki-laki paruh baya yang dikenalkan sebagai orang yang bisa menangani gangguan spiritual.
“Hantu perempuan itu mulutnya terbuka lebar, Pak. Sampai-sampai air liurnya kemana-mana,” tambah Amara.
Jawaban itu disetujui oleh Aurrin lewat anggukan kepala. Aurrin memang sudah sadarkan diri, tidak lama setelah mendapatkan pertolongan pertama. Begitu pula dengan Nisa dan Garfield. Hanya saja Aurrin jadi lebih pendiam semenjak sadarkan diri.
“Itu bukan wujud aslinya, dek,” tutur si bapak. “Wujud aslinya pocong yang suka meludah.”
“Enggak, Pak. Hantunya perempuan, kok,” sanggah Amara.
Si bapak tersenyum kecil. “Itu bukan wujud aslinya, melainkan wujud sementara yang diambil oleh pocong yang suka meludah.”
Amara, Aurrin, serta kedua orang tua mereka tampak terperangah.
“T-erus bagaimana cara lepas dari teror pocong meludah itu, Pak?”
“Pocong meludah itu pada dasarnya suka sesuatu yang tidak bersih. Di antara kalian, siapa yang suka malas membersihkan darah yang keluar saat menstruasi?”
“M-emangnya kenapa, ya, Pak?” tanya Amara was-was. Dari ekor matanya, ia melirik Aurrin yang tampak mematung.
“Pocong meludah itu suka menghisap darah menstruasi yang tidak dibersihkan dengan benar.”
“Rin.” Amara menoleh, menatap Aurrin sangsi. “Itu ….kebiasaan lo.”
Aurrin yang tengah menunduk tidak menjawab.
“Rin?”
Alih-alih menjawab, Aurrin malah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan mulut yang terbuka lebar.
“Aurrin!” panggil Amara shock saat melihat Aurrin tiba-tiba bertingkah demikian.
Si bapak yang dibawa orang tua Aurrin langsung bergerak, menangani Aurrin yang rupanya telah kerasukan.
“As’salamaualaikum?” tanya si bapak sembari menggunakan telapak tangan kanannya untuk menahan punggung Aurrin. “Ini dengan siapa?”
Aurrin tidak menjawab. Hanya tawa yang terurai sedikit demi sedikit. Si bapak kemudian menggunakan cara lain untuk berkomunikasi, walaupun agaknya mahluk halus yang merasuki tubuh Aurrin sulit untuk diajak berkomunikasi.
Orang tua Aurrin yang kebetulan baru tiba dari luar kota, Langsung menangis melihat putri sematawayangnya mengalami kejadian supranatural seperti itu. Padahal saat pertama kali dihubungi, mereka sempat ketawa dan tidak terpercaya.
“Kalian beda dunia. Jangan bawa anak ini,” ucap si bapak.
Mendengar hal itu, Amara jadi ikutan histeris. “Jangan bawa Aurrin?!”
Kedua orang tua Amara kemudian ikut menenangkan putri mereka, agar tidak mengganggu jalannya komunikasi. Mereka tahu Amara histeris karena ia sangat menyayangi Aurrin.
“Tidak.”
Si bapak kembali berkata. Mendengar jawaban itu, tubuh Aurrin merespon. Kedua mata embernya melotot, menatap si bapak dengan amarah yang berkobar.
“Kamu tidak bisa membawa anak ini pergi,” tegas si bapak. Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada telinga Aurrin.
Kontan setelah si bapak berbisik di telinga Aurrin, hal mengejutkan terjadi. Aurrin tiba-tiba kejang-kejang dan berteriak. Menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan ada di sekitar sana. Tidak sampai sepuluh menit, Aurrin jatuh tak sadarkan diri. Melihat kondisi putri sematawayangnya yang memprihatinkan, orang tua Aurrin tentu semakin merasa risau. Pasalnya baru kali ini mereka menghadapi masalah yang seperti ini.
“Bagaimana dengan kondisi teman saya, Pak?” tanya Amara dengan air mata yang masih menetes dari kelopak matanya.
“Pocong itu bersikeras untuk membawa Neng Aurrin. Katanya ingin dijadikan pasangan di dunianya.”
“Astagfirullah.” Kedua orang tua Amara beristigfar seraya memeluk putri mereka.
“L-alu bagaimana, Pak?” kini giliran orang tua Aurrin yang bertanya.
“Pocong itu baru mau pergi jika sudah disembelih kan ayam cemani oleh Neng Aurrin sendiri.”
“Ayam cemani?”
Si bapak mengangguk. “Iya. Harus disembelih sama Neng Aurrin sendiri,” ulangnya. “Untuk kedepannya, Neng Aurrin harus lebih teliti saat membersihkan darah menstruasi, supaya kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Selain itu, yang paling penting adalah jangan bicara sembarangan. Sepertinya Neng Aurrin suka asal bicara, karena tidak percaya akan keberadaan mahluk halus.”
“I-ya, Pak. Aurrin memang begitu anaknya,” kata Amara, membenarkan.
“Semoga untuk kedepannya Neng Aurrin bisa merubah sikapnya. Bukan tanpa alasan mahluk halus tadi meneror kalian, itu karena dia menyukai Neng Aurrin yang tidak suka menjaga kebersihan dan kata-katanya. Terakhir, ingat jika kita masih memiliki Tuhan. Setiap mahluk yang tinggal di alam semesta, pasti tunduk kepada-Nya.”
**
TAMAT
Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang viral di Twitter.
Ini pertama kalinya aku menulis cerpen horor, jadi mohon dukungannya dengan klik ikon ❤️
Serta tinggalkan komentarnya, ya 😇
Tanggerang 23-09-22