Airani diantar menggunakan mobil dengan supir untuk ke sekolah SMA Garuda Bangsa, gadis itu berparas Jawa asli dari keluarga Hartawan. Airani berseragam putih abu-abu rambutnya hitam legam panjang tergerai, kulitnya coklat, dan matanya juga bulat.
Waktu jam pelajaran sedang di mulai seorang guru memperkenalkan seorang anak pertukaran pelajar, semua murid di kelas menoleh untuk melihat anak laki-laki bule.
“Nama saya Hanson van Hewwit,” ucapnya dengan logat asing.
Setelah mengenalkan diri Hanson duduk di sebelah Airani karena jumlah murid di kelas yang ganjil, Hanson menatap Airani yang malu-malu.
Tiba-tiba tangan Hanson menyentuh tangan Airani mata mereka bertatapan, “lu wakil kelas ‘kan?” tanya Hanson pada gadis berkulit coklat itu.
“I-iya.”
“Buku gua blom punya, boleh berdua gak?” pintanya.
“Ya boleh,” jawab Airani tersenyum memperhatikan Hanson, matanya biru seperti gelombang air laut dan rambutnya pirang kemerahan seperti daun di musim gugur.
Di kantin Hanson bicara dengan para anak cowok tapi matanya selalu memperhatikan Airani yang sedang makan seblak dengan sekumpulan anak perempuan, “apakah dia yang gadis selama ini.
Gadis yang selama ini aku cari,” batin Hanson sambil mengukir senyum di bibirnya yang tipis dan kemerahan.
Tak lama ada guru bahasa Inggris dari London namanya Mr. Lonyr, saat jam kedua di mulai waktunya solat zuhur bagi yang menjalankan dan makan bagi yang lapar.
Tiba-tiba Hanson mendekati Airani yang duduk sendiri di kantin karena kedua temannya sedang solat, sedangkan Airani mendapatkan siklus bulanan jadi tidak solat. Hanson menarik tangan Airani, “ada apa Hanson?” tanya Airani heran.
“Wakil kelas gua mau di kenalin makanan Indonesia,” mohon Hanson.
Airani heran bagaimana Hanson bisa begitu lancar bahasa Indonesia dan bisa berbahasa gaul, Hanson membeli bakwan dan nasi uduk.
Mereka makan sambil berbincang hangat, Hanson mengatakan jika ia masih ada keturunan Jawa Tengah dari Neneknya bernama Sarminah.
Hanson tinggal di Belanda bersama Ibunya yang orang Belanda asli sedangkan sang ayah yang blasteran Jawa-Belanda, Sesaat mereka sedang berbincang Mr. Lonyr datang.
“Hallo Aira! Halo Hanson!” sapa hangat Mr. Lonyr, Airani maupun Hanson juga menyapanya dengan hangat.
Airani berusaha mencairkan suasana dengan melempar beberapa pertanyaan kepada kedua bule itu.
“Siapa aktris Indonesia yang kalian sukai Asmara Abigail atau Chelsea Islan?” tanya Airani, dua orang bule itu menatap Airani lalu menghentikan makannya.
“Asmara Abigail dong,” jawab keduanya.
“Iya soalnya dia kecantikan khas Indonesia asli,” sambung Hanson.
“Ok pertanyaan selanjutnya, apa makanan khas Indonesia yang kalian suka?” tanya Airani lagi.
“Gudeg,” jawab Hanson.
“Gado-gado,” jawab Mr. Lonyr.
Keduanya bertatapan dengan sengit karena berbeda pendapat untuk kali ini, “selanjutnya apa tempat wisata yang kalian sukai selama di Indonesia?” tanya Airani lagi kepada keduanya.
“Candi Borobudur,” cetus Hanson.
“Raja Ampat,” ujar Mr. Lonyr.
Keduanya lalu cek-cok panas dengan bahasa masing-masing.
Hanson menggunakan bahasa Belanda, sedangkan Mr.Lonyr menggunakan bahasa Inggris. “Overdomse!!” maki Hanson.
“Fuck you!!” balas Mr. Lonyr.
“Tolong berhenti Hanson jangan mukul Guru!! Mr. Lonyr jangan mukul Murid!! Aduh masa bule gara-gara wisata ama makanan aja berantem!!” ujarnya.
Keduanya menjadi berhenti tatkala suara sepuluh oktav dari Bu Ayu seorang Guru Sejarah. “BERHENTI!!!” teriaknya, seisi kantin menutup telinganya.
Airani sebagai wakil ketua kelas bertanggung jawab atas kelasnya termasuk Hanson, melihat sikap Hanson yang baik seperti menolong nenek yang menyebrang, membantu kakek dalam membawa barang, dan masih banyak lainnya.
Tapi saat jam pulang sekolah hari Jum’at Airani pulang sambil meminum starbucks, tiba-tiba Hanson datang mengambil andong membuat Airani terkejut lalu menyembur minumannya.
“Wakil gua naik andong dong!!” ucap Hanson.
“Woi andong gua…andong gua...dasar bule kurang ajar!! Balikin andong gua!!” maki pemilik andong itu.
Airani langsung diam membisu tak percaya lantaran Hanson adalah anak yang baik, tapi terkadang dia juga bisa sedikit gesrek saat melihat hal yang berhubungan dengan Indonesia.
Airani langsung ikut mengejar karena sebagai wakil kelas ia di perintahkan oleh Bu Ratih, wali kelas untuk mengawasi Hanson dan mengajari tata cara bersikap.
###
Pulang ke rumah, Airani bersama Hanson ia merasa bersalah lantaran sudah merepotkan Airani.
“Mama aku pulang!!” ucap Airani.
“Masuk sayang,” jawab Niken ibu Airani.
Niken terkejut lantaran Airani pulang dengan acak-acakan, rambutnya terurai dan juga aroma matahari sangat menyengat.
“Kamu habis ngapain kenapa baunya begini,” ujar Niken sambil mengibas-ngibaskan tangannya di hidung.
Airani menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Niken tertawa renyah lantaran mengingat masa sekolahnya dulu, “yaudah mah aku mau ke kamar! Mau mandi dulu.”
Airani bangun lalu Panji ayahnya menghampirinya sambil membawa coklat kesukaan Airani, “terima kasih Papa.” Airani memeluk ayahnya dengan erat.
Ayahnya berkulit coklat sama seperti dirinya, sedangkan ibunya berkulit kuning langsat mulus. Airani hari ini meminta izin pada kedua orangtuanya untuk jogging bersama temannya Salsa.
Sebenarnya Airani memiliki dua kakak laki-laki bernama Arkana dan Erlang, tapi kakaknya Arkana menjalani bisnis di Jepang dan memutuskan menikahi wanita Jepang bernama Asami, sedangkan putra kedua keluarga Hartawan Erlang menjalani kuliah S2 di Harvard sekaligus menjalani bisnis di bidang perkebunan dan teknologi.
Pagi ini hari Sabtu. Airani jogging bersama Salsa, hari ini Airani sudah minta izin dengan kedua orangtuanya untuk pulang agak sore karena ia akan mampir ke toko buku dulu.
Saat mulai sore Salsa di jemput oleh pacarnya namanya Dika, “Aira gua duluan ya! Biasa doi gua udah jemput.”
“Ciee gua di tinggal sendiri!” sindir Airani sambil senggol-senggol lengan Salsa.
“Sorry, Doi gua udah jemput.” Salsa sambil mendelik bibir ke bawah.
“Yaudah deh, gua mau ke toko buku dulu."
“Mau ngapain lu?” tanyanya.
“Biasa lu ‘kan tahu hobi gua,” ujar Airani.
“Yaudah deh.”
“Bye,” ujar Salsa.
“Bye," balas Airani.
Mereka berpisah lalu Airani berjalan untuk ke toko buku, tadi pagi Panji Hartawan memberikan beberapa jumlah uang untuk Airani ke toko buku.
Agar orang tuanya percaya jika putrinya ke toko buku, Airani berfoto selfie di toko buku lalu mengirimnya ke whatsapp milik ibunya.
Di toko buku sebenarnya Airani ingin membeli buku novel dengan part terbaru tapi uangnya kurang, saat sedang merenung di Café dalam toko itu tiba-tiba Hanson ada di sana sambil memakai topeng kelana (Rahwana).
“Selamat siang wakil kelas, kenapa mukanya asem banget?” tanya Hanson sambil memakai topeng Rahwana.
“Eh Hanson disini ju—” belum sempat Airani menyelesaikan, dia langsung berteriak karena kaget.
PLAK!!
Tanpa sengaja Airani memukul Hanson, “aduh Hanson maaf gua gak tahu!! Lagian lu ngapain pake begituan!!” tutur Airani kesal lalu gadis itu membantu pria Belanda itu berdiri dan duduk dengan bangku Café di hadapannya.
“Tadi abis dari acara pameran budaya di toko ini juga,” ucap Hanson.
Toko bukunya seperti Gramedia Pesona Square makanya ada Café, dan lainnya.
“Kamu beli apaan aja?” tanya Airani.
“Oh, ini topeng ginian ama baju adat Jawa,” jeda “lu beli apaan?” tanya Hanson pada Airani.
Airani menghembuskan nafas lelah lalu dia mengatakan ingin membeli novel tapi uangnya kurang, akhirnya Hanson yang mencoba menawar pada Mbak-Mbak penjaga toko.
“Hallo Mbak cantik harga bukunya berapa, 110 ribu.”
“Hah!! Kok malah tambah mahal!! Tadi 69 ribu satu buku kok jadi 110 ribu satu buku!!” ujar Hanson tak percaya.
“Iya soalnya harga bule,” ujar Mbaknya.
Akhirnya Hanson yang tidak kehabisan akal ia memakai adat Jawa juga blangkon di kepalanya, “halo Mbakyu, rega buku tere liye piro?” tanya Hanson dengan bahasa Jawa.
“Iso kurang ora, Mbakyu? Dadina seket ewu?” tawar Hanson.
“Gak bisa, Nak.”
“Kok ora bisa? Sanajan aku nggunakake basa Jowo?’ ucap Hanson.
“Tapi saya orang Betawi,” tutur Mbaknya.
“Nih Bule sok bisa bahasa daerah! Bahasa Indonesia aja belepotan ini pake bahasa Jawa,” batin Mbak-Mbak itu.
Sampai akhirnya Hanson menggunakan cara terakhir dengan ketampanannya, “Hallo cantik bagaimana jika harganya menjadi lima puluh ribu.”
Hanson menggunakan ketampanannya tak lupa giginya yang bersinar.
Ting...Ting...Ting.
Mbak-Mbak yang kepicut dengan ketampanan Hanson langsung setuju, “buat kamu tiga puluh ribu aja!” Hanson langsung memberitahu Airani.
"Apa bisa kurang lagi jadi lima belas ribu?" tawar Hanson lagi.
"Apapun buat si ganteng!!" ujar Mbak-mbak penjaga toko itu.
"Wakil kelas berhasil nawarnya...," ujar Hanson.
"Hah masa iya Hanson!!" ujar Airani tak percaya, berjalan mendekati Hanson.
Mbak-Mbak penjaga toko langsung membatin, "tak apalah di kasih harga murah yang penting ganteng! Namanya juga bule kere."
“Kamu bisa aja merayu Mbak-Mbak dasar bule jadi-jadian!” ucap Mbaknya lalu memberikan bukunya.
“Loh tunggu dulu ini mah! Buku kumpulan lagu India! Tapi yaudah deh dia udah berjuang! Aku hargain aja!” batin Airani tersenyum sambil tersipu malu.
“Besok aku minta aja ama Mama uangnya,” lanjut Airani dalam hatinya.
Akhirnya mereka berjalan pulang dengan senja sore di langit tanah Jawa, Airani mengenggam bukunya di dada lalu menatap Hanson berbicara saja bahkan dengan bahasa Belanda yang sama sekali Airani tak tahu.
Tapi gadis berkulit sawo matang itu hanya tersenyum memperhatikan Hanson, “biarlah buku ini aku simpan sebagai kenangan.” Jeda “saat nanti Hanson habis masa pertukaran pelajarannya, dia harus kembali ke Amsterdam.”
Airani dan Hanson saling tersenyum ia menikmati senja ini, kadang kala Hanson tanpa sengaja menyentuh tangan Airani lalu mulai berkata yang membuat Airani tak bisa tidur semalaman.
“Kamu cantik seperti tulip, aku mulai menikmati senja di hadapanku yaitu Airani Srikandi Putri Hartawan.
TAMAT
#SMA #Budaya