Uni Apriani itulah namaku. Mataku yang sipit dan bola mata yang berwarna coklat. Ditambah dengan lesung pipit ,hidung yang mancung,kulit yang putih dan tubuh yang langsing membuat diriku terlihat sempurna di mata para lelaki.
Uns! Itulah nama panggilanku.
Kuberjalan menelusuri koridor kampus dan kubiarkan rambut ku yang panjang dan hitam mengikuti langkah kakiku. Setiap mata tertuju kepadaku tanpa terkecuali. Aku sangat tahu,mereka mengagumi kecantikan yang ku miliki. Pasti selalu terdengar bisikan-bisikan mereka di setiap langkahku.
“ Uns….!”
Langkah kaki terhenti ketika seseorang memanggil namaku. Aku sangat tahu betul,siapa pemilik suara itu. Dia lah Tengku Alif Muzaddid Santun,yang biasa aku panggil Adit. Sudah hampir 6 tahun,kami mengikrarkan janji sehidup semati sebagai sepasang sahabat sejati. Wajahnya yang ganteng hasil keturunan Arab dan melayu ditambah tubuh yang atletis dan gayanya yang keren. Membuat para wanita sangat mengidolakannya. Banyak orang yang menganggap kami sebagai sepasang kekasih yang sempurna. Dan tak jarang juga,banyak yang iri akan kecantikanku dan kegantengannya.
Kubalikan tubuhku kebelakang dan berjalan menghampirinya.
“ Adit,kau kemana aja. Wa gak dibalas,telpon gak diangkat?” Tanyaku sedikit teriak.
Tanpa kusadari perkataanku terdengar sampai di telinga mahasiswa lain dan kini semua mata tertuju kepada kami.
“ Aku gak punya paket….” Teriak Asep yang kini berada di dihadapan kami sambil memperagakan gaya iklan di TV. Alhasil,semua tertawa menyaksikan tingkah Asep yang sangat kocak itu.
Rasa lucu dan malu kini sedang berkecambung di hati. Betapa bodohnya diriku,yang tak dapat mengontrol pita suaraku. Aku hanya sedikit menundukan kepalaku sambil menahan malu.
“ Bodoh,bodoh,bodoh” hanya perkataan ini yang aku lontarkan di dalam hatiku.
Aku merasakan tangan kiriku sedang di tarik oleh Adit,mau tak mau aku pun mengikuti langkah kakinya dan menghindar dari mahasiswa lainnya.
Langkah kaki kami berhenti di kantin kampus,suasana siang ini begitu panas sehingga membuatku dan Adit merasa gerah.
Mataku melirik kursi kosong yang ada di pojok kantin,sedangkan Adit meluncur pergi untuk memesan makanan dan minuman yang bisa membuat haus dan lapar kami hilang.
Sedetik kemudian Adit menghampiriku yang sedang bersandar di kursi dengan membawa talam yang berisi 2 mangkuk mie ayam dan 2 gelas teh manis dingin.
“Uns” terdengar suara keluar dari mulut Adit
“Apa?” Tanyaku yang sambil terus memasukan sesendok mie ayam kedalam mulut.
“Uns,aku sayang kamu” jawab Adit sambil meneguk teh manis dingin ke dalam tenggorokannya.
“ Jelas lah,kamu sayang dengan aku. Kita kan best friend forever”
“ Tapi,bukan itu maksudnya” Adit meletakan gelas yang di pegangnya di atas meja
“ Jadi?”Tanyaku heran sambil mengerutkan keningku.
“Aku sayang kamu,sebagai seorang Adam menyayangi Hawa”
“A…pa”aku hanya melongo dan terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Adit tersebut.Aku mencoba berpikir sejenak,bagaimana bisa Adit yang telah menjadi sahabatku bisa mencintaiku. Sayangnya seperti Adam terhadap Hawa.
“ Kok,diam?” tanya Adit penasaran dan ia melambaikan tangannya di depan mukaku. Sedangkan aku masih berpikir seakan tak percaya dengan pengakuannya barusan.
“Eh,i..ya….” aku sedikit gelagapan sambil nyengir kuda menjawab pertanyaan Adit
“ Aku ingin status kita berubah menjadi pacaran”
Kini aku dan Adit duduk saling berhadapan. Kulihat dengan jelas raut mukanya yang sangat serius. Tatapan matanya sangat tajam,seolah meyakinkanku. Sedangkan aku hanya menyipitkan mataku dan menopang kan kepalaku dengan dua tangan.
“ Beri aku waktu untuk menjawabnya” Kali ini aku yang mencoba untuk meyakinkannya.
“Ok,1 minggu “ Adit lantas tersenyum dan yakin kemenangan akan di perolehnya.
“ Satu….,,” perkatanku terputus ketika mendengar ponselku sedang berbunyi.
Aku mengambil ponselku yang terletak di dalam tas dan aku lihat siapa nama pemanggil yang tertera di layar ponselku. Lalu ku tekan tombol ok,untuk memulai berbicara dengan seseorang di seberang sana.
“ Hallo…” Aku pun mengawali pembicaraan
“ Uns,lagi dimana?” tanya seseorang di seberang sana kepadaku.
“ Dikampus,kak. Ada apa?” tanyaku penasaran
“ Sekarang bisa ke Café Tialif.Soalnya ada yang mau kakak omongin”
“ Ok,aku langsung segera kesana”
Klik,lalu ku akhiri panggilan.
******
Sekarang aku sudah berada di depan Café Tialif,dimana tempat berjumpanya aku dengan seseorang. Kutarik handle pintu café tersebut dan mataku sibuk melirik tamu yang sedang duduk di dalam café ini. Mataku berhenti di sosok seorang pria yang sedang duduk manis di pojokan café. Tatapanku dibalas dengan senyumannya dan aku hanya melambaikan tangan kearahnya. Dia bernama Dimas Andrian,yang biasa aku panggil dengan kak Dimas. Lelaki yang bertubuh kekar dan memiliki senyuman maut yang dapat menggetarkan hati setiap wanita. Aku mengenalnya sekitar 4 tahun yang lalu dan aku telah menganggapnya seperti kakakku sendiri.
Kini tubuhku telah berada di hadapan kak Dimas,aku mengambil posisi yang cocok agar dapat nyaman saat mengobrol dengan kak Dimas.
“ Ada apa kakak ingin bertemu denganku di tempat ini?” Tanyaku sambil menyedot orange jus pesananku.
“ Ehm….,anu…” hanya perkatan itu yang keluar dari mulutnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Kok hanya bilang anu?” aku hanya bingung dengan perkataan kak Dimas
“ Kakak sayang dengan Uns,sayang kakak lebih dari sayang sebagai adik dan kakak. Kakak ingin kita berpacaran” Pernyataan yang sangat tegas yang keluar dari mulut kak Dimas ynag membuat dirinya semakin wibawa di mataku.
******
Kubaringkan tubuhku diatas kasur empuk,pikiranku melayang-layang. Masih teringat jelas kejadian kemarin,ketika Adit dan kak Dimas mengungkapkan perasaan mereka dan menginginkanku menjadi pacar mereka. Bagaimana bisa aku berpacaran dengan sahabatku sendiri dan berpacaran dengan yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Aku hanya menghela nafas panjang dan berusaha mencari jawaban yang pas untuk mereka berdua. Jika aku memilih salah satu dari mereka,pasti yang satunya lagi akan merasakan sakit hati yang mendalam. Apalagi aku hanya diberi waktu selama 1 minggu untuk berfikir. Mataku mulai mengantuk dan kemudian aku tertidur lelap.
Sepertinya aku baru saja tertidur namun mengapa kini aku sudah berada di depan rumahku sendiri. Aku lihat bendera kuning sedang melambai didepan rumahku,lalu aku masuk kedalam rumah dan melihat siapa yang telah meninggal. Hatiku sangat kacau tak karuan dan kini aku sudah berada diantara kerumunan pelayat lainnya. Alangkah terkejutnya,ketika aku melihat wajah seseorang yang telah tertidur kaku tersebut. Aku telah mati!
Air mataku berjatuhan,bagaimana bisa aku melihat mayatku sendiri yang telah terbujur kaku di depan mataku.
“ Akh….” Teriakku
Aku bangun dari tidurku dan mataku menatap disekeliling kamarku. Ternyata aku hanya bermimpi. Apa maksud dengan mimpiku tersebut?
*****
Aku berjalan menuju taman kampus dan mencari seseorang teman yang biasa menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku agama. Itu dia…!
Temanku sedang duduk di bawah pohon yang sangat rindang sambil membaca buku. Dia teman akrabku yang bernama Ummu Hanni Astri,biasanya aku memanggilnya Ummu. Kupercepat langkah kakiku dan segera menghampirinya.
“ Assalamuaikum” Seruku
“ Walaikumsalam” Jawabnya
Hari ini Ummu sangat terlihat cantik dengan kemeja biru dan rok batik panjang. Jilbabnya menutupi sebagian tubuhnya.
“ Ada apa,katanya mau cerita?” Tanya yang sambil menutup bukunya
Lalu aku menceritakan mimpi yang aku alami tadi malam,kulihat raut mukanya sangat serius mendengarkan ceritaku.
“ Bagaimana,Mu. Dengan mimpiku itu?” Tanyaku
“ Aku gak mengerti dengan tafsir mimpi”
“ Aku takut jika aku harus meninggal sedangkan aku tidak memiliki amalan buat bekalku di akhirat nanti”Seruku dengan nada yang sangat cemas.
“ Ya udah,jika kau takut akan mati. Maka carilah,amalan yang dapat menjadi bekalmu di akhirat kelak”
“ Caranya?” tanyaku dengan penasaran.
“ ikuti perintahnya dan jauhi larangannya. Kau tak boleh meninggalkan shalat,puasa pada bulan ramadhan,dan jangan lupa bersedekah”
“ Itu,aja?”
“ Sebenarnya masih banyak lagi amalan yang mudah yang dapat kau lakukan”
“ Aku gak bisa shalat,kau tau sendiri kan orang tuaku tak pernah mengajariku shalat dan aku sebenarnya ingin menutupi auratku seperti dirimu,tapi bisikan syetan belum bisa aku kendalikan”.
“ Bagaimana jika kamu belajar di Pondok Pesantren tempat adikku belajar ilmu agama”
“ Emang boleh?”
“ Tentu saja boleh buat siapa saja yang ingin belajar ilmu agama islam”
*****
Aku tatap penampilanku di depan cermin,tubuhku sudah tertutup rapat dengan pakaian yang menutupi auratku. Jauh sangat berbeda,cara berpakaianku sebelum dan sesudah masuk dan belajar di Pondok Pesantren ini.
Sudah hampir sebulan aku belajar disini,aku sudah pandai melaksanakan shalat fardhu lima waktu. Banyak ilmu yang telah aku dapatkan. Walaupun aku tidak mengerti namun sebisa mungkin aku belajar. Aku belajar tanpa paksaan. Setelah mimpi itu aku menyadari,setiap manusia pasti akan kembali kepada pangkuan sang Ilahi,betapa takutnya diriku,jika harus di panggil dalam keadaan tak memiliki sedikit amalan sebagai bekalku di akhirat nantinya.
“ Tok,tok,tok,,,” Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar asramaku.
“Masuk”
Seseorang membuka handle pintu kamarku lalu masuk kedalam kamar.
“ Assalamuaikum,kak uns…” Sapanya
“ Walaikumsalam,dek Ani. Ada apa ya..?” Tanyaku sedikit penasaran
“ Kakak dipanggil Pak Kyai dan Istrinya untuk menjumpai mereka di rumah”
“ Ada apa?” Tanya ku semakin penasaran
“ Gak tau,kak. Aku hanya menyampaikan amanat saja”
*****
Dengan tergesa-gesa aku berjalan menuju rumah Pak Kyai dan Istrinya yang berada tak jauh dari kamar asramaku.
Dengan perlahan ku ketuk pintu rumah mereka dan membuka handle pintu lalu mengucapkan salam.
“ Assalamuaikum”
“ Walaikumsalam” Serentak Pak Kyai dan Istrinya menjawab salamku
Mereka lalu menyuruhku duduk dan kini aku sedang duduk di sebelah Bu Aisyah,panggilan untuk istri Pak Kyai.
“ Maaf sebelumnya,ada apa uns di panggil kesini?” Tanyaku sedikit penasaran.
Namun Pak Kyai dan Bu Aisyah tak menjawab pertanyaanku mereka hanya tersenyum. Begitu indah senyuman mereka dan begitu cerah wajah mereka,sepertinya merekalah akan menjadi penghuni syurga nantinya.
“ Kamu sudah memiliki calon untuk dijadikan suamimu?”
Pertanyaan ini terlontar dari mulut mungil bu Aisyah yang refleks membuat aku salah tingkah. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
“ Kalau belum,bagaimana jika kamu menikah dengan Sabrie?” Kali ini Pak Kyai melontarkan pertanyan kepadaku
Sabri Ali itulah nama lelaki yang ingin di jodohkan dengan diriku. Lelaki yang baru saja menyelesaikan studinya di Kairo. Lelaki itu memiliki muka yang sangat ganteng dan agamanya sangat kuat. Selalu taat beribadah dan kini ia mengajar di Pondok Pesantren ini. Aku pernah melihatnya beberapa kali,dan aku juga pernah di buatnya menangis ketika ia sedang membaca lantunan ayat suci Alqur’an. Aku yang sedang mendengarkannya,membuat hatiku tergugah dan meneteskan air mata.
“ Kok,diam nak?” Tanya bu Aisyah lagi kepadaku.
“ Gak apa-apa bu. Bagaimana mungkin,ibu dan bapak ingin menjodohkan aku dengan Kak Sabrie. Ibu tau kan,anak ibu itu lelaki yang memiliki iman yang sangat kuat sedangkan saya baru saja belajar”
“ Apa salahnya. Kamu adalah gadis yang baik dan ibu yakin kelak kamu dan Sabrie pasti akan bahagia hidup berumah tangga. Kamu pasti akan dapat lebih banyak ilmu lagi dari Sabrie”
Kini Ibu Aisyah berusaha meyakinkan diriku,aku hanya belum percaya saja dengan keinginan mereka.
“ Tapi sepertinya Kak Sabrie tak menyukaiku. Buktinya saja ketika kami berpapasan ia hanya mengucapkan salam dan menunduk. Tanpa ingin melihat wajahku.” Ujarku sambil sedikit kecewa.
Pak Kyai dan Bu Aisyah hanya tersenyum mendengar perkataanku.
“Apa perkataaan ku ada yang salah?” Tanyaku dalam hati
“ Sabrie bukannya tak menyukaimu,nak.Tapi ia hanya ingin menjaga mata atau pandangannya. Sebab mata itu kuncinya hati. Dan pandangan itu mengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina” Bu Aisyah mencoba menjelaskan kepadaku. Sedangkan aku hanya terdiam,dan terlihat sekali raut wajahku menunjukan kebingungan.
“ Dijelaskan didalam surat An-nur Ayat 30 sampai 31 yang isinya,katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan mereka(dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka” Kali ini Pak Kyai berusaha menjelaskan kepadaku.
“ Astagfirullah,ternyata saya salah sangka selama ini” kataku dengan sedikit penyesalan.
“ Gak apa-apa,namanya kamu juga baru proses pembelajaran” Kata Bu Aisyah
“ Tapi,Kak Sabrie pasti tak ingin menikah denganku. Pasti ia mempunyai keriteria khusus untuk menjadi pendampingnya kelak.”
“ Karena Sabrie lah yang menginginkan,makanya Ibu dan bapak menanyakan hal ini padamu. Sebenarnya di awal pertama bertemu Sabrie telah menaruh hati padamu,karena ia tak ingin meninbulkan zina. Ia segera meminta kepada ibu dan bapak untuk melamarmu. Jika kamu setuju baru kami melamarmu didepan orang tuamu”
******
Aku tak pernah menyangka kehidupanku bisa berubah seperti ini. Semakin hari,ilmu agamaku semakin bertambah dan aku tak lupa untuk mengamalkannya di dalam kehidupanku sehari-hari. Aku juga tak lupa menjelaskan kepada Adit dan Kak Dimas atas perjodohanku dengan Kak Sabrie. Walaupun mereka sangat kecewa dengan keputusanku namun mereka tetap tersenyum dan bahagia.
Mungkin Allah telah memberikanku hidayah melalui mimpi. Karena mimpi itu,membuatku mengenal Allah dan berusaha untuk mencintainya dengan sepenuh hati. Lalu Allah juga mengirimkanku Kak Sabrie,lelaki yang lebih dahulu mencintai_Nya dari pada diriku. Mungkin Kak Sabrie akan menuntunku mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.