Masih kulihat hamparan biru di atas sana, sambil menikmati ranumnya jambu kristal yang kupetik dari pohon tadi. Aku amati pergerakan halus gumpalan awan putih tersaput angin. Betapa indah perubahan itu, terkadang berbentuk seperti kereta, kemudian berubah menjadi seperti goa yang di depannya ada sebuah bangku. Mataku tak sanggup berkedip menanti gerakan awan putih itu.
Tak terasa akupun terlelap pada bangku panjang di samping rumahku.
Ketika ku terbangun di atas sana tampak kerlap kerlip bintang beraneka bentuk memendarkan cahaya beraneka warna. Aku amati satu persatu bentuk jajaran bintang yang membentuk sebuah Rasi. Telunjukku mengikuti sebentuk jajaran bintang. Ada scorpio, ada rasi bintang biduk, rasi bintang Leo. Ku edarkan pandangan mencari rasi bintangku sendiri, Aquarius. Ya rasi ini memang sepeti bentuk manusia membawa air, atau menyerupai huruf M tapi kurang presisi.
Aku semakin tenggelam dalam hayalan ku. Seandainya aku berada di sana di dalam kumpulan Rasi bintang itu. Apakah aku juga akan memancarkan cahaya? tentu saja tidak
Aku terkekeh sendiri menyadari kebodohanku.
"e eh" aku berjingkat ketika seseorang menepuk pundakku
"Ngapain gak masuk? angin malam gak baik buat tubuhmu" ternyata kak Aim.
"eh kak Aim" aku sedikit bergeser dari tempat dudukku memberi ruang untuknya. Dan kusadari saat itu aku hanya memakai kaos oblong.
"Ngapain di luar?" ulangnya
"Lagi mencari Rasi Bintangku kak" kataku sambil mendongakkan kepala menatap hamparan luas di atas sana.
Kak Aim ikut mendongakkan kepala sebentar, kemudian menatap kearahku.
"Emang apa Rasi Bintang kamu Nai? ada?"sudah ketemu?"tanya kak Aim lagi
Telunjukku mengarah kesana mengikuti titik-titik bercahaya itu, kepala kak Aim mengikuti gerakan tanganku kemudian menatapku kembali dan tersenyum.
Duh.. wajah yang tidak pernah aku amati kini berada di depanku, kulihat hidung mancung serta tampak bulu tipis dibawah hidung itu, membuatku gugup dan memalingkan wajah ke arah lain.
"Kalau Rasi bintang aries ada di sebelah mana Nai?" kak Aim menengadahkan wajah menatap hamparan penuh kerlip cahaya di atas sana.
"Aries ya?itu Rasi Bintang kak Aim?" kak Aim mengangguk, pandangannya tak lepas dari sana. Perlahan mataku menyapu seluruh penjuru, aku mencari bentuk seperti yang ada dalam ingatanku. sesaat kemudian di langit belahan utara, jajaran bintang membentuk garis lurus vertikal diikuti bintang membentuk garis miring kebawah. Aku menggerakkan telunjukku seolah menggambar di udara.
lagi-lagi kak Aim mengikuti telunjukku hingga kepalanya bergerak.
Dia menatapku heran"kenapa bentuknya bukan tanduk?"
"Seingatku yang bentuknya mirip tanduk itu rasi bintang pisces kak, lebih tepatnya seperti huruf "v" tapi ada lengkungan di kedua ujungnya" jelasku
"Pernah lihat di mana Nai? googling ya?" kini kak Aim duduk bersila.
Posisi kami memang sudah tidak lagi duduk di bangku tapi berpindah di rerumputan.
"Bukan kak, aku lihatnya waktu ke Planetarium, semua gugusan bintang dan planet terlihat jelas di sana" Aku menatapnya. kak Aim manggut-manggut
"kak Aim pernah dengar mitos tentang kisah dibalik rasi bintang tidak?" tanyaku menatapnya.
Dia mengedikkan bahunya.
"Sebenarnya rasi bintang itu ada beberapa yang berhubungan dengan kisah dewa-dewa bangsa Yunani" jawabku
kak Aim mengerutkan kening menatap kearahku.
kemudian kembali memainkan rumput di depannya.
"Rasi bintang Orion kak Aim tau?" kak Aim menggeleng, aku tertawa kecil jelas dia tidak tau pikirku.
"menurut legenda Orion itu sebagai seorang pemburu yang ulung, dalam rasi bintang di lambangkan seorang laki-laki yang membawa pedang dan perisai. Rasi ini merupakan radi tertua dan memiliki bibtang paling terang. Dikisahkan karena tak terkalahkan dan tiada tandingnya membuat dia sangat sombong. Hal ini membuat Ratu Gaia yang merupakan dewi penguasa makhluk tidak suka dan mengutus kalajengking untuk membunuhnya. Uniknya mitos ini berhubungan dengan kehadiran bintang Scorpio yang berlambangkan kalajengking. Ketika Scorpio muncul maka rasi bintang orion akan menghilang karena lari ketakutan oleh scorpio" aku tertawa sendiri membayangkan orion lari di kejar kalajengking. kak Aim menatapku dan ikut tertawa.
"Hahaaa... lucu ya, seorang pemanah lari di kejar kalajengking, pasti kalajengking raksasa itu Nai" dia terbahak-bahak. ternyata dia mendengarkan ceritaku. aku semakin semangat .
"Ada lagi kisah Ursa mayor dan Ursa minor" aku menghela nafas sebentar menggeser punggungku mencari sandaran pada sebatang pohon. kulemaskan kaki dengan posisi selunjur ke depan.
"Sebentar Nai, apakah ursa besar dan ursa kecil" kak Aim beringsut mengikutiku, mencari sandaran. Hingga posisinya kini berada disampingku bersandar pada pohon yang sama. Dia pun selunjurkan kaki.
Aku meliriknya
"iya kak, ursa itu beruang. Jadi ursa mayor dan ursa minor itu adalah kisah beruang besar dan beruang kecil" aku sengaja membuat jeda ceritaku untuk mengetahui reaksi kak Aim.
"Memangnya mereka ada hubungan apa Nai ? kakak adik atau ..." Kak Aim tidak melanjutkannya.
"lanjut Nai, tapi aku ngantuk dengerin cerita kamu"
"aku lanjut cerita tapi kak Aim jangan tidur dong, masak iya aku ngomong sendiri. nggak asyik aah"
"iya-iya jangan merajuk dong Nai, kakak Aim akan dengarkan sampai selesai"
"Na gitu dong kaak," aku menegakkan tubuhku. dan mulai lagi ceritaku.
"Jadi .. di kisahkan tentang Callisto dan Arcas. Arcas adalah anak Callisto dengan dewa Zeus. Hal ini membuat Hera istri dewa Zeus marah dan tidak terima sehingga Callisto diubah menjadi beruang besar. Bertahun-tahun sang beruang Callisto berpisah dengan Arcas dan sembunyi di dalam hutan. Hingga suatu saat Arcas yang tumbuh sebagai seorang pemuda berburu ke hutan. Dia menemukan beruang besar, Arcas memburu beruang itu dan hendak membunuhnya. Namun Dewa Zeuz menghentikan niat Arcas untuk membunuh ibunya. Dewa Zeus merubah Arcas menjadi seekor beruang kecil dan membawa kedua beruang itu untuk di tempatkan di Langit. Jadilah Ursa mayor atau beruang besar jelmaan Callisto dan ursa minor jelmaan Arcas berada di langit. kemunculannya sebagai tanda musim bercocok tanam, rasi bintang ini sering disebut biduk atau waluku.
"emm .. waluku itu bentuknya sperti alat untuk bajak sawah ya?" tanya kak Aim kini dia menjulurkan tangan ke depan, kekiri dan kekanan.
"dah pegel ya kak? mau dilanjutin ceritanya?"
"hmm.. lanjutin saja Nai,aku masih mendengarkanmu" kata kak Aim kembali menyandarkan punggung.
"kak Aim tahu berapa jumlah rasi bintang?"
"tidak"kak Aim menggeleng"sebanyak gitu di langit"
kak Aim memejamkan mata.
"kak Aim tidur ya?" aku mengguncang bahunya.
kak Aim menggeleng dan tersenyum manis sekali.
"lanjutin ceritanya Nai,legenda aries ada nggak?"
tanya kak Aim. Aku mengernyit sambil mengingat.
"kalau mitosnya sih aries itu domba jantan berbulu emas yang dapat terbang,tapi aku lupa namanya kak","boleh googling ya, hehe" jawabku malu.
"iya Nai, bacain saja untukku" katanya lagi.
aku mulai scroll kursornya. akhirnyaa..
"Nah ini kak, kak Aim baca sendiri lah"kataku sambil menyodorkan benda pipih itu kearahnya.
"Nai,baca saja.. anggap saja kamu masih cerita, kalau aku baca sendiri nggak asyik ahh" kak Aim mendorong benda itu kearahku.
Aku menghela nafas sebelum membacanya.
"Nah domba bertanduk emas itu Chrysomallus.
Peri Awan Nephele mengirimnya untuk menyelamatkan kedua anaknya, Phrixus dan Helle, yang akan dikurbankan kepada para Dewa.
Lambang tanduk emas pada Aries adalah simbol dari domba tersebut. Ketika menyelamatkan kedua anak Peri Awan Nephele, salah satunya jatuh dan meninggal. Merasa bersalah, ia terbang ke Surga untuk mengurbankan dirinya sendiri kepada para Dewa. Atas jasanya inilah, Chrysomallus mendapat sebuah tempat di para bintang sebagai konstelasi Aries oleh Zeus.
"hm dia bertanggung jawab sekali ya Nai, kayak aku haha" aku hanya meliriknya.
"kan, menurut kamu aku tanggung jawab tidak Nai, sebagai ketua panitia acara ini ?" tanya kak Aim
"iya memang sudah pasti harus kan kak? pasti kak Aim banyak koordinasi dengan semua tim, hingga acara ini berlangsung"
kak Aim hanya menghela nafas.
"Belum ngantuk Nai? semua temanmu sudah masuk tenda"
"kak Aim sudah ngantuk ya?"aku melihat ke arahnya.
"Belum"jawabnya singkat
aku kembali menatap langit,tak sengaja aku melihat bintang jatuh.
"Nai Nai, lihat"kak Aim mengguncang pundakku matanya berbinar mengikuti kemana arah bintang itu. Kak Aim heboh sekali. kami tertawa kecil, saling pandang dan entah apa yang terlintas dibenaknya.
"Nai, apakah kamu tidak merasakan sesuatu?" tanya kak Aim tiba-tiba. Jantungku hampir berhenti sesaat menatap lekat wajahnya yang hanya beberapa centi dari wajahku.
"A apa kak"tanyaku gugup,serasa desiran angin malam membungkam rongga nafasku.
kak Aim tersenyum dan berkata "lupakan saja" dia melempar sesuatu entah apa.
"kak Aim aneh banget, kalau ngomong dilanjutin kak,jangan putus-putus,bikin penasaran saja" sungutku
"hm ? kamu penasaran Nai?" kak Aim masih menatapku lekat.
"Nai kenapa bintang gemini itu dilambangkan oleh dua orang kembar?" kak Aim berbaring direrumputan depanku.
"kak Aim kalau dah ngantuk kita kembali ke tenda yuk"ajakku
"tidak,aku belum ngantuk Nai,aku masih ingin mendengarkan ceritamu" kak Aim alih posisi tengkurap dengan pipi diletakkan pada punggung tangannya menghadap aku. memandangiku menunggu aku cerita.
sebenarnya aku mulai tidak tenang, ada perasaan mengganjal menyelimutiku. Aku masih duduk memeluk lutut menatap langit, menghindari tatap mata kak Aim.
"Ayo Nai cepatlah cerita"
"Gemini disimbolkan dengan dua anak kembar mereka kakak beradik yang terlahir dari satu ibu beda ayah. Dikisahkan Castor anak seorang raja f dari Sparta sedangkan Pollux adalah anak dari dewa Zeus. meski beda ayah hubungan mereka sangat erat selain rupa yang sama tampan mreka juga sama-sama senang berpetualang. Castor penunggang kuda yang hebat, Pollux seorang yang punya kekuatan yang hebat. pada saat terjadi peperangan Castor meninggal. Pollux mohon kepada Zeus agar mencabut keabadiannya agar bisa meninggal menyusul saudara kembarnya. Namun dewa Zeus tidak mengabulkannya bahkan mengangkat keduanya berdampingan selamanya sebagai rasi bintang kembar yaitu gemini"
"kok bisa satu ibu beda ayah ya Nai ? ataukah mungkin waktu itu sudah ada poliandri ?satu wanita dua suami"
"bisa jadi ya kak. Nai juga gak tau karena tidak ada penjelasan untuk itu" aku tertawa malu
"hoamh"kak Aim mulai menguap
"kak balik ke tenda yuk"ajakku lagi
"mengapa harus balik Nai, bukankah di sini lebih nyaman? bisa dengar suara alam. Aku senang dengar suaramu Nai, aku senang.. ya aku senang "
kak Aim memejamkan mata.
"kak" aku mengguncang pundak kak Aim. Desir angin menyentuh dedaunan, membawa pesan rindu untukku. Rindu pada sosok di masa laluku.
Dia .. wajahnya mirip dengan lelaki yang tengah terbaring di hadapanku, kakak tingkatku yang entah tiba-tiba saja akrab sejak beberapa jam lalu.
Tak terasa air mata jatuh membasahi pipiku. Ahh ..
aku sadar bahwa kekasihku tlah tiada. Dan tentu saja kak Aim bukanlah dia.
"Hanya kebetulan mirip" gumamku. Ingin rasanya aku beranjak meninggalkan kak Aim, namun aku tak tega meninggalkannya sendiri.
Aku pejamkan mata masih bersandar pada pohon mahoni di belakangku.
Hening
"Nai, bangun, pindah ke tenda yuk"
Aku merasakan guncangan lembut pada kedua bahuku.
"Nai, andai saja aku bisa seperti dewa Zeus yang merubah dirinya menjadi seekor taurus si Banteng Putih yang gagah demi merebut hati Europa.
sayangnya aku adalah ... ck hanya bisa memandangmu, tak bisa mendekatimu lagi apalagi memiliki cintamu" Gumam kak Aim
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan kak Aim, tapi.. apa maksudnya dia bicara sperti itu.Aku diam sengaja menantikan kalimat yang keluar dari bibirnya.
"Susah payah aku mencarimu waktu itu.. hanya ingin menyampaikan yang sesungguhnya.Bahwa kejadian itu pada akhirnya membuat aku harus menjauh karena satu ikatan yang tidak bisa aku hindari " aku terkejut karena butiran kecil membasahi tanganku.
kak Aim menangis. tapi mengapa ? Aku pura-pura mengusap pipi dan terbangun. Aku buka mata perlahan, kak Aim tampak gugup dan mengusap matanya.
"Eh kak Aim, maaf aku ketiduran, kak Aim kenapa?"
"nggak kenapa-kenapa kok, aku lagi memikirkan tentang ceritamu Nai"
"yang mana kak?" aku benar-benar tidak mengerti dengannya saat ini
"yang tadi, semuanya .. ternyata ketertarikanmu tentang rasi bintang ini sampai segitunya Nai" kak Aim mengacak rambutku. Aku tercengang menerima perlakuannya. Entah dia sadar atau tidak dengan apa yang barusan di lakukannya, tetapi sepertinya dia memang sadar dan tampak biasa saja.
"Iya kak, aku rasa sejak pulang dari study tour itu, aku mulai sering mengamati langit malam. Indah dan terasa lebih dekat dengan sang pencipta.
Tanpa sengaja tatap mata kami bertemu, saling pandang tanpa tau apa yang tengah bergelut dalam pikiran kami saat itu.
"ehem" suara kak Aim membuyarkan lamunanku.
"eh" kataku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal karna gugup.
"Mitos yang paling berkesan menurutmu kisah rasi bintang apa Nai?" kak Aim mempermainkan rumput di depannya.
"Emm.. apa ya kak? menurutku kisah rasi bintang Virgo" jawabku
"Nai, tahukah kamu? terkadang aku ingin menjadi seperti Zeus yang selalu kesampaian keinginannya" kak Aim tersenyum
"Maksudnya kak Aim bagaimana?" hatiku mulai deg-deg an menghubungkan dengan apa yang aku dengar tadi.
"Nai, apakah kamu tahu bahwa sebenarnya aku adalah pengagummu yang selalu mengagumi dan akan selalu mengagumimu, tapi sayang hanya sebatas mengagumi" kak Aim masih duduk menatapku.
"Maksud kak Aim?" jantungku semakin meronta keras ingin melompat rasanya.
tetapi aku mencoba untuk tenang dan menatap matanya.
Deg. mata itu. aku beringsut menggeser tempat dudukku hingga sedikit menjauh darinya.
mata itu... bukankah dia sudah tiada??
"Nai, dialah aku, memang aku yang selalu mengagumimu, tapi maafkan aku, sekarang aku tak bisa memilikimu, maafkan aku, biarkan aku pergi, ada ikatan yang tak bisa aku pungkiri, karena aku dijodohkan dengan cucu dari orang yang telah menyelamatkan nyawaku" kak Aim beranjak melangkah menjauh
"Baraaa" aku berteriak memanggilnya.
kak Aim menoleh dan melambaikan tangan kearahku.
"Maafkan aku Naiiiii, biarkanlah aku selalu mengagumimu" dia semakin jauh
"Bara, semoga Allah selalu menjagamu. aku akan selalu mengagumimu seperti aku mengagumi langit malam ini
Bulir halus menetes melepas kepergiannya untuk
kedua kalinya
--selesai--