"Hihihi..."
Suara tawa nan jauh namun terasa begitu dekat ditelinga. Octavia atau biasa dipanggil Octa oleh teman-temannya mempercepat urusan ia di kamar mandi. Bulu kuduknya begitu merinding ketika mendengar suara itu. Baru hendak keluar tiba-tiba...
"Aaah...!!" teriaknya histeris.
Sangking terkejutnya ia sampai terjatuh saat melihat sosok mengerikan yang tepat berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Hahaha..."
Tawa riang seketika mengisi ruangan. Sosok yang tadi ternyata teman-teman Octa. Yang satu bernama Moira atau biasa dipanggil Ira. Dan disampingnya ada Dalia atau teman-temannya memanggil Lia. Mereka tertawa dengan lucuhnya tampa membantu Octa yang masih terduduk di lantai kamar mandi.
"Dasar kalian keterlaluan!!!" bentak Octa sangat kesal.
"Aku baru tahu ternyata Octa itu penakut," kata Lia yang masih tertawa.
"Iya. Seharusnya kita merekamnya tadi," sambung Ira.
"Siapa... Siapa yang takut! Aku tadi cuman kaget saja," raut wajah Octa terlihat sedikit malu karna reaksi ketakutannya yang berlebihan.
"Penakut... Uuuu... Penakut," ejek kedua temannya itu.
"Aku tidak penakut. Mungkin mala kalian yang penakut."
"Siapa yang takut. Hantu itu tidak ada," kata Ira.
"Oh... Bagaimana kalau aku tantang kalian bermain Bloody Mary?" ujar Octa sambil menyilangkan tangan.
"Oke," jawab Ira tegas.
"Hei, kalian berdua. Apa yakin mau memainkan permainan seram itu?" kata Lia sedikit ketakutan.
"Kenapa? Apa kau takut Lia?" ujar Octa tersenyum nakal.
"Kalau mau main, ya main!" jawab Lia dengan wajah cemberut.
Mereka bertiga mulai menyiapkan lilin untuk memulai permainan Bloody Mary. Acara menginap kini berubah menegangkan ketika mereka mulai mengundi siapa yang duluan memainkan permainan tersebut. Hom pim pah adalah cara yang mereka gunakan. Orang pertama iyalah Ira, kedua Lia dan terakhir Octa.
Ira menyalakan lilin dan mulai melangkah masuk kamar mandi yang lampunya sudah dimatikan. Pintu ditutup. Lia dan Octa menunggu diluar kamar mandi. Lima menit kemudian Ira keluar dengan lilin yang sudah padam. Tidak ada sedikitpun ketakutan terlukis diwajahnya. Ira memang gadis pemberani.
"Bagaimana Ira?" tanya Octa.
"Tidak terjadi apa-apa. Membosankan."
Selanjutnya Lia. Ia menyalakan lilin dan melangkah masuk kamar mandi setelah menarik nafas panjang. Kini Ira dan Octa yang menunggu diluar. Lima kemudian Lia keluar dengan wajah sangat ketakutan, tubuh gemetar sambil membawa lilin yang padam.
"Ada apa Lia?" tanya Octa dan Ira penuh kekhwatiran.
"Taa... Tadi..." dengan bibir gemetar Lia berkata. "Tidak ada."
"Dasar kau ini! Kami kira apa," Ira sedikit kesal karna dijahili Lia.
"Ya sudah, sekarang giliranku."
Octa mengambil lilin dari tangan Lia lalu menyalakannya. Ia mulai melangkah masuk ke ruangan gelap itu. Baru dua langkah tiba-tiba...
"Aaah...!!!"
Teriak Octa histeris membuat kedua temannya bergegas masuk ke kamar mandi.
"Ada apa Octa?" tanya mereka berbarangan penuh kekhawatiran.
"Ada kecoak," tunjuk Octa pada serangga yang sudah kabur entah kemana.
"Hm!" tampa ekspresi Ira dan Lia berlalu pergi sambil membanting pintu dengan keras.
Tinggallah Octa sendirian dalam kamar mandi yang hanya ada penerangan cahaya lilin. Octa meletakan lilin itu diatas wastafel depan cermin. Ia menatap bayangannya dalam cermin itu lalu mulai berkata...
"Bloody Mary, Bloody Mary, Bloody Mary."
Dengan tegas dan perlahan. Hampir satu menit menunggu tidak terjadi apa-apa. Octa lalu memutar badannya ditempat sebanyak tiga kali lalu menunggu lagi. Masih tidak terjadi apa-apa. Ia berbutar kembali sebanyak tiga kali namun berlawanan dengan yang tadi. Ia kembali menunggu. Masih tidak terjadi apa-apa. Octa mendekatkan wajahnya untuk meniup lilin itu sebagai mengakhiri permainan. Tapi tiba-tiba, ada sesuatu yang menetes berwarna gelap tepat didekat lilin. Octa tidak mengetahui hal itu. Ia keburu meniup lilin tersebut sebelum menyadarinya. Octa melangkah dalam kegelapan mencari pintu keluar dengan mengandalkan ingatan.
"Bagaimana?" tanya Ira saat Octa keluar dari kamar mandi.
Octa hanya menggeleng. "Aku rasa permainan itu cuman sekedar mitos belakang."
Mereka melanjutkan acara dengan menonton film horor larut malam. Ketika sedang asik-asik menonton tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari arah kamar mandi. Mendengar hal itu membuat mereka bertiga terkejut sampai berteriak histeris.
"Suara apa itu?" kata Lia gemetar ketakutan.
"Tidak apa, itu hanya suara benda jatuh. Paling aku meletakannya terlalu dekat dengan tepi," kata Ira.
"Apa kau yakin? Mungkin itu ulah dari..."
"Jangan jadi penakut," potong Octa. "Biar aku periksa."
Octa berdiri dan pergi ke arah sumber suara. Ia menyalakan lampu kamar mandi. Tidak ada apa-apa, hanya ada botol pembersih wajah yang tergeletak di lantai. Octa mengambil botol itu dan meletakkannya di tempat semula, di depan cermin tempat mereka bermain Bloody Mary. Sekilas Octa melihat bayangan seseorang yang lewat dibelakangnya melalui cermin, sontak ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba lampu mati membuat Octa tersentak, lalu lampu menyala lagi, mati menyala berulang kali. Octa berusaha untuk tenang. Terlintas dipikirannya kalau hal itu cuman ulah teman-temanya.
"Sudahlah teman-teman, jangan menakutiku lagi. Aku tidak takut sama sekali."
Seketika lampu berhenti berkedip. Tapi berlanjut dengan suara keran pancuran menyala. Octa seketika menoleh ke bak pemandian yang tirainya tertutup. Ada bayangan hitam dari balik tirai tersebut. Octa berjalan mengedap-edap mendekati tirai. Sekali tarikan tirai terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Bayangan hitam tadi hilang seketika. Bulu kuduk Octa seketika merinding. Ia berjalan mundur dengan tubuh mulai gemetar. Botol yang ia letakan sebelumnya kembali jatuh membuat ia menoleh.
"AAAAH........ ! ! !"
Octa berteriak sejadi-jadinya sambil berusaha berlari dengan susah payah. Diluar kamar mandi ia tidak sengaja menabrak Ira sampai mereka berdua terjatuh.
"Octa, kau ini kenapa?!" bentak Ira. Ia mengusap kepalanya yang sakit.
"Di, di, dikamar mandi... Aa, ada... Hantu!!!" jawab Octa gemetar. Wajahnya pucat ketakutan dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Apa itu benar Octa?" tanya Lia yang mulai ketakutan.
"Sudahlah, tidak ada hantu di dunia ini. Itu pasti hanya halusinasi kau saja."
"Tidak Ira. Aku tidak berhalusinasi. Aku benaran melihatnya. Wajah seorang wanita berlumuran darah muncul di cermin kamar mandi. Dicermin itu juga ada tulisan Bloody Mary yang ditulis menggunakan darah," jelas Octa atas apa yang ia lihat.
"Apa itu sosok Bloody Mary itu?" kata Lia mencoba menebak.
"Iya, itu pasti dia."
"Sudah aku bilang jangan bermain permainan seram itu. Sekarang apa akibatnya," ujar Lia bersembunyi dibalik tubuh Ira.
"Itu hanya permainan konyol. Lagi pula aku salah memanggilnya. Aku seharusnya menyebutkan Bloody Mary tapi aku mala mengatakan Gloody Mary, jadi permainan itu tidak akan berhasil. Aku tidak tahu dengan kalian," kata Ira.
"Aku... Sebenarnya aku terlalu takut untuk melakukan permainan itu, jadi aku tidak pernah melakukannya," Lia mengakui itu dengan kepala menunduk.
"Itu berarti tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Tidak!" kata Octa membuat kedua temannya menoleh. "Aku tidak membuat kesalahan."
"Apa maksudmu Octa?" tanya Ira bingung.
"Aku melakukan permainan itu tampa ada ke salah sedikitpun. Aku berhasil memanggilnya. Kita semua dalam bahaya. Kita semua akan mati," kata Octa begitu histeris. Ia benar-benar sangat ketakutan.
Plak!
Satu tampar mendarat di wajah Octa. Ia memengangi pipinya yang merah. Air mata mengalir perlahan diujung matanya.
"Sadarlah Octa!! Tidak ada yang namanya hantu! Kau jangan berpikiran yang macam-macam," bentak Ira. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menamparmu."
"Kau tidak percaya padaku? Akan ku buktikan bahwa aku tidak berbohong. Aku benaran melihat hantu itu!"
Octa menarik kedua tangan temannya itu menuju kamar mandi. Sampai di depan kamar mandi, tangannya begitu gemetar saat ingin memutar knop pintu. Perlahan pintu dibuka memperlihatkan bagian ruangan kamar mandi biasa. Tidak ada hal yang aneh sama sekali. Di cermin juga tidak ada tulisan darah seperti yang Octa bicarakan. Semuanya bersih.
"Dimana hantunya? Tidak ada siapa-siapa disini," ujar Ira.
"Tidak mungkin. Jelas sekali aku melihatnya. Ia muncul disana," Octa menunjuk ke cermin dimana ia melihat hantu itu.
"Tapi Octa, tidak ada apa-apa disana," kata Lia meragukan perkataan Octa.
"Tidak aku yakin sekali aku melihatnya," masih berusaha menyakinkan kedua temannya itu.
"Jelas kau berhalusinasi. Mungkin kita tidak sebaiknya menonton film horor itu," kata Ira.
Octa merasa kebingungan. Apa benar yang dilihatnya tadi hanya halusinasi belakang? Tidak! Itu terlalu nyata untuk sekedar halusinasi. Tiba-tiba lampu mati kemudian menyala lagi. Seketika tubuh Octa merinding. Lalu kran pancuran menyala sama seperti sebelumnya. Octa berjalan mundur perlahan menjauhi tirai mandi itu dengan tubuh gemetar.
"Ta, tadi... Sama seperti ini."
"Biar aku periksa," Ira menarik tirai itu namun tidak ada apa-apa kecuali kran pancuran yang benar-benar menyala. Ia mematikannya. "Lihat. Sudah aku bilang tidak ada yang namanya hantu. Aaaa!"
Tiba-tiba, tanpa diduga ada sesuatu yang menarik kaki Ira sangat keras sampai ia terjatuh dengan keadaan kepala menghantam bak mandi duluan. Octa dan Lia bergegas membantu temannya itu. Darah memenuhi dahi Ira sampai mengalir ke dagunya.
"Astaga Ira. Kepalamu terluka," kata Lia mencoba membantu Ira bangkit dari bak mandi.
"Aduuuh... Tadi, seperti ada yang menarik ku sampai terjatuh," jelas Ira apa yang barusan menimpanya.
"Kita, harus pergi dari sini," saran Octa dengan cepat.
Baru hendak melangkah, pintu kamar mandi sudah terbanting dengan sangat keras. Octa dan Lia sekuat tenaga mencoba membuka pintu itu namun percuma, pintu tersebut tidak bergeser sama sekali.
"Bagaimana ini? Kita terkunci disini?" ujar Lia ketakutan.
"Darah. Darah manis. Aku suka dara gadis muna. Manis, manis sekali," terdengar suara wanita parubaya begitu nyaring ditelinga mereka.
Kletar! ! !
Kaca cermin kamar mandi pecah berhamburan membuat mereka bertiga terkejut dan sontak langsung menoleh ke arah cermin itu. Muncul tangan dengan kuku panjang berwarna hitam dari balik cermin. Seseorang berusaha keluar dari sana... Tidak! Itu tentu saja bukan orang. Tubuh berbalut pakaian kuno penuh darah dan rambut panjang terurai menutupi wajahnya. Octa, Lia dan Ira dengan penuh kepanikan berusaha kuat membuka pintu secara tergesa-gesa ketika melihat sosok mengerikan itu semakin merangkak keluar dari pecahan kaca.
"Darah... Darah yang manis," hantu itu mengangkat wajahnya menatap mereka seperti menatap mangsa. Ia menjulur lidahnya menjilati darah yang memenuhi sekitaran bibi serta wajahnya.
"AAAAAAH.......... ! ! ! ! !"
Teriak mereka bertiga histeris. Setelah usaha sekian lama dengan penuh ketakutan pintu berhasil dibuka. Mereka lari terbirit-birit meninggalkan tempat mengerikan itu. Mereka lari menuju kamar dan bersembunyi disana. Ira segera mengunci pintu kamar. Ia terduduk lemas sambil bersandar di depan pintu. Lia dan Octa juga terduduk dilantai dengan tubuh gemetar. Nafas mereka masih putus-putus kelelahan habis berlari tadi.
"Itu... Itu memang dia," ujar Octa dengan bibir gemetar.
"Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!" gumang Lia beberapa kali.
"Sadarlah Lia!! Tidak akan ada yang mati!" bentak Ira. Ia masih memegangi dahinya yang masih banyak mengeluarkan darah!
"Apa yang kau tah?! Bukankah awalnya kau tidak percaya dengan adanya hantu? Sekarang lihat, dia mengincar kita. Kita akan mati!"
"Sudah cukup!! Berhenti bertengkar, tidak ada gunanya. Lebih baik kita pikirkan cara bagaimana mengusir hantu itu dari tempat ini," lerai Octa.
"Bagaimana caranya? Aku tidak bisa berpikir lagi," kata Ira dengan lemahnya.
"Aku ingat. Hanya ada satu cara yaitu menghancurkan gelang yang ada pada pergelangan tangan hantu itu," jelas Lia.
"Baiklah, kita rebut gelang itu lalu menghancurkannya," kata Ira menyetujuinya.
"Ira lebih baik obati dulu lukamu," saran Octa.
"Iya."
"Aku ambilkan kotak P3Knya, dimana kau menyimpanya Ira?" tanya Lia.
"Dalam laci di meja rias."
Lia berdiri mengambil kotak P3K di tempat yang dimaksud. Baru menemukan barang yang dicari tiba-tiba sebuah tangan berdarah muncul dari balik kaca meja rias mencengkram leher Lia kemudian menariknya masuk ke cermin. Lia meronta-ronta melepaskan diri namun percuma cekraman hantu itu kuat sekali. Octa dan Ira mencoba membantu temannya itu dengan cara menarik tangan Lia agar tidak terseret masuk ke dalam cermin. Usaha yang sia-sia, Lia tidak bisa diselamatkan. Hantu itu berhasil membawa Lia ke dunia cermin dengan menyisakan noda darah segar disana. Octa menangis sejadi-jadinya melihat salah satu temannya berhasil ditangkap hantu itu. Entah apa yang akan terjadi pada Lia? Ira yang juga tidak dapat menahan air matanya berusaha menarik tangan Octa menjauh dari tempat itu. Mereka berlari keluar mencari tempat yang tidak ada cerminnya. Sekarang mereka tahu kalau hantu itu bisa muncul dari cermin ke cermin.
"Hiks... Hiks... Lia...!" tangis Octa pecah saat mereka ada di ruang tamu.
"Sutt... Kecilkan suaramu. Apa kau mau hantu itu menemukan kita?"
"Tapi Lia..."
"Jangan sedih nanti kita akan menyelamatkannya. Aku punya rencana. Kita pancing hantu itu keluar. Ia biasanya menjulukan tangan dari balik cermin saat itu terjadi kita rebut gelang itu," kata Ira menjelakan rencananya.
"Tapi cermin mana yang kita gunakan untuk memancing hantu itu?"
"Kamar mandi."
Sesuai rencana yang dipersiapkan mereka pergi ke kamar mandi. Octa bertugas menjadi umpan sedangkan Ira bersiap menangkap hantu itu. Sampai dikamar mandi mereka dikejutkan dengan genangan darah dilantai. Darah memenuhi seluruh ruangan sampai ke bak kamar mandi. Penasaran dengan semua darah itu Ira menarik tirai yang tertutup. Mereka kembali dikejutkan dengan Lia yang sudah tak benyawa bermandikan darah.
"L I A ! ! !" teriak Ira sambil mengangkatkan tubuh Lia yang terbaring dalam bak mandi.
"Hiks... Hiks... Dalia...!"
Tangis mereka berdua pecah melihat kondisi temannya itu. Tubuh telah kaku, pucat tak berdarah.
"Aku ingin lebih. Lebih banyak darah. Darah yang manis."
Suara itu terdengar menggema di ruang kamar mandi. Suara wanita tua itu terdengar berat dan parau. Dengan kekesalan menyelimuti diri Octa, ia berdiri menghadap cermin kamar mandi yang sudah pecah.
"Keluar kau!! Jika kau berani keluar!!!" teriak Octa meluapkan amaranya.
"Octa, hentikan Octa. Hiks... Sudah, sudahlah," tangis Ira sambil memeluk Octa yang masih berteriak histeris.
"Keluar... Hiks... Hiks... Huaaa... Aa..."
Krak!
Suara tersebut membuat mereka menatap cermin kamar mandi. Seperti mendengar teriakan Octa barusan, sosok itu muncul kembali keluar merangkak dari cermin.
"Kau gadis yang berisik. Aku suka. Darah yang penuh amarah dan ketakutan jauh lebih enak."
"Sekarang Ira!" teriak Octa.
Dengan mengandalkan keberanian dan nekat, Octa dan Ira berusaha merebut gelang yang melingkar di pergelangan tangan sosok itu. Dengan perjuangan keras tidak disangkah gelang merah tua itu berhasil direbut. Ira seketika melemparkan gelang tersebut ke lantai sampai hancur menjadi kepingan.
"Aah...!" berbarengan teriakannya sosok itu hilang menjadi asap di udara.
"Apa? Apa dengan begini sudah selasai?" tanya Octa ling-lung dengan apa yang terjadi begitu cepat.
"Aku rasa iya."
Ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba semua kaca pecah yang berserakan terbang ke arah mereka. Octa dan Ira berlari menghindari pecahan kaca tersebut. Malang bagi Ira, ia kalah cepat dari kaca-kaca terbang tersebut. Ia tewas dengan seluruh pecahan kaca berhias di tubuhnya. Octa bersembunyi dalam lemari. Ia memeluk kedua lututnya yang gemetar. Air mata tak henti-hentinya mengalir. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karna atas kejadian tewasnya kedua temanya itu. Jika bukan karna dia yang menantang teman-temannya untuk bermain permainan Bloody Mary, kejadian na'as ini tidak akan terjadi.
"Aku menemukanmu gadis yang ketakutan. Darahmu pasti sangat manis."
Octa tersentak ketika mendengar suara wanita itu. Ia mengangkat wajahnya melihat kelangit-langit lemari. Wanita tersebut tepat bergantung diatas kepalanya. Rambut panjang dengan wajah penuh darah yang menetes ke wajah Octa.
"AAAAAAH......................! ! ! ! ! !"
TAMAT