Sejarah kelam masa lalu, terkubur oleh sang waktu, berjalan menggerus segala peristiwa yang baik sengaja maupun tidak sengaja dilupakan. Namun, ada kalanya yang terkubur itu, menyeruak keluar. Meminta keadilan dan menyeret para pelaku sejarah ke dalam kejadian mistis dan misterius tak bisa dinalar oleh pikiran manusia biasa. Inilah yang kualami saat berada di RS Tirta Husada.
Saat membuka kedua pelupuk mataku, yang kulihat pertama kali adalah tubuhku terbaring di sebuah ruangan putih, kepalaku diikat dengan perban, aroma obat – obatan kimia seakan memaksa masuk ke rongga hidung, menembus sela – sela masker oksigen. Suara mesin mengukur tekanan darah dan detak jantung menggelitik telinga di sebelah kiriku. Bagaikan dengungan ribuan ekor lebah berkeliling di sekitar kepalaku.
Seorang wanita cantik berpakaian putih tengah menatapku , tersenyum ramah dan berkata, “ Kau sudah sadar Tuan Alfred. Bagaimana keadaan Anda ?” Aku mencoba tersenyum, tapi perban yang mengikat kepala ini terasa membatasi gerakku atau menjawab pertanyaan suster itu. “Anda bisa memanggil saya Suster Michelle. Luka di kepala Anda cukup parah. Sebaiknya, jangan terlalu banyak bergerak dulu sampai pak Dokter mengijinkannya,” kata suster perawat itu.
Entah sudah berapa banyak dosis dari obat penenang masuk ke dalam tubuhku, suara dengungan mesin bagaikan lagu penghantar tidur, dalam sekejab aku tertidur pulas. Dimana aku berada, rasa sakit di sekujur tubuh seakan hilang terlebih sambutan ramah juga senyum perawat yang bernama Michelle itu, membuatku tak lagi memikirkan bagaimana ceritanya hingga aku bisa terbaring di tempat yang selama ini kubenci. Kubiarkan diri ini terbuai di alam yang berbeda, ALAM MIMPI.
_____
Sebuah tempat pengap, kotor. Bau obat – obatan kimia bercampur aduk dengan bau anyir darah membuat perut mual. Sejak kapan aku ada disini ? Sepasang mataku menatap ke sekeliling, banyak sekali tempat tidur rusak dan kotor berserakan disana-sini. Di atas tempat tidur tersebut terbaring mayat-mayat yang sudah membusuk dengan tubuh penuh belatung, cacing, kelabang, ditambah lagi sekumpulan lalat mengerubuti darah yang sebagian mulai mengering. Serangga-serangga menjijikkan itu merayap kesana-kemari, bagaikan tengah berpesta pora, aku harus segera keluar dari ruangan ini, jika tidak ingin menumpahkan semua yang ada di dalam perutku keluar melalui mulutku.
Aku berjalan menelusuri lorong yang pengap itu dan sebuah pintu berwarna hitam, membentang di hadapanku. Kuraih gagang pintu, tapi, jari-jemari ini seakan lewat begitu saja. Saat menyentuh daun pintu, pergelangan tangan ini menghilang. Mendadak saja aku sudah berpindah ruangan. Di ruangan itu sesosok tubuh wanita tengah berjalan merangkak, wanita itu berpakaian sebagaimana layaknya seorang perawat, “Suster ... “ sapaku. Suaraku seakan tak didengarnya sekalipun keras. Perawat itu terus merangkak hingga akhirnya tubuhnya lenyap di sebuah tikungan.
Sesampai di tikungan, kutemukan siapa-siapa, kemana perginya perawat itu. Terdengar suara seperti benda berat diseret – seret dari belakang. Aku menoleh dan... membelalakkan mata, seorang wanita berambut hitam, panjang dan kusut merangkak menuju ke arahku dengan gerakan terpatah-patah. Dia merangkak menyeret sepasang kakinya yang buntung, tak ada tanda-tanda kehidupan di matanya yang coklat kehitaman dan basah oleh darah. Wanita itu merangkak dan terus merangkak hingga aku menjerit keras manakala wajahnya sudah tepat berada di dekat hidungku.
_____
Aku membuka mataku, tubuhku terbaring di sebuah tempat tidur beralaskan kain putih bersih. Masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutku sudah dilepas, tapi, jarum infus masih menempel di tangan kiri. “Anda sudah bangun Tuan Alfred,” sebuah sapaan lembut dan ramah terdengar dan saat aku menoleh seorang perawat berdiri di samping kananku. Dialah Suster Michelle, “Selamat ... Anda sudah melewati masa-masa kritis,” katanya lagi.
“Oh, Suster Michelle. Sudah berapa lama saya tertidur ?” tanyaku.
“Sudah 3 hari sejak Anda pertama kali siuman. Tampaknya, Anda baru saja bermimpi buruk,”
“3 hari ya, berarti sudah 5 hari aku dirawat di tempat ini. Siapakah dokter yang menanganiku ?”
Suster Michelle tersenyum manis, “Rupanya, kesehatan Anda mulai pulih. Tak biasanya ada pasien yang cepat pulih dari luka parah seperti Anda. Mungkin tanpa Pak Dokter Andre, belum tentu Anda pulih secepat ini,”
“Dokter Andre, ya... bisakah saya bertemu dengannya ?”
“Maaf, Tuan Alfred ... karena RS ini masih baru berdiri, kami kekurangan tenaga sementara pasien yang datang lumayan banyak. Jadi, kami harus membagi tugas. Sekalipun demikian, masih saja ada pasien yang belum ditangani. Salah satunya: Anda, Tuan Alfred. Tapi, untunglah Anda tak banyak mengeluh, karena selama ini Anda banyak tidur. Jadi, kami lebih mudah menanganinya,”
Baru saja Suster Michelle menutup mulutnya, pintu ruangan terbuka, seorang dokter bertubuh jangkung masuk diiringi seorang perawat lain. “Selamat pagi, pak ... Saya Dokter Andre yang merawat Anda. Bagaimana keadaan Anda pagi ini ?”
Aku tersenyum, “Terima kasih, pak... berkat Pak Dokter keadaan saya mulai membaik,”
“Syukurlah kalau begitu,” katanya sementara sepasang tangannya mulai bekerja memeriksa pupil mata, denyut nadi dan jantung, “Hmm, daya tahan tubuh Anda cukup baik, padahal sejak pertama kali Anda masuk ke ICU dan sempat koma beberapa hari, sekarang sudah mulai berangsur-angsur pulih,”
Aku mengerutkan dahi, “Koma ?”
Pria yang dipanggil dengan nama Dokter Andre itu mengangguk,” Anda sudah disini lebih kurang 2 minggu, pak Alfred. Terus terang saat Anda koma, kami sudah putus asa, tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menyelamatkan nyawa Anda. Kecelakaan di Tol Cipularang itu membuat Anda nyaris kehabisan darah. Jadi, kami berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan hidup Anda,”
“Mana mungkin ? Kata Suster Michelle saya sudah 5 hari dirawat disini ?!” kataku sambil mengalihkan pandanganku ke arah dimana tadi Suster Michelle berdiri. Tapi, entah kemana dia sekarang.
“Suster Michelle. Anda menyebut-nyebut Suster Michelle ?” tanya perawat itu sambil menoleh ke arah dokter Andre. Aku mengangguk, “Benar. Tadi dia berdiri di sini,”.
Dokter Andre tersenyum, “Pak Alfred. Di RS ini tak ada yang namanya Suster Michelle. Cobalah untuk beristirahat, menurut perkiraan saya ... 1 minggu lagi, Bapak baru bisa pulang. Selamat pagi, pak...” katanya sambil membalikkan tubuh lalu berjalan menuju pintu keluar. Aku terdiam, sepasang mataku menatap ke langit-langit ruangan, “Aneh...” aku menghela nafas panjang. Pengaruh obat penenang, membuat rasa kantukku mulai menyerang. Akan tetapi, nama Suster Michelle nyaris menghilangkan rasa kantukku, “Suster Michelle ....” desahku. Sejuta pertanyaan tentangnya benar-benar membuatku tidak bisa memejamkan mata. AKU GELISAH.
Mendadak saja aku teringat akan mimpi burukku beberapa waktu yang lalu, jari-jemariku meraih pena dan kertas yang ada di atas meja tak jauh dari tempatku berbaring. Sesaat kemudian, pena yang kupegang itu menari-nari di atas permukaan kertas putih polos itu dan dalam waktu singkat, kertas itu sudah terdapat lukisan seorang wanita, wajahnya mirip dengan Suster Michelle. Pada halaman kertas lain, terdapat lukisan wanita yang muncul dalam mimpiku. SEORANG WANITA MERANGKAK SAMBIL MENYERET KEDUA KAKINYA YANG BUNTUNG DAN MENANGIS DARAH.
Sang Raja siang bergerak ke ufuk Barat, cahayanya yang kemerahan membawa lembayung senja kepada barisan pepohonan rimbun yang berdiri berjejer di sepanjang halaman RS Tirta Husada. Sebagian sinar yang masuk melalui dedaunan dan ranting pepohonan membentuk garis-garis indah. Sebagian garis-garis sinar itu memasuki jendela kamarku dan menerpa kulit wajahku, kurasakan betapa hangatnya sinar itu. Saat kelopak mataku terbuka, pertama kali yang kulihat adalah wajah jelita seorang perawat wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku, SUSTER MICHELLE. Di mataku, dia bagaikan sesosok bidadari yang turun dari Surga dan selalu menjagaku saat tertidur ataupun terbangun, dia adalah wanita yang memiliki kecantikan sempurna. Terlebih lagi warna merah muda di bibirnya yang sensual.
“Suster Michelle... “ sapaku, “Sudah berapa lama kau berada disana ?”
Suster Michelle mengalihkan pandangannya, “Apa maksudmu, Tuan Alfred ?” tanyanya.
“Maksudku, sudah lamakah kau duduk di dekat jendela itu sambil memandang keluar ?”
“Saya baru saja tiba, melihat Anda tidur cukup pulas, saya tidak berani membangunkan Anda. Oh,ya ... sudah saatnya tubuh Anda diseka,”
“Katakan padaku, Suster ... Apakah kau sudah lama bekerja di RS ini ?” tanyaku sambil membiarkannya membasuh tubuhku.
“Saya sudah lupa berapa lama saya bekerja disini, Tuan ... kenapa Anda menanyakan hal itu,”
“Aku cuma heran, kalaupun kau sudah lama bekerja di RS ini, bagaimana mungkin mereka tak mengenalmu. Yang aku maksud Suster Lisa dan Pak Dokter Andre,” jelasku.
“Ah, biarkan saja, Tuan... yang penting saya sudah melakukan tugas dengan baik. Jadi, masa bodoh, mereka tak mengenal saya,”
“Apa maksudmu ?”
“Tuan Alfred, saya minta tolong, jika mereka datang, bisakah Tuan tidak menyebut-nyebut nama saya ?”
“Apakah kau ada masalah dengan mereka ?” tanyaku heran.
“Berjanjilah, Tuan....” Suster Michelle menatapku dengan tatapan memohon, “Semua ini adalah demi kebaikan Anda, Tuan,” sambungnya.
Aku semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan wanita itu, sepasang mataku balas menatapnya dalam-dalam. Untuk sesaat kami berdua terdiam, suasana di ruangan tersebut sunyi, hanya terdengar detak jantungku. Hanya detak jantungku, tapi, tak kudengar detak jantung Suster Michelle.
Wanita cantik itu masih menatapku tanpa berkedip hingga aku tak kuasa untuk menolak permintaannya, “Baiklah... tapi, katakanlah dulu apa alasannya,”
“Tuan Alfred ... belum saatnya kuceritakan. Tapi, aku berharap, waktu akan memberikan jawabannya untuk Tuan ... paling tidak selagi Anda masih berada di RS Tirta Husada ini,” tegasnya.
_____
Untuk kesekian kalinya, aku merasakan tubuhku ini seringan kapas, kedua telapak kakiku berjalan setengah melayang di atas lantai ruangan tempatku dirawat. Kubiarkan angin malam membawaku kemana ia berhembus. Dari pintu ke pintu lain, jendela satu ke jendela lain dan tembok satu ke tembok lain, bukanlah menjadi penghalang kemana aku pergi. Hingga akhirnya aku tiba di sebuah ruangan dimana aku melihat seorang wanita duduk di sudut ruangan tersebut sementara di hadapannya berdiri 6 orang perawat wanita dan seorang dokter botak, tatapan mata mereka liar dan kejam. Seringai mengerikan bak kumpulan serigala lapar terlukis di wajahnya.
Wanita yang duduk bersimpuh di sudut ruangan menangis tersedu-sedu, “Maafkan saya, dok... saya janji akan menutup mulut saya rapat-rapat atas kejadian itu,” pintanya di sela-sela tangis. Pria berkepala botak itu tersenyum, “Aku percaya, kau bukanlah seorang perawat bodoh. Aku percaya akan setiap ucapanmu. Akan tetapi, rahasia harus tetap dijaga,” katanya sambil melirik ke arah salah seorang perawat yang membawa pisau bedah. Wanita itu tampak pucat pasi manakala perawat itu menghampirinya sambil tersenyum dingin, “Jangan dokter, jangan lakukan ini....” serunya dengan suara gemetar. Tak lama kemudian, tak terdengar lagi suaranya.
Detik berikut, aku melihat 6 orang wanita itu berjalan sambil mendorong sebuah meja yang cukup lebar dan panjang dan tubuh wanita yang menangis tadi terbaring di atasnya, mereka menuju ke sebuah ruangan lain, pada pintu ruangan tersebut tertera tulisan “KAMAR OPERASI”
Meja itu berhenti tepat di tengah ruangan, lampu-lampu dinyalakan dan dihadapkan pada tubuh yang tergolek tak berdaya di atasnya. Sesaat tubuh itu bergerak-gerak, pertama kali yang dilihat adalah salah seorang perawat menaruh pisau bedah tepat di lidahnya. Wanita itu meronta-ronta hendak melepaskan diri tetapi, tangan dan kakinya diikat kencang, sekuat apapun ia meronta, justru semakin kuat ikatannya dan ia merasakan sakit yang amat sangat dan darah memercik keluar, semuanya itu berasal dari lidahnya yang telah dipotong.
Aku bisa merasakan kesakitannya saat ia membelalakkan mata bersamaan dengan percikan darah dari lidah dan kakinya yang membasahi seluruh pakaiannya. Lidah dan sepasang kakinya sudah dipotong. Setelah itu ia melihat para perawat yang jumlahnya 6 orang itu merobek-robek pakaian dan mengeluarkan : Paru-paru, jantung, hati, ginjal dari dalam tubuhnya itu. Adegan sadis dan mengerikan itu membuatku harus membuang muka jauh-jauh. Tapi, pandanganku tertuju pada sebuah bayangan ... bayangan wanita yang merangkak sambil menyeret sepasang kakinya yang buntung. Gerakannya terpatah-patah, suara gemerantak tulang patah, menggelitik telingaku dan sebuah wajah mengerikan muncul tepat di depan hidungku. Teriakanku seakan menggema di seluruh ruangan masuk melalui celah-celah dinding, lubang ventilasi udara, lalu berakhir di salah satu ruangan dimana aku terbaring.
Aku melompat kaget, keringat dingin mengucur deras dan membasahi sekujur tubuhku. Lagi-lagi MIMPI BURUK. Tapi, telingaku samar-samar masih mendengar teriakan, dan memang, ada suara teriakan yang berasal dari salah satu ruangan yang letaknya tak jauh dari kamarku.
Perlahan-lahan aku menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhku, aku beranjak turun dan berjalan menghampiri pintu. Kuputar gagang pintu, daun pintu terbuka perlahan dan aku melihat beberapa perawat berjalan terburu-buru. Rasa penasaran membawa kaki-kaki ini berjalan menyusuri lorong dan mengikuti perawat-perawat itu dari belakang. Langkah-langkah kaki mereka berhenti di ruang istirahat khusus untuk petugas, mereka menutup mulut dengan tangan kanannya sementara sepasang matanya menunjukkan rasa terkejut, ngeri bercampur iba.
Saat aku hendak bertanya, seorang satpam datang menghampiriku, ia menepuk bahuku sambil berkata, “Maaf, pak... Bagi orang yang tak berkepentingan dilarang memasuki area ini. Mari saya antarkan Anda ke kamar Anda,” tak ada yang bisa kukatakan selain menurutinya. Dalam perjalanan menuju kamarku, aku bertanya, “Sebenarnya, apa yang sudah terjadi, pak ?” Pria itu tersenyum, “Ada kecelakaan dan kami akan segera membereskannya. Maaf sudah membuat istirahat Anda terganggu,”
“Sudah malam, pak ... jangan lupa kunci pintu kamar Anda untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan,” katanya begitu kami sampai di kamarku. Aku mengangguk, sebelum menutup pintu, aku sempat melihat sebuah bayangan hitam merayap di lantai untuk kemudian naik ke dinding dan menghilang di langit-langit ruangan. Kejadian itu membuatku tetap terjaga hingga saat bunyi lonceng jam dinding berdentang 2 kali. Waktu sudah menunjukkan tepat jam 02:00 dini hari. Biasanya jam-jam seperti ini, Suster Michelle masih berada disisiku, menjaga dan terkadang bercerita apapun hingga fajar tiba.
_____
Aku merindukan Suster Michelle yang sudah 3 hari ini tidak mengunjungiku. Dalam waktu 3 hari itu telah terjadi berbagai peristiwa yang mengerikan di RS. Menurut kabar dari orang-orang di sekitar RS ini, aku baru mengerti, beberapa suster / perawat rumah sakit ini tewas dalam keadaan yang mengenaskan. Itu membuat hampir seluruh penghuni RS ini ketakutan dan memilih dipindahkan ke RS lain sebagian ada yang memilih dirawat jalan atau pulang sekalipun Dokter tak mengijinkannya. Apa sebenarnya yang telah terjadi ? Kemana Suster Michelle ? Lalu, mengapa mimpi-mimpi buruk senantiasa datang dan pergi tiba-tiba, apa hubunganku dengan ini semua ?
Dengan berbagai macam perasaan yang tak menentu, aku berjalan menuju lemari penyimpanan barang, kukeluarkan semua lukisan-lukisan yang kudapat dari mimpi-mimpi burukku. Sepasang mataku tak lepas mengamati lukisan-lukisan mengerikan itu, hingga akhirnya terhenti pada lukisan wajah Suster Michelle. Mataku terbelalak manakala melihat adanya kemiripan pada wajah Suster Michelle dengan wajah sosok aneh yang berjalan merangkak lebih tepatnya merayap sambil menyeret sepasang kakinya yang buntung.
Seluruh inderaku terfokus pada lukisan-lukisan mengerikan itu dan berhenti saat pintu kamar terbuka perlahan-lahan. Seorang wanita muncul sambil membawa nampan berisi makanan, “Selamat malam, pak,” sapanya.
Kualihkan pandanganku ke arahnya, “Apakah Anda yang bernama Suster Lisa,” tanyaku. Wanita itu mengangguk, “Benar, pak... senang rasanya melihat kesehatan Anda sudah berangsur-angsur pulih,”
“Bolehkah, aku bertanya suatu hal pada Anda, Suster Lisa ?”
“Selama saya bisa menjawab pertanyaan Anda, maka saya akan menjawabnya,”
“Terima kasih, suster... Sebenarnya, apa yang telah terjadi di RS ini ? Mengapa semua orang merasa tak betah di RS ini ?”
“Oh, itu... mungkin mereka merasa bahwa pelayanan kami kurang memuaskan. Maklum, disini hanya ada beberapa orang perawat, tepatnya 15 orang dan 5 orang dokter. Namun, karena jumlah pasien lebih banyak ... jadi, sebagian ada yang belum bisa kami tangani,”
“Anda jangan berbohong suster ... bagaimana penjelasan Anda tentang suster-suster yang meninggal saat tengah malam tiba ?”
Suster Lisa terperanjat, air mukanya tampak kikuk sekali, “Ma... maaf, pak... saya tidak bisa menjawabnya,” katanya sambil buru-buru hendak meninggalkan ruangan tapi, buru-buru kucegah, “Tunggu dulu, suster ... apakah ini ada hubungannya dengan Suster Michelle ?”
“Ti ... tidak !” wajahnya pucat dan berusaha melepaskan pegangan tanganku, “Jangan paksa saya untuk menjawab pertanyaan bapak....” sambungnya sambil menempiskan tanganku kuat-kuat. Begitu peganganku terlepas, dia segera melangkah keluar.
Mendadak langkah kakinya terhenti dan di hadapannya sesosok tubuh tergeletak di ambang pintu. Sepasang mata Suster Lisa terbelalak manakala melihat sosok tubuh itu perlahan-lahan bergerak dengan gerakan terpatah-patah, terdengar gemerantak tulang-tulang patah. Tampak olehku, pemilik tubuh itu adalah seorang wanita berpakaian compang-camping dihiasi dengan warna merah kehitaman. Detik berikut, ia merangkak sambil menyeret sepasang kakinya yang buntung, ia bergerak menghampiri Suster Lisa yang kini wajahnya pucat pasi, sekujur tubuhnya mandi keringat. Ia jatuh terduduk.
Aku tak kalah terkejutnya manakala mendadak tubuh mengerikan itu sudah tepat berada di depan hidung Suster Lisa. Ia membuka mulutnya, terdengar suara aneh, “Ti... Tidak... Maafkan aku Michelle, aku ... aku terpaksa,” seru Suster Lisa dengan suara gemetar, tubuhnya mengkeret ketakutan, matanya terbelalak lebar, wajahnya pucat pasi dan saat itu pula, perlahan-lahan tubuhnya bagaikan tanaman layu dan kering, saat tubuh yang tinggal tulang dibungkus dengan kulit kering roboh ke lantai ruangan.
Setelah tubuh kurus kering itu terkapar di lantai ruangan sepasang mata milik sosok aneh itu beralih kepadaku. Kami saling tatap, yang kuherankan ... aku sama sekali tidak takut lagi memandangnya, tapi, justru merasa iba. Kepalaku mendadak pusing, pandanganku kabur, sebelum menutup mataku sempat kulihat tubuh sosok aneh itu perlahan-lahan meninggalkan ruangan. Satu yang masih kuingat, sebelum Suster Lisa mati dia sempat menyebut-nyebut nama Michelle.
_____
Aku membuka kedua pelupuk mataku dan tampak Suster Michelle tengah memandangiku, sementara di sudut bibirnya tersungging senyuman tipis, “Bagaimana keadaanmu hari ini, Tuan Alfred ?” sapanya ramah.
“Sejak kapan kau berada disini ?” tanyaku.
“Tuan Alfred, saya selalu ada disini menemani Anda. Berulang kali Anda mengigau, suhu tubuh Anda panas, detak jantung dan tekanan darah naik 2 kali lipat dari hari-hari sebelumnya, terlebih saat tengah malam kemarin. Tampaknya, Anda bermimpi buruk lagi,”
“Benarkah itu ?” tanyaku heran, “Sepertinya, aku baru mengalami kejadian yang aneh kemarin malam, tapi, kenapa aku bisa lupa ?”
“Tenanglah, Tuan Alfred. Kalau Anda tak keberatan bisakah Anda ceritakan mimpi buruk tuan itu ?!”
Aku tersenyum kecut, “Saya bisa membedakan mana mimpi dan juga kenyataan. Kejadian kemarin itu adalah kenyataan yang terjadi tepat di depan mataku,”
“Apakah Tuan tidak paham, benturan di kepala juga reaksi obat-obat kimia bisa menimbulkan halusinasi ?”
“Bisakah suster membantu saya mengambil buku yang tersimpan dalam laci itu ? Yah, laci di samping kanan Anda,” pintaku.
Tangan-tangan halus dan jari-jemari lentik Suster Michelle bekerja, membuka laci dan mengeluarkan buku dan menyerahkannya padaku, “Bagaimana Anda menjelaskan tentang ini ?” tanyaku sambil membuka halaman buku tersebut satu-persatu dan memperlihatkannya pada wanita yang berdiri di sampingku, “Aku tak perlu menceritakan mimpi-mimpi buruk itu pada anda, suster,” kataku kemudian. Mendadak aku mengangkat tanganku dan menyambar pergelangan tangan kanan suster Michelle, “Lalu, bagaimana Anda menjelaskan tentang tidak adanya tanda-tanda kehidupan dalam tubuhmu, suster. Suhu tubuh Anda dingin, sedingin es, tak ada denyut nadi dan jantung, maaf, bukannya saya bermaksud tidak sopan ... tapi, bisakah Anda menjelaskan semuanya ?” desakku.
Suster Michelle menepiskan pegangan tanganku, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, “Ya, akulah sosok yang hadir dalam mimpi buruk Tuan, akulah yang membunuh mereka semua. Celakanya, mereka malah menutupi kejadian itu dan menyembunyikan jasadku yang sudah tak utuh lagi. Hanya gara-gara kesalahan kecil, nyawa ini harus melayang... menyaksikan kematian sendiri benar-benar menyiksa. Sudah lama aku menunggu orang yang mau membantuku untuk mengungkap semuanya. Entah mengapa, saya harus bertemu dengan Tuan dan menceritakan segalanya lewat mimpi. Nah, apakah Tuan puas dengan jawaban ini ?!” katanya.
Aku terpana ... sama sekali tak pernah terlintas di benakku bahwa aku akan bertemu dengan seorang wanita yang ternyata bukanlah manusia seperti pada umumnya. Wanita itu adalah salah satu penghuni dimensi lain dan orang-orang menyebutnya HANTU atau ARWAH PENASARAN. Kami berbincang-bincang, tertawa hingga jauh larut malam, dialah yang selama ini menjagaku hingga berangsur-angsur kesehatanku membaik. Sama sekali tak ada niatnya untuk mencelakaiku. Aku adalah orang yang bodoh, tapi, bukanlah manusia yang tidak punya perasaan seperti manusia-manusia yang telah bertindak di luar batas kemanusiaannya. Pantas saja Suster Michelle menuntut keadilan pada mereka. Aku menatap dengan perasaan iba ke arah Suster Michelle, “Apakah kau juga akan membunuhku ?” tanyaku kemudian.
“Anda tak ada hubungannya dengan ini, Tuan... justru saya merasa bersalah karena tak sepenuhnya jujur pada Anda ... juga melibatkan Anda dalam urusan pribadi saya,” jawab Suster Michelle, “Masih tersisa satu orang lagi yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pimpinan RS Tirta Husada DOKTER JUNED. Dialah yang memerintahkan para perawat itu membunuhku. Dia sudah lama hidup senang di atas derita orang. Saya harap Anda tak ikut campur dalam urusan ini, Tuan...”
“Apakah tak ada cara lain selain membunuh ?” tanyaku.
“Tuan, tahukah Anda ... Apa alasan Dokter Juned membunuhku ?”
“Mana aku tahu ? bahkan aku tak mengenal siapa Dokter Juned itu,”
“Rumah Sakit Tirta Husada ini, dulu digunakan sebagai bisnis Ilegal. PENJUALAN ORGAN DALAM MANUSIA. Malam itu tanpa sengaja aku melihat Dokter Juned dan 6 perawat yang salah satunya adalah Suster Lisa, membedah tubuh seorang wanita hamil muda. Hamil di luar nikah dan ingin menggugurkan janin dalam kandungannya. Selain mengeluarkan orok, juga mengeluarkan hampir seluruh organ dalam dan memberikan itu pada salah seorang pria dan dia memberikan sebuah tas koper berisi cukup banyak uang pada dokter Juned. Dasar aku lengah, tanpa sengaja menjatuhkan pot kesayangan Dokter Juned yang terletak tak jauh dari tempatku bersembunyi. Semenjak kejadian itu, aku merasa selalu diawasi seseorang kemana pun pergi. Hingga pada suatu malam Suster Lusi membekapku dan membawaku ke ruangan pribadi Dokter Juned. Disana sudah berkumpul kelima suster lain, selanjutnya... apa yang terjadi, semua sudah ada dalam lukisan Tuan itu,”
Suster Michelle telah menjadi salah satu korban dari bisnis ilegal yang terjadi cukup lama di RS Tirta Husada itu, tak ada seorang pun tahu kecuali orang-orang yang berhubungan dengan kejadian itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk Suster Michelle yang sudah melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang perawat, sekalipun kini berwujud hantu / arwah penasaran yang disebut suster ngesot.
Lonceng pada jam dinding berdentang sebanyak 2 kali, sudah jam 02:00 dini hari, waktu dimana Suster Michelle meninggal. Mendadak seisi ruangan bergetar hebat. Gempa Bumi telah menggoyang seluruh bangunan RS TIRTA HUSADA dan sekitarnya walau hanya sebentar namun sempat membuat sebagian bangunan rusak parah beruntung tak ada korban jiwa.
Saat situasi sudah dirasa aman, aku kembali ke ruanganku dinding di sudut ruangan dimana biasanya Suster Michelle duduk berlobang cukup besar dan ada tulang belulang manusia yang bentuknya sudah tak utuh lagi berserakan di lantai. Pakaiannya compang-camping yang menutupi sebagian tulang belulang tersebut terdapat label nama pada dada kirinya: MICHELLE. Sekalipun sudah rusak karena dimakan rayap, huruf-huruf itu masih terbaca dengan jelas ‘MICHELLE’. Jadi, selama ini ruangan tempatku dirawat tersimpan jasad Suster Michelle ....
Jauh dari tempat Alfred dirawat inap, sebuah bangunan mewah yang terletak di halaman belakang RS Tirta Husada, rusak parah. Diantara reruntuhan batu-batuan raksasa, tampak sesosok tubuh berusaha melepaskan diri dari gencetan batu. Sebagian cahaya bulan purnama yang masih bersembunyi malu-malu di balik awan mencoba menerangi sosok tubuh yang hanya sebatas kepala hingga pinggang itu. Dia adalah seorang pria botak, Suster Michelle memanggilnya dengan sebutan Dokter Juned. Kedua tangannya menggapai-gapai sambil sesekali mencoba mendorong batu yang menggencet kakinya, tidak berhasil. Tak ada jalan lain baginya selain minta tolong, tapi, dengan suara seperti tercekik itu tak seorangpun bisa mendengarnya.
Sepasang mata dokter Juned terbelalak, tampak banyak sekali bayangan-bayangan hitam berdiri mengelilinginya dan salah satu bayangan itu adalah seorang wanita merangkak sambil menyeret kedua kakinya yang buntung. Ia menghampiri Dokter Juned. Saat bayangan-bayangan itu sudah berada tepat di depan hidung, Dokter Juned berteriak-teriak, setelah itu teriakannya lenyap seiring dengan hembusan angin malam yang dingin. Awan-awan berarak berkumpul menjadi satu, untuk menyembunyikan kembali wajah sang dewi malam.
( 26 – September – 2018 )