Tiga tahun kemudian.
Kediaman kakek Adam terlihat kosong. Semenjak kejadian itu, tak satu pun keluarga dari keturunan Adam mengunjungi rumah itu karena Adam melarang keras setiap keturunannya untuk mengunjungi apalagi tinggal di sana.
Meski begitu, keadaan rumah tua itu masih tampak bagus dan rapi. Ayah Sasi menugasi seseorang untuk menjaga dan membersihkan rumah setiap hari. Pak Saleh dan pak Midun, dua orang yang ditugasi menjaga dan merawat rumah. Sedangkan mbok Ijah ikut serta kakek Adam dan nenek Mira ke Jakarta. Ayah Sasi melakukan hal itu agar rumah itu tidak terbengkalai dan terkesan angker. Rumah itu juga tidak ingin dijual oleh Jonah karena banyak kenangan di sana. Apalagi putrinya, Sasi menghilang di rumah itu. Jonah masih berharap putrinya akan kembali ke pelukannya.
Suatu hari, pak Burhan yang merupakan kepala kampung di kampung A bertandang ke pos satpam rumah tua. Ya, penduduk setempat menyebutnya rumah tua karena rumah itu masih mempertahankan rumah model lama. Dia berniat menyampaikan maksud dan tujuannya pada pak Saleh.
"Assalamualaikum pak Saleh," sapa pak Burhan.
"Waalaikumsalam. Eh, pak Burhan. Silekan masok pak! Maap lah nih ye pak, kondisi posnye kayak gini, sempet." (silahkan masuk pak! Maaf ya pak, kondisi posnya seperti ini, sempit)." Pak Saleh mempersilahkan pak Burhan untuk masuk ke dalam pos. Walau bagaimanapun dia harus menghormati tamu yang datang berkunjung.
"Tak ape, pak." (tidak apa-apa, pak). Pak Burhan mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang telah disiapkan oleh pak Saleh.
"Kalok saye boleh tahu, ade ape bapak sampai datang ke sinik?" (kalau saya boleh tahu, ada apa bapak sampai datang ke sini?). Pak Saleh langsung melontarkan pertanyaan.
"Jadi ginik pak. Kampong kite nih kan nak kedatangan mahasiswa KKN dari kote. Semalam budak-budak tuh datang ke rumah saye minta ijin." (jadi begini pak. Kampung kita akan kedatangan mahasiswa KKN dari kota. Kemarin, mereka datang ke rumah saya minta ijin)
"Teros pak?" (terus pak?) Pak Saleh menanggapi serius ucapan pak Burhan.
"Nah, masalahe ni tempat tinggal untok budak-budak tuh nda ade. Nak di rumah saye, kebetolan ade sanak sodare yang nak datang dari kampong." (Nah, masalahnya tempat tinggal untuk mereka tidak ada pak. Kalau di rumah saya, kebetulan ada keluarga yang nah datang dari kampung).
"Jadi, maksod bapak nie macam mane?" (jadi, maksud bapak gimana?). Pak Saleh tetap bertanya meski sudah mulai menangkap maksud dan tujuan pak Burhan.
"Maksod saye, nak minta ijin same tok Adam. Untok sementare selama dua Minggu budak-budak mahasiswa tu tinggal di rumah tue. Pak Saleh hubungek dolok lah tok Adam minta ijin lok. Kali gak tok Adam bersedie numpangkan rumahe." (Maksud saya mau minta ijin sama kakek Adam. Untuk sementara selama dua Minggu anak-anak mahasiswa tinggal di rumah tua. Pak Saleh hubungi dulu kakek Adam untuk meminta ijin lebih dulu. Siapa tahu kakek Adam bersedia menumpangkan rumahnya).
"Saye paham maksod pak Burhan ni. Tapi, pak Burhan tau sorang kan rumah tue ni kalok dah malam Selase macam mane." (Saya mengerti maksud pak Burhan. Tapi, pak Burhan tahu sendiri keadaan rumah tua ini setiap malam Selasa). Pak Saleh berusaha memberikan pengertian pada pak Burhan.
"Iye sih pak. Kalo masalah itu saye pon tau. Tapi nak cam mane agek. Satu-satunye rumah yang bise dipakai buat tempat tinggal cuman sisa rumah tue ni jak." (Iya sih pa. Kalau masalah itu saya juga tahu. Tapi, mau bagaimana lagi. Satu-satunya rumah yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal hanya sisa rumah tua ini saja). Pak Burhan berusaha membujuk pak Saleh agar dapat memberikan izin.
Pak Saleh menganggukkan kepala. Dia mengerti kondisi saat ini. Untuk menolak mahasiswa-mahasiswa itu tidak mungkin. Kasihan juga mereka. "Cuman saye nih nak nanyak. Ade budak perempuan nda?" (Hanya saja saya mau bertanya. Apa ada anak perempuan yang ikut?).
"Tak ade pak. Kelima mahasiswa itu jantan semue. Emang ngape pak?" (Tidak ada pak. Kelima mahasiswa itu laki-laki semua. Memangnya kenapa ya pak?) Pak Burhan bingung dengan penjelasan pak Saleh.
"Bagoslah kalok jantan semue. Bukan ape, bapak tau sorang kejadian tige taon yang lalu. Sebaeknye janganlah ade yang perempuan!" (Baguslah jika laki-laki semua. Bukan apa, bapak tahu sendiri kejadian tiga tahun yang lalu. Sebaiknya, jangan ada yang perempuan).
"Tapi, bukannye itu untok keturonan tok Adam jak ye?" (tapi, itu bukannya untuk keturunan kakek Adam saja?) Pak Burhan semakin bingung dengan penjelasan pak Saleh.
"Betol pak. Tapi, tak ade salahe kite nie bejage-jage. Mane gak tau isi hati hantu. Jangankan hantu pak e, isi hati manusie jak tak ade yang tahu." (Betul pak. Tapi, tidak ada salahnya kita berjaga-jaga. Tidak ada yang tahu isi hati hantu seperti apa. Jangankan hantu, isi hati manusia saja tidak ada yang tahu).
"Eh, pak Saleh nih. Macam mane pula hantu punye hati. Ade-ade Jak bapak ni!" (Eh, pak Saleh. Gimana ceritanya hantu punya hati. Ada-ada saja pak).
"Kali gak kan. Mane gak kite tau." (Kali aja. Mana kita tahu). Jawab pak Saleh sambil tertawa.
"Jadi macam mane pak?" (Jadi gimana pak?) Pak Burhan sekali lagi memastikan agar pak Saleh mau meminta izin pada kakek Adam atau anaknya.
"Nanti saye cobe tanyakan dulu ye pak. Tapi saye tak bise janji." (Saya coba tanyakan dulu nanti ya pak. Tapi, saya tidak bisa janji).
"Iye tak ape pak. Seendaknye kite cobe doloklah. (Iya tidak apa pak. Setidaknya kita coba dulu). Jawab pak Burhan. "Kalok gituk, saye permisi dolok ye pak." (kalau begitu, saya permisi dulu pak).
"Iye pak, nantik saye pandai ke rumah bapak kalok udah ade dapat kabar dari tok Adam." (iya pak, nanti saya ke rumah bapak jika sudah mendapat kabar dari kakek Adam).
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Pak Burhan berpamitan pulang.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh pak," balas pak Saleh.
Tiga hari kemudian setelah kedatangan pak Burhan. Pak Saleh sudah menghubungi kakek Adam. Kini pria paruh baya itu bertandang ke rumah pak Saleh bermaksud menyampaikan jawaban atas keinginan pak Burhan. Cukup lama pak Saleh bertamu ke rumah pak Burhan. Apalagi disuguhkan pisang goreng dan kopi pancong, khas minuman Pontianak.
"Kalok gituk, saye permisi balek dolok ye pak. Saye tunggu kedatangan mahasiswanye." (Kalau begitu, saya permisi pulang dulu ya pak. Saya tunggu kedatangan mahasiswanya).
"Sekali agik, saye ucapkan makaseh banyak pak Saleh." (Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak pak Saleh).
Pak Burhan mengantar kepulangan pak Saleh hingga ke depan pintu pagar rumahnya. Perasaannya senang karena mendapat restu dari kakek Adam. Para mahasiswa diperbolehkan untuk tinggal sementara di rumah tua.
Satu Minggu kemudian.
Kelima mahasiswa yang terdiri dari Ricky, Dani, Samuel, Mirza, dan Farel telah tiba di depan pagar rumah tua. Mereka mengendarai tiga sepeda motor dan saling berboncengan, kecuali Mirza. Dia harus rela berboncengan dengan tas ransel yang berisi perlengkapan makanan camilan mereka agar tidak perlu repot-repot pergi keluar rumah.
"Yoo, bagus lalu rumahnye." (bagus sekali rumahnya) Farel yang notabenenya anak daerah Singkawang berujar kagum dengan bahasa daerah asalnya.
"Ahe?" (apa?) Samuel yang baru saja memarkir motor matic terbarunya mendengar desiran suara yang memanggilnya seperti suara perempuan.
"Ih, Elu kenapa Sam?" tanya Dani pada Samuel. Pemuda yang sudah menetap di Jakarta selama tujuh tahun itu terkejut mendapati Samuel yang tiba-tiba menjawab sesuatu yang pertanyaannya entah dari mana asalnya. Dia memilih melanjutkan studinya ke daerah asalnya karena sudah lama terpisah dari kekasih hatinya selama dia ikut kedua orang tuanya ke ibu kota.
Cinta dari masa SMP masih setia menanti dan tetap berlabuh pada pemuda itu hingga membawanya kembali ke asalnya. Padahal hanya cinta monyet. Tapi cinta monyet itu berkembang bagai samudera.
Samuel langsung mendongakkan kepala. Dia tersadar saat ini berada di Pontianak, bukan di Menjalin, daerah asalnya. Tidak mungkin suara yang tadi didengarnya adalah suara ibunya. Samuel menatap ke sekitar. Jalanan saat itu sepi. Hanya ada mereka berlima. Pemuda itu langsung memegang penyang, sebuah jimat berbentuk taring yang dia jadikan mata kalung.
"Tidak ada apa-apa," jawab Samuel menggunakan bahasa Indonesia.
"Yuk, masuk! Pak Burhan bilang sedang ada acara di rumah tetangganya. Kita diminta masuk lebih dulu dan menunggu di teras rumah." Mirza mengajak keempat temannya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah. Kebetulan penjaga rumah juga sedang bertandang ke perjamuan.
"Satu lagi. Gunakan bahasa pemersatu bangsa agar saling mengerti!" Maklum saja dua sahabatnya itu sangat kental berbahasa daerah. Kadang Mirza sendiri bingung maksud mereka apa.
"Siap komandan!" Samuel dan Farel menjawab paling nyaring.
Mirza yang menjadi ketua kelompok memimpin teman-temannya untuk masuk ke dalam. Dia perlahan membuka slot pintu pagar besi yang sengaja tidak di gembok. Sebelum slot itu terbuka, semilir angin menerpa bagian kanan tubuh Mirza. Meski pelan namun terasa.
"Ucapkan salam!"
Mirza mendengar suara itu dengan lantang. Pemuda itu sampai menoleh ke belakang. Farel yang berdiri tepat di belakang Mirza bingung melihat pemuda itu yang langsung menoleh. "Kenapa kamu Za?"
Melihat teman-temannya biasa saja, Mirza hanya bisa menggeleng kepala. Pemuda itu kembali melanjutkan tangannya untuk segera membuka slot pintu pagar. Lagi-lagi gerakannya terhenti karena kembali mengalami kejadian yang sama seperti tadi. "Ucapkan salam!" Suara seperti laki-laki itu berteriak sangat kencang di telinganya hingga membuat Mirza terkejut hingga tubuhnya limbung.
"Yo, ngape beh kau, Za? Dari tadek kuperhatikan kau daan jadi nak buka pintu pagar." (Yo, kamu kenapa sih, Za? Dari tadi aku perhatikan kamu tidak jadi membuka pintu pagar) Farel mulai kesal dengan tingkah ketua kelompoknya itu hingga berbicara dengan bahasa daerahnya.
"Baca doa atau salam masing-masing ya!" perintah Mirza pada teman-temannya.
"Bukannya tidak ada orangnya! Kenapa harus ucapkan salam?" Ricky yang dari tadi diam, kini bersuara. Di antara keempat pemuda itu, Ricky paling irit bicara. Tapi, sekalinya bicara langsung menusuk ke jantung kemudian turun ke hati. Pria blesteran itu langsung melangkah ke depan. Dia sudah lelah selama perjalanan. Saat ini yang dia butuhkan adalah tempat untuk beristirahat.
"Tunggu!" Samuel menarik kerah baju belakang Ricky. "Yang Mirza katakan ada benarnya. Lagipula rumah ini sudah terlihat tua meski terawat. Umurnya pasti sudah seratusan tahun. Tidak ada salahnya kita permisi dulu meski tidak ada orang." Samuel menjelaskan panjang lebar.
Ricky hanya diam. Sebenarnya dia ingin menyela perintah Samuel. Dia tidak terlalu percaya dengan sesuatu yang berbau mistis seperti itu. Tapi, karena Samuel menjelaskan dengan jelas. Mau tidak mau Ricky menurutinya.
Dani yang berada di barisan paling belakang tidak terlalu peduli dengan ocehan teman-temannya. Dia sibuk berkirim pesan dengan kekasihnya. Jika dipikir-pikir, jarak antara kota dan kabupaten kurang lebih tiga puluh menit perjalanan. Namanya mabuk cinta, jarak yang terpisah hanya satu sentimeter saja sudah seperti puluhan kilo.
"Dan, ayo masuk!" teriak Mirza. "Jangan lupa baca doa dan ucapkan salam!" Perintah Mirza.
Dani hanya mengacungkan jempol kanan sebagai tanda mematuhi perintah sang ketua. Dia mengirim pesan kepada kekasihnya bahwa dia akan melanjutkan obrolan mereka setelah tiba di teras rumah.
Mirza membuat slot pintu pagar sambil mengucapkan doa dan permisi di dalam hati. Saat kaki kanan Mirza memasuki pekarangan rumah, angin kencang bertiup ke arah mereka. "Ya Allah lindungilah kami!" ucap Mirza di dalam hati.
Kali ini angin kencang itu dirasakan oleh kelima pemuda itu. Tiga di antara mereka menanggapinya dengan takut. Sisanya hanya biasa saja. Mirza menahan napas. Tubuhnya terasa kaku. Seketika pandangan matanya menatap ke arah jendela. Dia menatap lekat jendela itu. Mirza merasa ada seseorang di dalam rumah yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Za! Kamu kenapa?" tanya Samuel.
"Tidak apa-apa." Mirza tidak ingin membuat teman-temannya khawatir lagi.
Mirza melangkahkan kaki kanannya sambil berucap doa tiada putusnya. Langkah Mirza diikuti oleh teman-temannya yang berada di belakang. Padahal pekarangan rumah itu luas. Akan tetapi, mereka memasuki pekarangan rumah tua dengan cara berbaris seperti anak TK.
Keempat temannya sudah memasuki pekarangan rumah. Tinggal Dani yang terakhir. Langkah kaki Dani terhenti karena getaran di ponselnya. Belum sempat pemuda asli Borneo itu menjawab, lengannya ditarik oleh Farel. Bersyukur saat menginjak pekarangan, Dani sempat mengucap salam.
Kelima pemuda itu menunggu kedatangan pak Burhan dan pak Saleh. Di antara mereka ada yang bermain gitar, bernyanyi, dan berpura menabuh gendang dengan meja kayu sebagai alat penggantinya.
Lewat tengah hari, tanpa mereka ketahui, seorang gadis cantik berparas asli pribumi sudah berada di pintu masuk rumah. Ricky yang pertama kali melihat gadis itu, langsung berdiri. Farel dan Dani yang kebetulan berada di dekat Ricky ikut berdiri setelah mengikuti arah pandang Ricky.
"Farel." Farel langsung mengulurkan tangan lebih dulu. "Nama saya Farel." Ucap pemuda itu sekali lagi memperkenalkan diri. Bahasa daerah yang dari tadi dia gunakan langsung menghilang.
Gadis cantik itu tersenyum malu. Dia tidak membalas uluran tangan Farel. Gadis itu langsung menyebutkan namanya, "Nama saya Arumi."
"Nama yang cantik." Ricky akhirnya tidak tahan mengagumi kecantikan Arumi. Tatapan mata Arumi beralih ke Dani. Dia memberikan senyum terbaiknya hingga membuat pemuda itu kalang kabut dibuatnya.
Berbeda dengan ketiga temannya, Samuel dan Mirza tidak berucap satu kata pun. Mereka hanya saling pandang. Karena yang mereka berdua lihat jelas berbeda dengan penglihatan ketiga temannya. Seorang wanita dengan gaun putih dengan warna lusuh, rambut panjang hingga ke lantai, dan berwajah seram dengan mata membulat lebar.
Kedua pemuda itu tahu sebutan untuk hantu itu. Kuntilanak. Tubuh Mirza bergeming. Dia tak henti melantunkan doa. Samuel melirik Mirza. Dari gelagat Mirza, Samuel tahu pasti yang dilihat Mirza dan dia adalah sosok yang sama.
"Ayo masuk!" Arumi mempersilahkan pemuda-pemuda itu masuk ke dalam.
Ricky yang sudah jatuh hati pada kecantikan Arumi, menjadi orang pertama yang masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!" Samuel berteriak saat melihat Farel ingin mengikuti Ricky. Tindakan Samuel berhasil mendapat tatapan tajam dari Arumi.
"Ada apa sih Sam?" Farel tidak sabar untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Sebaiknya kita tunggu pak Burhan dan pak Saleh! Tidak baik masuk ke dalam rumah tanpa mereka." Ucapan Samuel terdengar masuk akal.
"Samuel benar. Meski kita disuruh masuk oleh mba Arumi, tapi sebaiknya tunggu pak Saleh atau pak Burhan. Setidaknya salah seorang dari mereka yang datang lebih dulu." Mirza menimpali ucapan Samuel.
"Mba ka-" Ucapan Farel terhenti saat berbalik tidak mendapati Arumi di sana. "Lha, kemana mba Arumi?"
Pintu rumah masih terbuka lebar. Mengundang tamu-tamu untuk masuk ke dalam. Mungkin saja Arumi masuk ke dalam rumah karena cuaca terlihat mendung. Samuel dan Mirza saling bertatapan. Seolah berkomunikasi melalui pikiran. Mereka langsung meraih Farel dan Dani.