"Ada apa?" tanya Wisnu begitu membuka pintu rumah.
Mata Wisnu menatap ke arah tangan Danu yang noda darah.
"Aku mau pinjam kamar mandi. Mau cuci ini!" Danu menunjukkan kedua tangannya yang berwarna merah darah.
Mata Wisnu berkilat. Lalu dia menggeser tubuhnya, memberi ruang bagi Danu untuk masuk ke dalam rumahnya yang sangat sederhana.
Rumah Wisnu berbentuk kotak, hanya ada satu kamar tidur, lalu kamar mandi di dekat dapur. Ruang tamunya juga kecil dan tak ada barang berharga.
"Kamu kenapa buka pintu terlalu lama?" tanya Danu yang berjalan masuk.
"Aku tak peduli urusanmu, kenapa kamu harus peduli pada urusanku?' Wisnu balik bertanya.
"Hahaha, kamu benar! Tak perlu turut campur apa urusan orang lain. Baiklah, aku tak akan bercerita padamu, apa pengalaman yang baru aku alami tadi," ucap Danu yang terus berjalan ke arah kamar mandi.
Wisnu tersenyum menatap punggung Danu. Setelahnya dia memutar tubuh menatap ke arah luar rumah.
Bulan purnama perlahan-lahan mulai naik, mendekati atas kepala. Namun sinarnya tak terlalu terang, se
Sepasang mata Wisnu menatap kejauhan, terlihat sepasang bayangan datang menghampiri.
"Wisnu, kabar buruk!" teriak Bana, pemuda berbadan agak gemuk.
"Hush, teriaknya jangan dekat kupingku, bisa pecah nih gendang telinga!" Joko balas berteriak.
"Kalian berdua kemari mau berkelahi atau apa?" Wisnu menatap tak suka pada Bana dan Joko yang sudah berdiri di depannya itu.
Saat itulah cakar langit terlihat menerangi bumi dengan warna kebiruan, lalu menerbitkan suara ledakan yang membuat Bana kaget setengah mati.
"Kodok buduk!" kaget Bana sambil menatap Joko.
Wisnu tertawa terbahak-bahak, pasalnya wajah Joko terlihat aneh begitu Bana selesai berteriak kaget tadi.
Namun berikutnya, Joko dan Bana berebut masuk ke rumah Wisnu, karena hujan mulai turun.
Rumah Wisnu sepi, karena dia hidup seorang diri selama tiga bulan terakhir. Saat dia kehilangan ibunya tercinta yang ditemukan mati dalam keadaan mengenaskan, tercabik-cabik badannya dengan luka besar di bagian perut. Tepatnya ya seperti saat ini, ketika bulan purnama muncul.
Kala itu bukan hanya ibunya Wisnu saja yang menjadi korban. Dalam tiga malam purnama itu, ada tiga korban. Sekarang malam purnama ketiga di bulan ketiga sejak kejadian mengerikan tersebut, sudah ada delapan jiwa yang terbunuh. Entah malam ini giliran siapa.
Warga penduduk kampung Asem pun resah, karena teror pembunuh itu tak memilih korban. Tua dan muda, pria dan wanita telah menjadi korbannya, bahkan anak bayi pun sudah satu yang menjadi korban.
Hanya saja siapa pelakunya belum bisa diketahui pasti. Tetapi ada yang melihat sekilas, cuma karena saksi itu tukang minum air memabukkan, keterangannya tak begitu dipercaya, tepat di korban ke enam atau bulan lalu.
Saksi itu Danu dan dia bilang melihat bayangan seperti manusia harimau atau manusia serigala, entah dia tak jelas. Hanya saja yang bisa dia tegaskan itu ketika bayangan itu melarikan diri, meninggalkan bekas cakar di batang pohon.
Namun ketika Danu diminta memperlihatkan bukti bekas cakar yang dia lihat, batang pohon itu tak pernah ada.
Karena itu keterangan Danu diragukan.
"Tadi kamu bilang ada kabar buruk tentang apa?" tanya Wisnu.
"Loh, kamu masa tidak tahu?" Bana bukannya menjelaskan, malah bertanya.
"Setahuku, sejak tadi pagi Wisnu tak terlihat. Entah ke mana dia." Joko menatap Wisnu tajam.
"Oh, aku lupa. Itu, pacarmu Meri, dia kan jadi korban dari si teror pembunuh itu. Wajahnya hancur dicakar," jelas Bana.
"Meri bukan pacarku!" Wisnu menolak disebut pacar Meri.
"Taruh kata, Meri bukan pacarmu. Tetapi kenapa kamu tak datang melayat?" tanya Joko mendesak.
"Aku sakit. Kalau bukan karena Danu yang menggedor pintu, aku tak akan menerima kalian berdua malam ini," jelas Wisnu.
Suara geledek terdengar lagi. Di luar rumah, hujan turun semakin deras.
"Danu di sini?" tanya Bana.
"Iya. Dia tadi datang untuk mencuci tangan. Masih di kamar mandi," jawab Wisnu santai.
Saat ini ketiga pemuda berusia sekitar dua puluhan itu duduk di lantai ruang tamu rumah Wisnu dalam posisi segitiga.
"Cuci tangan, memang habis apa dia?" tanya Joko penasaran.
"Entah, membunuh mungkin!" Wisnu mengangkat pundaknya.
"Hah! Serius dong, kan malam ini malam ketiga bulan purnama di bulan ini." Bana tampak melotot takut.
"Kan aku bilang mungkin. Tetapi yang pasti, tangan Danu penuh warna merah, darah segar!" jelas Wisnu santai.
Bana menggigil tubuhnya, dia ketakutan. Walau badannya terbilang besar dan gemuk, namun nyalinya kecil.
Joko menatap heran Wisnu yang terlihat tenang-tenang saja, lalu berpindah melihat Bana yang wajahnya mulai pucat pasi.
"Aku yakin Wisnu berbohong. Masa iya dia tak takut membawa masuk seorang pembunuh ke dalam rumahnya," bujuk Joko pada Bana.
Bana berpikir sejenak, lalu dia mengangguk membenarkan ucapan Joko.
"Oya, kalian ada melihat benang merah dari para korban tidak?" tanya Joko mendadak.
"Benang merah apa?" Bana menatap tak mengerti.
"Begini, tiga korban pertama itu Ibu dan Bibinya Wisnu, lalu Pak Gondo yang isunya ada hubungan sama...." Joko menatap Wisnu.
"Sebut saja Ibuku," jawab Wisnu.
Joko mengangguk.
"Aku belum tahu hubungan apa. Terus di bulan kedua, di sini kan ada si kecil Adnan yang disusul sama Ibunya Adnan dan teman kita Wasis," ucap Bana.
"Jangan lupa, dua hari terakhir ini ada Mang Usep dan Meri." Wisnu ikut bicara, dia bisa menyebut nama Meri karena baru saja mendengar dari Bana dan Joko.
"Kalau aku bilang semua korban berhubungan sama kamu, apa kamu percaya?" tanya Joko menatap Wisnu.
"Oh, dengan kata lain, kamu menuduhku sebagai pembunuh mereka? Sebut saja ketiga korban pertama di bulan pertama itu ada hubungannya denganku. Lalu ketiga korban di bulan kedua, apa hubungannya denganku? Begitu juga dengan korban di bulan ini, apa kaitannya denganku?" tanya Wisnu gusar.
"Tenang dulu, aku bukan menuduh dirimu menjadi pembunuhnya. Tetapi aku takut kamu yang akan jadi korban berikutnya," ucap Joko menenangkan Wisnu.
"Apalagi kamu bawa masuk Danu ke dalam rumah. Dia kan...." Bana teringat cerita Wisnu di mana melihat tangan Danu penuh darah.
Saat ini Bana tak bisa bicara lebih jauh, karena Danu telah keluar dari dalam kamar mandi dengan mata melotot.
"Ada apa sebut-sebut namaku?" tanya Danu ketus.
Bana membungkam, dia menundukkan kepala dalam-dalam.
Sejenak keheningan tercipta di dalam rumah, tetapi di luar rintik hujan masih terus terdengar.
"Kamu punya makanan tidak, Wisnu? Aku lapar!" tanya Danu berseru lantang. Hanya dia yang masih berdiri.
"Di dapur ada buah mangga. Kamu kupas saja sendiri," sahut Danu.
Danu memutar tubuhnya untuk kembali ke dapur.
Sementara itu di ruang tamu rumah Wisnu, suasana masih hening.
"Kamu harus hati-hati," bisik Joko.
Wisnu tersenyum, tetapi bukan senyum yang menenangkan hati Joko. Karena Joko merasakan betapa dinginnya senyum Wisnu itu.
Terlihat Danu datang mendekat. Dia membawa piring, lalu plastik hitam yang dari wanginya berisi buah mangga dan alat tajam untuk mengupas mangga.
"Hahaha, biar aku berbaik hati mengupas mangga buat kalian bertiga." Danu duduk di sebelah Wisnu.
Mendadak geledek menyambar lagi dan lampu di rumah Wisnu mati.
"Hei, mati lampu!" teriak Bana ketakutan.
Teriakan itu menjadi teriakan terakhir Bana yang berupa rangkaian kalimat. Karena setelahnya terdengar teriakan lagi dari mulut Bana, kali ini hanya satu kata.
"Aaaah!"
Hening.
Lampu mendadak menyala.
Dua bayangan melompat berdiri dan hanya satu yang duduk bengong.
Wisnu dan Joko berdiri bersisian, melihat ke arah Danu yang wajah, tangan dan tubuhnya penuh noda darah. Darah dari tubuh Bana, tepatnya dari leher dan dada Bana. Di mana darah itu menempel pula di sebagian kecil tubuh Wisnu dan Joko.
"Bukan aku pembunuhnya. Bukan aku!" Danu menggelengkan kepalanya.
"Bukti sudah jelas Danu! Kamu telah membunuh Bana. Aku harus melapor pada yang lain." Joko menunjuk ke Danu.
Danu tetap duduk di tempatnya. Dia masih tak percaya, kalau dirinya itu yang menghabisi nyawa Bana.
"Tadi Wisnu cerita, kamu datang ke sini dengan tangan bernoda darah. Sebelum Bana, siapa yang telah kamu jadikan korban?" tanya Joko berani.
"Aku tidak membunuh siapa-siapa," jawab Danu lirih.
Wisnu dan Joko saling memandang, mereka tak mendengar ucapan Danu.
"Kita tangkap dia!" ajak Joko berbisik pada Wisnu.
"Aku tak berani, jika dia nekat, bisa berabe urusannya," jawab Wisnu.
"Kalau begitu, biar aku panggil orang-orang kampung untuk menangkap Danu," ucap Joko.
"Aku bukan pembunuh!" teriak Danu sambil melompat berdiri.
Wisnu dan Joko menjerit, lalu lampu mati sekali lagi.
Terdengar dua suara tubuh yang jatuh.
Begitu lampu menyala lagi, Danu terlihat jatuh pingsan di dekat mayat Bana. Sementara Joko melihat Wisnu dengan mata menyorot ketakutan.
"Ternyata kamu!" lirih Joko.
Wisnu tersenyum, lalu dia angkat tangan kanannya yang berkuku tajam seperti kuku binatang buas. Dengan santainya lidah Wisnu menjilati darah yang berasal dari tubuh Joko.
Anehnya, lidah Wisnu panjang seperti lidah kadal.
"Tiga korban pertama itu membuat Wisnu mati menanggung malu. Ibu dan Bibinya bersama Gondo telah berbuat sesuatu yang tak pantas. Ibunya Adnan, Wasis, Usep, Meri, Bana dan Kamu termasuk orang-orang yang memaksa Wisnu mati menanggung rasa malu dan penasaran. Kalian terlalu mendesak Wisnu. Hahaha. Sekarang, biarlah aku yang mendesak kalian!" seru Wisnu.
"Kamu, siapa? Kamu bukan Wisnu kan?" tanya Joko dengan sisa-sisa napas hidupnya.
"Kamu tahu, cemoohan dan hinaan kalian terhadap Wisnu, membuat pemuda itu merasa rendah diri. Kalian mengaku sebagai teman, tetapi setiap bertemu selalu saja menghina dan meludah di depan Wisnu," jawab Wisnu yang perlahan-lahan cakarnya terarah ke jantung Joko.
"Aku hanya...."
"Meri, ah dia sebenarnya gadis yang baik. Hanya saja dia terhasut oleh dirimu, hingga dia memaki Wisnu. Saat dia tahu cintanya ternyata besar terhadap Wisnu dan tahu salah, semuanya sudah terlambat!" ejek Wisnu.
"Kamu, siapa?" tanya Joko yang mau tahu siapa sebenarnya 'Wisnu' yang akan mengantar dirinya ke alam lain. Napasnya sudah mulai kembang kempis.
"Biar aku yang menjawab!" Danu mendadak bangun berdiri.
Joko melirik ke Danu.
"Wisnu sudah mati sejak tiga bulan lalu. Wisnu yang di depanmu, itu urusanku. Nah, aku menjadikan dirimu yang terakhir karena satu alasan. Kamu ingat nasib Asih?" Danu tersenyum mengejek.
Joko ingin menjawab, tetapi dia sudah tak punya kemampuan untuk bicara, sebab jiwanya sudah terputus.
Asih telah mati. Mati bunuh diri sama seperti Wisnu. Bedanya Asih mati untuk buktikan cintanya yang murni pada Danu.
Kala itu, setahun lalu. Joko yang cemburu pada Asih dan Danu, menghembuskan kabar pada Danu, jika Asih telah menjadi pacarnya luar dan dalam.
Danu yang gelap mata marah besar pada Asih. Hingga Asih memilih bunuh diri sebagai bukti cintanya. Padahal waktu itu Danu bisa saja mencegah, tetapi tidak. Danu tak melakukan pencegahan, karena sudah terlanjur percaya cerita Joko.
Ketika Asih menghembuskan napas dan meninggalkan surat untuk Danu. Danu pun menyesal dan pergi dari kampung Asem.
Saat Danu kembali pulang, dia menemukan teman terbaiknya Wisnu telah mati di dalam kamarnya, mati karena racun yang diminumnya. Selembar surat berisi curahan hati Wisnu yang tak kuat menanggung malu, membuat Danu berpikir jahat.
Danu yang pergi untuk belajar ilmu hitam, memakai jasad Wisnu sebagai uji coba ilmunya. Wisnu hidup hanya untuk memiliki jiwa jin jahat. Hingga teror tercipta.
"Kamu boleh pulang! Semua sudah selesai!" Danu tertawa kecil pada Wisnu yang berdiri dengan tubuh kaku.
"Baiklah!"
Danu mengangguk. Namun mendadak dia menatap Wisnu dengan mata melotot kesakitan.
"Kamu siapa menyuruhku kembali? Aku senang berada di tubuh ini, biarlah aku hidup sebagai pembunuh dari dunia kegelapan!"
Tawa Wisnu mengiringi jatuhnya tubuh Danu. Hingga kemudian dia melesat pergi di bawah rintik hujan yang lebat. Jauh, jauh dan lantas menghilang.*