Gemericik hujan menjadi satu-satunya sumber suara. Sedangkan bulan dengan bentuk sabit semakin kehilangan sinarnya. Bukan tanpa sebab, malam ini awan mendung nan tebal berarak di udara. Menyuguhkan suasana sepi nan sunyi, serta dingin yang bersumber dari rintik-rintik di luar jendela.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, ketika beberapa pasang mata di ruangan itu telah terpejam sempurna. Mereka terdiri dari tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Mereka semua kelelahan menjaga sang Ayah yang terbaring sakit — hingga terlelap. Namun, sejak hari pertama ayahnya sakit, tak satupun tetangga datang menjenguk.
Si bungsu Hanif pun terjaga. Ia tak sengaja terbangun karena mendengar sebuah suara yang cukup mengherankan.
Pandangan Hanif mengedar sejenak. Dilihatnya keempat saudaranya itu masih terlelap di tempat masing-masing. Hanif justru dikejutkan oleh sang ayah yang masih berbaring di ranjangnya. Laki-laki kurus setengah abad itu memelototkan mata ke arah Hanif.
Nyali Hanif perlahan menciut. Ia tak pernah merasa begini sejak lima hari ikut menunggui ayahnya.
Hanif memilih abai pada pelototan sang ayah. Ia beralih menatap saudara yang telentang di sampingnya. "Kak, Kak, bangun. Itu ada suara dari dalam dapur." Hanif terus meggerakkan badan kakak-kakaknya yang masih pulas. Gadis 18 tahun itu sendiri cukup takut untuk melangkah ke area dapur.
Suara yang tadinya samar, kini bertambah jelas di pendengaran Hanif. Suara seseorang yang jelas sedang membaca mantra. Perlahan, bau kemenyan pun ikut melintas samar di penciumannya. Menambah rasa takut dan penasaran yang memancing adrenalin gadis itu.
"Kenapa kau bangunkan kami."
Hanif terlonjak dengan suara yang terdengar sangat tiba-tiba. Ia yang terlalu fokus mengendus aroma kemenyan, tak sadar jika usahanya berhasil membangunkan salah satu kakak tertuanya.
Hanif menatap Nimas yang duduk di sebelahnya dengan wajah datar.
"Kak, ada suara orang di dapur. Aku takut." Hanif sedikit merengek seraya memegang lengan sang kakak. Ia sedikit terkejut ketika merasakan suhu rendah di lengan sang kakak tertua.
Tanpa banyak kata, Nimas beringsut dari tikar pandan tempat mereka tidur dan langsung menuju dapur. Hanif tentu merasa takut, namun entah mengapa, malam ini nyalinya terpacu untuk mengetahui siapa yang bersuara disana. Ia pun mengekori Nimas.
Nimas berhenti lebih dulu setelah menemukan sumber suara yang tadi sempat mengganggu adiknya.
Hanif yang berdiri di sebelah sang kakak lantas membulatkan mata. Bagaimana tidak, dihadapannya tampak bersila laki-laki paruh baya tak berbusana. Dari tampak punggung coklatnya, Hanif merasa tak asing dengan orang itu. Kepulan asap muncul dari hadapan laki-laki yang kini membelakangi Hanif dan Nimas.
"Ay-ayah ...!" Kalimat Hanif nampak terbata. Bagaimana mungkin, sang ayah yang tadi sempat melotot dari atas ranjang tuanya, kini malah berada di dapur dengan sebuah kemenyan. Badan kurusnya terlihat sehat. Berbanding terbalik dengan sosok ayah yang tak berdaya di dalam kamarnya. Hanif mendadak lemas. Isi kepalanya seolah berperang, memaksa mencerna situasi yang berlangsung di depan matanya saat ini.
Suara lirih Hanif membuat laki-laki itu berhenti berkomat-kamit dan memutar badannya ke belakang. Laki-laki yang memang jelas berwujud ayahnya itu lantas berdiri dan mendekati Hanif serta Nimas. Sadar merasakan sebuah ancaman, sontak keduanya perlahan mundur.
"Jangan salahkan aku, Nak. Kau sendiri yang mengantar nyawa." Laki-laki yang menyerupai ayah Hanif kembali berkomat-kamit. Kedua tangannya terayun hendak meraih gadis itu.
Hanif terkesiap. Ia terkaget-kaget saat sebuah keris terayun hendak menggores kulit wajahnya.
"Ayah, Ayah, kenapa Ayah begini, Yah?" Suara serak Hanif membelah ketegangan saat itu juga. Ia merasa terhujam oleh pelototan mata yang nyaris hampir berbeda, dengan pelototan mata ayahnya saat di kamar tadi.
Nimas mengayunkan tangan hendak menepis. Kedua kakinya terus bergerak mundur melindungi sang adik. Air mata Hanif tak henti mengucur. Rasa takut, bingung, dan sedih bercampur aduk menjadi satu.
Beberapa kali Hanif dan Nimas terpojok hingga membentur dinding. Hingga tangan dingin Nimas tak kuasa lagi medorong sang ayah yang terus mendekat. Laki-laki itu membaca mantra dan meludah tepat di kepala Hanif.
PYUH!
Sebuah benda cair nan lengket mendarat di kening dan menetes hingga kelopak mata gadis itu. Sesaat setelahnya, gelegar tawa terdengar ketika ia berhasil meludahi Hanif. Nimas tampak tak terima, namun ia tak bisa apa-apa.
Hanif menyentuh bagian basah di kepalanya. Ia langsung menggesekkan tangan ke dinding tempatnya bersandar, menyingkirkan benda cair menjijikkan yang terasa lengket di tangannya.
Hanif masih tak mengerti tentang yang terjadi. Karena sebelumnya keluarga mereka baik-baik saja dengan hubungan yang amat sangat harmonis. Hanif menunduk merenungi segalanya. Mencari jawaban tanpa peduli situasi tegang yang menimpa.
"Hanif! Hanif! Ayah sekarat, ngapain kau disitu sendirian?" teriak Rama dari ambang pintu pembatas ruang tengah dan area dapur. Kakak ketiga Hanif itu nampak heran.
Sendirian?
Kening Hanif lantas mengernyit heran. Jelas-jelas dirinya bersama sang kakak dan ada pula ayah mereka yang berubah gila, pikir Hanif.
Mata Hanif yang tadinya cerah melihat Rama, berubah menampakkan kengerian. Ia sontak hendak melirik ke arah Nimas yang bersamanya.
Namun Hanif kembali diguncangkan oleh sebuah fakta, bahwa dirinya memang sedang berdiri seorang diri.
Di area dapur yang remang nan sepi Hanif mematung sesaat. Netranya mencoba menemukan sosok Nimas, namun nihil.
Keganjilan bertubi yang Hanif rasakan, membuatnya memutuskan meninggalkan tempat itu dengan segera.
Hanif berlari secepat mungkin, dan saat itu pula dirinya merasakan sesuatu sedang mengejar. Saat tiba di kamar sang ayah, ia tak melihat adanya sebuah kegentingan seperti yang Rama katakan. Sang Ayah yang tadi sempat melotot ke arahnya, kini terlelap seperti biasa. Begitupun saudaranya, kecuali Rama. Karena kakak ketiganya tak nampak disana.
Hanif meremang seketika, apalagi setelah melihat Nimas memang benar-benar tak beranjak dari tempatnya.
Lalu siapa yang menemani Hanif tadi?
Di tengah ketakutan yang dirasakannya seorang diri, Hanif mencoba menepis. Ia lantas mendekati Nimas hendak membangunkannya.
"Kak Nimas, Kak ..." Hanif mengguncang pelan lengan saudarinya, namun gadis itu tak merespons.
Ia beralih pada saudaranya yang lain, namun tak ada satupun yang terjaga.
"Jangan-jangan, mereka sudah ... mati?"
Langkah kaki Hanif bergerak mundur. Ia teringat perkataan lelaki yang menyerupai ayahnya barusan. Ia menduga bahwa keempat saudaranya yang lain juga telah lebih dulu mengalami hal yang sama.
Air mata Hanif berlinang, langkahnya terus mundur beberapa kali hingga membentur kursi kayu.
"Kak Nimas! Kak Nimas!"
Hanif terkejut oleh suara lantang Rama yang berasal dari dapur rumahnya. Namun sesaat, keterkejutannya berubah rasa lega saat melihat Nimas terjaga.
Hanif mengusap dadanya pelan, seutas senyum ceria mengukir di bibirnya, "Ah, syukurlah. Ternyata Kak Nimas dan yang lain hanya tertidur. Mungkin aku yang kurang keras membangunkan mereka tadi," ujar Hanif meyakinkan dirinya sendiri.
"Kak Nimas! Cepat kesini!" Rama kembali berteriak, membuat Nimas yang baru setengah sadar itu berlari kalang kabut.
Hanif kembali disadarkan oleh suara lantang Rama. Namun rasa lemas yang mendera sekujur badannya membuat ia enggan ikut menghampiri mereka di dapur. Ia memilih meringkuk di posisinya saat ini.
Tak lama kemudian Nimas dan Rama kembali. Keduanya tampak menggotong seseorang bersama mereka.
Diletakkannya orang tersebut ke tengah tikar. Hingga kedatangan keduanya turut membangunkan kedua saudara mereka yang masih tertidur.
"Astaga! Kenapa Hanif?" tanya Hilyan, si anak keempat.
"Hanif ... aku menemukan Hanif sudah tidak bernafas," Rama tak kuasa mengingat awal mula menemukan sang adik bungsu terkapar di lantai dapur.
Sebuah pernyataan yang membuat Hanif terlonjak dari posisinya. Ia dengan tergesa langsung mendekat.
Hanif menganga menyaksikan dirinya terbujur kaku dengan kepala memar berdarah. Tak sempat mendalami apa yang sedang terjadi, tangisnya lebih dulu pecah. Diikuti tubuhnya yang luruh jatuh ke lantai. Ia terduduk di samping saudara-saudaranya yang berduka.
"Jangan diam saja, Rama! Cobalah sesuatu." Nimas berujar lantang. Ia memegangi lengan dingin sang adik.
Dengan tangis yang masih tak terbendung, Rama mencoba segala cara membangunkan saudari bungsunya itu. Gagal dengan segala upaya yang ia lakukan, kini giliran Aden, sang kakak kedua yang mencoba mengambil alih. Namun gagal juga. Hanif masih tak berkutik di hadapan mereka.
"Kemarin kita kehilangan Ibu, sekarang Hanif." Hilyan terisak. Ia teringat akan keadaan Hanif yang baik-baik saja. Mendapati kematian sang adik yang misterius, membuat mereka menaruh banyak pertanyaan.
Hanif tak ingin percaya. Namun sesosok dirinya yang terbujur kaku di hadapannya saat ini, berhasil mematahkan keinginannya .
"Kapan? Kapan aku mati?"
Bersamaan dengan pertanyaan itu, netra basah Hanif menangkap tatapan sang Ayah yang jelas mengarah padanya. Ayahnya menatap Hanif yang menangis tanpa suara. Apakah Ayah bisa melihatku? pikirnya.
Pikiran-pikiran Hanif meliar. Dugaannya mengarah pada desas-desus yang ia dengar semasa hidupnya kemarin.
"Jangan-jangan, benar yang orang-orang itu katakan. Ayah adalah pelaku ilmu hitam," pikir Hanif sesaat.
Semua yang Hanif duga ia kaitkan dengan ketidaksediaan para tetangga untuk datang menjenguk. Hanif pun tahu alasannya, karena mereka takut terkesa imbas ilmu hitam yang dijalani Ayahnya. Namun Hanif mencoba pura-pura tuli dan tidak memikirkan hal tersebut. Toh ia pikir itu hanya fitnah.
Sekali lagi, Hanif menatap Ayahnya. Ia memerhatikan wajah teduh itu. Wajah yang tadinya nampak kesakitan dan lemah, kini terlihat jauh lebih baik. Badannya kembali segar seolah tak pernah melewati masa sekarat selama lima hari.
Secepat itukah ?
Atau ....
"Mungkinkah aku menjadi tumbal ilmu Ayah!"