Era semakin canggih. Efek dari pandemi dua tahun terakhir membuat segalanya dimudahkan dengan jangkauan internet. Persekolahan pun bisa dilaksanakan walau dijalankan dalam kamar.
Kelas online. Sudah bukan lagi khayalan di masa kecilku yang mendambakan liburan selama lebih dari satu bulan, atau sekolah seperti les privat. Walau aku tidak sempat merasakan dunia kelas online secara formal, namun aku bisa mengikuti kelas non-formal yang kini mulai menjamur di jejaring sosial. Liku-liku melaksanakan tugas yang diberikan juga aku rasakan walau tidak sebanyak para pelajar formal dari jenjang dasar hingga perkuliahan.
Aku berkenalan dengan salah satu peserta, panggilannya Egi. Laki-laki yang tidak pernah menampakkan wujud aslinya dalam kelas online yang aku geluti. Perkenalan itu kukira akan cepat berlalu seperti yang lainnya, yang berakhir sebagai penonton status terkini di platform berwarna hijau.
Esok hari, ia mengirim pesan kepadaku.
“Aku sedang mendirikan komunitas online. Kau mau bergabung?”
Aku hanya memutar bola mataku asal. Komunitas? Aku tidak pernah mengikuti komunitas offline. Bagaimana aku bisa mengikuti yang online? Aku bermonolog.
Aku membalas pesannya.
“Terima kasih. Aku tidak bisa mengikutinya.”
Egi langsung membacanya dalam hitungan detik. Mengetik sesaat, lalu memberi pesan lagi.
“Zana, ayolah! Ini akan seru! Komunitas ini akan lebih berwarna!”
Aku langsung membaca pesannya. Aku berpikir sejenak, apakah ini akan seseru yang ia katakan?
Ia mengirim pesan lagi, dan beruntun.
“Zana, please! Ikut yuk!”
“Zan ...”
“Zana! Kamu bisa kan membantuku? Ayolah!”
Aku menghela nafas kasar. Baru juga berkenalan kemarin, dia sudah menyebalkan.
Aku akhirnya mengetik balasan.
“Oke, tapi aku hanya akan membantu.”
Balasanku langsung terbaca dalam dua detik. Ia pun mengetik dan mengirim pesan.
“Thank you, Zan! Ini akan menguntungkan, kok!”
Aku hanya membacanya, dan menutup ruang obrolan berlogo hijau itu.
Aku memutuskan untuk menerima ajakannya selain karena aku tidak enak menolak ajakan seseorang dalam kebaikan -bagiku-, juga karena waktuku memang sangat longgar saat itu.
Dan itu adalah gerbang memulai kisahku dengan Egi.
***
Aku dan Egi semakin cepat akrab. Aku juga dikenalkan kepada patner terbaiknya, Shira. Tak lupa juga jajaran pendiri komunitasnya yang lain. Jujur, walaupun forumnya hanyalah online, namun aku merasa sangat terhormat bisa berkenalan dengan jajaran petinggi komunitas, walau masih seumur jagung.
Aku sering dilibatkan dalam rapat, dan juga acara-acara yang Egi adakan secara online. Tentu juga ada Shira di sana. Kami selalu bertiga dalam hal komunitas. Egi kadang berdiskusi secara pibadi denganku, entah lewat telfon, perpesanan, atau panggilan video.
Egi di mataku adalah sosok yang memiliki sisi kepemimpinan yang baik, tegas, namun humoris. Dia juga loyal padaku dan Shira ketimbang kepada anggota yang lain. Dia baik, dan Shira mengakui hal itu.
Satu hal yang aku tidak sukai darinya ; Keras kepala.
Hingga suatu hari, ia berdiskusi denganku secara pribadi melalui perpesanan.
“Zan, aku ingin mendirikan kantor di Kota Barat.”
Aku mengerutkan dahi. Lalu mengetik balasan.
“Egi, kau tidak bergurau, kan?”
Ia memberi balasan dalam waktu lima detik.
“Tidak, aku serius. Aku akan mendirikan kantor di sana.”
Aku mengirim pesan kembali.
“Itu bukan ide baik, Egi. Pendapatan kita belum bisa menyangga itu!”
Lima detik kemudian, ia membalas.
“Aku harus mendirikannya, Zana. Itu terbaik untuk kita semua.”
Sisi keras kepalanya membuatku kehabisan akal. Bagaimana ia bisa mencetuskan ide sefatal itu? Pendapatan kami selama ini saja tidak sebanding.
Aku pun mendiamkan pesan Egi tersebut. Memang beberapa waktu terakhir, ia selalu berkata bila ia mendambakan adanya kantor untuk komunitas ini. Tapi, ini hal yang cukup gila untuk segera diwujudkan. Mengingat ia tinggal di Kota Timur.
Satu bulan setelah perdebatan singkat itu, Egi mengirim pesan yang mengejutkan.
“Aku sudah menyewa tempat untuk kantor.”
Aku menepuk jidat, ini ide yang tidak bisa aku terima. Namun karena ia sudah menyewanya, aku hanya memberikan lambang jari jempol.
Egi mengirim pesan kembali.
“Kamu memang selalu mendukungku, Zana.”
Aku tidak membalas apapun. Hanya memberinya tanda bahwa pesannya sudah kubaca. Ada sesuatu yang aneh dalam perasaanku sendiri saat ia mengirimkannya, namun dengan cepat aku mengalihkan pikiranku soal pendirian kantor yang tidak masuk akal itu.
***
Satu bulan kemudian, Egi sudah menempati kantor itu bersama Shira dan beberapa kawanku yang lain. Shira tidak seintens biasanya dalam menghubungiku selama di sana. Justru Egi yang memaksaku untuk hadir di sana.
“Zan, cepat kesini!” Pintanya suatu hari melalui perpesanan.
Aku pun mengirim pesan.
“Maaf Egi, aku tidak bisa.”
Egi pun memberi balasan satu menit kemudian.
“Aku akan ke kotamu besok, Zana.”
Dia pun langsung menonaktifkan jaringannya. Aku hanya tertawa, dan menganggapnya bergurau. Kotaku memang hanya bersebelahan dengan Kota Barat. Tepatnya, aku di Kota Barat laut. Namun aku tetap menganggapnya mustahil. Kita hanya berteman online, itu yang selalu aku camkan. Pertemuan itu adalah sebuah hal yang tidak mungkin kulakukan.
Keesokan harinya, Egi menelponku lebih pagi. Tidak biasanya ia langsung menelpon dadakan begini.
“Zan, aku sudah di kotamu. Aku di Distrik 056, kamu di daerah ini bukan?”
Aku terperanjat, “Distrik 056!?”
“Iya, kamu dekat sini, bukan?”
Aku menepuk jidat, “Aku Distrik 058, Egi! Kenapa mendadak begini?”
“Jauh, tidak? Aku akan ke sana,” serunya.
Tidak! Dia tidak boleh menemuiku di rumahku! Bila itu terjadi, akan timbul masalah baru. Aku harus cari cara.
“Kamu ke kafe di sekitar sana saja, lalu bagikan lokasi terkinimu. Nanti aku susul!”
“Aku tidak tahu ini di jalan mana, Zan! Aku ke rumahmu saja, ya!”
“TIDAK!” Aku membentaknya.
Egi terdiam di seberang sana.
“Kau ikuti saja aba-abaku! Aku tahu kafe terdekat di sana. Aku akan bagikan alamatnya,” sambungku.
“Oke, cepat!”
Dalam keadaan menelfon, aku membagikan alamat kafe terdekat di tempat Egi berdiri. Aku mendapatkannya melalui pencarian di peta digital.
“Pergi ke alamat itu, Egi! Aku akan ke sana dengan ojek online.”
Aku pun mematikan telfon dan bersiap ke kafe tujuanku. Tiba-tiba gadgetku berdering lagi.
“Siapa lagi, sih!? Awas saja kalau Egi menelfon!” gerutuku.
Aku mengangkat gadgetku. Terpampang di layar nama “Shira” di sana. Astaga! Kenapa dia juga ikut menelfonku?
“Halo, Ra,” ujarku memulai percakapan.
“Zan, Egi di Kota Barat Laut sekarang?”
“Iya, Shira. Kau tidak ikut?”
“Tidak, Zan. Aku tidak diberitahu kalau dia ingin menemuimu hari ini.”
“Menyedihkan sekali. Oh iya, aku pergi dulu. Nanti aku menghubungimu lagi.”
“Oke, Zan. Hati-hati di jalan.” Suara Shira mulai menjauh.
Shira pun menutup telfon. Aku bergegas memesan ojek online dan mengambil tas berisi uang.
Ting! Satu pesan masuk. Kali ini dari Egi. Apalagi, sih?
“Zan, jangan lupa membawa helm.” Pesannya terpampang di layar yang masih terkunci.
Aku hanya membacanya tanpa membalas. Aku sibuk memantau ojek dari peta digital.
10 menit kemudian, ojek yang aku pesan pun datang. Aku mengenakan helmku sendiri, sesuai perintah Egi.
“Tujuan sudah sesuai aplikasi ya, Dek,” ujar tukang ojek online itu.
“Iya, Pak.”
Motor mulai melaju dengan cepat. Jarak rumahku ke Distrik 056 memakan waktu 30 menit. Aku mengirimkan lokasiku secara live kepada Egi, agar dia bisa memantaunya.
Egi justru membalas dengan sebuah pesan.
“Harusnya aku yang menjemputmu, Zana! Kau memang keras kepala!”
Aku menggerutu dalam hati, kenapa jadi aku yang dikatakan keras kepala?
Aku tidak membalasnya, dan memasukkan gadgetku ke tas selempang kecil. Aku pun menikmati perjalanan, bercakap-cakap dengan tukang ojek yang menyambut dengan ramah. Itu sedikit membantuku agar tidak terfokuskan ke Egi.
Aku memandangi sekeliling. Sudah ramai sekarang. Nampaknya pandemi selama dua tahun hanya merubah kebiasaan orang untuk memakai masker sebagai fashion kekinian, dan alat pelindung tambahan saat berkendara. Orang-orang seakan sudah berdamai dengan keadaan yang dulu tidak diinginkan siapapun.
Bahkan ada yang tidak peduli kelak akan ada lagi pandemi selanjutnya atau tidak. Mereka hanya berpikir besok akan menjadi apa, atau makan apa. Aku cukup mematuhi aturan dan protokol kesehatan yang digaungkan. Work from home, bagiku itu solusi terbaik menghindari masalah di luar sana.
“Nona, sudah sampai,” tegur tukang ojek online.
“Oh, iya, Pak.”
Aku turun dari motor matic hitam itu, dan berterima kasih. Pembayaran sudah berjalan otomatis melalui uang elektronik kekinian. Jadi, aku tidak perlu membayar tunai.
Aku memasuki kafe. Interiornya sangat minimalis, dan berwarna krem yang memanjakan mata pengunjung.
“Terima kasih sudah datang, Kak. Silakan memilih menu.” Pelayan kafe itu menyambutku dengan hangat.
“Terima kasih. Maaf, Kak, apakah ada laki-laki yang sudah datang sebelum saya? Dia terlihat bukan penduduk distrik sini,” tanyaku mencoba memastikan apakah Egi sudah tiba.
“Maaf, Kak. Saya tidak menghafal semua pengunjung yang datang,” jawab pelayan yang membuatku kecewa.
“Baik. Saya pesan cappucino latte, itu saja.”
Pelayan itu mencatat dengan baik pesananku.
“Baik, Kakak. Bisa pilih nomor mejanya, ya.”
Aku pun mengedarkan pandangan. Meja sebelah jendela kaca, sepertinya pilihan yang baik.
“Saya di nomor 09 ya, Kak,” ujarku.
Pelayan itu mengangguk.
Aku berjalan ke meja nomor 09, dan menariknya. Aku melihat seisi kafe yang lebih sepi. Sudah ke tiga kali aku datang, walau dengan jarak waktu yang cukup lama. Sekitar setahun lalu, saat semua meja hanya diijinkan untuk satu orang saja. Sedangkan masing-masing terdapat dua hingga empat kursi.
Ting! Pesan masuk terdengar samar-samar. Aku buru-buru membuka pesan. Itu dari Egi.
“Zan, kamu sudah masuk kafe? Aku di parkiran.”
Aku meliri ke arah depan kafe yang transparan. Ada sosok yang berdiri disana mengenakan berjaket kulit sintetis berwarna coklat, rambut yang dipotong rapi, membawa ransel biru, dan tinggi.
Aku segera mengetik pesan balasan.
“Sudah. Kau masuk saja, cari aku di meja nomor 09.”
Pria yang kulihat tadi mulai berjalan masuk. Ia disambut pelayan sama seperti yang aku alami. Mereka bercakap-cakap dan pelayan itu menunjuk mejaku. Pria itu membungkuk sejenak, dan mendekati mejaku.
“Kamu, Zana?” tanya pria tersebut yang ternyata Egi.
Aku mengangguk, “Duduklah. Kamu sudah pesan minuman, ‘kan?”
Ia menggeleng, “Memang harus?”
Aku menepuk jidatku. Seharusnya aku instruksi dia tadi.
“Nanti saat pelayan membawa pesanan, kamu langsung pesan saja,” ujarku.
Ia mengangguk polos. Ternyata Egi lebih menyebalkan dari yang aku duga.
“Zan, ayo ikut aku,” ujar Egi tiba-tiba.
“Kemana?”
“Kantor kita. Daerahnya tidak jauh dari kota ini juga.”
Aku terdiam, dan memandang pelayan sudah mengantarkan pesananku.
***
Kalo rame, part dua segera launching!
Support ceritaku dengan meninggalkan jempol terbaik kalian. Komentar kalian yang membangun, akan sangat berarti bagiku. Yang mau hujat juga boleh, hihi. :v