“Biasanya, kalau hujan deras begini, banyak makhluk-makhluk nggak jelas pada keluyuran. Kadang malah mereka mampir berteduh ke rumah-rumah orang,” kataku kepada Lani beberapa hari yang lalu.
“Ah, masa sih?” sahutnya kala itu.
“Beneran! Bentuknya aneh-aneh lagi!” tandasku.
***
Seperti hari ini, hujan sangat deras. Aku melirik jam di dinding. Jarum panjang dan pendeknya, terlihat seperti menumpuk di angka enam. Rumah masih sepi. Ayah, ibu dan adikku, pergi ke tempat nenek. Aku tidak ingin ikut, malas rasanya bepergian di cuaca seperti ini.
Aku menikmati cokelat hangat sambil memandangi jendela kamar yang menghadap jalanan samping. Di luar, suasana mulai gelap. Sesekali kilatan petir menerangi ruangan tempatku duduk.
Gedoran keras di pintu depan, membuyarkan lamunanku. Aku meletakkan cangkir ke meja kecil di samping ranjang.
“Siapa sih, hujan-hujan gini bertamu ke rumah orang?” gerutuku, lalu berjalan menuju ruang tamu.
Betapa terkejutnya aku, saat melihat siapa yang datang.
“Lani? Kamu nga—.” Kataku terhenti karena tetanggaku itu menutup mulutku dengan telapak tangannya cepat-cepat. Ia menempelkan jari telunjuknya ke mulut, lalu mendorongku masuk.
Aku segera menutup pintu, setelah membiarkan Lani menghambur ke dalam. Kulihat ekspresi yang tak biasa di wajah cantik itu. Kulitnya pun terlihat lebih pucat. Dengan lembut, aku menggandengnya ke kamarku.
“Duduklah! Aku buatkan cokelat hangat.”
Aku bergegas kembali ke kamar dengan cangkir di tangan. Namun, kulihat Lani masih menunduk, bergeming. Badan gadis itu gemetar.
“Aku ... aku takut, May,” ucapnya.
“Takut? Ada apa?”
Aku membanting pantatku di sebelah Lani. Gadis berkucir kuda itu masih menekuri lantai.
“Kamu inget, waktu itu kamu bilang kalau hujan deras suka ada makhluk yang ....”
“Ya! Apa kamu barusan lihat salah satu di antara mereka?”
“Mungkin. Aku di sini sampai hujan reda, boleh?” Gadis itu menatapku dengan sorot mata yang kurasa sangat aneh.
Aku mengangguk. Cangkir berisi cokelat panas tadi, kuangsurkan kepada Lani. Namun, ia kembali menunduk sambil menggenggam cangkir tersebut.
Lani mulai bercerita bahwa ada sesuatu yang aneh di rumahnya. Ia merasa ada sesuatu, entah apa, menyusup ke sana. Pun menggambarkan sekelebat sosok yang bergerak cepat di belakangnya. Namun tiba-tiba, ia menangis tanpa henti. Aku hanya bisa menepuk-nepuk bahunya lembut, berharap membuatnya lebih tenang. Hujan mulai reda, saat aku memandang ke luar jendela.
Ketukan pintu kembali terdengar dari pintu depan. Aku meminta ijin kepada Lani, untuk membuka pintu.
“Maafin aku, May. Makasih.” Kata-kata dari Lani, berhasil membuat langkahku terhenti sejenak.
“Halah, kayak sama siapa saja,” sahutku, menolehkan kepala. Melempar senyum padanya.
Aku lagi-lagi terkejut, saat membuka pintu. Ekspresi kekhawatiran, kutangkap dari wajah Pak Beni. Pak RT di komplekku. Di balik punggung pria paruh baya itu, anak gadisnya berdiri, berpegangan lengan sang ayah. Dia terlihat gelisah.
“Ada apa, Pak?”
“Kamu baik-baik saja, ‘kan? Apa ada orang aneh datang ke rumah? Apa orang tuamu di rumah?”
“Tidak ada, Pak. Saya cuma sendiri tadi, sampai teman saya datang. Memangnya ada apa?”
Kemudian, pandangan mataku menangkap beberapa warga berduyun-duyun datang ke rumah berwarna abu-abu. Rumah Lani.
“Barusan ada kejadian itu ... emmm ... ayo, kita sana! Bareng-bareng. Kamu kan dekat dengan anak pemilik rumah itu, Neng.”
Aku merasa heran, itu rumah Lani. Namun, bukannya dia tadi ada di kamarku?
Pak RT dan putrinya buru-buru menyeretku untuk melihat apa yang sudah terjadi di rumah tadi. Terpaksa, aku meninggalkan rumah tanpa berbicara pada Lani terlebih dulu.
Aku menyeruak kerumunan warga, lalu terkejut saat melihat keadaan rumah tetangga sekaligus temanku itu. Ruang tamu terlihat begitu acak-acakan. Barang-barang berhamburan, berantakan. Seperti ada tsunami yang baru saja menerpa rumah ini.
Lututku gemetar, tanganku membekap mulutku sendiri saat melihat sesosok gadis tertelungkup kaku di depan kamar mandi. Baju yang melekat di tubuh itu, persis seperti apa yang dipakai Lani. Bedanya, ada robek di sana-sini dan berlumuran darah.
Air mataku berhasil lolos saat aku berjongkok untuk memastikan wajah gadis itu. Dari jauh, terdengar sirene meraung-raung di sela suara azan. Seketika, semua gelap.
Saat mataku kembali terbuka, aku melihat wajah ibuku yang sembap. Aku memandang sekeliling dan yakin bahwa ini adalah kamarku.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan, Kak?”
“Ada apa, Bu?” tanyaku.
“Lani, putrinya Pak Bagas, meninggal, Kak. Kakak sudah tahu?”
Aku masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan ibuku, bahwa gadis itu menjadi korban perkosaan dan perampokan. Aku yakin benar, tadi Lani masih baik-baik saja, minum cokelat hangat bersamaku. Tanpa sadar, aku melirik meja kecil di samping ranjangku. Namun di sana, hanya ada satu cangkir bergambar kucing kesukaanku.
Aku bangkit dari ranjang. Memandang jalanan dari jendela. Ada sosok hitam yang bergerak di belakang rumah Lani, meski terlihat samar.
Aku terisak keras, ketika melihat sosok Lani melambaikan tangan dari depan rumahnya yang diberi garis polisi.
(Cerpen ini, salah satu naskah yang terpilih dalam event menulis Horor dan thriller, dibukukan dalam antologi cerpen berjudul "The Nightmare" oleh penerbit Puspamala)