Itu terjadi di musim hujan. Saat dimana hatiku berdebar begitu keras hanya dengan satu senyuman tipis yang di berikan pemuda itu.
Di saat rintik hujan membasahi, aku dan dia, kami berkenalan dan juga mulai berteman.
Mengobrol, saling berbagi cerita dan sebagainya. Lambat laun kami menjadi dekat. Sering bertemu dan juga makan siang bersama. Tak jarang aku membuat alasan agar bisa bertemu dan melihatnya.
Entah apa yang di rasakan hati ini. Aku tidak mengerti. Yang ku mengerti adalah aku menikmati saat-saat bersama dengannya. Tawanya yang seperti mengisi seluruh hatiku, matanya yang menatapku khawatir saat aku secara tidak sengaja melukai diriku sendiri.
Itu semua indah. Walaupun hujan dan awan suram, tapi suasana antara kami seperti musim semi. Itu hangat dan menyenangkan.
Tapi saat aku melihatnya dengan yang lain, hatiku terasa sesak. Itu berapi dan aku tidak tahu mengapa. Saat itu aku bertengkar dengannya dan pergi tanpa melihat kebelakang. Hujan mengguyur seluruh tubuhku dan hatiku terasa dingin.
Aku pergi ke rumah sahabatku. Menangis entah karena apa dan menumpahkan keluh kesahku kepada sahabatku. Saat itu aku bertanya; "Mengapa hati ini terasa sesak? Mengapa air mata ini tidak berhenti mengalir? Mengapa, mengapa aku sangat sedih saat melihat dia bersama orang lain?"
Saat itu aku mendengar sahabatku berkata; "Kau bertanya mengapa? Itu karena kau jatuh cinta padanya."
Aku sempat tidak percaya. Cinta?
"Jika kau tidak jatuh cinta padanya, bagaimana bisa kau menangis seperti ini?" Sahabatku berucap, "Mira kau jatuh cinta padanya.."
Saat itu seolah batu besar yang selama ini memberatkan hatiku telah hilang dan pikiran serta perasaan ku menjadi jelas.
Aku mencintainya. Entah sejak saat pertama kami bertemu, atau sejak kami menjadi dekat, aku mencintainya.
Saat aku mengetahui ini, aku tidak bisa lagi menjadi teman dengannya. Aku sudah jatuh terlalu dalam, sangat sulit untuk menarik perasaan ini.
Perlahan aku mulai menghindarinya. Dia memiliki seseorang di hatinya, tidak mungkin aku merusak semua itu. Aku hanya bisa memendam jauh dan jauh perasaan ini, berusaha melupakan, seolah-olah aku dan dia adalah orang asing.
Musim hujan berlalu, dan awal musim semi di mulai.
Aku memulai semuanya seperti semula. Bekerja di toko, mengobrol dengan teman-teman.
"Hei Mira, bukankah itu temanmu?"
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk temanku. Itu dia. Vino, pemuda yang aku cintai juga yang aku hindari.
"Kami sudah tidak berhubungan." Jawabku.
"Tapi sepertinya dia menunggumu?"
"Berhentilah berbicara omong kosong!! Cepat bekerja!!" Aku merasa kesal.
Kami selesai bekerja pukul 7 malam. Aku melambaikan tangan ku kepada teman-teman ku, dan mulai menyusuri jalan.
Belum beberapa aku melangkah, tanganku di genggam oleh seseorang. Menoleh aku melihat dia. Aku cukup terkejut, bahwa dia belum kembali setelah menunggu sepanjang hari.
"Ku kira kau sudah kembali?" Aku berbasa- basi. Ini sungguh canggung, tapi merasakan bagaimana dia menggenggam tanganku membuat jantungku berdetak kencang.
"Kita harus bicara." Dia berkata.
"Apa yang harus kita bicarakan?" Aku mencoba melepaskan genggamannya, "Lepaskan aku, aku harus pulang."
Dia tidak peduli dan malah membawaku ke gang yang lebih sedikit orang datangi.
"Mengapa kau berhenti menghubungi ku?" Nadanya seakan marah dan matanya menatapku dalam-dalam.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" Aku bertanya bingung.
Dia membanting ku ke tembok dan menjebak diriku di antara kedua lengannya, "Aku bertanya padamu! Mengapa kau berhenti menghubungiku?! Mengapa kau tidak menerima panggilan ku?! Seolah-olah kau menghindariku" Dia marah.
"Lalu apa?! Apakah aku harus terus mengubungi mu di saat kau memiki seseorang di hatimu?!" Aku menyentak tangannya.
Aku tidak tahan. Dia membentakku seperti ini seakan akan dialah yang paling menderita.
"A-apa maksudmu?"
"Vino, kita tidak bisa menjadi teman. Aku tidak bisa menjadi temanmu." Air mata mulai mengalir di pipiku.
"Aku mencintaimu.." aku mulai mengaku.
"Aku tahu cinta membuat seseorang rapuh dan lemah, tapi meskipun aku tahu, aku tidak bisa berhenti mencintaimu!"
"Mira..."
"Aku tahu kau memiliki yang lain di hatimu.." aku mencoba untuk menghapus air mata ini, "tapi tetap saja aku tidak bisa menahannya. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian.."
"Mira.. aku.."
Menghapus air mata ku, aku menenangkan diri. "Anggap aku tidak mengatakan apapun. Ini sudah malam, ibuku pasti sudah menunggu ku."
Aku mulai berjalan keluar dari gang. Tapi kemudian, lengan kekar melingkari bahuku. Nafas hangat menyentuh telingaku, dan sesuatu yang basah membasahi bahuku...
Vino... Apakah dia... Menangis?
Aku menjadi bingung.
"Kami sudah putus.." Vino berucap dengan suara rendah, "Aku mencintaimu Mira.."
Segera aku sadar. Vino mengatakan dia mencintaiku? Apakah ini benar? Air mata yang tadi ku tahan kini kembali mengalir.
"Mungkin kau salah memahami perasaan mu.." aku berucap. Pernyataan nya terlalu tiba-tiba, dan aku tidak bisa tidak menyangkal.
"Itu tidak mungkin!" Dia membalik diriku untuk menghadapnya. Kulihat matanya merah dan kulitnya tampak pucat.
"Hal yang kurasakan saat bersamamu dan dia berbeda. Aku merasakan perasaan ku dengan jelas. Kau yang membuat ku tertawa lepas, kau yang selalu mendengarkan ceritaku. Dan kau yang selalu membuat hati ini berdetak tidak karuan saat melihat wajah tersenyum mu."
"Mira... Aku mencintaimu. Di saat aku tahu perasaan ku kepada mu, aku sudah memutuskan dia." Vino berucap yakin.
Sudah lama aku membiarkan diriku menangis, aku bertanya dengan Isak tangis, "Apakah kau mencintaiku?"
"Aku benar-benar mencintaimu. Mungkin sejak hujan saat itu membasahi kita, atau mungkin saat dimana kita mulai saling mengenal." Dia menarik ku ke pelukannya, "Aku mencintaimu, tulus dari hatiku. Mira, apakah kau akan menerima ku?"
Tangis ku benar-benar pecah. Aku sudah sangat mencintainya, dan jatuh sangat dalam untuknya. Akan sangat bodoh jika aku menolaknya.
"Kau terlalu lama..."
"Maaf, aku tidak akan pernah membiarkanmu menunggu lagi..."
Di musim hujan cintaku tumbuh dan di musim semi itu mekar setelah melewati beberapa waktu sulit.....
╭──────༺♡༻──────╮
End
╰──────༺♡༻──────╯