[ Horor ] SOSOK ( update )
Author: Eric Leonardus
[Horor] S o s o k #Prolog
Aku memanjakan diriku berbaring di pembaringan yang kubeli tadi pagi. Sebuah spring bed, bagi orang yang sudah merasakan enaknya tidur di spring bed yang selalu dipromosikan di layar kaca maupun banner... Tidur di spring bed, Itu sudah biasa. Akan tetapi, aku yang nyaris berumur kepala 3, selama ini hanya tidur di pembaringan yang terbuat dari kapuk. Itu bagiku sudah mewah. Mengapa ? Karena ini adalah hasil dari jerih payahku bekerja di kantor yang kata orang-orang tidak berani bayar gaji mahal karena berbagai alasan... Seandainya ada pekerjaan yang lebih bagus dan sesuai dengan bidangku, aku memilih pindah saja dari kantor terkutuk itu.
Spring bed. Baunya begitu harum, dan saat tubuhku terbaring, aku bisa bergerak naik turun, konon apa yang ada pada bagian spring bed itu juga berfungsi sebagai pelancar peredaran darah, memijat otot dan urat yang kebas sehingga keesokan hari saat bangun, tubuh kembali segar. Aku terus memanjakan diriku, membayangkan esok saat bangun tubuhku benar-benar segar kembali.
"Kkkrrriiieeettthhh...."
Terdengar pintu depan dibuka dan tampak sesosok bayangan hitam berkelebat melintas dari ruang depan menuju ke dalam melewati kamarku. Jarak antara pintu depan dengan kamarku tidak seberapa jauh, penerangan pun belum kumatikan. Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidur, melangkah ke ruang depan. Pintu memang terbuka, buru-buru kututup pintu dan kukunci. Setelah memastikan pintu dan jendela tertutup, aku melangkah ke arah belakang dimana bayangan itu masuk. Tak ada siapapun. Aku yakin ada bayangan masuk tapi pemilik bayangan itu tak kelihatan. Kuperiksa seluruh ruangan, siapa tahu adik-adikku sudah pulang dari rumah tetangga sebelah, tapi, setelah menghubungi ponselnya, mereka masih asyik main video game.
Aku sampai di dapur, sepasang mataku menyapu ke sekeliling ruangan ke setiap sudut, tidak ada siapapun. Angin dingin berhembus perlahan melalui celah-celah lubang udara, desiran angin membuat bulu kuduk meremang. Aku menggosok-gosok pangkal lenganku yang mendadak saja merasa aneh dan tidak nyaman.
"Kretek... Kretek....kretek... Kretek...."
Batang-batang pohon bambu yang tumbuh di belakang rumah saling bergesek ditiup angin diiringi bunyi lolongan anjing hutan menambah hati merasa tidak nyaman. Aku membalikkan badan, melangkah meninggalkan dapur. Langkah kakiku terhenti manakala sebuah aroma wangi menyengat tercium yang tak tahu darimana asalnya. "Aku tidak ingin berlama-lama di tempat ini," gumamku sendirian. Lokasi dapur memang terpisah agak jauh dari rumah utama, halaman belakang, penerangan pun minim ditambah lagi banyaknya pohon bambu yang nyaris tidak pernah dirapikan, padahal dulu sudah meminta ayahku untuk memberikan penerangan yang maksimal disini, juga menebang pohon-pohon yang sudah tua atau layak dipanen tapi, tidak digubris. Sekalipun dipasang batu bata setinggi 2 meter lebih sebagai pembatas halaman belakang dan sungai penghubung sawah tetangga, tapi itu tetap saja membuat kami was-was. Dan, sejak aku tinggal di rumah ini, baru sekarang mengalami hal yang aneh. Aku yakin tadi benar-benar melihat ada sebuah bayangan masuk, melewati depan pintu kamarku, namun setelah aku memeriksa di sekitar rumah, bayangan itu menghilang entah kemana.
Setelah berjalan lebih kurang sepuluh menit, aku tiba di rumah utama, memasuki kamar dan membanting tubuhku ke spring bed. Aku mencoba memejamkan mata tapi mendadak kembali sebuah bayangan melintas kali ini menebarkan aroma busuk. Busuk sekali. Aku melompat dan segera mengikuti kemana bayangan itu bergerak. "Kali ini, kau takkan kubiarkan lolos," seruku. Aku mengikuti aroma busuk itu sekalipun perut merasa mual dan ingin muntah, namun, aku harus tahu siapa orang iseng itu.
Aroma itu memudar berubah menjadi aroma wangi melati, mataku terbelalak lebar manakala melihat sosok tinggi besar mengenakan pakaian putih kecoklatan berdiri membelakangi ku di pintu depan namun, hanya sebentar saja begitu terdengar sebuah ketukan dari pintu luar dan namaku dipanggil-panggil.
"Kak Thia, kami sudah pulang... Tolong buka pintunya,"
Aku melirik jam dinding yang tergantung tepat diatas pintu keluar, pukul 20:00, aroma aneh itu masih terasa walau tidak sekeras tadi. buru-buru aku membuka pintu, Si Felix dan adiknya, Ditha berdiri diambang pintu.
"Kalian janji mau pulang sebelum jam delapan malam, kok meleset...." tanyaku mulai menyidang.
"Maaf, kak... " Ujar Felix sambil menundukkan wajah, merasa bersalah.
"Ditha sudah mengajak kak Felix pulang jam tujuh tadi, tapi, dia bilang bentar lagi... Bentar lagi... Tinggal sedikit lagi. Malas jadinya," sahut Ditha, "Kakak pakai parfum, ya... Kok baunya harum ?" tanyanya kemudian.
"Tidak... Memangnya, kau mencium bau apa ?" tanyaku sambil mengunci pintu begitu mereka masuk.
"Bau bunga melati, kak ?" jawab Ditha.
Jantungku seakan mencelos keluar mendengar perkataan Ditha. Di sudut sana dekat pintu masuk... Sosok itu berdiri membelakangi kami. Rambutnya hitam, panjang, kusut dan dibiarkan menutupi punggungnya.
***
[Horor] S o s o k #1 ( Adnan )
Namanya, Adnan. Dia bekerja di bagian security kantor hotel tempatku bekerja. Karena aku sudah bekerja nyaris 8 tahun, aku tahu latar belakang semua pegawai juga prestasi kerja mereka. Tak terhitung berapa kali pegawai keluar masuk dari hotel Sekar Wadung. Entah karena ketidak cocokan mereka dengan pemilik hotel atau teman sekantor, gaji tak mencukupi karena tidak sesuai dengan UMR. Sementara, aku bekerja di bagian administrasi sekantor dengan Lilis dan Karmila. Boleh dibilang Lilis adalah seniorku, tapi, bukannya menyombongkan diri, gajiku lebih tinggi dibandingkan dengan mereka. Karena selain bekerja di kantor, aku juga merangkap sebagai baby sitter. Baby sitter ? Kelihatannya aneh, bukan ? Tapi baby sitter disini, bukanlah merawat balita ( bayi lima tahun ) ataupun batita ( bayi tiga tahun ), melainkan orang tua di atas enam puluh tahun alias jompo.
Adnan adalah salah satu dari sekian banyak teman yang menaruh hati padaku. Umurnya lebih muda 1 tahun dariku tapi cara berpikirnya luas, mungkin karena dia sudah menjadi seorang ayah dengan seorang anak perempuan berumur 5 tahun namun bercerai dengan isterinya entah karena suatu hal yang tidak sembarang orang boleh mengetahuinya.
Ibu pernah berkata, "Nduk, yen Kowe nggolek bojo, lek iso, yo sing gati Karo Kowe terus ora males, gemi nyambut gawe, ora boros, tampang Ojo klemis-klemis, biasane uwong sing klemis Kuwi, kakean medok," ( nak, kalau kau mencari suami, kalau bisa ya perhatian, tidak malas dan rajin bekerja, tidak boros. Wajah jangan terlalu rupawan, biasanya orang yang seperti itu suka main perempuan ). Adnan memang tampan, mungkin dialah yang paling tampan diantara pegawai-pegawai pria lain. Setidaknya itu menurutku juga pegawai-pegawai perempuan yang lainnya.
Dia memang banyak yang naksir, tapi, ia cuma menanggapinya biasa-biasa saja. Berbeda perlakuannya padaku, dia sangat perhatian. Itu membuat karyawati hotel iri, tapi mereka adalah yuniorku, apa boleh buat. Selama ia bekerja di Sekar Wadung, ia sering di-bully oleh para seniornya. Tapi, entah bagaimana caranya sehingga membuat para seniornya takluk. Demikian pula aku.
Aku sebenarnya sudah memiliki pujaan hati, setiap hari aku berharap ia segera melamarku bukannya orang lain. Tapi, entah kenapa tiba-tiba, Adnan singgah di hatiku dan membuatku melupakan, Reksa padahal hubungan kami nyaris lebih dari 5 tahun. Jika anda bertanya mengapa kami tidak segera menikah .... Kompleks, itulah yang bisa kujawab saat ini. Membina hubungan kasih sayang, kepercayaan dan cinta dalam waktu sekian tahun tidaklah mudah. Ini masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan hingga Reksa yang sedikit memahami hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib menanyakan... Apakah sebelum kau jadian sama Adnan, dia memberimu sesuatu ? Itu mengingatkanku pada kejadian 2 tahun yang lalu.
***
Pemuda itu telah melewati seleksi atau serangkaian tes yang diadakan oleh pihak hotel. Hasilnya benar-benar memuaskan baik dari segi kesehatan, fisik, niat dan lain sebagainya. Keesokan harinya adalah hari pertama masuk kerja. Ia mencoba bersosialisasi dengan para senior. Bagiku ia terkesan pendiam, lugu dan polos. Para pegawai di Sekar Wadung memang suka usil, ia dikerjai banyak hal yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan bagian keamanan sebagai contoh : membersihkan kamar yang seharusnya dikerjakan oleh bagian office boy diberikan kepadanya, tapi Adnan dengan sukarela melakukannya.
Hari demi hari ia melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidangnya. Karmila merasa kasihan, demikian pula halnya dengan Lilis...
Siang itu, Adnan diberi pekerjaan mengganti alas tempat tidur, membersihkan salah satu kamar tamu yang baru saja check out. Kamar itu berantakan, banyak sampah organik maupun non organik berceceran.
"Tamu sialan," umpat Ali seorang petugas office boy kepada salah satu rekannya, "Sudah dikasih peraturan bahwa para tamu diharapkan ikut menjaga kebersihan kamar, malah membuat kotor dengan barang-barang menjijikkan,"
"Hei, kan ada Adnan, suruh saja dia membersihkannya, toh dia lagi santai, tuh," tukas Edwin sambil menunjuk ke arah Adnan yang sedang menyapu halaman hotel.
"Benar juga, Adnan, kan pegawai baru... Ga ada salahnya minta bantuan dia," kata Ali sambil hendak melangkah menuju ke tempat dimana Adnan menyapu tapi mendadak Karmila menghadangnya. Wajahnya merah padam saat menatap kelakuan Ali dan Edwin.
"Berhentilah mempermainkan dia. Atau aku akan melaporkan hal ini pada mama ( sebutan kami pada Bu Lis Harjati pemilik hotel Sekar Wadung ). kelakuan kalian itu bisa jadi aib untuk para pegawai lainnya, tahu ?!" Sahut Karmila.
Adnan yang mendengar kejadian itu kebetulan sudah menyelesaikan pekerjaannya, berjalan mendekat, "Sudahlah, mbak... Biarkan saja, kita semua harus saling membantu dan menjaga. Mungkin mereka letih karena sudah seharian membersihkan kamar, sementara saya ... Daripada diam lebih baik membantu mereka, dong,"
Jawaban ini membungkam semua orang yang ada di halaman, Adnan segera meraih peralatan kebersihan dari tangan Ali untuk kemudian menuju ke kamar no. E-121 yang berada paling ujung. Namun Karmila mencegahnya, "Mas Adnan, biarkan mereka yang bekerja, itu sudah jadi tugasnya, bukan tugasmu,"
Adnan hanya menanggapinya dengan tersenyum ramah.
Seluruh kamar blok E-100 sampai E-125, letaknya agak terpisah jauh dari kamar-kamar lain, lokasi yang berdiri diatas tanah seluas 100 H, konon didirikan di atas tanah bekas pemakaman, selain penerangannya minim, juga terdapat pohon-pohon tinggi berdaun lebat dan boleh dibilang tak seorangpun menginginkan menanam pohon tersebut sebagai salah satu hiasan kebun rumah. Maka, jarang sekali ada orang yang memilih untuk menginap di kamar blok E, karena terkesan angker. Itulah sebabnya, Ali dan Edwin enggan untuk menginjakkan kaki atau membersihkan atau merapikan blok tersebut.
Pintu kamar E-121 terbuka, Adnan mencium bau apek, sementara matanya menyapu ke sekeliling. Plastik, kertas tissue, sisa-sisa makanan berserakan di sepanjang lantai, "Benar-benar jorok banget tamu yang menginap disini," katanya seorang diri lalu memasang sarung tangan dan sepatu boot lalu mulai bekerja. Mendadak telinganya mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Ia tersentak, "Maaf, tuan... Saya kira kamar ini sudah kosong," katanya.
Tak ada jawaban, suara gemericik air itu terhenti sesaat mendengar suara Adnan. 5 menit kemudian suara itu terdengar lagi... Adnan termenung, ia teringat akan pesan Mama... "Saat kau memasuki sebuah kamar, ketuklah pintu terlebih dahulu biar orang yang ada di dalam tahu kalau ada tamu. Jangan buru-buru masuk, karena orang akan menyangka kita maling atau apa,"
"Tidak. Sebelum aku masuk kemari, aku sudah memastikan bahwa tamu sudah check out apalagi Mas Ali dan Mas Edwin juga sudah mendapatkan laporan perihal ada atau tidaknya orang di dalam kamar. Jelas, kamar ini sudah kosong. Tapi, mengapa terdengar seseorang di kamar mandi ?" Katanya sambil melangkah menuju ke kamar mandi.
"Tok... Tok... Tok..."
Adnan mengetuk pintu, "Permisi, apakah masih ada orang ?" tanyanya. Lagi, tak ada jawaban maka ia memutuskan untuk membuka pintu itu dan....
" Kkrriieetthh...."
Pintu terpentang lebar dan di dalam kamar mandi tersebut, kosong.
***
[Horor] S o s o k #2 ( Rani )
Jam menunjukkan pukul 12:00 siang, tibalah bagiku dan teman-teman untuk bersantai sejenak di gazebo yang terletak di halaman belakang hotel. Untuk menuju kesana, kami biasanya melewati lokasi kamar blok E, sebuah lokasi yang menurut teman-teman adalah lokasi paling angker di sekitar Hotel Sekar Wadung.
Saat siang begini, kami dengan leluasa bolak-balik melewati kawasan itu. Akan tetapi saat malam tiba, tak seorangpun berani melewatinya, kecuali terpaksa. Ada banyak rumor mengenai kawasan tersebut. Baik dari para pegawai senior maupun dari beberapa orang tamu yang pernah menginap disana. Rumor yang cukup membuat bulu kuduk merinding.
Rani, salah satu saksi dari sekian banyak orang yang pernah mengalami kejadian aneh di luar akal sehat, nalar dan logika yang sampai saat ini masih menjadi misteri tak terpecahkan dan tak mungkin bisa dilupakan seumur hidup oleh mereka yang pernah mengalaminya. Rani menceritakan ini kepadaku, 1 bulan sebelum mengundurkan diri.
***
"Kring..."
Bunyi telepon menggema, memenuhi ruangan resepsionis. Rani dan Lilis yang saat itu mendapat giliran shift malam setengah terkantuk-kantuk melompat kaget. Jam menunjukkan pukul 23:30.
"Halo, resepsionis ... selamat malam, ada yang bisa saya bantu ?" Rani dengan malas mengangkat telepon.
"Ini dari kamar no. E-113," terdengar suara wanita di seberang sana, "Mbak, tadi saya minta tolong bagian cleaning servis untuk membersihkan kamar mandi, kok sampai sekarang belum direspon?"
"Oh, maaf, Bu... kebetulan bagian office boy ( OB ) atau cleaning servis sudah pulang jam 19:00 tadi, besok jam 05:00 mereka baru ada di tempat," kata Rani.
"Lho, kalau tidak salah nama OB tersebut Dika, dia mengatakan akan segera menanganinya, tapi kok sudah pulang, ya ?" nada wanita itu meninggi, Rani bisa membayangkan bahwa ia mulai kesal.
"Baik, Bu... tunggu sebentar, saya akan menanyakan ini pada Dika," telepon ditutup, Rani pun segera menghubungi Dika.
" Halo, Ka... kamu sudah di rumah, ya?"
" Iya, mbak... ada apa ?" tanya Dika di seberang.
"Apa benar kau tadi dimintai tolong oleh kamar E-113, untuk membersihkan kamar mandi ?"
"Kamar E-113, mbak ?"
"Benar. Baru saja saya ditelepon,"
"Lho, mbak... seingatku, kamar E-113, kosong. Tidak ada orang ?" jelas Dika.
"Orangnya baru telepon, Ka,"
"Gini saja, mbak... coba lihat di komputer, kamar E-113, ada tamu atau kosong. Masalahnya, sebelum saya pulang, saya sempat memeriksa semua ruangan di kamar blok E, kosong, tidak ada orang, saya yakin itu," ujar Dika.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, ya..." Rani mengakhiri pembicaraan dan segera memeriksa komputer di menu check-in dan check-out, kamar blok E hampir semuanya kosong, terlebih E-113, dan...
"Kring!" lagi-lagi telepon berbunyi, kali ini Lilis yang mengangkat.
"Bagaimana, mbak? Apa sudah menghubungi bagian cleaning servis?"
Lilis menatap ke arah Rani, "Bagaimana, Ran... ibu dari kamar E-113 kembali menelepon,"
Rani segera meraih gagang telepon dan menggantikan Lilis berbicara, "Baik, Bu... karena pihak OB atau Cleaning Servis kosong, maka, saya sendiri yang datang. Mohon ditunggu, Bu," sahut Rani.
"Baik, mbak... terima kasih," suara wanita itu berakhir dengan dengungan panjang, telepon sudah ditutup.
"Mungkin memang ada tamu, namun data-datanya belum dimasukkan kedalam komputer oleh Dora. Aku pergi dulu, ya, Lis..." kata Rani untuk kemudian berjalan menuju ruang penyimpanan peralatan kebersihan begitu selesai mengenakan perlengkapan kebersihan, ia melangkah menuju ke lokasi kamar blok E.
"Hati-hati, Ran.... sebaiknya, minta tolong Pak Hadi menemanimu. Kau tahu sendiri keadaan lokasi kamar blok E, bukan ?!" Lilis menasihatkan.
"Ga, usah... biar aku berangkat kesana sendiri," ujar Rani.
Lokasi kamar blok E, sudah kelihatan, sunyi sepi dan lengang, cahaya lampu yang remang-remang, membuat Rani ragu-ragu sejenak, tapi setelah memantapkan hatinya, ia sampai juga di kamar E-113.
"Permisi, Bu.... cleaning servis," kata Rani sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban. Sekali lagi Rani mengetuk, sama... tidak ada jawaban. Ia kembali mengetuk, tiga kali, empat kali sampai sepuluh kali. Hasilnya sama, tidak ada jawaban.
Kesabaran Rani mulai habis, "Hm, dia menelepon sampai berkali-kali, tetapi begitu sampai disini, aku diabaikan," gumamnya seorang diri sambil membalikkan badan hendak meninggalkan tempat itu. Namun, mendadak .....
'Kkkrrriiieeettthhh....'
Pintu terbuka perlahan, Rani mencoba tersenyum seramah mungkin, saat membalikkan badan, ia tersentak manakala mendapati kamar itu kosong. Gelap gulita.
Rani melangkah masuk, tangannya meraba saklar lampu. Cahaya lampu Led 15 Watt segera menerangi ruangan, kamar itu benar-benar kosong, "Yang benar saja," katanya seorang diri, "Jika tak ada orang lalu siapa yang membuka pintu ini,"
Desiran angin tajam dan dingin berhembus menebarkan aroma aneh, membuatnya tidak nyaman, buru-buru ia mematikan lampu dan tangannya meraih gagang pintu untuk menutupnya kembali, tapi, sebelum pintu tertutup rapat, terdengar suara. Suara tangis bayi, wajah Rani memucat, tangisan itu berubah seperti lolongan pilu. Suara itu berasal dari arah kamar mandi.
Lampu kembali dinyalakan, Rani melangkah menuju ke kamar mandi. Kosong. Tak ada orang atau bayi sama sekali... padahal ia dengan jelas mendengar suara itu dari sini, tapi mengapa tidak ada apa-apa, sementara suara tangis itu berhenti begitu saja.
Perasaan tak nyaman itu semakin menjadi-jadi manakala saat keluar dari kamar mandi ia melihat sesosok bayangan putih berambut hitam, panjang, kusut dan tergerai menutupi punggung duduk di tepi pembaringan menghadap tembok, sementara kedua pangkal lengannya bergerak ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang menimang-nimang bayi. Suara tangis itu kembali terdengar, menyayat.
"Bu... tadi ibu yang menelepon resepsionis, bukan ?" tanya Rani.
Bayangan itu tidak menjawab, diam bagai sebongkah arca batu. Rani berjalan menghampiri dan mencoba untuk menyapa lagi.
"Bu... apakah ibu yang tadi telepon ?"
Sosok itu perlahan-lahan menggerakkan kepalanya, Rani tersentak manakala melihat wajah sosok itu. Ia adalah seorang wanita, namun separuh wajahnya rusak parah belatung, cacing, kelabang, kalajengking dan hewan melata lain merayap di sela-sela darah dan nanah yang menetes membasahi alas tempat tidur dan menebarkan aroma busuk menyengat.
Rani menelan ludah, ingin berteriak namun suaranya seperti tertahan di kerongkongan. Lututnya serasa tak bertenaga. Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaannya saat itu.
Lebih kurang 1 menit lamanya, Rani tak mampu menggerakkan tubuhnya, sekalipun hanya sebentar namun, rasanya seperti berjam-jam. Rani berhasil menggerakkan tubuhnya kembali, ia masih sempat menahan teriakannya saat meninggalkan tempat itu.
Sesampai di ruang resepsionis, Lilis menyatakan tamu di kamar E-113 masih terus menerus menelepon meminta seseorang datang untuk membersihkan kamar mandi.
"Aku baru saja dari sana, kamar itu.... kosong," barulah ia menjerit keras membuat Lilis dan Pak Hadi terkejut.
"Ia datang saat malam tiba, menerorku dan memaksaku untuk tidak tidur semalaman," begitulah yang Rani katakan. Sejak saat itu Rani tidak mau lagi shift malam, dan satu Minggu kemudian, ia mengundurkan diri dari hotel Sekar Wadung.
***
( Rabu, 07 September 2022 )
NB : Untuk menghormati para tokoh yang telah mengalami kejadian aneh tersebut, pihak penulis sengaja menyamarkan nama tokoh dan tempat kejadian....
Jika ada kejadian atau peristiwa yang terjadi serupa dengan para pembaca yang Budiman, maka, itu hanyalah kebetulan saja.
[Horor] S o s o k #3 ( Adnan – Bagian Kedua )
Gazebo itu terletak di halaman belakang, saat siang atau jam istirahat tiba kami lebih suka menghabiskan waktu istirahat di tempat itu. Ada lebih kurang 15 buah gazebo disana. 10 gazebo dikhususkan untuk karyawan wanita dan sisanya untuk karyawan pria. Tapi bagi kami selama bisa menjaga peraturan dan ketentuan yang berlaku di kantor, siapapun boleh menggunakannya, kecuali tamu.
Siang itu aku, Lilis dan Karmila duduk pada salah satu gazebo sambil memandangi area persawahan yang terpampang di hadapan kami. Sebagai pembatas antara area hotel dan sawah penduduk adalah sebuah anak sungai berarus sedang. Sejauh mata memandang yang tampak adalah pematang sawah yang hijau, daunnya melambai – lambai tertiup angin yang berhembus dari badan pegunungan dan perbukitan. Suasana seperti itulah yang kuinginkan, sekalipun terik matahari menyengat namun tidak terasa panas. Terkadang aku dan teman-teman tertidur di tempat ini, gara – gara udara yang sejuk itu. Tapi, saat malam tiba, hanya orang – orang bernyali besarlah yang memberanikan diri duduk disini.
Sedang asyik – asyiknya duduk, Adnan datang menyapa kami dengan ramah, “Selamat siang mbak Thia, Mbak Lilis, Mbak Mila, boleh saya gabung di sini ?”
Karmila tampak tidak senang, “Hei, dari sekian banyak gazebo, yang masih kosong banyak, mengapa memilih tempat ini ?” tanyanya ketus.
“Sudahlah, Mil... ga apa – apa,” sahut Lilis lalu melirik ke arahku sambil berkata, “Dia, kan ingin bareng sama Mbak Thia,” godanya. Wajahku memerah saat itu, gosip bahwa Adnan menaruh hati padaku, memang benar.
“Lihat, wajah Mbak Thia memerah, tuh... Mungkin lebih baik kita memberi mereka kesempatan melepas rindu, ya ?” ujar Lilis sambil menarik lengan Karmila hendak meninggalkan gazebo.
“Ja... ja... jangan tinggalkan aku sendirian disini dong... apa kata orang nanti ?” kataku gugup.
“Selama ada kami, kalian tidak perlu cemas,” sahut Karmila.
“Tidak.... kalau Mama tahu, bisa celaka...” kataku takut, “Apa kalian senang kalau aku sampai dipecat sama Mama ?”
“Benar juga, ya...” ujar Lilis, “Oke, kami duduk di gazebo lain tidak jauh dari kalian. Sekalian berjaga – jaga agar si Adnan tidak berbuat yang aneh – aneh padamu. Bagaimana ?”
“Begitu lebih baik. Ayo,” ajak Karmila sambil menarik lengan Lilis untuk kemudian berjalan menuju gazebo no dua.
“Mbak,” panggil Adnan, “Kalian berdua tidak perlu pindah tempat, saya tidak keberatan jika seandainya kalian menemani kami,” ujarnya.
“Jangan banyak bicara, Nan...” bentak Karmila, “Kami sudah baik hati mau mengalah... jadi, hargai kebaikan kami. Tahu. Jika sampai terjadi apa-apa sama Thia, kami takkan tinggal diam. Paham ?!”
Adnan mengangguk. Ia hanya memandangi punggung Lilis dan Karmila, sementara aku tidak tahu harus bagaimana mengendalikan perasaan ku yang tidak keruan.
***
Adnan menyodorkan jus semangka yang baru dipesannya di Cafentaria kepadaku, tanganku gemetaran saat menerimanya, “Kenapa harus repot – repot, Mas ? Kau baru saja menerima kenaikan gaji, bukankah sebaiknya gaji itu disimpan untuk keperluan anak – anak mas,”
“Tidak apa – apa, Mbak ini bukan masalah serius,” katanya.
Aku memang merasa haus. Sebenarnya, aku membawa bekal lebih tapi, jarak antara ruang resepsionis dan halaman belakang cukup jauh, biasanya saat istirahat begini, aku selalu membawa bekal tersebut, entah mengapa hari ini aku lupa. Dengan sedikit rasa malu, aku menyesap jus semangka itu sedikit demi sedikit sementara Adnan menatapku dengan tajam, membuatku semakin kikuk.
“Mbak, saya tahu, Mbak Thia butuh waktu untuk menjawab pertanyaan saya dengan jujur satu minggu yang lalu. Bisakah Mbak Thia memberi saya jawabannya hari ini ?” tanya Adnan.
Aku menundukkan wajahku dalam-dalam, tak berani aku memandang tatapan mata Adnan yang tajam itu. Kali ini aku benar-benar tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Pikiranku melayang kemana-mana, Mas Reksa itulah yang pertama kali melintas. Dia tulus mencintai, menyayangi dan mengasihiku, namun, dia belum bisa memberiku kepastian kapan akan melamarku, selain itu kini ia entah berada dimana. Entah sudah berapa kali aku menghubungi nya namun, tidak pernah ada tanggapan dan itu sudah 5 bulan terakhir ini. Aku merasa dipermainkan dengannya, padahal kami sudah nyaris 6 tahun bersama tapi statusnya tidak jelas.
Aku sangat patuh pada adat istiadat serta peraturan keluarga selama ini, tapi, setelah aku berpacaran dengan mas Reksa... Aku merasa, telah mengabaikannya. Kini ada seorang duda menaruh hati padaku, ia sesuai dengan harapan dan keinginanku dalam segala hal, bertolak belakang dengan Mas Reksa yang menurutku sudah mengabaikanku.
Ibu juga pernah berkata, "Uwong seng Gati durung mesti tenanan. Nanging , Uwong sing rasane kurang Gati Karo awak Dewe malah gatine ora kawitan malah luwih. Nduk, Kowe mesti ati-ati ngadepi manungsa ing Donya Iki. Jaman wes berubah, ajenono awakmu Dewe, buru Kowe bisa ngajeni Uwong Liya," ( jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya seperti ini : orang yang perhatian pada kita belum tentu benar-benar tulus. Sebaliknya, orang yang acuh tak acuh pada kita, justru lebih tulus. Nak, hendaknya kau berhati-hati berhadapan dengan manusia di dunia ini. Jaman sudah berubah, hargailah dirimu sendiri lebih dahulu, baru kemudian baru bisa menghargai orang lain ). Persepsinya adalah, manusia hendaknya harus jeli dan berhati-hati dalam menentukan jalan hidup atau pilihannya. Itu kesimpulanku secara pribadi dan belum tentu cocok dengan penilaian orang lain.
Aku kesal sekali saat mas Reksa memperlakukanku seperti ini, tapi, pastinya dia punya alasan sendiri yang .... Mungkin belum waktunya diberitahukan padaku.
"Mbak Thia," panggilan Adnan membuyarkan lamunanku, "Bagaimana, mbak ? Apakah kau bersedia menerima cintaku ? Aku ingin tahu jawaban Mbak Thia," sambungnya.
"Maaf, mas Adnan... Saya belum bisa menjawabnya sekarang," sahutku kesal karena ia terus mendesak ku, setelah itu dengan pikiran serba kalut, aku melangkah meninggalkan gazebo menuju ruang resepsionis... Aku tak peduli lagi dengan Adnan, Lilis dan Karmila. Aku tak peduli dengan pandangan mata Mas Adnan yang bagiku tampak memelas. Keinginanku saat ini adalah berbicara dengan Mas Reksa, meminta kepastian darinya.
Itu adalah yang kesekian kalinya Adnan meminta jawaban dariku. Tak bisa kuhitung berapa kali ia menanyakan hal itu, tapi, aku selalu memberikan jawaban yang mengambang. Haruskah aku memberi harapan padanya ?
***
"Haduh, Thia..." Keluh Lilis setelah mendengar ceritaku, "Memangnya, apa sich yang kurang dari Adnan? Ia keren, gagah, tampan dan kelihatannya dia serius banget dengan perasaannya padamu. Daripada kau menanti-nanti si Reksa yang sombong itu dan tidak pernah sekalipun menghubungimu mending terima saja, DECH cintanya,"
"Benar, mbak... Siapa tahu Reksa sudah melupakanmu dan punya gebetan ( kekasih ) lain..." Sambung Karmila, "Kalau aku punya cowok kayak dia... Mending putus saja, daripada menunggu-nunggu hal yang tidak pasti. Kasihan kamu. Kita ini cewek, saat usia bertambah, tenaga kitapun berkurang... Goyangan kita tidak selincah saat kita berumur belasan tahun," sambungnya.
"Ye... Kamu itu tahunya cuma goyang saja, pikirin dong agar Mbak Thia menemukan solusinya," sahut Lilis.
"Iya, dong... Goyangan perlu untuk membuat suami tidak selingkuh, mumpung masih muda. Kalau saya jadi kamu, Mbak Thia, aku akan langsung menerimanya, kawin dan langsung goyang buat anak. Hi...hi...hi...hi...," Ucap Karmila genit.
"Dasar genit," umpat Lilis sambil mencubit pinggang Karmila, mereka berdua tertawa-tawa, akupun ikut tertawa.
***
Sejak pertemuanku dengan Adnan beberapa hari yang lalu, aku seperti merasa bersalah padanya. Maka dari itu, aku mencoba untuk menemuinya pada jam istirahat. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di cafentaria bersama teman-temannya. Yah, dia ada di cafentaria, saat aku berjalan menghampirinya yang lain segera pergi ke tempat lain dan kamipun terlibat pembicaraan serius.
"Mbak Thia, tumben ..." Sambut Adnan.
"Ya, aku ingin minta maaf padamu atas tingkah lakuku tempo hari," kataku sambil memainkan jari jemariku mirip anak kecil.
Adnan tersenyum ramah, "Tidak apa-apa, mbak... Saya yang salah karena telah mendesak mbak. Seharusnya saya paham itu. Jadi bagaimana, mbak?"
Aku ragu-ragu sejenak, tapi tekadku sudah bulat, apapun yang terjadi akan kuterima resikonya. "Mas Adnan tahu, kalau selama ini saya sebenarnya punya pujaan hati?"
"Iya, mbak saya tahu... Tapi, saya kasihan pean sudah lama menunggu keputusan dari pacar pean untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Tapi, sampai hari ini tidak ada kabar, terus mbak mau nunggu sampai kapan ?" Katanya, "Saya tak ingin pean menjalani hidup ini sendirian, saya ingin ikut membantu dan menjaga pean, mbak..."
"Kalau begitu, saya menerimanya. Akan tetapi, saya tak ingin mas Adnan mempermainkan saya. Saya sudah cukup dipermainkan oleh orang. Dan kalau sampai itu terjadi, aku tak akan mempedulikanmu, mas," aku menegaskan.
Adnan tersenyum, "Jangan khawatir, mbak.... Saya takkan mengecewakan pean," katanya.
Yah, sejak hari itu, kami berdua jadian. Dia benar-benar menepati janjinya, tapi, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku... Aku merasa aneh dan perasaan itu semakin kuat manakala aku tengah berduaan dengan Adnan.
Aku selalu mengikuti apa kemauannya, dan aku melupakan jati diriku sebagai wanita. Ibarat kata, aku bagaikan anak itik yang selalu mengikuti kemanapun induknya pergi. Sebuah perasaan yang lain seperti yang kualami dengan Mas Reksa.
Lilis dan Karmila juga menyadari keanehan pada diriku ini, tapi tak tahu apa itu.
***
[Horor] S o s o k #4 ( Reksa )
"Apa yang sudah kaulakukan, Thia ?" pertanyaan itu terlontar tiba-tiba saat pertama kali aku mengangkat telepon dari Mas Reksa.
"Apa yang kulakukan, mas ?" aku tak mengerti, "Aku tak melakukan apa-apa, aku bertindak apa yang menurutku benar. Mas Reksa sendiri kemana saja ? Kenapa baru sekarang menghubungiku ?"
"Jawab dulu pertanyaan, Thia... Apa yang kau lakukan ?" suara itu meninggi, membuat aku menjauhkan telingaku dengan ponsel.
"Mas, aku tak melakukan apa-apa. Kenapa peduli amat dengan urusanku, sementara mas sendiri tidak pernah menelepon,"
"Dengar brengsek...kau telah mengkhianati hubungan kita yang sudah terjalin lama, kau sudah kulamar. Tapi, masih berani-beraninya jatuh cinta pada orang lain,"
"Kau menyebutku apa, mas ?" aku mulai naik darah, seumur hidup, aku tak pernah dibilang yang aneh-aneh, tapi, malam ini saat aku hendak istirahat karena letih seharian bekerja, ada orang yang berani berkata demikian.
"Yah, kau memang brengsek. Kau sudah berulangkali membuatku kesal tapi karena aku masih menyayangi dan mencintaimu, kuabaikan semua berharap agar kau tak mengulang kesalahan yang sama,"
"Mas... Kau sendiri tak menghubungiku sekian lama, kupikir kau sudah melupakanku jadi, tak ada salahnya jika aku mengambil keputusan. Aku sudah capek menunggumu, mas menunggu keputusanmu yang mengambang sekian lama. Aku seorang wanita, kesabaranku ada batasnya, mas... Dan, kau... sudah tidak pernah telepon, telepon baru sekali sudah marah-marah seperti ini, mengejekku... Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku, mas.... "
"Chynthia.. Kau pernah berjanji padaku, takkan berpaling. Berbekal pada itulah, aku berusaha berjuang untuk membuatmu bahagia... Kau, tahu... selama ini aku mempersiapkan segala-galanya demi untukmu. Aku rela bertengkar dengan keluargaku , menentang orang tua karena aku yakin, kau bisa kuandalkan kelak sekalipun aku tidak lagi tinggal serumah dengan orang tua juga keluargaku. Tapi, saat kau menerima cinta orang lain yang baru kau kenal hanya dalam waktu beberapa hari saja... Mana mungkin aku tak marah. Dimana kesetiaanmu yang dulu, Thia. Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku secara langsung tapi, jangan kau perlakukan aku seperti ini. Aku tahu, keadaan mu sekarang lebih baik daripada dulu, tapi, mengapa kau mencampakkan aku yang telah mencintai, menyayangi dan memperhatikanmu setulus hati ? Apa kau sudah melupakan apa yang telah terjadi pada kita dulu, ha ?"
Kenangan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kenangan manis saat Mas Reksa ada di sampingku dulu... Bagaimana mungkin aku bisa melupakan peluk dan ciumnya yang hangat membuatku seakan terbang tinggi ke awan. Kecupan yang baru pertama kali kudapat saat pertama kali menjadi sepasang kekasih. Aku memasrahkan diriku sepenuhnya pada Mas Reksa berharap ia yang menjaga, mendampingi, melindungi, mencintai dan menyayangiku seumur hidup dalam suka duka.
"Thia..." Mas Reksa kembali berkata, kali ini nadanya mulai tenang, "Selama ini, aku selalu menjaga kesetiaan cintaku padamu, aku tak peduli apa kata orang. Tujuanku bukanlah tujuan mereka, mereka tahu apa ? Mereka takkan peduli jika kita sengsara, mereka akan bertepuk tangan saat kita beradu argumen. Dalam hatiku, aku takkan mengkhianati cinta kasih yang telah diberikan Chynthia padaku. Maka kau layak diperjuangkan. Apakah kau menyadarinya?"
Aku terenyuh mendengar perkataan itu, perkataan terkesan tulus dan tidak mengada-ada. Aku tahu betul, siapa Mas Reksa. Kami saling mengenal satu sama lain, maka, tanpa sadar dua titik bening mengalir dari mataku... Aku telah mengkhianatinya karena tak mampu menahan emosiku, tak mampu menahan diri, tak mampu menahan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
"Maafkan aku, mas... Aku yang salah," kataku.
"Thia, sayang... Aku selalu memaafkanmu, cobalah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,"
"Lalu, bisakah aku melepasnya demi diri mas Reksa sementara, dia telah melamarku beberapa hari yang lalu ?"
"Dengar, kalau sepasang suami-istri saja bisa cerai, apalagi tunangan ?"
"Aku tak ingin berkata yang tidak-tidak pada si Adnan itu... yang jelas hubungan ini terasa ganjil dan aku bisa melihatnya. Kalau kau memang masih mencintai dan menyayangiku, cobalah berbicara baik-baik dengannya. Aku menanti kabar baik darimu," terdengar dengungan panjang, Mas Reksa sudah menutup telepon, sementara, aku terdiam. Aku memandang kosong ke sekeliling ruang tidurku. Aku memang masih mencintai dan menyayangi Mas Reksa lebih dari apapun, tapi, aku tak habis pikir bagaimana bisa dengan mudahnya menerima pria duda sebagai tunanganku, padahal baru kukenal sebentar saja.
Aku disibukkan dengan berbagai macam pikiran aneh, semalam suntuk aku tak bisa memejamkan mataku, hingga akhirnya ....
***
Aku membuka mataku, mendapati diriku berada di sebuah pematang sawah yang luas, subur, dan berudara sejuk. Entah sejak kapan dan mengapa aku berada disini. Tapi, disinilah aku berada. Sayup-sayup dari jauh terdengar suara seperti serombongan anak kecil tengah bermain. Suara itu berada tak jauh dari sini.
Bagai digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, aku menapaki tepian pematang sawah. Setelah berjalan agak lama, aku tiba di sebuah jalan setapak berbatu dan terjal. Kanan kiri ditumbuhi tanaman-tanaman rimbun. Mendadak sepasang mataku tertuju pada tumpukan telur. Ini bukan telur ayam tapi telur bebek, jelas sekali perbedaannya. Aku menyukai telur, terutama telur burung dara dan ayam kampung, telur bebek jarang kutemukan. Tak ada salahnya kupunguti telur-telur itu sebagai bekal makan malam nanti. Kebetulan kemanapun aku pergi, aku selalu membawa kantong... tetapi, hari ini aku tak membawanya. Dasar teledor, sayang sekali apabila telur bebek itu dibiarkan berserakan begini. Biarlah kuambil beberapa saja, toh, aku tidak mungkin menghabiskan semua telur ini biarlah kubawa untuk Ditha dan Felix.
Setelah menyobek daun pisang sebagai pembungkus telur, aku melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalanan setapak, namun, langkahku terhenti saat melihat ada 3 ekor ular merayap. Yang satu ular putih, ular belang dan ular sawah. Bagi orang tertentu, hewan melata sejenis itu tidaklah berbahaya, tapi, tetap saja aku ngeri dan takut. Mereka menghadangku, ular belang dan ular sawah itu berusaha mematukku tapi, ular putih menghadangnya. Ular itu berkelahi satu sama lain, dan ular putih sekalipun terluka agak parah berhasil mengalahkan 2 lawannya, seolah tak melihatku, ular itu merayap menjauh dan hilang di semak-semak.
Aku menarik nafas lega, kembali aku melangkah dan kali ini di hadapanku berdiri sebuah sosok hitam, tinggi dan besar... Inikah yang dinamakan genderuwo ? Astaga siang-siang begini menampakkan diri. Aku terdiam mataku tak berkedip memandang sosok itu, jantungku berdetak kencang, nafasku memburu, tubuhku seakan tak bertenaga sementara kedua lututku terasa lemas manakala sosok itu mendekat... Ia terus mendekat... Tercium bau busuk yang menyengat bau seperti jengkol tapi lebih busuk.
"Kau adalah milikku ! Takkan kubiarkan kau menjadi milik orang lain" terdengar suara geraman sementara tangannya yang berbulu hitam lebat terjulur hendak menyentuh tubuhku. Aku berteriak keras, teriakanku menggema seakan menembus cakrawala, dan...
"Blukk !"
Mataku terbuka dan aku berada di kamar, tubuhku terbaring di lantai. Ditha dan Felix sudah berada di dekatku.
"Teriakan kakak mengejutkan kami," kata Felix.
"Mimpi Buruk, ya, kak ?" Sambung Ditha.
__________
[Horor] S o s o k #5 ( Kembali Ke Sarang )
"Mas Adnan, ada yang perlu kubicarakan padamu," panggilku saat jam istirahat tiba, saat itu ia sedang berjalan menuju cafentaria bersama dengan 3 orang temannya.
"Maaf, mbak... Saya lagi ada urusan yang perlu dibicarakan dengan teman-teman. Jika sudah selesai, aku akan mencarimu," katanya.
Ini sudah yang kesekian kalinya ia berkata seperti itu. Entah mengapa akhir-akhir ini aku mendapat kesan ia sengaja menghindariku semenjak aku menceritakan mimpiku tempo hari. Akan tetapi, aku tidak pernah menyinggung-nyinggung telepon dari Mas Reksa sama sekali di hadapannya. Aku berusaha bersikap biasa-biasa saja, tapi memang dia sudah berubah.
Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Mbak Lilis saja. Kataku dalam hati sambil mencari-cari dimana dia berada.
***
"Oalah, Mbak Thia..." ujar Mbak Lilis, "Nasibmu kok malang benar, setelah ditinggal Reksa sekarang kau malah diabaikan oleh Adnan. Sebenarnya, ada apa, sich dengan dirimu, kok rasanya cowok-cowok pada menghindar," sambungnya saat berada di gazebo sebelah Utara.
"Heran, ya..." Sambung Karmila, "Wajahmu begini cantik dan bodymu juga bohay, tapi, apes," sahutnya sambil jari-jemarinya bergerak menepuk pantatku.
"Entahlah, mbak... Aku juga heran," sahutku.
"Ehm... Jangan-jangan kau jatuh cinta sama cowok lain, ya... Terus ketahuan Adnan dan dibuang," goda Karmila lagi.
"Hei, Mil... Kalau bicara mbok, ya hati-hati... Sudah tahu teman kesusahan, malah dibilang macem-macem," tukas Lilis.
"I...iya, sorry, mbak," kata Karmila salah tingkah.
Aku tersenyum, "Tidak apa-apa, mbak... Mungkin perkataanmu ada benarnya,"
Karmila tampak menyesal dengan kata-katanya yang sembarangan, ia menghela nafas panjang baru kemudian bicara dengan nada serius, "Tapi, memang... Adnan sekarang sepertinya menjauhiku saat kamu memintanya untuk melangkah ke jenjang pelaminan," dia menatap Lilis yang seakan mengisyaratkan agar bicara hati-hati, " Menurutmu, bagaimana, Lis ?"
"Sebenarnya, apa yang telah Mbak Thia katakan pada Adnan ? Kok sampai dia berubah seperti itu ?" tanya Lilis.
"Saya tidak berkata apa-apa, mbak... Setelah dia melamarku beberapa bulan yang lalu, sikapnya mulai berubah dan mulai menghindariku," jelasku, "Tadi baru saja saya mau mengajaknya bicara, lagi-lagi dia menghindar,"
"Akan kucoba menanyakannya langsung, mbak," sahut Karmila.
"Jangan," potong Lilis, "Itu tak memecahkan masalah, tapi malah menambah masalah. Coba kau pikir... Diantara semua pegawai, cuma kita yang paling dekat dengan Mbak Thia. Jika kau menemuinya, tentu Adnan juga tidak peduli, penilaiannya terhadap Mbak Thia jadi negatif, kan ?"
"Lalu, kita bersikap acuh tak acuh, begitu? Mbak Thia jadi lebih menderita, dong,"
"Kita tidak akan tinggal diam, Mil.... Eh, aku punya ide..." ujar Lilis sambil mendekatkan kepalanya dan berbicara pelan nyaris tak terdengar.
***
"Hmm... Benar-benar kacau, dech," kata Lilis, "Ide konyolku tidak mempan,"
"Dari sini Mbak Thia, tahu, kan pemuda macam apa Adnan itu ? Dulu dia tergila-gila berat dengannya, sekarang, kesannya Mbak Thia dicampakkan. Padahal sudah 3 hari kita berusaha menyuruh Mbak Thia sembunyi, tapi, dia sama sekali tak menanyakan dimana keberadaan Mbak Thia, aku jadi bingung... Apa maunya orang itu,"
Kami terdiam sesaat lamanya. Aku boleh dibilang wanita yang paling sabar, tapi, itu ada batasnya. Maka, saat aku melihat Adnan melintas dari ruang kerjanya, aku buru-buru berjalan menghampirinya.
"Mas Adnan, aku mau bicara dengan pean sekarang. Kalau masih banyak alasan maka aku tak akan main-main lagi !" bentakku dengan suara tinggi mengejutkan semua orang yang ada di sekitar. Aku tidak peduli, Adnanpun tampaknya tidak berani lagi bicara apa-apa.
***
Aku dan Adnan duduk di cafentaria, sepi pengunjung. Sebuah hal yang tidak biasa sehingga kami bisa berbicara dengan leluasa. Adnan duduk di hadapanku, sepasang matanya tak berkedip manakala beradu pandang denganku. Suasana tampak dingin dan kaku, kami tegang dengan pikiran masing-masing.
"Mau pesan apa, mbak," suara Adnan-lah yang pertama kali memecah kesunyian.
" Tidak usah. Kalau mas mau pesan, pesanlah sendiri," jawabku ketus.
"Kok gitu, sich ?" Adnan mencoba bercanda di saat wajahku merah padam.
"Sudahlah. Aku ingin tahu, mengapa kau selalu menghindariku saat aku ingin bicara denganmu,"
"Aku tidak menghindar, mbak... Memang akhir-akhir ini banyak urusan yang harus diselesaikan,"
" Baiklah kalau begitu, aku tak ingin berlama-lama... Aku cuma ingin bertanya, apakah kau sudah mempersiapkan hari pernikahan kita ? Sampai kapan kita seperti ini terus sementara usia kita semakin bertambah ?"
Adnan tertawa tawar, "Mbak, pean sudah tak lamar, itu artinya sudah menjadi tunangan saya, masalah pernikahan bisa kita atur ke depannya,"
"Pean sudah janji dalam waktu 3 bulan akan memberikan keputusan. Sekarang sudah tiga bulan lebih tapi, tetap saja tak ada keputusan yang pasti. Akhir-akhir ini, kau menjauhiku saat aku ingin bicara. Mau pean itu sebenarnya apa ?"
"Baiklah, mbak...saya tidak ingin berdebat. Bagaimana kalau kita nikah siri dulu ?"
"Nikah siri ?" tanyaku, "Maaf, mas ... pean harusnya bisa memberi keputusan yang jelas dan tegas. Dulu pean pernah berjanji tidak akan membuatku kecewa, tidak akan membiarkanku menjalani hidup dengan samar... Tapi, kau sudah melupakannya. Saya sudah bosan diperlakukan demikian. Maaf, mas lebih baik kita akhiri saja hubungan yang tidak pasti ini," kataku sambil melepas cincin di jari tengah kananku. Cincin pemberiannya saat ia melamarku, memberiku banyak harapan dan keinginan. Dan, saat cincin indah itu terlepas aku menyerahkannya pada Adnan sambil berkata, "Maaf, mas... Mulai hari ini dan seterusnya, kita tak ada hubungan apa-apa. Cincin ini mungkin tidak cocok untukku, maka, berikanlah pada orang lain yang lebih layak menerimanya,"
Setelah berkata demikian, aku melangkah meninggalkan kantin, aku tak peduli lagi bagaimana reaksi Mas Adnan saat itu. Entah mengapa, bahu ini mendadak saja serasa ringan. Dadaku yang seakan penuh dengan berbagai macam persoalan hilang entah kemana. Aku merasa bebas dan aku senang sekali. Plong...
__________
[Horor] S o s o k #6 ( Teror )
Semenjak aku telah memutuskan hubunganku dengan Adnan, aku kembali kepada Mas Reksa. Sejak saat itu, Mas Reksa seringkali mengajakku bertemu. Aku bahagia sekali bisa bersama dengannya... Walau terkadang melihat perlakuannya yang begitu memanjakanku, aku merasa berdosa sekali karena telah mengkhianatinya. Aku baru menyadari betapa berartinya Mas Reksa pada diriku... Semakin dia menyayangi, mencintai dan memperhatikanku, aku jadi malu sendiri. "Yang lebih berharga ada tepat di mataku, tapi, karena nafsu sesaat, karena tak mampu menahan rasa rindu, mengapa aku harus memilih yang lain. Maafkan aku, mas Reksa... Maafkan aku yang bodoh ini," keluhku dalam hati.
Tapi, seiring dengan membaiknya hubungan kami, masalah lain timbul. Bukan berasal dari faktor internal tapi dari faktor eksternal. Tampaknya, hubungan cinta kami kembali diuji dengan hal-hal yang rasanya tidak masuk akal... Dan, aku semakin tahu mana yang benar-benar mencintaiku sepenuhnya, atau cuma sekedar lips service belaka.
***
Aku turun dari pembaringan manakala mendengar Felix memanggilku dari pintu kamarku, "Kak Thia... Keluarlah, ada sesuatu yang aneh pada Ditha. Cepat, kak,"
Begitu pintu kamar terbuka, Felix segera menarik tanganku dan mengajakku ke kamarnya sementara, Felix bersembunyi di balik punggungku, tubuhnya gemetaran, wajahnya sepucat kertas manakala aku membuka pintu kamar adik-adikku.
Mataku terbelalak manakala melihat Ditha berteriak-teriak keras sementara pandangannya mengarah ke udara kosong yang terletak tak jauh dari sisi kanan lemari pakaian.
"Pergi... Pergi... Jangan ganggu aku," teriak Ditha.
"Ditha, ada apa ?!" tanyaku padanya. Gadis cilik berumur 6 tahun itu berlari ke arahku sementara pandangannya tidak lepas dari sebelah kanan lemari baju, ia tampak ketakutan. "Kak ada bayangan menyeramkan di sebelah lemari itu," katanya sambil menunjuk-nunjuk ke arah lemari sebelah kanan.
Aku menatap ke arah yang ditunjuk Ditha, tak kelihatan apa-apa. Ditha malah menjerit histeris, "Kak, dia mendekat... Ayo, kita keluar dari tempat ini !!" Ditha melepaskan genggamanku dan berlari keluar kamar, aku dan Felix mengejarnya, telingaku sempat mendengar suara.
"Kek... Kek... Kek... Kek... Kek..."
Di luar ruangan kembali Ditha berteriak-teriak, "Kak, mengapa rumah ini sekarang
banyak makhluk-makhluk mengerikan ?!!"
"Ditha, tak ada apa-apa disini ?" ujarku sambil menatap udara kosong mengikuti arah tatapan Ditha. Demikian pula Felix, ia tak kalah bingungnya manakala Ditha mengoceh tidak keruan. "Ditha mau pulang ke tempat ayah dan ibu," rengeknya.
"Dith, jangan bicara yang tidak-tidak," bentakku, "Memangnya hari ini kau ini kenapa ?"
Ditha tidak menjawab melainkan menutup mata dengan tapak tangannya, "Ditha takut, kak," katanya kemudian sambil menangis. Aku sendiri kebingungan, udara malam ini terasa menyesakkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. "Ada apa sebenarnya yang terjadi ? Mengapa Ditha jadi begini rewel,"
Sepanjang malam itu, aku dan adik-adikku berada di teras rumah, hanya itu satu-satunya yang bisa membuat Ditha diam dan tertidur pulas, Felix pun tertidur di kursi dari bambu sementara aku... Berulang kali terbangun saat terdengar suara aneh seperti di kamar Ditha beberapa menit lalu. Suara itu berasal dari dalam rumah, tapi sama sekali tidak ada wujudnya. Kejadian itu membuat malam serasa panjang.
Keesokan harinya, Ditha mengalami kejang-kejang, muntah-muntah dan suhu badannya tinggi sekali. Tak ada pilihan lain selain membawanya ke RS. Aku yang selama ini bekerja dengan predikat baik, tanpa cuti, harus cuti selama 1 Minggu untuk menjaga Ditha di RS.
Saat keadaan Ditha mulai membaik, ia menolak untuk pulang ke rumah.
"Kita tidak bisa terus menerus di tempat ini, Dith... Biaya rawat inap tidak murah," bujukku.
"Pokoknya, Ditha tidak mau pulang kesana, banyak sekali makhluk-makhluk menyeramkan," tolak Ditha. Aku sudah membujuknya berulang-ulang, tapi dia tetap bersikeras tidak ingin pulang.
Aku menggerakkan jari-jemariku pada keypad ponselku, tujuanku adalah Mas Reksa, "Mas, bolehkah aku membawa adik-adikku ke rumah Mas Reksa,"
Tak lama kemudian sebuah mobil panther berhenti di teras Rumah Sakit, Mas Reksa muncul dan menghampiriku. Aku dan adik-adikku segera naik dan meluncur meninggalkan RS tersebut.
Mas Reksa membawa kami ke rumahnya. Untuk sementara waktu kami menginap disana walau sebenarnya aku merasa tidak enak.
"Untuk sementara, kalian tinggallah disini dulu, aku akan memeriksa rumah kalian kelihatannya ada yang kurang beres disana. Kau mau ikut atau menemani adik-adikmu?"
"Sebaiknya aku ikut saja, mas... Aku ingin tahu apa sebenarnya yang membuat Ditha jadi seperti itu. Toh disini ada Mbak Jum yang menjaganya,"
"Baiklah kalau begitu,"
***
Kami sampai di rumah setelah lebih kurang setengah jam terguncang-guncang di mobil. Saat berada di halaman rumah, Mas Reksa meraih tanganku dan menarikku ke belakang punggungnya, "Apapun yang terjadi. Tetaplah kau di belakangku, dari sini saja aku bisa melihat ada kekuatan jahat tak kasat mata menyelimuti rumahmu itu," katanya.
"Aneh, padahal dulu baik-baik saja tapi kenapa jadi seperti ini ?" tanyaku heran.
"Aku sendiri tidak tahu, tapi akan kucoba mencari tahu," ujar Mas Reksa.
Kami sudah tiba di depan pintu, teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, bulu kudukku meremang, jari jemariku gemetaran saat meraih gagang pintu dan membuka kuncinya. Tapi, Mas Reksa berusaha menenangkanku, "Ada aku disini, jangan takut,"
Pintu terbuka, dari dalam berhembus angin tajam dan dingin, Mas Reksa melangkah masuk, sepasang matanya menatap ke sekeliling, menatap udara kosong di sudut-sudut ruangan, ia memicingkan mata saat pandangannya mengarah ke kamarku.
"Beberapa waktu yang lalu, kau melihat bayangan hitam melintas melewati kamarmu, bukan ?" tanya Mas Reksa, "Sosok itu tinggi besar dan berbulu berdiri disana," katanya sambil menunjuk ke arah lorong penghubung rumah utama dengan halaman menuju dapur.
"Mas, memang tempo hari aku merasa tidak nyaman sekali saat berada disana, sejak kapan ia ada disana ?" tanyaku.
"Dia adalah kiriman seseorang untuk membuat kalian tidak tenang, membuat kalian selalu ketakutan. Tampaknya, si pengirim itu memiliki ilmu yang tinggi sehingga mampu menundukkan jin yang berwujud genderuwo itu,"
"Kiriman ?" tanyaku tak percaya.
Mas Reksa mengangguk, "Mungkin ada seseorang yang tidak menghendaki kau bahagia, Thia... Bisa jadi orang itu sakit hati dan ingin kau juga ikut merasakan sakit hati seperti yang ia alami bahkan berkali-kali lipat. Ini baru permulaan, Thia,"
"Maksud, mas... Ia ingin mencelakakanmu,"
"Tidak sampai seperti itu. Dia hanya ingin membuatmu menderita, ia ingin kau jatuh terpuruk hingga tak berdaya apa-apa. Ini lebih jahat daripada sekedar membuatmu celaka,"
"Siapa orang itu, mas ?"
"Entahlah. Aku akan menghubungi temanku yang lebih ahli. Jika kau ingin tahu orangnya, kau bisa meminta petunjuknya,"
"Mas... Siapapun dia, ini sudah keterlaluan... Dia pikir siapa dirinya bisa melakukan ini padaku," kataku geram.
"Tenangkanlah dirimu. Jangan kau turuti emosimu, itu hanya akan membuatmu sengsara. Dia memang pandai membuat orang tak mampu mengendalikan diri, itulah sumber kekuatannya. Untuk sementara, kurasa kau lebih aman tinggal di rumah Mbak Jum, sementara aku dan teman-teman akan mencari solusi yang bijak untuk mengakhiri ini semua. Genderuwo itu memiliki banyak anak buah dan salah satunya telah membuat Ditha sakit. Kami akan mencegahnya berbuat di luar batas. Jika memang masih acuh tak acuh, apa boleh buat, kami akan memberikan pelajaran yang setimpal untuknya," jelas Mas Reksa.
__________
[Horor] S o s o k #7 ( Teror - bagian kedua )
Tapak kaki kiriku seperti ditusuk oleh sebuah paku. Aku menjerit kesakitan membuat Mbak Jum kebingungan.
"Den Reksa, Chyntia, den..." kata Mbak Jum lewat telepon. Tak lama kemudian Mas Reksa datang dan memeriksa keadaanku, "Sejak kapan dia seperti ini, mbak ?" tanya Reksa.
"Tadi selesai mandi, ia berteriak-teriak kesakitan," kata Mbak Jum gugup.
Mas Reksa menatapku dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kaki kiriku, "Thia, kelihatannya ada sebuah benda masuk di kaki kirinya," katanya.
"Apa ?" tanyaku heran, "Bagaimana mungkin bisa demikian, bukannya Mbak Jum tadi membantu saya membersihkan rumah, tak ada barang tercecer sebutir pun," kataku, rasa sakit itu kian menyengat dan mendadak kepalaku pening, pandanganku berkunang-kunang terakhir sebelum kehilangan seluruh kesadaranku, aku melihat Felix dan Dith datang, "Kakak, kenapa ?" hanya itu yang bisa kudengar untuk kemudian pandanganku gelap.
***
Tubuhku serasa ringan, ringan sekali, bagaikan asap, angin yang berhembus perlahan membawaku pergi jauh. Di ujung sana aku melihat sebuah cahaya putih menyilaukan, tak kuasa aku memandangnya lama-lama. Mataku terpejam saat memasuki cahaya itu. Saat kubuka mataku, aku mendapati diriku berada di sebuah tanah lapang berumput hijau dan lembut bagaikan permadani. Sebuah tanah yang cukup luas dengan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan disana, menebarkan aroma harum semerbak.
Aku memanjakan diriku sejenak dengan berbaring di rerumputan hijau bak permadani itu sebelum telingaku mendengar suara yang cukup familiar memanggil-manggil namaku, "Thia... Thia... Thia..."
Aku terbangun mencari asal suara itu, tak jauh dari tempat aku berbaring tampak seorang wanita cantik, berambut ikal, panjang sebatas bahu, mengenakan pakaian oranye dengan hiasan mawar merah pada bagian dadanya; seorang lagi adalah laki-laki tampan, kumis tipis melintang di atas bibirnya yang merah delima, berambut keriting dan mengenakan pakaian serupa dengan wanita cantik itu.
"Ayah, ibu..." sapaku, "Benarkah ini kalian?"
"Kau sudah tumbuh menjadi gadis cantik, nak persis sekali dengan ibumu," kata pria itu.
"Begitu pula adik-adikmu, Felix dan Ditha," sambung wanita itu, "Mereka sudah besar sekarang,"
"Ayah, ibu... Benarkah ini kalian ? Bukankah kalian sudah meninggal? Bagaimana bisa ada di tempat ini ? Lagipula dimana ini sebenarnya?" tanyaku bingung.
"Tenangkan dirimu, nak ... Kami memang ayah dan ibumu. Kami memang sudah meninggal di dunia sana, tapi, kami hidup bahagia di tempat ini. Semua yang kami perlukan ada disini... Kami tak kekurangan apa-apa," kata wanita itu.
"Tempat ini begitu indah, Bu... Apakah ini yang dinamakan surga ?" tanyaku.
"Surga sebenarnya ada di dalam dirimu, nak... Kau dan adik-adikmu, hidup tenang dan damai itulah surga yang sebenarnya di dunia sana. Di sini adalah tempat pemberhentian terakhir setelah manusia melakukan tugas-tugasnya di dunia. Jika dia menanam perbuatan baik, maka, ia akan mendapatkan tempat seperti ini, akan tetapi, jika ia berbuat jahat semasa hidup di dunia sana... maka, ia akan berada di tempat yang lebih buruk," jelas pria itu.
"Nak, ini adalah gambaran yang kelak akan terjadi setelah kita menjalankan tugas yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Kami tahu deritamu di dunia sana, kami tahu kau dan adik-adikmu merindukan kami. Tapi, kelak akan tiba saatnya kita bertemu dan berkumpul kembali seperti dulu lagi. Ada seseorang yang ingin mencelakakanmu karena dia sakit hati atas apa yang telah kau lakukan padanya, tapi, kau sudah mengambil jalan yang benar, nak tak usah mempedulikan siapa dia. Yang terpenting adalah selagi kau bisa menjalankan tugas dan kewajibanmu, lakukanlah dengan penuh tanggungjawab. Sementara, dia yang hanya menuruti hawa nafsunya, akan beroleh imbalan atas perbuatannya. Itu tak lama lagi, nak," kata wanita itu.
"Kau beruntung memiliki orang-orang yang memperlakukanmu dengan baik hingga saat ini, jagalah mereka seperti kau menjaga dirimu sendiri, nak..."
"Ayah, ibu... Aku ingin disini bersama kalian selamanya," rengekku.
"Belum waktunya, nak... Belum waktunya, kelak akan tiba saat itu... Kami bisa memastikannya. Nah, sekarang kembalilah. Berjuanglah untuk melakukan tugas dan kewajibanmu dengan penuh tanggung jawab," bersamaan dengan itu perlahan-lahan mereka sirna aku berteriak-teriak memanggilnya namun angin telah membawaku jauh... Jauh meninggalkan tempat itu.
***
Aku berteriak keras manakala ada sebuah benda coklat kehitaman ditarik keluar dari tapak kaki kiriku, sakit sekali rasanya dan benda itu mirip besi sepanjang 10 cm. Benda itu tercabut dan melayang ke atas lalu tergeletak pada sebuah kain berwarna putih, kain Kumal milik seseorang laki-laki tua yang duduk bersila di samping kanan Mas Reksa.
Wajah laki-laki itu tertunduk, matanya terpejam. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Mas Reksa segera membungkus benda itu dan diikat oleh kain putih kecoklatan, sebanyak 7 ikatan.
"Dia menusuk kaki kaki kirinya secara gaib," kata laki-laki tua bertubuh kurus, berbaju putih itu.
"Maaf, paman... Yang paman maksud dengan dia itu siapa ?" tanyaku penasaran.
"Paman akan memberitahukannya padamu, nak... Akan tetapi, sebelum itu kau baca ayat kursi yang akan kusampaikan padamu. Jika Allah SWT berkenan, kau akan diberi petunjuk, tapi, jika tidak tak perlu kau memaksakan diri. Mendekatlah kemari, paman akan memberitahukan kuncinya padamu,"
Aku mendekatkan telingaku pada bibir laki-laki tua itu. Mulutnya komat-kamit dan aku bisa mendengarnya dengan jelas. Tak lama kemudian ia meraih kain yang digunakan untuk membungkus benda aneh tadi. Lagi-lagi bibirnya komat-kamit seperti membaca mantra dan kain dalam genggamannya seakan terbakar. Asap putih tipis keluar untuk kemudian lenyap entah kemana.
***
Mas Reksa mengantarkan ku kembali ke rumah, namun Felix dan Ditha masih belum berani pulang sehingga mereka memilih untuk tinggal sementara di rumah Mbak Jum. Atas saran Mas Reksa dan Mbah Alas, aku harus mengadakan pembersihan seisi rumah. Pembersihan disini bukanlah perbersihan seperti persepsi orang-orang awam. Namun pembersihan ini lebih ditujukan pada perbersihan secara gaib. Sebelum pembersihan aku harus menjalani tirakat yang dianjurkan oleh Mbah Alas. Tirakat adalah ritual penyucian diri, menahan segala macam hawa nafsu.
Aku menjalani tirakat 3 hari, tiga malam. Memang ini tidak mudah, banyak sekali cobaan dan godaannya dan aku berhasil menjalaninya dengan baik. Aku merasa menjadi orang yang seperti baru dilahirkan kembali, terlebih setelah aku bertemu dengan ayah-ibu saat aku tak sadarkan diri. Pertama kali menginjakkan kakiku di halaman rumah, entah ini hanya halusinasi atau nyata, aku melihat banyak sekali makhluk-makhluk yang bercokol di sekitar halaman. Bukan hanya itu, atap rumah seperti tertutup oleh kabut hitam dan menebarkan hawa aneh.
Saat aku, mas Reksa dan Mbah Alas melangkah masuk ke halaman, kabut itu seperti menjauhi kami. Mulutku komat-kamit, membacakan mantra yang telah diajarkan oleh Mbah Alas selama menjalani masa penyucian, kabut itu bergerak, berarak menyatu dan terbang menuju arah Barat.
"Hawa jahat itu, akan kembali pada tuannya ( si pengirim )," kata Mbah Alas, "Kau tunggulah di sini bersama Reksa, aku akan mengikuti kemana kabut itu pergi," setelah berkata demikian Mbah Alas duduk bersila, matanya terpejam rapat, mulutnya komat-kamit. Tubuhnya bergetar hebat sesaat setelah itu dari ubun-ubun nya keluar asap putih bergerak mengikuti kemana kabut hitam itu pergi. Tak lama kemudian tubuh Mbah Alas diam tak bergerak sama sekali bagai sebongkah batu.
"Apa yang Mbah Alas lakukan, mas ?" tanyaku.
"Rohnya terlepas dari raganya..."
"Meninggal," tanyaku.
"Tidak. Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi, mampu melakukan perjalanan jauh meski tanpa badannya. Menjelajah dimensi lain, lorong ruang dan waktu kemanapun dia suka. Akan tetapi apabila orang tersebut berilmu sedang-sedang saja, jiwanya bisa terperangkap dimana dia pergi. Itulah sebabnya, tanpa adanya bimbingan dari orang - orang yang berpengalaman, kita bisa celaka," jelas Reksa.
Beberapa saat kemudian, asap putih itu datang dan kembali masuk ke ubun-ubun Mbah Alas. Tubuh Mbah Alas bergerak-gerak kembali, sepasang matanya menatapku tajam, "Ilmu orang ini sangat tinggi, dia adalah murid Sena adik seperguruanku yang cenderung menggunakan ilmunya untuk mencelakakan orang lain. Ia memang pantas dijuluki Dukun Ilmu Hitam, muridnya pun demikian. Iri hati dan dengki telah meracuni otak dan perbuatannya, sudah mendarah daging," jelas Mbah Alas.
"Mbah... Kalau boleh tahu, siapakah dia ?" tanyaku.
"Seseorang yang pernah dekat denganmu, nduk," jawabnya, "Saya tidak boleh menyampaikannya padamu, dikhawatirkan aku akan mendapat aib. Kelak, kau sendirilah yang mencari tahu. Bukankah kau sudah kuberi petunjuknya ?" sambungnya setelah itu ia menatap Mas Reksa. Dari airmuka mereka, tampaknya ada sesuatu yang tidak boleh diketahui olehku. Hingga sempat terbersit di benakku, apakah Mas Reksa adalah dalang dari ini semua. Lalu mengapa ia melakukan itu ?
Setidaknya itulah kesimpulan yang bisa kutarik dari peristiwa-peristiwa yang membuat kacau. Tapi, apakah mungkin ia melakukan itu ?" tanyaku dalam hati.
__________
[ Horor ] S o s o k #8 ( Perburuan )
"Den Reksa, biarlah Nduk Chyntia, menurutmu, apa kita harus memberitahukan siapa pengirim sosok-sosok mengerikan itu ? Kalau menurut saya... Lebih baik dia sendiri yang mengetahuinya agar kita tidak disalahkan nantinya," ujar Mbah Alas.
"Yah, memang seharusnya begitu, Mbah. Pria itu adalah rekan kerjanya dan saya tahu benar siapa dia. Ia tak segan-segan memakai cara apapun untuk mengambil hatinya. Orang seperti itu tidaklah mudah dibawa kembali ke jalan yang benar," kata Reksa.
"Iya... Iya... Hanya yang Mbah khawatirkan, nduk Chynthia salah paham. Kalau sudah salah paham bisa repot,"
"Logikanya begini, Mbah... Jika dia sudah tahu siapa pengirim makhluk-makhluk itu, masihkah dia salah paham padaku. Mbah... Biarlah untuk sementara saya yang disalahkan. Saya ikhlas dan tulus. Tapi, saya yakin... Itu tak mungkin terjadi. Karena saya tahu betul, sifat, watak dan karakter tunangan saya itu,"
"Baiklah, den... Mbah paham, hanya ingin meminta pendapatmu,"
"Iya, Mbah... Orang itu berilmu tinggi, saya tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan dia... Saya harus memperdalam kemampuan saya dengan memasrahkan diri pada Allah SWT. Dengan berserah diri pada-Nya, itulah jalan satu-satunya untuk mematahkan 'teror' yang dikirimnya,"
"Benar, den... Itu adalah jalan yang terbaik, Mbah juga akan meminta teman-teman untuk membantunya. Bilamana perlu, aku akan mencari guru dari bocah itu,"
"Kata Mbah, Mbah Sena itu adalah saudara seperguruan Mbah ?"
"Benar. Tapi, guru membencinya karena ia terlalu berambisi untuk menjadi orang tak terkalahkan, berulang kali guru menasihatinya agar jangan sombong dan menerima serta menggunakan ilmu yang dipelajarinya untuk membantu orang... Tapi, yah... Iri hati, dengki dan benci telah membutakan mata hatinya... Mbah akan menemuinya dan mencoba mengembalikannya ke jalan yang benar," jelas Mbah Alas.
"Berhati-hati lah, Mbah... Kita kali ini berhadapan dengan orang-orang yang lebih kuat daripada kita. Saya tak ingin terjadi apa-apa pada Mbah Alas,"
"Tenanglah, den... Mbah takkan berbuat bodoh. Den Reksa dan Nduk Thia juga harus berhati-hati,"
***
Sosok-sosok mengerikan di sekitar rumahku, telah diusir oleh Mbah Alas, dikembalikan pada pengirimnya. Tapi, sampai sekarang beliau tidak mau menyebutkan siapa si pengirim itu, demikian pula Mas Reksa. Entah mengapa mereka merahasiakannya padaku. Aku masih ingat dengan pesan Mbah Alas beberapa hari yang lalu...
"Nduk, siapa pengirim itu, lebih bijaksana jika kau melihatnya sendiri, Mbah cuma bisa memberikan mantranya. Jika Allah SWT berkenan untuk memperlihatkan pelakunya kepadamu, terjadilah. Tapi, jika tidak janganlah kau memaksakan diri namun bersikaplah pasrah. Ketulusan dan keikhlasan adalah kunci dari semuanya itu,"
"Kak," panggilan itu membuyarkan lamunanku, itu adalah suara Ditha, baru saja aku hendak berdiri dan melangkah ke arah pintu kamar, pintu itu sudah terpentang lebar dan Ditha sudah berlari mendekatiku.
"Ada apa, Ditha ?" tanyaku.
"Beberapa waktu lalu, kakak menelepon Bi Yusi untuk mencarikan pembantu ?"
"Lalu ?"
Ditha mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, "Orang itu sudah datang, kak... Tapi, entah mengapa Ditha tidak menyukainya,"
"Dimana orang itu sekarang ?" tanyaku.
"Menunggu di luar, kak...Ditha belum mempersilahkannya masuk,"
Aku menatap Ditha dalam-dalam, "Ah, kau ini... Baiklah, kakak akan menemuinya," sambil berkata demikian kuelus rambut adikku yang panjang dan tersisir rapi itu lalu berdiri dan melangkah ke depan.
***
Wanita itu cantik, rambutnya panjang mengenakan pakaian long dress dengan motif bunga-bunga, bertubuh ramping namun padat berisi. Penampilannya begitu sederhana menarikku untuk segera menyambut dan mempersilahkannya masuk. Pandanganku beralih pada Ditha yang mendadak saja bersembunyi di belakangku saat wanita itu tersenyum ramah. Aku memang minta tolong pada Bi Yusi tetangga sebelah untuk mencarikan pembantu rumah tangga. Kesibukan di hotel membuatku harus pulang agak sore. Pukul 17:00, walau sebenarnya aku sudah capek bekerja disana dengan tatapan sinis teman-temannya Adnan gara-gara aku memutuskan hubunganku dengan Mas Adnan. Juga karena kedekatanku dengan Mama. Tak apalah, yang penting aku berusaha untuk tidak ikut campur pekerjaan mereka, peraturan harus tetap dijaga.
Namanya, Murni, berasal dari desa yang jaraknya cukup jauh dari Sekar Wadung ini, Rinuk. Setelah berbicara panjang lebar tentang kesepakatan kerja, maka kontrak kerja disepakati. Mulai hari itu Murni sudah bisa melakukan pekerjaannya di rumah.
Murni melakukan tugas-tugasnya dengan baik, namun, Ditha tetap tidak bisa menerimanya. Entah ada apa dengan anak itu, ia tampak ketakutan sekali bertatap muka dengannya, itu membuatku merasa tidak nyaman demikian pula dengan orang baru itu. Saat Murni datang Ditha selalu mengajak Felix bermain di luar.
"Ditha, sebenarnya apa masalahmu dengan Mbak Murni ?" tanyaku suatu hari.
Ditha tidak berani bersuara keras-keras, ia hanya berbisik di telinga, "Kak, dia bukan manusia," katanya.
"Jangan berkata seperti itu, dong, Dith... Darimana kau tahu kalau dia..." Ditha buru-buru membekap mulutku, "Jangan keras-keras bicaranya, kak... Ditha takut,"
"Kenapa mesti takut ?"
"Kalau kakak tetap bicara keras, Ditha tidak mau bicara lagi dengan kakak," katanya sambil membuang wajah, ia tampak cemberut... Aku tak tahu harus tertawa atau bagaimana menghadapinya, akhirnya aku mengalah, "Baik adikku yang cantik... Kakak menurut, kakak akan bicara pelan-pelan," kataku sambil menggelitik pinggangnya, dia tertawa-tawa riang. Kamipun bercanda sebentar menunggu agar anak itu tenang baru aku kembali berkata.
"Nah, kali ini jelaskan pada kakak... Mengapa kau berkata seperti itu,"
Dith memandangiku dengan wajah serius, aku balas menatapnya lalu ia berkata perlahan, "Kak, sebelum dia datang kesini, dia adalah seorang wanita aneh,"
"Aneh bagaimana ?" tanyaku.
"Waktu itu... Ada seorang laki-laki datang ke rumah Bi Yusi sambil membawa wanita aneh. Dia bergerak seperti robot, kulitnya putih pucat," jelas Ditha.
"Ditha sendiri mengapa bisa tahu ?"
"Mas Didik adalah teman bermain kami, kak... Kakak lupa kalau dia anak Bi Yusi ? Nah, waktu itu Ditha dan Kak Felix main disana saat laki-laki yang membawa wanita itu datang,"
Penjelasan yang menarik, tak mungkin Ditha berbohong, dia selalu berkata apa adanya, aku terus mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian.
"Ditha tanpa sengaja mendengar percakapan mereka, semula tidak tertarik tapi, setelah nama kakak disebut-sebut Ditha jadi tertarik dan mendengarkan percakapan mereka. Kak Felix pun ikut mendengarkan percakapan mereka,"
"Lalu..."
"Kalau tidak salah laki-laki itu menyebut-nyebut tentang paku... Yah, paku dia berkata seperti ini...
'Gunakan paku ini untuk merubah penampilannya, jangan sampai paku itu terlihat oleh siapapun, kalau terlihat dan sampai paku ini dicabut, dia akan menunjukkan wajah aslinya. Cynthia yang bodoh itu tidak akan tahu, siapa sebenarnya orang yang bekerja di rumahnya,'
'Mengapa kau begitu membencinya ? Padahal Thia adalah seorang wanita yang baik dan ramah,'
'Kau tak perlu tahu urusan pribadi kami, kerjakan tugasmu atau kau takkan pernah bisa bertemu dengan keluargamu lagi. Ingat nasib mereka ada di tanganku. Jadi jangan berbuat macam-macam. Kau turuti saja apa yang kuperintahkan, maka semuanya akan baik-baik saja,'
'Aku tidak tahu bagaimana cara meletakkan paku itu di kepalanya... Bukankah lebih baik kau yang melakukannya,'
'Dasar wanita bodoh. Baik aku akan memakunya, ingat jangan sampai paku ini terlihat oleh orang lain atau dicabut dari kepalanya... Kalau kau tidak ingin celaka,'
Tok ! Tok ! Tok !
"Bunyi itu terdengar sampai 3 kali, dan saat wanita itu keluar dari ruangan Bi Yusi, wanita itu sudah berubah menjadi seperti yang kita lihat sehari-hari, kak,"
Ditha mengakhiri ceritanya, aku termenung... Siapa laki-laki itu dan mengapa ia berbuat seperti itu pada kami... Dendam apa gerangan laki-laki itu padaku. Aku harus menanyakannya pada Mas Reksa.
__________
[Horor] S o s o k #9 ( Perburuan - Update )
Jam telah menunjukkan pukul 18:30, aku terlambat pulang karena harus menemani Mama jalan-jalan tanpa tujuan... Aku bosan harus menemaninya sehabis kerja seharian, aku capek dan ingin segera beristirahat. Tadi, sepulang dari jalan-jalan beliau ingin mengajakku keluar lagi entah kemana, aku terpaksa menolaknya... Tak peduli dia marah atau tidak yang jelas, aku harus segera pulang...
Kupacu sepeda motorku secepat mungkin, menyusuri jalanan-jalanan yang mulai gelap. 20 menit kemudian roda-roda sepeda motorku sudah menapaki jalan penghubung rumahku dengan jalan utama. Pada jam-jam segini, daerah situ mulai sepi dan lengang, lampu-lampu di tepi jalan seakan malas menerangi deretan pohon Jambe yang cukup lebat dan berukuran raksasa. Pepohonan itu bagaikan penjaga-penjaga raksasa dari dunia lain yang membuat siapapun tak berani melewatinya. Aku sudah terbiasa melalui jalanan itu, tapi, entah mengapa masih saja ketakutan. Aku menambah kecepatan laju sepeda motorku, aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Tapi mendadak aku menginjak pedal rem manakala seratus meter di depanku berdiri sesosok bayangan putih.
Sosok itu diam bagaikan patung, namun, saat kusorotkan lampu sepeda motorku, sosok itu menghilang. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, sekalipun aku penasaran dengan bayangan putih itu, aku tak ingin membuang-buang waktu lagi, aku harus segera tiba di rumah. Deru mesin motorku memecah kesunyian, sepeda yang kukendarai itu segera membelah angin, menerobos kegelapan.
Setelah terguncang-guncang di sadel motor lebih kurang 15 menit, sampailah aku di pintu gerbang rumah. Aku menghela nafas lega, setelah membuka gerbang dan memasukkan sepeda motorku, mendadak saja Murni sudah berada tepat di depan hidungku.
"Murni, ada apa denganmu... Kau membuatku terkejut saja," sapaku.
Murni tidak menjawab, ia diam sementara sepasang matanya tampak tajam mengamatiku, selama dia bekerja di tempat ini, dia memang tidak pernah tertawa atau tersenyum sekalipun. Ia hanya memandangi lawan bicaranya dengan tatapan tajam, kadangkala aku merasa takut menatap matanya lama-lama, seperti ada kekuatan magis yang membuatku bergidik ngeri.
"Nona sudah pulang," katanya datar dan dingin.
"Bagaimana Ditha dan Felix ?" tanyaku.
"Mereka baik-baik saja,"
"Bukan itu maksudku, apakah kau sudah mempersiapkan makan untuk mereka,"
"Mereka tidak mau makan sebelum nona pulang,"
"Berarti dari tadi siang mereka belum makan, ya?" tanyaku sedikit emosi.
"Mereka tidak mau makan saat saya suruh,"
"Baiklah... Dimana mereka sekarang ?" tanyaku.
"Di rumah Bi Yusi dari tadi siang,"
"Apa sebenarnya mau mereka ? Murni... Aku minta tolong... Pergilah ke Bi Yusi untuk menjemputnya," sahutku mencoba sebisa mungkin mengendalikan emosiku.
"Baik," kata Murni dan saat hendak melangkah keluar dari pintu gerbang tampak Mas Reksa dan Mbah Alas, Ditha dan Felix juga ada disana.
Entah aku harus senang atau bagaimana, "Selamat malam, Mbah... Selamat malam, mas... Kok mereka ada bersama kalian," kataku.
Saat itulah aku melihat Murni buru-buru meninggalkan tempat itu tapi, "Kau bernama Murni, kan ?" Mbah Alas memanggilnya, "Tunggu sebentar, nduk,"
Bagai tak mendengar panggilan Mbah Alas, Murni terus berjalan tanpa ekspresi sama sekali, aku mendadak menjadi kesal karena tingkah lakunya, "Murni !" seruku, "Begitu sikapmu pada orang tua ?! Tidak bisakah kau menghormati atau setidaknya memandangku sebagai tuan rumah,"
"Murni, aku tahu siapa kau sebenarnya, jadi kau tak bisa menyembunyikan identitas aslimu sebagai kuntilanak," seru Mas Reksa, "Apa sebenarnya yang telah dia janjikan kepadamu sehingga kau rela jadi budaknya,"
Murni menghentikan langkahnya, sementara Mas Reksa memberi isyarat padaku untuk mendekat ke arahnya, aku menurut, saat aku sudah berdiri di belakangnya, wanita itu membalikkan badan. Tatapannya dingin dan hampa seperti tak ada kehidupan disana, ia mengalihkan pandangannya ke arahku juga Ditha dan Felix.
"Hi... Hi... Hi... Hi..." Mendadak Murni tertawa mengerikan, "Siapa kau, apa yang kau ketahui tentangku... Hi... Hi... Hi..."
"Murni. Katakan pada kami, apa yang ia janjikan padamu sehingga kau sampai bergentayangan di tempat ini,"
Tatapan mata Murni tajam dingin dan menusuk mendadak saja bulu kudukku bergetar hebat, sementara, Felix dan Ditha memegangi tanganku kuat-kuat. Mereka bersembunyi di balik punggungku.
"Hi... hi.... hi... hi.... Dia berjanji mau mengembalikan anakku dan menghidupkan kembali kami berdua... hi... hi... hi... Aku rela memberikan diriku untuk melayani wanita itu, tapi, sampai sekarang dia malah mengingkari janjinya. Maka, aku bertekad untuk membunuh wanita itu dan mengambil si Ditha sebagai ganti anakku. Anak manis kemarilah, bibi akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan, Hi... hi... hi... hi..." Tangan Murni terjulur mengarah ke Ditha, tapi, Mbah Alas sudah menghadangnya.
"Aku tahu kau mencintai dan menyayangi anakmu... Tapi, tak seorangpun bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Dia telah merusak kebahagiaanmu, haruskah kau merusak kebahagiaan orang lain di dunia ini... Dengarkanlah, urusan duniawi, biar diselesaikan oleh yang masih hidup, alammu sudah berbeda... Kembalilah kau ke alammu, kami akan membantumu dengan doa agar kau dan anakmu, bisa berkumpul kembali di alam sana,"
Setelah Mbah Alas berkata demikian Murni jatuh bersimpuh di hadapannya, "Terima kasih, Mbah," katanya sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam tampak olehku sebuah cahaya kuning keemasan di ubun-ubun-nya. Mbah Alas menghela nafas panjang dan meraba ke arah benda berwarna kuning keemasan itu.
"Orang itu memang jahat, memasang paku di kepalamu. Mari kubantu mencabut pakumu agar kau bisa kembali ke asalnya dengan tenang," setelah berkata demikian mulut Mbah Alas komat-kamit. Detik berikut, benda sepanjang 75 cm, berwarna kuning keemasan keluar dari kepalanya. "Terima kasih, Mbah.... hi...hi...hi...hi..." Murni kemudian berdiri, kini wajahnya tampak pucat pasi, ia telah kembali ke bentuk asalnya dan perlahan-lahan menghilang sementara, Mbah Alas masih mengumandangkan doa-doa dan pujian kepada Allah SWT.
"Sebenarnya, dia sudah mengikutimu dari pertama kali masuk daerah ini, nduk," ujar Mbah Alas.
"Benarkah ?" tanyaku, mendadak saja aku teringat pada sesosok wanita berbaju putih yang berdiri di depanku beberapa menit lalu sewaktu berada di tengah hutan Jambe.
"Itulah sosok asli Murni yang sebenarnya, untung sekali adik-adikmu mengetahui kedatangannya pertama kali," kata Mas Reksa, "Kalau tidak... mungkin mereka hilang berhari-hari diculik olehnya. Dia memang sengaja dikirim olehnya untuk membuatmu menderita, Thia,"
"Katakan padaku siapa dia, mas.... Aku sudah tak bisa menahan diri lagi. Kalian selalu menyembunyikannya dariku, ada apa sebenarnya ?!"
"Tenanglah, nduk... Semua ini demi kebaikanmu juga demi untuk melindungi mu," ujar Mbah Alas.
"Melindungiku dari apa, Mbah ?! Tolong jangan buat saya penasaran lagi. Saya sudah muak dengan ini semua dan harus segera diakhiri,"
"Baiklah, Thia... Aku akan mengatakannya padamu sekarang," sahut Mas Reksa yang kemudian menoleh ke arah Mbah Alas untuk meminta persetujuan. Dan, apa yang dikatakannya membuatku tersentak. Aku tidak percaya bahwa yang berusaha menghancurkan kebahagiaanku adalah dia. Dan, aku baru menyadari alasan mereka menyembunyikannya dariku.
__________
[ Horor ] S o s o k #11
Setelah berjalan cukup lama, tibalah aku di sebuah bangunan tua yang dikelilingi oleh gerbang besi berwarna hitam. Pintu gerbang tersebut, tampak mengerikan dengan tanaman-tanaman merambat yang tumbuh liar disana-sini. Dengan ranting dahan kelor yang tergenggam erat di tangan kananku, aku berusaha menyingkirkan sebagian tanaman yang menutupi pintu pagar besi itu. Langkahku terhenti manakala ada sebuah celah yang memungkinkanku untuk lewat, tampaknya celah itu sudah lama ada dan ada bekas-bekas injakan kaki orang. Aku mengikuti bekas-bekas injakan tanpa khawatir ada ular atau apa yang kemungkinan bisa mencelakakanku.
Bangunan ini sudah ada sejak aku masih kecil dan selalu menjadi tempat bermain bersama teman-teman. Gudang penyimpanan barang-barang antik, milik salah satu pengusaha terkaya di desa Karang Ireng ini. Banyak rumor yang beredar dari penduduk setempat tentang bangunan ini setelah ditinggalkan oleh pemiliknya. Rumor itu masih beredar sampai sekarang, salah satunya adalah tempat ritual ilmu hitam. Selain itu ada pula rumor tentang sosok siluman ular penjaga tempat ini yang suka memakan daging anak-anak di bawah 10 tahun. Rumor tersebut dikuatkan oleh adanya kesaksian beberapa orang penduduk yang menemukan tulang belulang di sekitar tempat itu. Juga kerap kali terdengar suara tangisan anak kecil di malam-malam tertentu, barangsiapa yang secara sengaja ataupun tidak sengaja mendengarnya, dalam waktu tak kurang dari seminggu, dia akan jatuh sakit dan berujung pada kematian.
Karena begitu banyak rumor mengerikan lainnya yang beredar, maka, tak seorangpun berani menginjakkan kakinya di tempat ini hingga akhirnya terlupakan. Akan tetapi, jika ada seseorang yang mendatangi tempat ini tanpa adanya niat buruk, maka, ia bisa dipastikan tidak akan apa-apa, hal-hal yang buruk akan menjauh.
Aku merasa heran, suasana di sekitar tempat itu begitu gelap gulita, namun aku bisa melihat sekeliling bangunan itu dengan jelas seakan aku dikelilingi oleh bias-bias cahaya, menuntunku hingga akhirnya sepasang mataku dapat melihat seorang pemuda bertubuh gempal dan tegap duduk bersila di salah satu sudut ruangan. Wajahnya menunduk, mulutnya komat-kamit, sesekali tangannya menaruh pecahan serbuk coklat kehitaman pada sebuah guci terbuat dari tanah liat, sementara di dalam guci itu tampak bara api membakar potongan-potongan kayu kering. Saat serbuk-serbuk coklat kehitaman itu ikut terbakar oleh api, aroma harum memenuhi tempat itu dan sesekali terdengar bunyi gemerantak bercampur ledakan-ledakan kecil membuatku semakin tak nyaman.
Aku terus berjalan mendekat, pemuda itu seakan tidak menyadari keberadaan ku, ia terus menaburkan serbuk-serbuk coklat itu ke dalam guci, asap putih tipis segera melayang-layang di udara membentuk bola api yang cukup besar untuk kemudian melesat tinggi ke udara, berputar-putar sejenak lalu meluncur cepat menuju ke arah Utara, dimana Mbah Alas dan mas Reksa berada. Kali ini aku mendengar ledakan yang lebih keras daripada ledakan-ledakan sebelumnya, pemuda itu tersentak, tubuhnya terdorong mundur nyaris menabrakku. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas, siapa pemuda itu... Dia adalah Adnan. Aku masih tidak percaya dengan pandangan mataku sendiri, tapi itulah kenyataannya. Terlebih lagi aku melihat isi guci itu ternyata selain arang, ada pula foto wajahku, Bi Yusi, Mas Reksa dan Mbah Alas juga rumah kami. Semuanya diikat menjadi satu dengan benang berwarna merah, foto-foto itu masih utuh sekalipun api masih berkobar dan membakar barang-barang lain menjadi abu.
"Kurang ajar," umpat pemuda itu, "Banyak juga yang melindungi wanita jalang itu, jika terus menerus begini, tenagaku bisa terkuras habis. Sama sekali tidak pernah kuduga aku mengalami kesulitan untuk membunuh Yusi yang telah mengkhianatiku juga wanita jalang itu. Haruskah aku mundur ? Yusi harus mati dan wanita jalang bernama Cynthia itupun harus mati karena telah menolakku, mempermalukanku... Tidak. Aku harus menyelesaikannya sekarang,"
'Wanita jalang', berulang kali Adnan memanggilku dengan sebutan itu... Membuatku naik pitam, seumur hidupku belum pernah ada orang yang menyebutku seperti itu. Tidak pernah. Tapi, pemuda ini...berani mencaciku demikian, baiklah... Semula aku merasa iba padanya, aku hendak mengurungkan niatku untuk tidak menggunakan ranting ini sebagai senjataku. Aku mengangkat tinggi-tinggi ranting kelor itu dan hendak memukulnya, tapi, mendadak tanganku seperti ditahan sesuatu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah tersebut dan tersentak manakala ada sesosok tinggi besar mencengkeram tanganku. Sosok itu menggeram, aku berontak sekuat tenaga bermaksud melepaskan diri darinya. Namun, semakin kuat aku berontak, semakin kuat pula cengkeramannya.
"Lepaskan aku, makhluk bau !" seruku.
Makhluk itu tidak menjawab melainkan menyeringai mengerikan, aku ketakutan sekali mendadak aku teringat oleh kata-kata Mbah Alas, "Nduk, derajat kita lebih tinggi daripada makhluk sejenis jin dan lain sebagainya, kita lebih sempurna. Mereka kelihatannya kuat tapi sebenarnya lemah asal kita berserah pada Allah SWT dan mendoakan mereka,"
Aku tidak lagi berontak, namun, menatapnya dengan tatapan iba, setelah itu dengan membacakan mantra yang telah diajarkan oleh Mbah Alas sosok itu perlahan-lahan hilang dan aku terbebas dari cengkeramannya.
"Nduk... Cepatlah, tak ada waktu lagi," ucapan itu terngiang-ngiang di telingaku.
"Kita berasal dari debu maka akan kembali ke debu, kita memang lemah, tapi, setelah berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT, kelemahan akan jadi kekuatan kita. Dulu kita lemah maka akan kembali lemah, segala sesuatunya kupasrahkan pada Tuhan. Biarlah Dia yang mengambil semua yang kita punya dengan perantaraan kayu ini," Setelah berkata demikian sambil merapal ayat-ayat kursi yang kudapat dari Mbah Alas, aku mencium batang ranting itu dan....
"Wwuutthh..."
Kayu itu terayun, membelah angin, membelah kepulan asap yang keluar dari guci di hadapan Adnan dan saat kayu yang masih ditumbuhi daun-daun kelor menepuk punggung Adnan, pemuda itu menjerit tertahan, ia terkejut sama sekali tidak menyangka adanya serangan gelap. Saat Adnan menatapku, pandangannya seakan kosong, tapi, "Keparat mengapa ada ranting kelor di tempat ini dan memukulku, siapa si pemukul itu," ia memang tak bisa melihatku, entah kenapa, sepasang matanya memerah, Semerah wajahnya yang dibakar oleh kemarahan, dengki, iri hati dan dendam... Ia tampak menyeramkan sekali. Kembali kuayunkan ranting kelor itu ke arah dahinya.
"Wwuutthh..."
"Pprraakkhh..."
Ranting kelor itu kembali membelah angin dan mendarat tepat pada dahi Adnan. Kulit dahinya terkelupas, pemuda itu menjerit-jerit kesakitan, tubuhnya ambruk dan bergulingan di tanah, jeritannya kian menjadi-jadi. Hatiku seakan disayat-sayat sembilu mendengarnya, sementara kayu itu terus terayun dan mendarat di sekujur tubuhnya.
Teriakannya makin nyaring, teriakan pilu dan menyayat. Tubuhnya terus berguling-guling di tanah, bergetar hebat, mengejang dan akhirnya berhenti, bajunya kotor basah oleh keringat padahal udara di malam itu terasa dingin setelah perang spiritual yang menegangkan itu berhenti. Aku benar-benar merasa iba melihat keadaannya itu. Tapi, entah mengapa tiba-tiba tubuhnya menghilang dan aku sudah berada di tempat lain...sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku halaman rumah Bi Yusi sementara Mas Reksa dan Mbah Alas tengah duduk di beranda rumah. Apakah aku baru saja bermimpi ?
"Mas Reksa, apa sebenarnya yang telah terjadi ?" tanyaku.
"Kau berhasil melumpuhkan kekuatan magis Adnan, Thia," jawab Mas Reksa, "Tanpa adanya bantuanmu, kami belum tentu sanggup menghadapinya,"
"Lalu... Bukannya tadi aku berada di tempat dimana Adnan berada ?"
"Tadi kau sempat mengalami apa yang dinamakan Near-Death Experience ( NDE ). Peristiwa dimana manusia berada tak jauh dari gerbang kematiannya. Untunglah kau bisa kembali dengan selamat,"
"Mengapa ini terjadi padaku ?" tanyaku.
"Hati manusia, siapa yang bisa menebak, nduk Thia," ujar Mbah Alas, "Berawal dari cinta... Pekerjaan hingga iri hati, benci dan dendam. Semuanya berasal dari nafsu dunia yang menggebu-gebu karena tak memperoleh apa yang diinginkannya, manusia membuat perjanjian dengan makhluk-makhluk sebangsa jin untuk mendapatkan semua keinginannya secara mudah,"
"Lalu dimana Adnan sekarang ?"
"Dia sudah tidak memiliki apa-apa, dan Ki Sena. Adnan adalah muridnya, maka, dia menjadi tanggung jawabnya. Kau tak perlu lagi mencemaskannya, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu seperti biasanya, Thia,"
"Apakah semuanya sudah berakhir ?" tanyaku ragu-ragu.
"Ya, nduk... Semuanya sudah berakhir. Mbah ucapkan terimakasih atas bantuanmu. Satu pesan Mbah... Kau harus bisa mengendalikan kemampuanmu itu agar ke depannya tidak membuatmu celaka. Dan, pergunakanlah untuk membantu sesama,"
***
Yah, setelah peristiwa Adnan, aku memiliki kemampuan yang sama sekali tak pernah terpikirkan dalam hidupku. Kemampuan melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia biasa pada umumnya. Aku menjalankan pekerjaanku seperti biasa, sosok-sosok itu sudah tak terlihat lagi, namun, untuk sosok-sosok tempatku bekerja, masih bergentayangan. Untuk sementara aku tidak mempedulikannya selama mereka tak menggangguku ataupun mengganggu para tamu. Memang, pertama kali mendapatkan kemampuan itu, aku seperti orang gila. Dimana-mana tampak olehku sosok-sosok mengerikan, terkadang mereka usil namun yang jelas sosok itu bukanlah kiriman dari seseorang tapi mereka memang ada disitu hingga urusan mereka di dunia ini usai.
----- T A M A T -----
Sabtu, 17 September 2022