Srak! Srak! Srak! Dedaunan saring bergemerisik, kala telapak kaki seorang wanita memijaknya. Hewan-hewan berlarian menjauhinya. Wanita itu berlari secepat kilat di antara pepohonan, menembus kegelapan. Napasnya mulai terasa sesak. Ayunan kakiya semakin melambat dan tidak teratur, tapi dia tidak menyerah. Wanita itu tetap melangkah maju ke depan, meski kegelapan mengiringinya.
Srak! Srak! Terdengar langkah kaki di belakang wanita itu. Suaranya semakin mendekat. Wanita dengan gaun malam berwarna hitam itu menegakkan telinganya, menelisik arah suara langkah kaki di belakangnya tersebut. Kakinya tidak bisa diajak berlari lagi. Seluruh urat syarafnya tegang dan terasa keram. Tetapi dia harus segera pergi dari sini, agar tidak tertangkap.
“Sayang, kamu di mana? Aku bisa mendengar langkah kakimu. Tolong tunggu aku.” Seorang pria bersuara berat, memanggil wanita tersebut.
Bukannya berhenti, wanita itu justru semakin mempercepat langkahnya. Telapak kakinya yang tanpa alas, terasa perih akibat duri tanaman liar yang merambat. Dia pun berjalan berjingkat-jingkat, menjauhi pria tersebut.
Udara dingin berhembus melalui punggung wanita tersebut. Dengus napasnya terdengar jelas, di tengah belantara yang sunyi ini. Wanita berambut panjang itu menutup mulutnya, agar suara napasnya teredam. Dia lalu berjalan mengendap-endap, mencari tempat persembunyian yang tepat.
Secercah cahaya dari bulan, menerangi barisan pepohonan yang tumbuh rapat. Rupanya awan yang tadi menaungi sinar bulan, telah berpindah bersama sang angin. “Tidak, ini bahaya. Dia bisa melihatku kalau hutan ini terang,” batin wanita itu dengan gelisah.
“Nina sayang, kamu di mana? Kamu tega membuat suamimu susah begini?” pria itu terus memanggil-manggil wanita yang bernama Nina itu. Langkah kakinya semakin terdengar dekat. Nina menahan napasnya, agar tidak didengar oleh sang suami.
“Ayo dong keluar, malam ini kita harus melakukan operasi hidung dan bibir. Aku akan membuatmu semakin cantik dan menutup mulut orang-orang itu” ujar pria tersebut.
“Itu dia masalahnya. Aku nggak mau dioperasi. Kamu telah membuatku bagaikan monster,” batin Nina sambil bergerak perlahan. Tak! Sebuah ranting patah karena pijakan kakinya. Nina buru-buru menghentikan langkahnya.
“Ah, kamu di sana rupanya. Aku bisa mencium bau parfummu, lho,” ujar pria itu. Sinar bulan terpantul dari sebilah pisau tajam yang dipegangnya. Nina semakin ngeri melihatnya.
“Gawat! Dia semakin dekat. Aku harus gimana? Kenapa juga tadi aku menyemprotkan parfum ke gaun ini,” sesal Nina. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, setiap mendengar langkah kaki pria itu di atas ranting dan dedaunan. Wanita itu terpaksa melepaskan gaunnya, demi keselamatannya. Dia rela berjalan di hutan hanya dengan korset dan celana pendek, asalkan nyawanya selamat.
Pria itu sangat mengerikan. Dulu Nina sangat mencintai dan mengagumi Nino, suaminya. Pria yang tujuh tahun lalu masih menjadi mahasiswi kedokteran, mencintai Nina apa adanya. Gadis dengan kulit gelap, tubuh sedikit berisi dan hidung layaknya wanita Indonesia, tidak membuat Nino berpaling dari Nina. Pria itu tidak pernah tergoda dengan gadis-gadis cantik dari fakultas kedokteran tempatnya belajar.
Sayangnya, semua kebahagiaan yang dirasakan Nina perlahan memudar. Semuanya berubah setelah mereka menikah. Nino ternyata memiliki maksud lain, ketika menikahi Nina. Dia ingin menjadikan sang istri sebagai bahan prakteknya, sebagai dokter bedah plastik. Ya, itulah alasannya, mengapa Nino memilih Nina yang buruk rupa. Tentu saja agar dia bebas membentuk rupa wanita itu sesuai keinginannya.
Sejak pernikahan tahun pertama, sedikit demi sedikit, Nino memaksa sang istri untuk berbaring di meja operasi sepanjang waktu. Mula-mula, dia membedah hidung sang istri agar lebih mancung, selanjutnya, dia pun membedah bagian lainnya, sesuai keinginannya. Jika hasilnya buruk, maka dia pun membedahnya lagi.
Selama lima tahun pernikahan mereka, Nina sudah dioperasi lebih dari dua ratus kali secara illegal. Sang suami selalu merasa tidak puas dengan hasilnya. Pria kejam itu, tidak pernah mengindahkan permohonan Nina, untuk menghentikan hobinya yang aneh.
“Aku akan membuatmu menjadi wanita tercantik di dunia,” ujar Nino. Akan tetapi yang terjadi justru berbeda. Nino membuat sang istri lebih mirip monster. Tujuh puluh persen tubuh Nina adalah hasil implant dan operasi. Bahkan kelopak mata dan telinganya saat ini sudah tidak asli lagi. Dulu, Nino pernah membuat kesalahan ketika memperindah bagian itu.
Malam ini setelah pulang dari pesta seorang kerabat Nino murka. Para tamu menyebut bibir sang istri terlalu tipis. Hidungnya yang mancung juga terlihat mengerikan. Tanpa pikir panjang, Nino pun memutuskan untuk mengoperasi sang istri sekali lagi.
“Hah … Hah … “ Nina menghembuskan napasnya. Jaraknya dengan sang suami telah semakin jauh. Aroma pasrfum di tubuhnya telah jauh berkurang, sejak dia melepaskan gaunnya.
Sinar rembulan kembali meredup. Angin berembus cukup kencang, membuat dedaunan kembali bergemerisik. Beberapa hewan liar pemakan tumbuhan, berlari di hadapan Nina.
“Aha! Di sini kamu rupanya.” Tanpa Nina sadari, sang suami telah berada di balik punggungnya. Pria itu mencengkeram lengan Nina, agar tidak dapat kabur lagi. Desau angin kencang tadi, menyamarkan suara langkah kaki dokter gila itu.
“Lepaskan aku!” Jerit Nina. Dia meronta untuk melepaskan cengkeraman Nino di tubuhnya. Sret! Setangkat ranting pohon menyambar wajah Nina. Wanita itu mendadak merasa perih di wajahnya. Pluk, hidung implannya terjatuh ke tanah.
“Mau lari ke mana, sayang? Aku suamimu. Kenapa kamu malah pergi dariku?” ucap Nino di telinga Nina.
“Kamu bukan suamiku! Kamu pria psikopat yang gila operasi. Tubuhku hancur gara-gara hobi anehmu. Kamu itu monster!” teriak Nina sekuat tenaga. Dia berharap ada seseorang yang mendengarnya. Rasa takutnya lebih besar daripada rasa di tubuhnya.
Ternyata pilihan Nina untuk membeli rumah di pinggiran desa dekat hutan lindung adalah kesalahan besar. Tempat itu menjadi lokasi yang sempurna bagi Nino, untuk melancarkan aksinya. Jarang sekali orang melintas di dekat rumah mereka, apalagi di dalam hutan seperti ini.
“Kenapa kamu begitu, sih? Padahal aku hanya membantumu untuk tampil lebih cantik,” ujar Nino.
“Lepaskan aku, brengsek!” Nina mengayunkan kakinya, dan menendang betis pria di belakangnya.
Tak! Terdengar bunyi yang sangat keras. Nina meringis kesakitan. Ternyata tulang kakinya retak. Wanita itu lupa, dulu Nino pernah mengimplan tulangnya, untuk menambah tinggi badannya.
“Lihat? Tulangmu retak lagi, kan? Itulah akibatnya kalau melawan suami. Hah, aku terpaksa melakukan tiga operasi malam ini.” Nino menyeringai lebar pada istrinya. Sinar rembulan menerangi wajah pria itu dengan jelas. Dokter gila itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi untuk mencegah Nina kabur.
“Ayo, pulang denganku. Kita akan menghabiskan malam yang panjang bersama,” bisik Nino.
Bruk! Nina menjatuhkan menjatukan tubuhnya ke tanah. Dia pura-pura menyerah, dan mencari celah untuk kabur.
"Ah, aku berubah pikiran. Dari pada membawamu pang ke rumah, kenapa tidak mengerjakan di sini aja, ya? Kamu pasti bakal kabur lagi nanti." Nino menarik rambut Nina untuk mencegahnya pergi.
Tak tik Nina gagal besar. Dia terperangkap di tengah hutan bersama pria psikopat tersebut.
Sret! "Kyaaaa!" Jeritan Nina ketika pisau tajam itu menyentuh kulitnya, membuat burung-burung di hutan beterbangan. Untuk kesekian kalinya, Nina gagal kabur dari dokter gila itu.
(Tamat)