Malam telah tiba, suara jam dinding berdenting saat hujan terdengar gemericik membasahi tanah aspal jalanan yang sepi. Rudi adalah anak SMA dengan wajah yang cukup tampan. Dia baru saja pulang sehabis melakukan kerja kelompok dengan temannya dan wajahnya tampak terpelintir, dia sangat lelah.
Membaringkan beban lima puluh kilogram di kasur yang empuk, dia memejamkan mata dan seluruh tubuhnya tampak tenang dan rileks. Beberapa saat kemudian, suara hujan mulai terdengar. Namun makin lama, suara hujan semakin terdengar deras, membuatnya semakin tidak bisa tidur.
Rudi membuka pakaiannya dan melemparnya di kasur dan masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam, dia membasuh tubuhnya dengan sabun dan air. Kemudian dia keluar sambil mengusap tubuhnya dengan handuk putih polos dan mulai memakai pakaiannya.
“ Nak, Ibu bawa makanan untukmu,”sahut ibunya yang sudah mengetuk pintunya dua kali.
“ Iya bu !” jawab Rudi yang sedang memakai pakaiannya.
Rudi berjalan keluar dan menuruni tangga. Dia berjalan mendekati ruang makan yang di sana telah disediakan meja makan dan perabotan makan yang sudah siap untuk digunakan.
Di sana ada adiknya, ayahnya, dan tentu saja ibunya yang sedang menuangkan makanan ke sebuah piring.
Rudi mengusap rambutnya sebelum dia meraih kursi dan duduk dengan tenang. Mereka mulai makan selama beberapa menit. Setelah selesai, Rudi membuang piringnya ke wastafel dan membasuhnya sebelum kembali ke kamarnya lagi.
Dia membuka laptopnya dan menonton film di youtube. Hujan masih belum berhenti, membuatnya sedikit kesusahan untuk mendengarkan film karena hujan semakin lebat dan tidak ada keinginan untuk berhenti.
Rudi memutuskan untuk tidur, ditambah lagi jam telah menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Jam di dinding mulai menunjukkan pukul sembilan malam dan keluarganya sudah tidur, termasuk dia yang sudah sangat tenang.
Dok.. Dok…Dok….
Suara pintu di ketuk memecah keheningan yang membangunkan tidur lelapnya. Rudi menggilas matanya dan berdiri dengan lunglai. Rudi berjalan, dan pandangannya masih buram, dia masih mengantuk.
“ Siapa sih, ganggu orang tidur saja !” keluh Rudi sambil memegang gagang pintu dan hendak membukanya.
Membuka pintunya, tidak ditemukan siapapun di dalam. Dia tidak tahu siapa yang baru saja mengorek pintunya. Penasaran, dia berjalan sambil melihat sekeliling mencoba menemukan pelakunya.
Tapi setelah sampai ke dapur, dia tidak menemukan siapapun. Karena sangat haus dan lelah, Rudi menaikkan tuas dispenser dan air mineral mulai masuk ke dalam gelas kaca beningnya.
Rudi mematikan tuas dan mengambil gelasnya dan mulai minum. Setelah puas minum, suara mulai terdengar dari kejauhan dan kali ini ada suara pintu dibanting.
“Apa lagi ini ? Ga lucu bercandanya !” Rudi tampak kesal karena menderita lelucon ini. Lelucon ini telah membangunkannya dari tidur nyenyaknya, dia jelas tidak terima dengan hal ini.
Rudi berlari dan membuka kamar tidurnya, tapi masih tidak menemukan siapapun. Meskipun kesal, Rudi akhirnya memutuskan untuk tidur dan malas meladeni lelucon siapapun yang membuatnya.
Jendela terbanting dan hujan semakin deras saat kilatan cahaya ungu terang menyala dan memberikan suara dentuman yang menghancurkan dunia. Rudi masih terlelap saat suara angin sepoi-sepoi yang mengalir diluar diiringi dengan derasnya hujan masih membara.
Suara gonggongan anjing terdengar keras dibalik hujan dan ada juga suara lain yang bercampur dengannya.
Rudi terbangun, jelas wajahnya sangat mengantuk, namun dia melihat jendela kamarnya mulai terbuka lebar. Dia mulai berdiri dan hendak menutup jendela kamarnya. Namun saat dia hendak menutup jendela kamar, dia sedikit menengok lingkungannya yang diguyur hujan.
Pandangannya mulai teralihkan ke suatu sisi dimana di bawah ada ayunan putih dan sosok wanita berambut panjang sedang bermain ayunan.
Dari kejauhan tidak bisa dipastikan siapa, tapi Rudi menebak kalau wanita itu seusia dengannya.
Ngapain dia bermain ayunan saat hujan deras ?
Rudi tidak habis pikir saat dia melihat kejadian konyol di depannya dan mencibir. Dia menutup jendelanya. Dari kejauhan, sosok wanita itu menatap tirai yang tertutup dan masih menjalankan ayunannya.
Rudi terpejam,bersama dengan guling yang dia peluk dan selimut yang menutupi setengah tubuhnya, dia sudah siap untuk tidur dan tidak ingin terganggu lagi. Ketenangan mulai berlangsung dan hujan masih belum berhenti.
Jam demi jam berdentang seperti suara stik drum dipukul dengan sangat pelan, waktu menunjukkan pukul sebelas dan langit semakin gelap.
Rudi tampaknya merasakan dingin di wajahnya dan tidak dapat tidur, apalagi dia masih memikirkan wanita aneh yang masih bermain ayunan ditengah hujan deras yang melanda.
Hujan masih belum berhenti dan masih menunjukkan keganasannnya dengan angin menderu dan suara hujan yang terbanting di tanah.
Rudi yang tidak bisa tidur memutuskan untuk membuka jendela dan memeriksa kondisi gadis yang bermain ayunan. Dia terkejut, wanita itu masih bermain sampai selarut itu ditengah hujan angin. Apa dia tidak takut terkena demam ?
Memikirkan itu, suara cekikikan terdengar menyatu dan menyatu dengan hujan lebat dan angin kencang. Rudi mulai merasakan bulu tengkuknya sedikit berdiri dan hawa dingin menusuk melewati kulitnya, membuatnya sedikit menggigil.
Rudi menatap gadis yang bermain ayunan dengan ngeri. Kembali ke kasurnya, dia segera memasang selimutnya dan memeluk gulingnya untuk menambah rasa kenyamanan. Suara cekikikan yang lirih masih terdengar membuatnya semakin histeris.
Dia memang tidak berteriak, tapi hatinya telah diselimuti oleh air yang hampir menenggelamkannya ke dalam ketakutan.
Merasakan seperti sedang diawasi, dia membuka selimutnya dan pandangannya mulai mengarah ke arah jendela. Di sana, dia melihat sosok rambut panjang tergantung dengan pakaian putih. Sosok itu menangis tidak jelas, mukanya tertutupi rambut panjangnya yang mencapai bahu.
Aroma bunga melati tercium deras dan membasahi hidungnya. Rudi tidak tahu darimana aroma itu berasal, tapi dia merasa kalau itu bukan hal baik.
Rudi semakin ketakutan, tapi dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya, “ Siapa kamu ?”
Tidak ada respon…
Wanita itu seolah-olah baru saja mengalami kecelakaan dan kehilangan telinganya, dia tidak mendengarkan pertanyaan Rudi.
Karena tidak menerima respon dari pihak lain, Rudi bangkit dari kasurnya dan hendak berjalan keluar. Sosok itu belum menghilang dan hanya meringis dan menangis tersedu-sedu di balkon.
Rudi mencoba menarik pintu kamarnya, namun tidak bisa. karena semakin ketakutan, dia memilih untuk memejamkan mata. Hanya dalam dua nafas, dia mulai membukanya lagi dan menemukan sosok itu telah menghilang ke suatu tempat.
Rudi menghela nafas lega. Baru saja ada hantu di depan jendelanya dan dia hampir terkencing di celananya. Untungnya, sosok mistis ini tampaknya tidak ingin mengambil banyak akun dengannya, jadi dia menghela nafas berat.
Pintu digedor lagi, Rudi yang awalnya terlihat bahagia mendadak menjadi sangat suram. Dia gemetaran dan memberanikan diri untuk berdiri saat dia mulai menurunkan gagang pintu.
Rudi hampir terkena penyakit jantung. Menatap sosok putih yang berdiri dengan rambut panjang yang terurai ke wajahnya sambil tertawa cekikikan tidak jelas.
“ Ahhhhhh !”
“ Selamat ulang tahun Rudi !” Sosok itu tersenyum hangat membuat Rudi yang kejang-kejang mendadak menstabilkan kondisinya.
“ Li… Lina ? Apa yang kamu lakukan di rumahku ?” Rudi kebingungan, tapi wajahnya yang histeris masih belum hilang sepenuhnya.
Lina menjawab, “ Tentu saja untuk mengejutkanmu.”
“ Kamu hampir saja membuatku mati ketakutan,” ujarnya saat dia memalingkan wajahnya.
“ Maaf, tapi ini semua bukan ideku saja, tapi Ibu juga memikirkan hal yang sama. Lagian ini adalah ulang tahun mu yang ke tujuh belas, masa dirayakannya tidak spektakuler ?” sosok wanita paruh baya yang memiliki penampilan muda berjalan.
“ Hah, Ibu juga ?” Rudi semakin gelagapan.
“ Selamat ulang tahun kakak !” Sosok gadis kecil membawa kue ulang tahun.
DI atas kue itu, ada lilin berbentuk angka tujuh belas dan api yang menyala di sumbunya.
Rudi meniupnya dengan khidmat. Mereka mulai tertawa bahagia dan memotong kuenya dan memakan rotinya.
Di saat tengah memakan kuenya, Rudi bertanya ke Lina, “ Lina, kamu terlalu totalitas."
" Maksudnya ? " Lina agak bingung.
" Kamu kan yang tadi di luar bermain ayunan ?"
" Jangan bercanda Rud, hujan deras gini, siapa yang mau main ayunan. Gila kali !"
Mendengar kalimat penolakan itu, Rudi semakin bingung, namun dia tidak ambil pusing.
Setelah acara berakhir, Lina memilih menginap dan tidur di kamar adiknya. Rudi juga mengantuk dan memilih kembali ke kamarnya.
Saat sedang tidur nyenyak, jendela mulai terbanting dan segera dia terbangun.
" Apa sih, tidur aja Lo ! Kok banyak banget gangguannya !" Rudi mendengus dan berteriak kencang.
Namun emosinya menghilang saat dia melihat sosok wanita berambut panjang dan berbaju putih sedang menyeringai. Darah mengucur di pakaiannya dan wajahnya yang pucat dan menakutkan menjadi paket lengkap bagi sosok itu.
" Aahhhhhhhhhhhhhhhh !"
Rudi tergeletak dan tidak sadarkan diri. Besoknya, dia mulai terbangun sendirinya sedang di kasurnya, namun Lina, Ibunya, serta Adiknya sudah menunggu di sebelahnya.
Lina mengambil inisiatif dan memulai pembicaraan , " Rudi, kamu gapapa, kan ?"
" Aku gapapa, cuma lelah aja sih kemarin !"
Rudi lebih memilih menyimpan pengalamannya kemarin. Pengalaman melihat penampakan yang menyeramkan adalah hal yang harus dia simpan sendiri di dalam hatinya yang terdalam.
Tamat....