Aku sudah menjadi seorang CEO di perusahaan pamanku selama 4 Tahun lebih tepatnya satu Minggu lagi aku memberikan kontribusi di perusahaan miliknya sebanyak 5 Tahun. Terkadang aku bosan dengan hidup yang hanya begitu begitu saja. Oh ya Namaku Sanjia Nugroho biasa di panggil Sanji oleh beberapa orang. Hari ini aku benar benar kacau dengan segala hal yang tidak terkendali, hampir 50% perusahaan yang menjadi investor membatalkan investasinya karena alasan alasan mereka yang tidak masuk akal, Lalu temanku Gio satu satunya terserang penyakit sehingga dia tidak bisa membantuku dalam melakukan banyak hal dan menggantikan posisi sekretaris Mia yang tiba tiba berhenti. Aku pikir mungkin aku harus mencari sekretaris baru untuk menggantikan posisi Mia namun aku tidak tahu aku akan mendapatkan sekretaris yang kompeten dimana. Sudahlah biarkan saja, Aku sudah merasa duniaku hancur tiba tiba.
"Sanji, Bagaimana dengan persiapan ulang tahun perusahaan?" Aku terkejut dengan suara berat pria yang aku sangat kenali yaitu pamanku Zaenal.
"Belum ada persiapan sama sekali!" Ucapku acuh karena aku sudah bingung dengan urusan perusahaan yang lebih penting menurutku daripada acara pesta ulang tahun yang tak begitu penting. Untuk apa kita melaksanakan ulang tahun perusahaan jika perusahaan itu dalam keadaan di bawah. Bagaimana jika tiba tiba bangkrut setelah melaksanakan ulang tahun perusahaan secara meriah.
"Lah bagaimana kamu bisa mengabaikan hal sepenting itu!" Tanya Zaenal dengan wajah yang marah.
"Oh ayolah paman, aku sedang bingung karena Gio sedang sakit sehingga tidak ada yang bisa aku andalkan sedangkan aku tidak mempunya asisten ataupun sekretaris, Aku harus melakukan segalanya sendiri! Jika paman ingin melakukan hal yang ingin paman lakukan yasudah silahkan lakukan! aku sudah cukup membantu bukan untuk perusahaan ini?"Ucapku karena aku benar benar sudah depresi dengan keadaannya yang benar benar tidak terkendali dan hancur.
"Untuk sekretaris aku sudah menemukan orang yang tepat dan mungkin lebih kompeten dari Mia!" Ucap Paman Zaenal membuat aku sedikit lebih lega.
"Lalu, untuk Asisten sementara kamu hubungi Robin karena dia akan pulang besok dari luar negeri. biarkan dia bekerja disini sebagai asisten sementara sekalian kamu ajarkan dia bagaimana cara menjadi CEO" Ucap Paman Zaenal. Robin merupakan anak pertama paman Zaenal yang memiliki umur lebih muda 10tahun dariku.
"Baiklah aku serahkan urusan itu pada paman saja. aku akan mengurus hal lain terlebih dahulu" Ucapku lalu berpamitan pergi untuk melakukan meeting lagi dengan para investor.
....
Setelah kemarin seperti segalanya menjadi masalah hari ini aku mendapatkan kabar baik yaitu semua proposal pengajuanku telah lolos dan berhasil menarik perhatian para investor yang bahkan lebih baik dari investor sebelumnya. Karena kemarin aku tidak sempat pulang alhasil aku bermalam di kantor sendirian, untungnya ruangan CEO ada tempat tidur juga.
Aku melihat Jam masih pukul 06.00 dan masih 3 jam lagi kantor akan mulai ramai karena jam masuk kerja di perusahaan milik paman Zaenal adalah jam 09.00. Aku bergegas menuju kamar mandi dan hanya membutuhkan sekitar 40menit untuk mandi dan ganti baju. Aku keluar dari kamar dengan setelan rapi menuju kantin dekat kantor untuk sarapan.
Brukk..
"Astaga sejak kapan di depan kamar ada tembok?" Ucapku karena kesal. Saat aku melihat sosok itu aku bertambah terkejut. Ya, Seorang wanita berambut Ungu panjang dan berkulit putih menggunakan pakaian kantor yang elegan. Bidadari darimana ini? Pikirku.
"Maaf anda siapa di ruangan CEO?" Tanya wanita itu padaku membuat aku berpikir apakah dia tidak salah bertanya? seharusnya aku yang bertanya begitu.
"Ekhem. Maaf anda siapa masuk keruangan saya tanpa izin?" Tanyaku dengan dingin.
"Ah maaf apakah anda CEO? Saya Namira Sekretaris baru yang di perintahkan oleh pak Zaenal! Tadi saya hendak mengambil pakaian untuk Pak Robin karena dia baru tiba dari luar negeri dan di perintahkan untuk langsung kesini, dan pak Zaenal bilang ada beberapa pakaian di ruangan CEO sehingga saya kesini!" Ucap wanita itu lancar.
"Oh. Yasudah ambil saja dan jika sudah cepat keluar dari ruangan saya!" Ucapku tidak tahan melihat tubuhnya yang menurutku benar benar gila untuk seorang wanita. itu terlalu hebat.
"Baiklah" Ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan ku setelah mengambil barang yang ia inginkan.
Aku melihat di meja sudah tersedia box yang aku yakini itu merupakan box makanan dan segelas Teh hijau. Aku mendekati makanan tersebut dan itu masih terasa panas seperti baru di angkat dari kompor.
Tok Tok Tok
"Masuk" Ucapku mempersilahkan orang yang mengetuk pintu.
"Maaf Pak Sanji, Tadi Nami sudah menyiapkan sarapan untuk bapak. Semoga bapak menyukainya karena itu makanan yang di rekomendasikan oleh pak Zaenal." Ucap Seseorang yang bernama Nami.
"Baiklah terimakasih.. kamu bisa keluar sekarang!" Ucapku karena aku merasa khawatir dengan jantungku yang sudah melompat kesana kemari hampir tak terkendali.
Setelah Nami keluar aku membuka Box makanan yang aku yakini ini di buat sendiri atau bawa dari rumah, Aku melihat segelas Teh hijau yang sangat harum. Aku menyesap teh hijau tersebut. Dan sungguh itu sangat ajaib rasanya benar benar berbeda dari yang biasa aku minum. Aku melihat isi dari box makanan yaitu waffle , sandwich dan ada beberapa potong buah yang aku sukai. Aku mulai memakannya satu persatu.
Setelah menghabiskan semuanya aku berniat mengembalikan box makanan tersebut ke meja Nami yang berada tepat di depan ruangan ku.
"Sungguh dia seorang CEO? Benar benar dingin dan tidak berperasaan! Aku tidak suka dengannya! euwhhh baru sehari masuk kerja sudah begini! lebih baik jika CEO nya Robin! Sudah tampan juga sangat baik dan penuh gairah!" Ucap Wanita berambut ungu yang berada tepat di depanku dengan tangan yang melipat di bawah dada dan mengomel membicarakan atasannya sendiri yang baru ia kenali hari ini.
"Ck. Jika tidak mau bekerja, berhentilah jangan membicarakan orang lain! Terimakasih makanannya lain kali tidak perlu repot saya bisa sendiri!" Ucapku sambil memberikan Tupperware makanan ke atas meja milik sekretaris itu. Aku meninggalkan ruangan dan pergi ke ruangan Robin.
POV NAMI
"Astaga gue kaget! Baru hari pertama udah di cap jelek sama atasan. Astaga Nami lu kenapa dah astaga ngomongin orang tepat di depan die sendiri" Ucapku dalam hati karen takut tertangkap basah lagi.
Aku langsung duduk di kursi dan melihat laporan satu tahun terakhir, Gila! ini perusahaan bener bener lagi kacau! pantas saja CEO sampai tidur di perusahaan ternyata dia pekerja keras juga! aku melihat map hitam yang ada di atas meja dan terlihat tanggal kemarin disana, aku membukanya dan betapa terkejut melihat isinya. keberhasilan besar perusahaan. ya menurutku begitu, isi proposal yang sangat bagus dan juga perjanjian yang sudah selesai hanya butuh cap dari investor. Ternyata CEO segila itu! Aku melihat note di layar komputer. kegiatan yang harus di lakukan di perusahaan. "Investor, Sekretaris, Asisten, Ulang Tahun perusahaan, Jodoh!" Hah jodoh? maksudnya apaan. oh iya aku hampir lupa untuk mengurusi persiapan ulang tahun perusahaan. sebaiknya aku pergi ke ruang arsip untuk melihat arsip ulang tahun perusahaan sebelumnya.
Aku pergi ke ruang arsip dan setelah mengelilinginya aku akhirnya menemukan arsip yang aku cari, Aku meraih nya namun tidak sampai karena terlalu tinggi, aku mencari bantuan dan melihat ada tangga di pojokan. aku mengambilnya dan akhirnya menyimpan tangga tepat di bawah arsip yang aku butuhkan. Setelah berhasil mengambil aku bersiap untuk turun namun tiba tiba tangga bergoyang dan
"Ahhhhhhhhhhhhhh" Brukk..
"Eh kok ga sakit?" Aku membuka mataku dan melihat seseorang berhasil menangkap tubuhku yang hampir terjatuh dan itu adalah sang CEO.
"Astaga! Maaf pak dan terimakasih!" Ucapku pada CEO tersebut.
"Hati hati!" Ucapnya lalu menurun kan tubuhku perlahan.
Tampan! ya itu yang aku pikirkan.
"Oh shit! kaki gue terkilir!" Ucapku keceplosan.
"Apa kamu butuh bantuan untuk berdiri?" Tanya CEO sambil mengulurkan tangan membuat aku meraih tangan itu namun tiba tiba kakiku tidak bisa menopang tubuhku akhirnya aku terjatuh kembali namun terjatuh menabrak tubuh CEO membuat posisi kamu sekarang begitu canggung.
"Apa kamu masih akan terus menatap saya?" Ucap pak Sanji dengan satu alis yang terangkat membuat aku malu.
"Maaf pak!" Ucapku lalu berusaha duduk namun kaki ku tidak bisa di ajak kerja sama, sungguh menyakitkan! Namun tiba tiba bahu ku di pegang erat oleh pak Sanji dan di dudukan membuat kami berdua duduk saling berhadapan.
"Apakah begitu menyakitkan? Biar saya bawa kamu ke ruang kesehatan!" Ucap pak Sanji membuat jantung aku dag Dig dug tak beraturan. Tiba tiba pak Sanji mengangkat tubuhku tanpa permisi dan membawa aku dan juga arsip yang berhasil aku ambil ke ruang kesehatan melewati lorong yang panjang dan hampir berpapasan dengan semua penghuni kantor. Aku melihat wajah tampan atasan ku sungguh dia sangat tampan dan juga tidak terlalu buruk jika di pikirkan lagi.
"Apa ada yang salah dengan wajah saya?" Ucapnya membuat aku sadar dan memalingkan wajahku.
"emm maaf pak sekali lagi maaf merepotkan dan terimakasih!" Ucapku pada pak Sanji.
Setelah sampai di ruang kesehatan dan sudah selesai di periksa tiba tiba pintu ruangan tersebut di dobrak oleh seseorang. Aku dan pak Sanji secara bersamaan menoleh ke sumber suara.
"Sanji! Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu!" Ucapnya tiba tiba membuat aku terkejut dan melihat tingkahnya yang tiba tiba menghampiriku seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Kau wanita gila! beraninya kau merayu Sanji!" Ucap wanita itu lagi membuat aku menoleh kearah pak Sanji mengisyaratkan bertanya siapa wanita itu?
Tiba tiba wanita itu terlihat sangat marah.
"Hey Mia! Hentikan itu! Dia pacarku jangan berani menyentuh dia! Pergilah bukankah kau sudah mengundurkan diri perusahan satu bulan yang lalu?" Ucap pak Sanji membuat aku teringat dengan sosok bernama Mia.
"Sanji tapi aku keluar dari perusahaan karena kamu menolak perasaanku! Aku tida setuju kamu berpacaran dengan wanita ini!" Ucap Mia dengan marah.
"Apa hak mu untuk melarangku?" Ucap pak Sanji.
"Aku tidak percaya dia pacarmu! Jika benar maka buktikan itu!" Ucap Mia menantang dan memperlihatkan sisi nya yang merasa akan menang membuat jantungku deg deg an tak terkendali karena pak Sanji berbohong dengan status hubungan kami.
Tiba tiba pak Sanji menarik tubuhku dan mencium bibirku sekilas membuat aku terkejut.
"Sudah percaya? sekarang KELUAR!" Ucap pak Sanji membuat aku mematung di tempat. First kiss ku di ambil oleh bos ku! astaga apa yang aku lakukan! Dasar CEO gila!
Mia meninggal tempat kami dan Sanji menoleh padaku yang sudah menatap dia sejak ia melakukan hal yang tak senonoh,
"Saya akan tanggung jawab!" Ucap pak Sanji.
"Apa yang akan bapak pertanggung jawabkan?" Tanyaku meremehkan karena kesal.
"Saya akan menikahi kamu!" Ucapnya membuat aku bungkam karena terkejut.
_End_