"C'mon Nis..."
Rena menarik lengan Nisa sahabatnya setiap pagi untuk segera menghampiri mobil sang ayah Rena yang selalu setia kemana pun menemani putri semata wayang nya.
"Ish gak bisa apa tiap pagi gak pake acara tarik menarik,kalo tangan ku lepas,emang kamu bisa ganti?"
Nisa cemberut setelah mengatakan uneg-uneg nya pada Rena.
"Yaelah lu sensi banget,mau pms lu Nis?"
"Tau deh ..."
"Ish Nisa nyebelin."
Selalu bertengkar dan mulai berbaikan kembali,mereka seperti anak kembar, kemana-mana selalu bersama dan saling bantu satu dengan lainnya.Bestie banget dah ah.
Mereka akhirnya berangkat ke sekolah dengan diantar ayah Rena.
Selama dalam perjalanan menuju sekolah Rena dan Nisa,mata Nisa selalu menatap ke arah ayah Rena,tak tau mengapa setiap melihat ayah Rena hati Nisa jungkir balik gak karuan.Ayah Rena memiliki paras yang tampan dan rupawan,wajah nya masih terlihat sangat muda karena ayah Nisa termasuk seorang yang memiliki type wajah bayi,ya baby face.Maka tak heran di umur ayah Rena yang sekarang sudah mencapai angka tiga puluh enam tahun,tapi lebih terlihat seperti umur dua puluh enam tahun, terlihat lebih muda sepuluh tahun.Ayah Rena menikah dengan Almarhumah ibu Rena selepas mereka lulus sekolah karena perjodohan,dan pada malam pertama mereka teman-teman Ayah Rena memberi kan minuman pada kedua pengantin baru itu yang didalam minuman tersebut sudah di campur dengan obat perangsang.
Akhirnya malam pertama itu pun menjadikan asal muasal kehadiran Rena.
Padahal Ayah Rena ingin melakukan penjajakan dulu dengan ibu Rena sebelum mereka memutuskan pernikahan apa yang nanti akan mereka jalani.Tapi keinginan itu belum sempat terjadi,karena sebulan kemudian ibu Rena dinyatakan positif hamil.
Akhirnya Ayah Rena bertekad untuk terus melanjutkan pernikahan mereka sampai selamanya.Ayah Rena melanjutkan kuliah nya sambil belajar bisnis dan kadang ikut membantu sang ayah di perusahaan kecil mereka.Sedangkan Ibu Rena terpaksa menunda dulu untuk melanjutkan kuliah design busana yang sangat diminati nya karena adanya calon buah hatinya yang sudah bersemayam di rahimnya.
Apakah mereka menyesali,tidak.Mereka sangat bahagia karena mereka di percaya untuk secepatnya menjadi orang tua.Ayah Rena pun semakin menyayangi ibu Rena yang sedang mengandung darah daging nya.Dan Ayah Rena semakin giat dan semangat untuk belajar dan mengejar masa depan nya demi istri dan anak-anak mereka kelak.
"Nis...niss...Anisaaaa..."
Teriakan Rena menyadarkan Nisa dari tatapan dan halu menghalu yang sempat terukir indah di dalam khayalan nya,tetiba hancur semua karena teriakan Rena.
"Apaan sih Morenaaaa,ngagetin tau gak sih ihhh."
Nisa dengan reflek nya menoleh dan memukul lengan Rena yang duduk disebelah nya.
Sementara ayah Rena yang melihat dari center rearview mirror kelakuan putri semata wayangnya dengan sahabat putrinya itu hanya menyunggingkan senyum nya.Ayah Rena sangat bersyukur Rena terlihat bahagia dengan Anisa sahabat nya.
"Abisnya lu di panggil dari tadi gak denger,malah senyum-senyum sendiri,ngehalu apa lu barusan hah?"
"Enak aja,emang aku tukang halu apa,ish asal deh kalo nyerocos ye."
"Trus kalo lu gak ngehalu,lu ngapain tadi senyum -senyum gaje gitu terus di panggil namanya juga gak denger,ayo ngaku lu ngapain tadi?ngehalu sape lu?"
"Serah dah,yang penting aku dah jujur,aku tuh gak lagi ngehalu,ingat mimpi tadi malam aja sih."
"Mimpi apa lu? mimpi ketemu cogan yak?"
"Ish kepo."
"Anisa ish loh itu pagi-pagi dah dua kali lu bikin gue sebel."
"Serah."
"Ih nih anak minta di hukum nih."
Dengan kekuatan dan segenap tenaga Rena mulai menggelitik pinggang Nisa membuat sang empunya pinggang termehek eh terpingkal dan menggeliat kegelian.
"Udah Ren stop,stop ... "
Tapi Rena bukan nya berhenti malah makin menjadi.
"Please Ren stop gak,udah u dah am pun Rennnn..."
"Rena stop, kasian Nisa nya,udah jangan gitu lagi."
Rena automatis berhenti karena teguran sang Ayah,dan memeluk Nisa sambil mengucap mantera.
"Sorry bestie,abis lu ngeselin."
"Gak gitu juga hukuman nya MORENA..."
Nisa mendengus kesal,sambil melotot kan mata nya ke arah Rena.
"Iya iya sorry gak keulang lagi."
'Kalo inget.'Lanjutnya dalam hati.
Sampai di sekolah,dua anak gadis remaja itu turun dengan membuka pintu masing-masing di kiri dan di kanan mobil ayah Rena.
Setelah mengucapkan salam mereka berdua masuk menuju ke dalam kelas.
"Mati gue Nis!"
"Kenapa sih?ngagetin aja."
"Pr gue belom selesai,baru dapat lima soal,gue ketiduran."Rena mengeluarkan buku pelajaran nya dan baru menyadari nya.
"Kebiasaan deh,nih buru."
Nisa memberikan buku nya dan secepat kilat di tangkap oleh Rena.
"Iya ihh the best deh,thanks emak gue."
Rena menyempatkan mencium pipi Nisa.
"Emmmmm..."
Entah kenapa setiap Rena mengucapkan kata-kata "emak gue" "enyak gue" rasanya membuat hati Nisa kerudutan gitu,eh lah apa coba kerudutan.
°°°°°°°°°°°°°°°°°
Sepulang sekolah seperti biasa Rena merengek pada ayahnya untuk bisa main di rumah Nisa,karena di rumah nya dia sendirian dan merasa kesepian.Ayah nya pun selalu tak pernah bisa menolak keinginan putri semata wayang nya itu.
"Gue malam ini tidur sini ya Nis?"
Rena membolak balikan badan nya di atas kasur Nisa.
"Emang di bolehin ama ayah?"Nisa menyahut dari arah meja belajar nya.
"Itu dia,pasti syusyah nih bujukin ayah,padahal besok juga hari Minggu biasa nya kan juga boleh."Rena menekuk wajah nya membayangkan ucapan ayah nya yang tak membolehkan untuk sering-sering menginap di rumah Nisa.
"Eh itu klo Ayah lagi di luar kota,makanya kamu bisa tidur di sini,coba kalo ayah gak kemana-mana,pasti ayah juga gak mau di rumah sendirian."Nisa mencoba memberi pengertian pada sahabat nya.
"Iya juga sih,tapi gue beneran pengen tidur disini Nis,boleh ya."Rena menunjuk kan wajah memelas nya dengan pupy eyes nya.
"Ya tanya dulu buru ma ayah,di bolehin apa gak?"Nisa memberikan saran terbaik nya, sebenarnya dia senang juga kalo Rena nginap di rumah nya,Nisa yang mempunyai adik cowok merasa kesepian tidak ada teman berbagi keluh kesah.Kakaknya yang sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri tidak tinggal satu kota dengan nya lagi karena mengikuti suami nya tugas di Bandung.
Ya Nisa tiga saudara,dan jarak mereka lumayan terpaut jauh,Nisa dengan kakaknya yang perempuan terpaut perbedaan tujuh tahun,Nisa dan adiknya yang laki-laki terpaut usia tiga tahun.
"Oke siap nyak gue."
Kan bisa banget deh Rena bikin hati Nisa kerudutan gitu.heeee
Setelah menelpon ayah nya dalam waktu yang lumayan lama akhirnya di dapatkan hasil,bahwa boleh menginap,tapi Nisa yang menginap di rumah Rena,bukan Rena yang menginap di rumah Nisa,karena ayah Nisa merasa tak nyaman dengan ibu Nisa karena selalu merepotkan dengan kehadiran anak gadis nya,padahal ibu Nisa tak pernah merasa seperti itu.Dia juga menyayangi Rena seperti anak kandung nya.