Sarah berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Ini adalah malam kelima ia bertugas jaga malam selama satu bulan co-ass di rumah sakit ini.
"Tumben sepi banget," gumam Sarah sambil melihat ke sekeliling.
"Sar! Sarah!" tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dari belakang. Dari suaranya Sarah tau itu adalah Randy, teman sekampusnya.
"Loh Ran, lo ngapain di sini? Bukannya hari ini lo jatah off?" tanya Sarah saat Randy sudah ada di sebelahnya.
Alih-alih menjawab, Randy hanya tersenyum simpul membuat Sarah menelan kembali pertanyaannya dan melanjutkan langkah ke meja jaga ditemani Randy yang masih berjalan di sisinya. Seketika Sarah merasakan angin malam yang dingin menusuk kulitnya.
"Malem ini dingin banget yah," ucap Sarah.
"Sedingin hati gue," celetuk Randy cuek.
"Jiah, malem-malem sok puitis," balas Sarah seraya tertawa kecil.
Seraya berjalan bersama, Sarah memandang sekilas sosok Randy yang lebih tinggi beberapa cm darinya.
Randy memang cukup rupawan, tidak heran dia jadi perhatian banyak mahasiswi di fakultas kedokteran mereka. Otak cerdas, hobi mendaki, dan pembawaannya yang tenang benar-benar menjadikannya idola kampus. Terlebih dengan jubah putih khas dokter yang sekarang ia kenakan, Sarah yakin tidak akan ada seorang perempuan pun yang mampu menolak pesonanya.
Apakabar dengan Sarah yang selama ini hanya dianggap teman biasa? Bukannya pesona Randy tidak pernah menarik hatinya, tapi persahabatan mereka sejak awal masuk kuliah sudah menutup semua perasaannya. Membuat Sarah lebih nyaman dengan apa adanya hubungan mereka sekarang.
"Something wrong?" seperti mengerti perasaan Sarah, Randy tiba-tiba saja membalas tatapan Sarah.
"Nothing," jawab Sarah singkat.
Sarah menghela namenghela Nafas, sedikit heran dengan sikap Randy yang lebih cuek dari biasanya.
"Sarah," dr. Dewi, salah seorang dokter spesialis bedah datang menghampiri Sarah.
"Ya Dok,"
"Tadi dr. Wina telfon katanya malam ini ngga bisa datang karena anaknya sakit, dan kebetulan dokter lain ngga ada yang bisa gantiin, jadi terpaksa malam ini kamu jaga sendirian ya, ngga apa-apa kan? Kalo perlu sesuatu kamu panggil saya aja ya,"
"Baik Dok, ngga masalah. Kebetulan ada Randy di sini, dia bisa nemenin saya,"
Dr. Dewi mengerutkan kening, terlihat sedikit bingung tanpa bertanya apapun.
"Ok kalo gitu, saya ke atas dulu ya, ada pasien yang harus saya tangani," pamit dr. Dewi.
"Baik Dok, terima kasih sebelumnya,"
Setelah itu Sarah melewati tugas malamnya seperti biasa, ditemani Randy yang jarang bicara dan bersikap seadanya.
Keesokan malamnya Sarah kembali bertugas, tapi kali ini dia datang satu jam lebih awal dan bertemu dengan Giska, teman dekatnya yang baru saja selesai bertugas.
"Hai Gis, sendirian aja lo?" tanya Sarah.
"Iya nih, si Randy ngga masuk,"
"Ngga masuk?"
"Iya, ngga ada kabar,"
Sarah berpikir sebentar.
"Semalem dia dateng kok, nemenin gue jaga malah,"
"Wah, ngga sopan tu anak. Jaga pagi malahan dateng malem," celetuk Giska sedikit kesal.
Setelah itu Sarah menemani Giska lantas menggantikannya setelah tugas Giska selesai.
Sarah tengah memeriksa data pasien ketika seseorang mengejutkannya dari belakang.
"Randy! Astaga, ngagetin aja!"
Melihat Sarah yang terkejut, lagi-lagi Randy hanya tersenyum simpul.
Tanpa diduga Randy mengeluarkan sesuatu dari dalam jubah dokternya.
Setangkai mawar merah, dan ia memberikannya untuk Sarah.
"Buat gue?" dengan perasaan bingung dan jantung yang berdetak cepat Sarah menerima pemberian dari Randy.
"Bye Sarah," ucap Randy singkat seraya tersenyum.
Masih dengan perasaan bingung Sarah mengamati bunga mawar di tangannya.
"Ini... " niat Sarah untuk bertanya tentang bunga itu tergantung begitu saja ketika ia menyadari Randy sudah menghilang dari hadapannya.
"Eh, kemana dia? Cepet amat perginya," gumam Sarah seraya meletakkan bunga itu di atas meja dan kembali melanjutkan tugasnya.
Sesaat kemudian matanya tertuju ke sehelai kertas yang terselip diantara tumpukan berkas pasien.
"Apaan nih? Perasaan tadi ngga ada kertas ini," tanya Sarah pada dirinya sendiri.
Dengan rasa penasaran Sarah membuka lipatan kertas itu perlahan dan membaca tulisan di atasnya.
"Puncak Salak 1," bacanya pelan.
Sarah sama sekali tidak mengerti apa maksud dari tulisan itu ataupun siapa penulisnya, maka ia menyimpan kertas itu kalau-kalau suatu saat ada yang mencarinya.
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, dan sudah waktunya Sarah untuk pulang. Baru saja Sarah sedang membereskan meja ia melihat Giska berlari kecil ke arahnya..
"Ada apa Gis, buru-buru banget?" tanya Sarah penasaran.
"Lo harus ikut gue Sar!" ucap Giska panik.
"Kemana??"
" Ke rumah Randy,"
"Ke rumah Randy? Ngapain?"
"Randy ilang Sar, dia pamit naik gunung sepulang dari sini waktu hari terakhir sebelum dia off. Dan sampe sekarang dia belum pulang, polisi sama tim SAR lagi cari dia di gunung," jelas Giska panik.
"Apa?! Jangan bercanda Gis, semalem dia ke sini nemuin gue!"
Giska dan Sarah terdiam.
Sarah lantas mengambil setangkai bunga mawar pemberian Randy.
"Semalem Randy kesini ngasih gue bunga ini," ucap Sarah dengan suara gemetar.
Rasa khawatir dan juga takut mulai menyelimutinya. Ia lantas teringat secarik kertas yang ditemukannya tadi malam.
"Kita harus ke rumahnya sekarang juga Gis," ucap Sarah seraya mengambil secarik kertas yang disimpannya.
Mereka berdua bergegas menuju rumah Randy.
Sampai di rumah Randy, suasana begitu tegang. Kedua orang tua dan beberapa saudara Randy nampak begitu khawatir, terutama Ibunya.
Tanpa basa-basi Giska dan Sarah membaur bersama mereka. Tanpa menunggu lagi, Sarah memberikan secarik kertas yang ia temukan kepada Ayah Randy. Seperti mendapat petunjuk, Ayah Randy menghubungi tim SAR yang sedang bertugas mencari Randy dan beberapa temannya yang juga hilang.
Dua jam kemudian tim SAR menemukan jasad Randy di tengah-tengah semak belukar dan bebatuan.
Tanpa bisa dicegah, tangis keluarga Randy serta Sarah dan Giska pecah. Suasana duka menyelimuti mereka.
Tiga hari kemudian, keluarga Randy mengundang Sarah dan Giska ke acara pengajian mengenang alm. Randy. Hari itu keluarga Randy sengaja membawa Sarah ke kamar pribadi Randy. Di kamar itu Sarah menemukan sebuah buku sketsa dan juga album foto. Ia membukanya perlahan.
Ternyata kedua buku itu berisikan banyak catatan, sketsa dan juga foto Sarah yang diambil oleh Randy secara diam-diam. Sontak saja air mata Sarah membuncah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa temannya itu menaruh hati padanya bahkan sejak awal masuk fakultas kedokteran.
Randy memang begitu baik padanya selama ini, tapi Sarah hanya menganggapnya teman biasa karena Randy tidak pernah menampakkan tanda-tanda bahwa ia menyukai Sarah.
"Maafin gue Ran," ucap Sarah dalam hati.
---
Malam ini Sarah bertugas seperti biasa, tapi ia datang sedikit terlambat karena siang tadi ia harus datang ke kampus untuk menyerahkan laporan. Dengan terburu-buru Sarah masuk ke ruang penyimpanan untuk menaruh tasnya ke dalam loker.
"Hai Sar," di tengah keheningan tiba-tiba saja terdengar suara dingin seorang laki-laki dari arah belakang menyapanya.
Seketika bulu kuduk Sarah berdiri, dia sangat mengenali suara itu.
Haruskah Sarah menjawabnya???
- END -