Hari sebentar lagi beranjak gelap dan awan pun terlihat mendung. Dari kejauhan, tampak Tenar terburu-buru menuju halte 13. Ia perhatikan lampu jalanan sudah mulai menyala satu persatu. Jantungnya berdetak cepat. Rasa takut menghinggapi pikirannya.
Bagaimana jika bus yang harusnya kutumpangi sudah lewat? Kecemasannya semakin bertambah karena mengingat cerita orang-orang yang baru didengarnya tadi siang.
“Jika kamu berani, datanglah ke halte 13 malam hari. Kamu akan melihatnya sendiri,” ucap salah seorang saat berkerumun di café tak jauh dari sekolah Tenar.
Sambil bermain game di ponselnya, diam-diam Tenar menguping pembicaraan mereka tentang roh gadis kecil penghuni halte 13 yang bergentayangan.
Konon, sudah banyak orang yang ditemui gadis kecil itu saat malam tiba.
Awalnya mereka tidak curiga. Namun saat gadis kecil itu menunjukkan wajahnya, orang-orang mulai menyadari ada yang tidak wajar dari gadis kecil itu. Wajahnya penuh luka.
Tak lama kemudian bau amis darah terasa menyengat. Dari jari-jari tangan gadis kecil itu mengucur darah segar.
Sungguh mengerikan ketika leher gadis kecil itu kemudian berputar dengan mengeluarkan suara tulang yang patah. Wajahnya yang tadi menatapmu akan berpindah menghadap ke belakang. Saat seperti itu, ia akan mengeluarkan suara sangat menakutkan.
Tenar mendengarkan semua cerita itu hingga selesai. Duduknya tak tenang. Namun tak lama kemudian ponselnya berdering. Orangtuanya memberi kabar kalau tidak bisa datang menjemputnya. Mereka ada keperluan mendadak pergi keluar kota dan meminta agar Tenar segera pulang.
“Ingat, langsung pulang. Jangan sampai ketinggalan bus. Kamu sering lupa waktu kalau bermain,” ucap ibunya mengingatkan.
“Iya, Bu. Tenar ingat,” jawabnya tak serius karena panggilan ibunya membuat permainan di ponselnya terhenti. Setelah ibunya memutus panggilan ponsel, Tenar langsung tersenyum dan menjentikkan jarinya.
***
“Sial..!” pikirnya. Terlalu asyik bermain membuat Tenar terlambat tiba di halte bus. Saat melihat angka 13 yang tertempel di tiang halte lengkap dengan jadwal keberangkatan, ia baru menyadari sepenuhnya kalau sedang berada di sebuah tempat yang dibicarakan orang-orang di café tadi siang.
Jika cerita mereka benar, tak lama lagi gadis kecil itu akan datang dan bermain di halte 13, pikir Tenar.
Tubuhnya langsung merinding. Ia tolehkan wajahnya ke samping kanan dan kiri. Sepi.
Dalam keremangan cahaya lampu jalan, suasana terasa menyeramkan.
Samar-samar ia seperti mendengar suara tangisan anak kecil. Ia langsung menoleh mencari asal suara itu. Setelah mengetahui tak ada siapa pun, ia langsung memastikan jadwal penjemputan bus berikutnya.
Tenar sempat merasa senang karena masih ada penjemputan ke halte 13 menuju halte 17 yang melewati rumahnya. Namun saat memperhatikan masih harus menunggu dua jam lagi, tubuhnya langsung lemas.
Dua jam bukan waktu yang sebentar. Ia lantas duduk dengan gelisah sambil berusaha menepis pikiran buruk yang bersarang di kepalanya dengan membaca doa.
Ia benar-benar merasa sial saat perutnya mulai terasa lapar. Ia rogoh isi di dalam tasnya berharap ada sisa roti atau jajanan lain.
“Andai tadi langsung pulang, tidak harus menjadi seperti ini,” sesal Tenar mengabaikan pesan orangtuanya.
Tenar benar-benar bingung. Ia tak bisa menghubungi siapa pun bahkan sekadar bermain game karena baterai ponselnya habis.
Dalam situasi itu, ia dikejutkan oleh suara yang membuat tubuhnya berjingkat.
"Nak, bisakah kau menolongku?" ucap seorang perempuan tua dari arah belakang.
Tenar tak langsung menjawab. Ia perhatikan perempuan tua itu mulai dari ujung rambut hingga kaki. “To..tolong apa, Nek?” tanya Tenar dengan sedikit gemetar.
“Menemaniku menuju halte 21. Aku sudah kelelahan jalan kaki dan mataku sudah tidak awas lagi di malam hari. Aku hanya punya ini untuk membayar kebaikanmu,” sambung perempuan tua itu memperlihatkan bungkusan hitam berisi nasi bungkus dan segelas air mineral.
Meski was-was, Tenar merasa lebih bisa tenang karena sosok yang ada di hadapannya sekarang bukan anak kecil seperti yang diceritakan orang-orang.
Ia perhatikan wajah perempuan tua itu lekat-lekat. Temaram lampu membuat wajah perempuan tua itu tak terlihat jelas. Sebagian rambut putihnya menjuntai di antara wajahnya yang tampak kelelahan.
“Aku pernah terpleset ketika menyeberang jalan,” ucap wanita tua itu berusaha meyakinkan Tenar agar mau menemaninya.
Sebenarnya Tenar sendiri tak tahu letak halte 21. Ia tak pernah bepergian jauh menggunakan bus. Saat ini pun terpaksa karena orangtuanya tak bisa datang menjemput.
Sambil berpikir, ia periksa lagi jadwal bus. Perempuan tua itu lebih beruntung ketimbang dirinya. Bus tujuan halte 21 sebentar lagi tiba. Nasi bungkus di dalam plastik hitam itu juga sangat menggoda.
“Masih banyak waktu untuk kembali. Ketimbang sendirian di sini dan khawatir gadis kecil itu datang menakutinya, lebih baik mengantarkan nenek itu,” pikir Tenar membenarkan keputusannya.
Sambil menunggu bus tujuan halte 21, Tenar menghabiskan makanannya dengan lahap. Wanita tua itu sempat memperkenalkan dirinya dengan panggilan nenek Mipah. Ia bilang baru saja mengantar cucunya bermain di taman.
Tak lama berselang, bus pun datang. Tenar membantu nenek Mipah masuk ke dalam bus saat pintu terbuka otomatis. Sampai di dalam, ternyata kursi banyak yang kosong.
Tenar memperhatikan orang-orang yang berada di dalam bus. Hanya ada enam orang termasuk mereka berdua.
Keadaan bus yang sepi membuat Tenar larut dalam pikirannya sendiri. Di tambah dingin AC membuatnya meringkuk di kursi.
Tenar baru sadar saat melihat lintasan jalan menuju rumahnya ketika bus berbelok arah ke tempat lain.
“Harusnya aku bisa turun di sini, jaraknya tak begitu jauh jika melanjutkan berjalan kaki,” pikir Tenar menyalahkan ketidaktahuannya itu. Namun ia ragu-ragu untuk meminta sopir bus berhenti. Ia sudah berjanji dengan Nenek Mipah.
Setelah melewati beberapa halte dengan waktu yang lumayan lama, mereka pun tiba di halte 21. Tempatnya lebih sepi ketimbang halte 13. Tenar sempat memperhatikan di sekitar halte 21 banyak ditumbuhi rumput liar.
"Terimakasih kasih, Tenar,” ucap Nenek Mipah segera bangun dari duduknya. Tenar pun ikut berdiri untuk mengantar nenek Mipah di depan pintu bus. Namun saat ingin ikut turun, sopir bus menghampirinya.
“Tujuanmu kemana, Nak?”
“Halte 17,” jawab Tenar heran.
“Kalau begitu jangan menunggu di halte ini. Aku akan mengantarmu. Sekarang duduklah kembali,” pintanya agar Tenar duduk di sampingnya.
Mengetahui itu, nenek Mipah sempat menolehkan wajahnya memandangi sopir bus itu. Sorot matanya menusuk tajam.
“Tengoklah nenek itu lewat kaca jendela,” pinta si sopir.
Merasa penasaran, Tenar langsung memperhatikan sosok nenek Mipah. Ia terkejut saat Nenek Mipah memandang ke arahnya dengan senyum mengerikan.
Tak lama setelah itu, Tenar benar-benar merasa takut ketika tubuh nenek Mipah tiba-tiba menghilang.
Tenar langsung kaget. Tubuhnya merinding. Ia langsung beringsut dari tempat duduknya sambil ketakutan.
Bus langsung berjalan kembali. “Aku sudah curiga dengan nenek itu sejak kalian masuk ke dalam bus. Tiga bulan lalu ada seorang nenek dan cucunya tewas tertabrak di depan halte tempatmu menunggu tadi.
“Tertabrak?” tanya Tenar terkejut.
“Saat itu ia sedang menyeberang jalan bersama cucunya. Ia sempat terpleset dan tak memperhatikan ada bus yang sedang melintas."
Tenar langsung bergidik mendengar cerita itu.
“Kenapa tadi neenek itu tidak bersama cucunya?”
“Aku yakin saat ini cucunya sedang berada di halte 13. Roh gentayangan nenek itu sepertinya sengaja naik ke dalam bus untuk mencari sopir yang menabraknya.”
Bulu kuduk Tenar langsung merinding. "Bapak kenal sopir itu?"
"Mmm....kenal. Tapi aku sudah tidak pernah melihatnya lagi."
Tenar menganggukan kepala. "Semoga nenek itu menemukannya..." ucap Tenar lirih hampir tak terdengar.
Sopir bus itu hanya tersenyum. "Aku tadi sengaja memintamu tidak menunggu di halte 21. Bagaimana kalau nenek itu tadi sengaja mencari seseorang untuk menemani cucunya."
Tenar tidak bisa membayangkan jika ucapan sopir itu terjadi kepadanya. Bulu kuduk Tenar langsung merinding.
“Terimakasih, Pak,” hanya kata itu yang bisa diucapkan Tenar.
“Lain waktu jangan terlambat pulang lagi. Lihat seragam sekolahmu, mana ada pulang sekolah sampai malam begini,” ucap sopir bus itu menasehati.
Mereka pun saling diam. Setelah mengantarkan semua penumpang, sopir bus itu mengantar Tenar pulang ke rumahnya.
Meski sudah di rumah, Tenar sulit menghapus bayangan nenek Mipah. Senyum mengerikan itu seperti hidup di pelupuk matanya.
Lantas, apakah makanan yang diberikan nenek Mipah tadi benar-benar nasi?
Bagaimana jika itu belatung dan nenek Mipah telah mengubahnya? Mendadak ia merasa mual ingin memuntahkan isi di dalam perutnya.
Saat ingin pergi ke kamar mandi, dari arah luar sayup terdengar suara yang tak asing di telinga Tenar.
"Bisakah kau menolongku, Tenar. Sopir tadi yang menabrak kami. Katakan kepadanya, aku akan menuntut balas."
Tak beberapa lama, suara itu pun menghilang. Tenar sangat terkejut mendengar suara itu
"Jadi sopir tadi..." Tenar tak.melanjutkan ucapannya. Ia memilih kembali masuk ke dalam kamar dan tak jadi ke kamar mandi.
Ia nyalakan televisi untuk memecah kebisuan malam yang mencekam di rumahnya. Ia pun menangis meminta agar orangtuanya segera pulang malam ini juga.[]