Namaku Widya, umurku saat ini 7 tahun. Ibuku seorang pedagang kue. beliau selalu menjajakan barang dagangannya ke pasar dan terkadang ke rumah-rumah tetangga seringkali aku menemaninya untuk menjajakan dagangannya ke rumah-rumah tetangga dan aku senang melakukan hal itu.
Karna berjualan kue dan dijual pada pagi harinya terpaksa sekitar jam 2 malam Ibuku sudah terbangun untuk membuat adonan kue sebelum dijual. Tempat kami tinggal terbilang cukup dekat di area pekuburan. Yah, mau gimana lagi waktu itu hanya rumah itu yang bisa dibeli. Apalagi penjual rumah menawarkan harga yang cukup murah, tanpa pikir panjang Ibuku langsung membeli rumah itu.
hari ini aku pulang agak ke-sorean karna asik bermain dirumah Bella sahabatku. aku pulang menjelang maghrib sembari melewati kuburan menuju rumahku.
Suasana mendadak dingin dan sepi yang membuat bulu kudukku berdiri.
" Cu...Cu... sini." ujar seorang nenek-nenek berpakaian putih.
Rambutnya yang putih panjang menjuntai sampai lutut kaki nenek itu.
" iya, Nek." sahutku sembari mendekati nenek itu.
" Ada apa, Nek?" tanyaku ketika sudah mendekati Nenek itu.
" Tolong ambilkan punya Nenek, Cu dibawah situ." ujar Nenek itu dengan suara berat sambil menunjukkan tangannya ke bawah.
" Baik, Nek." sahutku yang segera mengambil sesuatu di bawah kaki nenek itu.
" Ini, Nek." ujarku seraya mengembalikan benda itu kepada Nenek tersebut namun Nenek itu tidak langsung mengambil benda yang berada di tanganku.
" Cu..." panggil Nenek itu lagi dengan suara beratnya.
" Coba lihat, Cu. Apa yang kamu pegang." perintah Nenek itu padaku tanpa pikir panjang aku segera melihat benda yang berada di tanganku itu.
betapa aku terkejut itu seperti bola mata dan mata itu seakan bergerak-gerak.
" Aarggghhh...." teriakku.
Mata itu terlepas dari gengamanku.
" Cu... kok mata Nenek di lempar?" tanya nenek itu yang menampilkan wajahnya yang semula tertutup rambut.
Wajah Nenek itu rusak sepenuhnya bahkan ada beberapa belatung menggantung di area matanya. aku kaget hanya bisa menutup mulutku. Nenek itu perlahan mendekatiku.
" Cu.... Tolong pasangkan mata Nenek, dong." ujar Nenek itu sembari tersenyum memamerkan giginya yang menghitam.
melihat itu aku memundurkan langkahku dan berlari sekencang mungkin untuk menuju rumah. Sesampainya di rumah aku segera menutup pintu dengan ngos-ngosan aku menuju kamarku.
" kamu kenapa, Wid?" tanya Ibuku khawatir.
" tidak apa, kok. Widya hanya lelah." jawabku sembari meninggalkan ibuku yang berada di runag tamu.
mulai hari itu aku tidak pernah lagi pulang saat Maghrib dan aku selalu pulang on-time ke rumah. setelah kejadian itu aku sudah tak lagi merasakan hal aneh atau apapun sampai pada malam jum'at.
hari jum'at jam 19.00 wib
" wid..." panggil Ibu ke Widya.
" iya, bu. Ada apa?" tanyaku penasaran.
" Malam ini kamu tidur saja, ya. kasian kamu kalau harus bangun malam-malam bantu ibu buat adonan. Besok kamu juga harus kesekolah, biar Ibu saja yang buat adonan malam ini." perintah ibuku.
" iya, bu. Baiklah." jawabku mengiya perkataan ibuku.
aku sudah tidur pukul jam 20.00 wib terlelap tapi malam itu aku terbangun pas tengah malam. Seketika suasana menjadi mencekam. Lolongan anjing mulai terdengar bersahutan, tubuhku merasa menggigil kedinginan.
aku mengucek mataku untuk mempertajam penglihatanku. aku mendengar suara di dapur yang cukup keras.
tukk..tukk...
tukk..tukk...
tukk..tukk...
' Apa yang ibu lakukan di dapur?' batinku penasaran sebab tidak biasanya ibu begitu berisik
Tiba-tiba jendela yang berada di kamarku terbuka, aku segera menutup jendela kembali. Dapat terlihat beberapa pekuburan di ujung sana, aku bergidik ngeri sembari buru-buru menutup pintu. Teringat aku pada sosok Nenek waktu itu, aku menerjang kasurku untuk kembali tidur.
Namun saat aku memejamkan mata, aku tidak bisa tidur sama sekali. Suara Ibu di dapur benar-benar berisik. Keringat membanjiri diriku tatkala aku berusaha untuk tidur. Tiba-tiba tenggorokanku mulai terasa kering, aku melangkahkan kaki menuju dapur untuk meminum air.
saat di dapur betapa terkejutnya aku ketika melihat yang di dapur bukanlah Ibuku melainkan sosok hitam dengan tangan panjang sedang sibuk mengaduk-aduk adonan.
"Aarrgghhh..." pekikku sembari menutup mulut.
makhluk itu yang sadar kehadiranku segera menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arahku. aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang hitam dengan taring yang mencuat panjang ke atas, matanya yang merah menyala tengah menatap kearahku.
aku memundurkan langkahku dan berlari menuju kamarku dan makhluk itu mengikutiku dari belakang berusaha mengejarku. aku segera menutup pintu kamarku dan masuk ke dalam kelambu, aku bersembunyi di balik selimut dengan tubuh yang menggigil hebat.
beberapa menit aku menggigil di balik selimut ketakutan, saat aku merasa makhluk itu sudah pergi. aku beranikan diriku mengintip di balik selimut. ternyata makhluk itu tepat berdiri di hadapanku di luar kelambu.
aku menjerit lagi.
" Aarggghhh...." jeritku cukup keras sembari tutup diri dengan selimut.
makhluk itu mendengar aku berteriak langsung melemparkan dirinya ke atas kasur tempat aku berada sampai tali yang menggantung kelambu putus olehnya.
aku semakin menjadi menjerit.
" Arrggghhh...."
" Arrgghhhh..."
" Arrgghhhh..." jeritku tidak ada henti.
" Wid...Wid..." panggil Ibuku.
" Wid.. sadar Wid." ujar Ibuku.
Aku yang sadar kalau itu adalah suara Ibuku langsung membuka selimut lalu memeluknya.
" Ibu..." panggilku.
tangisku pecah dipelukannya.
" iya..iya.." ujar ibuku sambil mengelus punggungku.
ketika aku sudah tenang aku menceritakan semuanya pada Ibuku dan aku bertanya kemana Ibuku saat itu. Ibuku bilang saat itu Ibuku tengah membuat adonan tapi mendapat telpon dari keluarga bahwa Bibiku meninggal malam itu jadi Ibuku segera pergi karna dia lihat aku tengah terlelap tidur jadi tidak masalah untuk meninggalkan aku sebentar. sejak hari itu aku dan Ibuku pindah dari rumah itu dan sejak saat itu juga Mata Batinku terbuka.
-end
terimakasih untuk para pembaca cerpen saya 😍😍😍
jangan lupa tekan ❤ dan saran, komentar kalian saya tunggu ya 🤗🤗
sekian dan terimakasih☺☺