"Demamnya masih belum turun," kata Natasha cemas sambil memeriksa kondisi putra kecilnya yang terbaring gelisah di atas tempat tidur, sesekali bayi tampan itu mengeluarkan suara rengekan pelan. Tangisan bayi itu langsung mereda ketika merasakan tepukan pelan Sang Ibu pada pundaknya, dan juga belaian ringan pada bagian kepala.
Jebadiah kecil sudah sakit sejak dua hari yang lalu tapi Natasha tidak berani membawanya ke Dokter karena suaminya belum pulang dari kota. Dari dulu orang-orang di Desa tidak pernah bisa bersikap ramah pada Natasha karena asal-usul keluarganya.
Mereka tahu wanita berambut gelap sepunggung dengan cokelat tua itu merupakan imigran dari Sallem, dan kedua orang tuanya dihukum mati oleh pengadilan Sallem, setelah salah satu tetangga mereka menuduh Ayah dan Ibu Natasha, menyihir suaminya hingga sakit-sakitan dan tewas. Di Sallem, sihir merupakan kejahatan tingkat atas, dan pelakunya—entah itu terbukti benar atau tidak—akan mendapatkan hukuman mati. Di hari kematian orang tuanya, Bibi Rossamund, adik Ibu Natasha membawa Natasha kabur ke Inggris untuk menjadi imigran.
Sejak kedatangannya ke St. Marry Mead, orang-orang desa tak menyambut ramah Natasha dan Bibinya. Seolah di keningnya ada tulisan 'KETURUNAN PENYIHIR' yang diukir huruf capital menggunakan besi panas, mereka selalu menyipitkan mata curiga setiap kali melihat Natasha dan Sang Bibi.
Puncak dari sikap tak menyenangkan orang-orang St. Marry Mead pada keluarga Natasha adalah ketika ada seorang wartawan dari harian Koran London datang ke desa itu untuk mencari dan mewawancarai imigran asal Salem, yang kabur dari kekacauan di sana. Dan kebetulan data-data yang dimiliki si wartawan adalah data-data mengenai keluarga Natasha dan Bibi Rossamund, kontan saja hal itu membuat orang-orang St. Marry Mead makin menjauhi dan mengucilkan Natasha dan Bibinya. Setiap ada kematian atau sakit yang dianggap tidak wajar, mereka berdua selalu dituduh sebagai penyebabnya.
Bibi Rossamund meninggal dalam keadaan memperihatinkan. Tidak ada penduduk desa yang mau melayat dan menguburkan jasadnya, hingga Natasha harus bersusah payah untuk menguburkan sendiri jasad bibinya di tanah kosong luas di belakang rumah.
Natasha bersyukur dengan kehadiran Eren Ree, lelaki tampan—Imigran asal Asia yang datang ke St. Marry Mead dan tak terpengaruh dengan gossip mengenai asal-usul keluarga Natasha. Keduanya saling jatuh cinta lalu menikah, namun, walaupun Natasha sudah menikah dan dia tidak melakukan apapun terhadap penduduk desa, wanita itu masih terus disalahkan atas kematian—yang menurut penduduk St. Marry Mead—tak wajar, yang kerap terjadi.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?" Eren Ree yang dua malam kemudian baru pulang dari kota, tampak terkejut dengan keadaan putra semata wayangnya yang sakit parah. Istrinya terlihat cemas dan putus asa.
"Badan Jeb panas, sudah dua hari demamnya tidak turun. Aku sudah mencoba memberinya obat penurun panas yang ada di dalam kotak P3K di lemari, tapi masih tidak berhasil," kata Natasha sedih, dia menepuk pelan pundak Jebadiah kecil yang merengek, mencari kenyamanan dalam pelukan Sang Ibu.
"Kenapa kamu tidak membawanya ke Dokter atau Rumah Sakit?!" nada bicara Eren meninggi.
Natasha mengatupkan bibirnya, tak sanggup menatap Sang Suami. Dia tak tahu harus berkata apa, kemarin dia sudah mencoba pergi ke Rumah Sakit sambil membawa anaknya, namun sambutan di sana benar-benar buruk. Bukannya mendapatkan layanan perawatan kesehatan yang pantas untuk anaknya, dia justru diusir oleh Dokter dan orang-orang desa yang sedang berobat. Dianggap sebagai pembawa sial karena—entah kebetulan atau apa—salah seorang pasien rawat inap di Rumah Sakit itu, tiba-tiba meninggal saat Natasha dan Jebadiah kecil ada di sana.
Melihat ekspresi Natasha, Eren langsung merasa bersalah. Dia tahu seperti apa orang-orang desa memperlakukan keluarganya, terutama istrinya.
"Maaf," gumam lelaki berambut gelap dengan kulit sewarna zaitun itu, menyesal.
"Hmmm." Sebelah alis Natasha terangkat tinggi, "Mau kemana?" tanyanya bingung ketika melihat Suaminya menyambar mantel yang disampirkan di ujung ranjang.
"Menjemput Dr. Collin."
"Ini sudah malam, Dr. Collin pasti sudah tidur. Lagipula rumah Dr. Collin kan jauh."
Eren Ree tersenyum, "Tak apa. Dr. Collin orangnya baik, dia pasti mau datang untuk menyembuhkan Jebadiah."
"Hmmm."
"Jaga anak kita."
"Hati-hati." Setelah mencium kening Natasha, Eren kemudian pergi.
***
Sambil memeluk erat buat hatinya, dia berteriak; ”memohon ampun pada orang-orang desa yang menyeretnya paksa. Mereka masih menuduhnya sebagai penyihir, dan mengatakan bahwa dialah penyebab kematian salah satu anak pasien di Rumah Sakit kemarin. Orang-orang desa berniat melaksanakan 'Hukuman Mati' pada Natasha dan anaknya, tak peduli wanita itu bahkan meneriakan sumpah atas nama Tuhan, bahwa dia bukan penyihir dan dia tidak pernah membunuh siapapun. Tapi tidak ada yang peduli, mereka menyeret Natasha dan anaknya yang masih bayi ke tanah lapang untuk dibakar hidup-hidup.
***
"Jadi mereka benar-benar membunuh perempuan malang itu dan anaknya?" Zeevanya bergidik mendengar cerita lelaki muda di depannya, mengenai salah satu cerita tragedy lama di desa yang menjadi tujuan rekreasi dia dan keluarganya.
"Ya. Orang-orang desa membakar ibu-anak itu hidup-hidup di tanah lapang," jelas si lelaki sambil mengernyit, seolah dia juga ada di sana saat tragedy pembakaran Natasha Ree dan anaknya yang terjadi lebih dari seratus tahun lalu.
"Suaminya?"
"Dia tiba dengan Dokter temannya, satu jam setelah istri dan anaknya dibunuh. Dia mendapati rumahnya berantakan, danmayat istri serta anaknya tergeletak gosong di lapangan, seperti daging hangus tak diinginkan."
"Hmmm."
Keduanya terdiam, Zeevanya kembali mengamati laki-laki di depannya, dia tidak seperti penduduk lokal. Dia memiliki rambut gelap sebahu yang dikuncir satu, tubuh tegap, kulit pucat tapi bersih, mata hitam tajam yang menyimpan kesedihan, alih-alih berpenampilan bak petani-atau nelayan seperti para laki-laki St. Cartle Louise, dia justru terlihat seperti seorang pengusaha yang memancarkan aura aristoktrat yasng begitu kuat. Dia seperti iblis. Tampak misterius dan menawan dalam balutan kemeja dan celana denim berwarna hitam.
"Apa?"
"Hmmm? Apanya yang apa?"
Laki-laki itu mendengus, "Kamu menatapku seolah aku memiliki tanduk di atas kepala."
Zee terkekeh, gadis asia itu tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba merasa tertarik dengan lelaki asing yang baru dia temui saat sedang menunggu keluarganya yang masih menyusuri reruntuhan tempat bersejarah. Dia bahkan menerima ajakan makan siang lelaki itu, walau dia sama sekali tidak tahu namanya.
"Menurutku kau bukan orang Inggris, dilihat dari fisikmu, kamu juga asia sepertiku?"
Si laki-laki tertawa kecil, "Hanya turunan. Aku asli penduduk sini."
"Wow," tak tahu harus bereaksi seperti apa, hanya itu reaksi yang bisa dikeluarkan Zee.
Si lelaki asing turunan Asia itu tersenyum, "Kau memilliki mata yang jeli," komentarnya.
Zee balas tersenyum. Keduanya kembali terdiam, "Lalu bagaimana nasib Eren Ree setelah kematian istri dan anaknya?" tanyanya penasaran.
Senyum misterius mengambang di bibir lelaki asing keturunan Italy. "Dia menghilang. Ada yang bilang dia mati, tapi menurut desas-desus yang beredar," dia mencondongkan tubuhnya ke arah Zee, seolah hendak membisikan sesuatu yang rahasia, "dia membuat perjanjian dengan iblis. Membalas dendam dengan membunuh semua orang desa yang terlibat dalam pembunuhan istri dan anaknya. Katanya dia abadi, sampai sekarang dia masih hidup untuk mencari reinkarnasi istrinya. Dia sangat ingin bersatu kembali dengan Sang istri."
Mata gelap Zee melebar, sesaat kemudian dia terlihat sedih. "Dia benar-benar mencintainya?"
"Sangat," sahut lelaki itu lalu kembali bersandar ke tempat duduknya.
"Itu sangat menyakitkan. Dia menjadi sesat, ”memuja iblis” karena ingin bersatu kembali dengan orang yang dia cintai," kata Zee sedih.
"Hn."
"ZEE!" Zee dan si lelaki Iasing menoleh, melihat Ayah Zee yang melambai ke arah mereka. "AYO KITA KEMBALI KE PENGINAPAN! IBUMU SUDAH LELAH!" serunya sembari mengerling ke arah wanita setengah baya berambut gelap yang ada dalam rangkulannya.
Zee terkekeh melihat sang Ayah yang mengaduh kesakitan karena dicubit oleh ibunya. "Aku harus pergi," pamitnya sambil bangun dari kursi.
"Hn."
"Sampai jumpa."
"Ya, sampai jumpa." Entah kenapa kalimat si lelaki asing terdengar seperti sebuah janji di telinga Zee.
"Oh ya." Zee berhenti melangkah, lalu menoleh, "Kita belum berkenalan, dan kamu sudah menceritakan sebuah kisah yang sangat bagus untukku."
"Aku Aren Ree," ucap lelaki itu sambil mengulum senyum ramah.
"Zeevanya. Sampai jumpa Aren," ucap Zee, "Dan aku harap Eren Ree bisa bertemu kembali dengan istrinya," katanya kemudian melangkah pergi menyusul kedua orang tuanya.
Di tengah perjalanan kembali ke penginapan, Zee kemudian tersentak saat menyadari sesuatu. “Aren Ree? Eren Ree?”
Aren menatap kepergian Zee dengan tatapan kosong nan sedih. "Eren Ree sudah menemukannya sekarang, dia sudah menemukan reinkarnasi istrinya dan itu kamu Zee. Kamu adalah Natasha-nya Eren . Kamu milikku." Tiba-tiba tubuh Aren menghilang seiring hembusan angin.
.
.
#END