Setahun sudah sejak kematian Nia sahabatku. Rasanya seperti mimpi kini dia sudah tidak ada di samping. Aku hanya menatap kosong keluar jendela kelas mengingat ketika dulu kami berdua sering tertawa bersama.
sore harinya aku ada kegiatan ekstrakurikuler jadi aku tidak pulang ke rumah, ekstrakurikuler yang aku ikuti adalah Bela Diri Pencak Silat. Hari itu Kak Raffi datang lebih awal dari teman-temanku yang lain. Dia adalah pembimbingku dalam kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti ini.
" Hai." sapa Kak Raffi padaku.
" Hai, Kak Raffi." sahutku kembali menyapanya.
" Tumben kamu duluan datang." ledek Kak Raffi karna biasanya aku paling telat dari teman-temanku.
" Ya, aku tidak pulang hari ini agar tidak telat." rungutku tidak suka sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Kak Raffi yang melihat tingkahku seperti anak kecil yang merajuk membuat dia tertawa nyaring.
" Hahaaaa...." tawanya menggelegar.
" Lihat wajahmu seperti bocah." ledek Kak Raffi sambil menutup mulutnya dan satu lagi tangannya menunjuk ke arahnya.
aku hanya memalingkan wajahku kesal sementara dia masih asik tertawa.
" Oh, iya. Kamu mau dengar cerita seram, tidak?" tanya Kak Raffi sambil menatap dua bola mataku.
" Apa itu?" tanyaku kembali penasaran.
" Kamu tahu tentang Hantu Air?" tanya Kak Raffi padaku.
" Tidak." jawabku singkat.
" Kamu harus tahu bahwa Hantu Air itu hanya akan memilih anak-anak yang sudah bertanda sejak lahir." jelas Kak Raffi padaku.
" Tanda itu akan muncul di antara kedua mata seperti urat mata tapi itu sebenarnya bukan itu, biasanya tanda itu akan berwarna hijau atau keunguan seperti tengah menyebrang. Jika tanda itu telah menyebrang sempurna maka Hantu Air telah memilihmu dan dia akan membawamu ke dalam kerajaan gaibnya." jelas Kak Raffi dengan nada horor seketika bulu tengkukku berdiri.
" Aku dulu juga punya." ujar Kak Raffi padaku.
" Serius, Ka?" tanyaku tidak percaya.
" tapi tidak ada tanda di antara kedua mata, Kaka." ujarku kebingungan yang tak melihat tanda itu di antara kedua matanya.
" Yah, itu sudah di buang saat aku kecil. Waktu orangtuaku sadar aku memiliki tanda itu lalu membawaku ke orang pintar untuk menghilangkan tanda itu. makanya sekarang tanda itu sudah tidak ada lagi." terang Kak Raffi padaku dan aku hanya ber-Oh ria.
" kalau memiliki tanda itu sebaiknya segera di buang saja atau tidak akan berakibat fatal. bisa saja nyawamu melayang." ujar Kak Raffi kali ini menakuti.
Aku hanya menganggukan kepalaku tanda mengerti. Ingat aku ketika Nia masih hidup aku juga melihat tanda yang sama persis yang di katakan oleh Kak Raffi itu. tanda itu memang menyebrang sempurna tapi saat itu akulah yang di tarik dan Nia yang berusaha menyelamatkan aku.
kepalaku mendadak pusing ketika memori menyakitkan itu terputar lagi. tiba-tiba temanku yang lainnya sudah berkumpul semua. Aku dan Kak Raffi tidak melanjutkan perbincangan kami lagi dan memulai kegiatan ekstrakurikuler kami sampai selesai.
1 tahun kemudian
aku sudah tak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler itu lagi ketika lulus dari sekolah itu dan aku mendengar kabar kematian Kak Raffi sebagai pembimbingku waktu itu. aku kaget bukan kepalang, Kak Raffi masih begitu muda tapi dia sudah tiada.
Ternyata Kak Raffi ditemukan tenggelam di pinggiran sungai di dekat taman. Menurut saksi yang tak lain adalah kedua temannya sendiri, saat itu hari menjelang Maghrib mereka habis pulang dari kegiatan Ekstrakurikuler. Niat mereka awalnya hanya ingin bersantai sejenak sambil menikmati keindahan taman dan air sungai yang mengalami pasang saat itu.
Mereka bertiga duduk di pinggiran sungai sambil menikmati pemandangan disana. tiba-tiba Kak Raffi berteriak tanpa alasan.
" Woy, bram. Ada anak tenggelam tuh." teriak Kak Raffi pada salah satu temannya sambil menunjuk ke tengah sungai.
Bram yang tak melihat apapun hanya berfikir Kak Raffi hanya sedang bercanda.
" serius, Rama. Itu ada yang tenggelam minta tolong." pekik Kak raffi yang masih terus menunjuk ke tengah sungai.
Bram dan Rama hanya saling berpandangan karna mereka berdua tidak melihat apapun yang di tunjuk oleh Kak Raffi. Mereka pikir saat itu Kak Raffi hanya sedang bercanda jadi mereka tidak terlalu memperdulikannya.
Kak Raffi yang kesal melihat tingkat kedua sahabatnya itu akhirnya melompat ke sungai seorang diri untuk menolong orang yang dia maksud. sementara dua temannya hanya terdiam dan terkejut ketika Kak Raffi melompat ke dalam Sungai.
Kak Raffi sudah berada di tengah sungai yang dia tunjuk sedari tadi tapi setelah berada di tengah sungai. Kak Raffi menenggelamkan dirinya beberapa kali lalu membuat gelombang cukup besar seolah melepaskan diri dari sesuatu.
" tolong." ujar Kak Raffi sambil terus menenggelamkan dirinya ke dalam sungai.
" Fi, jangan bercanda lagi. Kamukan bisa berenang, hayuk naik sekarang." teriak Bram yang mulai kesal melihat Kak Raffi yang seolah mempermainkannya sejak tadi.
" tolong." teriak raffi lagi di tengah sungai.
" ayolah, Fi. Udah mau maghrib ini. kita pulang saja, hayuk." ajak Rama meminta Kak Raffi untuk naik.
Terakhir Kak Raffi menenggelamkan dirinya untuk terakhir kalinya. dia sudah tak terlihat lagi di tengah sungai itu.
" Fi, jangan bercanda." teriak Bram kali ini mulai kesal.
" Kalau kamu bercanda kami pulang." Desak Bram pada Raffi yang sudah tidak kelihatan lagi.
Lama Bram menunggu respon Raffi untuk keluar dari dalam Sungai namun Raffi tidak menunjukkan batang hidungnya. Ada hampir setengah jam dia tidak keluar dari dalam sungai, Seketika kepanikan menghampiri kedua temannya.
" Bram." panggil Rama dengan tubuh bergetar hebat.
" Jangan-jangan Raffi, benar-benar tenggelam." sambung Rama lagi dengan peluh yang sudah membanjir.
" Ah, tidak mungkin. Diakan pandai berenang, jadi itu mustahil." sangkal Bram lagi mencoba membuat tenang.
" Tapi...Raffi benaran tidak muncul, loh." ujar Rama yang masih bergetar.
" Kita tunggu saja 15 menitan lagi." sahut Bram lagi dan Rama mengangguk mengiyakan.
Azan Maghrib berkumandang dan orang-orang sudah pada pulang dari Mesjid namun Raffi tak kunjung terlihat. Peluh dingin mulai bermunculan menghiasi jidat Bram.
" Bram." panggil Rama pada Bram karna mereka sudah cukup lama berada di situ.
" Ayo, kita lapor polisi." ujar Bram bergegas meninggalkan tempat itu bersama Rama.
Bram dengan cepat melajukan kendaraan motornya menuju pos polisi terdekat, setelah melaporkan kasus Raffi kepihak kepolisian mereka berdua dibawa oleh polisi menuju tempat terakhir kali melihat Raffi. Pihak kepolisian minta bantuan TIM SAR dalam pencarian Raffi, pencarian 1 hari 1 malam di lakukan dan akhirnya membuahkan hasil. Raffi sudah ditemukan tapi dengan kondisi sudah tak bernyawa.
Aku masih kebingungan mengingat Kak Raffi pernah bercerita padaku bahwa hanya ketika tanda itu hilang makan Hantu Air tidak akan mencarimu dan memintamu tinggal bersamanya tapi Kak Raffi sudah menghilangkan tanda tapi tetap saja dia di panggil pergi.
' Apakah orang yang sudah di tandai oleh Hantu Air selamanya tidak akan terlepas?'
' Meskipun dia telah membuang tandanya?'
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Aku hanya mendoakan agar amal dan ibadah Kak Raffi diterima di sisi Allah SWT. amin
end
terimakasih untuk para pembaca setia cerpenku😍😍
jangan lupa tekan ❤ dan saran, komentarnya aku tunggu ya 🤗🤗
sekian dan terima kasih