Cindy Aurelie, ia baru saja dipindahkan dari sekolah SMA 1 Harapan ke SMA 2 Bunga Bintang. seorang anak indigo dan seorang korban bully di SMA nya yang lama.
di hari ini, di hari Selasa, Cindy berjalan di lorong kelas, mengikuti langkah kaki wali kelasnya yang bernama bu Mala. sambil memeluk buku diary nya, Cindy perlahan mengikuti bu Mala yang akan segera membawanya ke kelas baru nya.
tak selang berapa lama, Cindy dan bu Mala, sampai di depan pintu kelas. Cindy berdiri di depan pintu sedangkan bu Mala segera masuk ke dalam kelas.
" selamat pagi~ " sapa bu Mala.
" pagi bu! " saut anak-anak murid serentak, menjawab sapaan dari bu Mala.
" hari ini, kita kedatangan murid baru.. silakan masuk Cindy~ " pinta bu Mala.
serentak pandangan para murid tertuju pada pintu masuk, semua anak murid, menantikan sang murid baru.
Cindy melangkah perlahan. suara langkah kakinya membuat anak-anak lainnya makin penasaran, siapakah anak baru itu. Cindy perlahan memasuki kelas, lalu berdiri di samping bu Mala. saat ini, semua pandangan tertuju padanya.
gadis cantik berambut panjang dan bergelombang, bermata tajam dengan pipi yang merona alami, sedang berdiri di hadapan para murid sambil terdiam.
" Cindy silakan perkenalkan diri kamu.. " pinta bu Mala.
Cindy mengangguk, lalu dia bersuara dan berkata " halo semua.. aku Cindy Aurelie, aku anak pindahan dari SMA 1 Harapan, dan aku berasal dari Jakarta.. " ucap Cindy memperkenalkan diri.
" ada yang mau bertanya kepada Cindy? " tanya bu Mala.
para murid menggelengkan kepalanya dan bu Mala mempersilahkan Cindy untuk segera duduk. bu Mala mengarahkan Cindy ke tempat duduk yang berada di samping seorang siswa, bernama Angga.
Cindy berjalan menuju kursi yang telah ditunjuk bu Mala, lalu ia duduk di kursi itu.
Angga, menoleh ke arah Cindy lalu berkata " hai! gue Angga! " ucap Angga sambil mengulurkan tangannya kepada Cindy.
" Hai juga! aku Cindy! salam kenal! " jawab Cindy sambil menjabat tangan Angga.
setelah menjabat tangan Angga, Cindy melihat sekitar. di sudut tembok, dia melihat sesosok wanita tua sedang berdiri di sana, dalam hatinya, dia bertanya kepada sosok wanita tua itu
' permisi, saya Cindy.. saya melihat keberadaan anda disini, apakah ada yang ingin anda sampaikan? ' tanya Cindy kepada sosok wanita tua itu.
sosok wanita tua itu hanya menjawab ' selamat kan dia... ' sambil menunjuk Angga.
Cindy menoleh ke arah Angga dengan tatapan penasaran. Angga? kenapa ada apa dengan Angga, apakah sosok wanita tua itu, adalah keluarga dari Angga? begitulah perasaan Cindy saat mendengar pesan dari sosok wanita tua itu. saat Cindy kembali menoleh ke sudut kelas, dia tidak melihat sosok wanita tua itu, dia telah menghilang.
Cindy hanya menghela nafasnya, dan mencoba mencerna apa yang sosok wanita tua itu inginkan. Angga yang melihat Cindy melamun, sedikit menegur Cindy karena jam pelajaran telah dimulai.
" Cindy! " tegur Angga.
" eh! ya? " Cindy tersadar dari lamunannya, dia membuka bukunya, dan mencoba fokus pada pelajaran.
di depan, guru sedang menjelaskan materi, dan Cindy memperhatikan, Angga mencoba bertanya pada Cindy, kenapa dia melamun tadi.
" Cindy, tadi lu kenapa ngelamun? lu liat sesuatu? " tanya Angga dengan suara yang pelan, dan sedikit berbisik.
" e-enggak kok! aku tadi ngelamun karena.. lagi mikirin sesuatu aja.. " jawab Cindy dengan suara yang pelan.
" lu yakin? gue rasa lu liat sesuatu, soalnya gue denger, lu itu ' Indigo ' Cin.. " ujar Angga.
" a... itu.. " Cindy kehabisan kata-kata, dia balik menegur Angga dan menyuruhnya untuk memperhatikan pelajaran " ck! ah udahlah, fokus ke materi aja, yang tadi gak penting! " tegas Cindy.
Angga hanya mengangguk dan kembali memperhatikan pelajaran, Cindy pun demikian.
bell istirahat berbunyi, Cindy membereskan alat tulis dan bukunya, saat sedang membereskan alat tulis nya, dua siswi menghampiri nya dan mengajak nya untuk ke kantin.
" Annyeong Cindy~ ke kantin yuk! oiya btw, kita kan belum kenalan, kenalin aku Tina dan ini bestie aku, namanya Dinda! " ujar siswi bernama Tina itu sambil mengulurkan telapak tangannya.
Cindy menjabat tangan Tina dan Dinda, mereka berkenalan layaknya siswi yang baru mengenal. akhirnya, Cindy, Dinda dan Tina, pergi ke kantin bersama.
mereka membeli beberapa camilan untuk dimakan, seperti gorengan, snack dan es. Tina berinisiatif untuk pergi ke rooftop karena menurutnya, dia atas sana cukup nyaman dan menenangkan.
Cindy mengiyakan ajakan Tina, dan mereka semua pergi ke ke rooftop. saat menaiki tangga dan melewati lantai 3, Cindy melewati sebuah ruangan yang terlihat terbengkalai. seperti sebuah ruangan ekstrakurikuler, tapi lebih terlihat seperti ruangan latihan seni tari, Cindy memperlambat jalannya, sambil memperhatikan ruangan tersebut.
ruangan tersebut dikunci dan digembok, saat berjalan melewati ruangan itu, Cindy merasakan aura yang berbeda dan mencekam dari ruangan itu, Cindy tiba-tiba mencium aroma anyir darah dari ruangan itu. pintu ruangan itu, memiliki jendela kecil, Cindy sedikit mengintip dan dia melihat, ada sesosok wanita sedang menari ballet disana. tubuhnya penuh luka dan pakaiannya terlihat kotor dan koyak, seperti sudah lama.
saat Cindy sedang mengintip ruangan itu dari jendela kecil yang ada di pintu, sosok wanita itu, menatap mata Cindy dengan tatapan sedih. mata mereka bertemu, dan sosok wanita itu mengatakan kepada Cindy
' tolong.. '
perasaan Cindy tidak enak, sebuah telapak tangan menyentuh bahunya dan mengejutkan Cindy yang sedang terlena dalam penglihatannya.
" aaakkkhh!!! " teriak Cindy terkejut.
orang yang menyentuh bahu Cindy itu tidak lain adalah Tina, yang sedari tadi memanggil Cindy.
" loh...? kamu kenapa Ci? kok teriak? " tanya Tina.
" k-kok kalian ada disini? " ucap Cindy balik bertanya.
" harusnya aku yang nanya! kamu ngapain disini? ngeliatin apa sampe begitunya? dari tadi aku panggil loh.. kamu gak denger? " jelas Tina.
" i-itu..iya..kayaknya aku gak denger.. maaf ya.. kalian jadi kaget gitu.." ujar Cindy.
" Mmm..yaudah gak apa-apa.. tapi btw, kamu dari tadi ngeliat apaan? kok kayaknya fokus banget gitu? " tanya Tina sambil mengintip ruangan itu.
" Mmm..ini tadi aku liat ruangan ini, kamu tau ruangan ini gak? " tanya Cindy.
Tina dan Dinda,melihat sekilas ruangan itu, mulai dari pintu lalu mengintip sekilas mengamati ruangan tersebut,mencoba menerka dan mengingat ruangan itu.
" bukannya.. ini ruangan ballet ya? kamu inget gak sih? Tina? " ujar Dinda kemudian bertanya pendapat Tina yang sedang mengingat.
" ini kan emang ruangan eskul ballet.. oh iya! Dinda! kamu inget gak sih..? " ujar Tina.
" inget apa? " tanya Dinda.
" kamu inget kak Dara? kakak OSIS sekaligus ketua eskul ballet? " ujar Tina balik bertanya kepada Dinda.
" yang juara 1 lomba tari ballet tingkat provinsi itu ya? yang dua bulan lalu dinyatakan hilang pas perjalanan pulang ke rumah.. " jawab Dinda mencoba mengingat.
" iya! seinget aku.. sebelum hilang, kak Dara ada aktivitas di ruangan ini! " ujar Tina.
" tunggu dulu! jadi maksud kalian, dulu ada senior kita yang berbakat.. terus.. dia hilang dan terakhir kali dia beraktivitas itu... disini? " tanya Cindy.
" iya! waktu itu polisi juga sampe dateng ke sekolah ini buat interogasi saksi-saksi yang terakhir kali berinteraksi sama kak Dara, tapi akhirnya.. kak Dara cuma dinyatakan hilang dan gak pernah dicari lagi sampe sekarang.. " jelas Dinda.
" kayaknya, gara-gara kejadian hari itu, ruangan eskul ballet ini udah gak dipake lagi, dan eskul ballet sampe dihilangin! " timpal Tina.
saat mendengar cerita dari Tina dan Dinda, perlahan Cindy merasa kehilangan kontrol atas dirinya, kepalanya terasa berat dan nafasnya sesak, seakan-akan tubuhnya telah diambil alih oleh sesuatu. dan benar saja, tidak lama kemudian Cindy terjatuh dan pingsan.
Tina yang panik segera turun ke lantai 1 untuk memanggil dokter di ruang UKS, sedangkan Dinda menjaga Cindy di lantai 3.
" shh.. Ahh!! " saat Dinda menyentuh dahi Cindy, dia merasakan suhu tubuh Cindy meningkat, dan saat itu, suhu tubuh Cindy tidak normal dan begitu panas.
sedangkan di alam lain, di dalam bayangan Cindy, Cindy melihat seniornya yang baru saja mereka bicarakan ( Dara ) sedang dikejar oleh sesosok pria.
Cindy melihat, Dara sedang berlari semampu yang ia bisa, dengan keadaan pakaiannya yang sudah koyak ( sobek). saat tengah berlari, Dara justru tersandung batu dan malah terjatuh. pria yang mengejarnya dengan cepat menjambak rambut Dara, dan menyeretnya membawanya ke suatu tempat, yang tidak lain adalah ruang eskul ballet.
di ruang itu, Cindy diperlihatkan, Dara sedang disiksa oleh pria itu, saat sedang menyiksa Dara, pria itu mengucapkan sesuatu ...
" jangan kurang ajar kamu Dara! orang tuamu sudah menyerahkan kamu kepada saya! dan kamu gak bisa menghindar lagi Dara!! "
ucap pria itu, sambil menarik rambut Dara. Pria itu, membaringkan Dara secara paksa dan mencoba mengoyak pakaiannya. Dara mencoba melawan namun tenaganya itu tak seberapa dengan pria yang sedang menindihnya dan menciumi lehernya. Kemudian, Dara mencoba menggigit leher pria itu, usahanya itu berhasil dan membuat pria itu segera menjauh dari tubuhnya.
Dara berlari keluar ruangan itu dan berlari sekuat tenaganya menuju rooftop sedangkan dibelakangnya, pria tadi mengejarnya dengan cepat. Dara, akhirnya sampai di rooftop, dan pintu rooftop itu dia kunci dari luar.
pria itu, mencoba mendobrak pintu rooftop itu sekuat tenaganya, sedangkan Dara mencoba menahan pintu agar pria itu tak bisa masuk ke rooftop.
Namun sekuat apapun dia berusaha, pria itu akhirnya berhasil di dobrak, dan Dara berlari menuju ujung rooftop. Pria itu berlari menuju Dara dan mencoba menyeret Dara. Dara terus melawan dan tanpa sengaja pria itu mendorong Dara, dan Dara akhirnya jatuh dari rooftop itu.
Pria itu, melihat kebawah dan mendapati, jasad Dara yang sudah berlumuran darah serta kepalanya pecah. Pria itu segera berlari kebawah dan membawa mayat Dara ke lantai 3. dia menaruh jasad Dara di sebuah lemari penyimpanan pakaian ballet.
Pria itu, kemudian menghubungi anak buahnya untuk membersihkan darah yang ada, dan membuat skenario seolah-olah Dara menghilang .
---------
" hahh!! " Cindy berteriak, dan matanya membelalak, dia segera melihat sekitar, Tina, Dinda, bu Mala dan Angga, sedang duduk mengitari dirinya di ruang UKS.
" Cindy! kamu gak apa-apa kan?! " tanya bu Mala.
" iya Cin.. tadi kamu demam tinggi banget, terus tiba-tiba nangis.. " jelas Tina.
Cindy duduk termenung sejenak, mencoba menenangkan dirinya, kemudian dia turun dari ranjang dan berlari menemui penjaga di gerbang.
" Cindy kamu mau kemana!!?? " teriak Dinda saat Cindy tiba-tiba berlari keluar ruangan UKS padahal demam nya belum turun.
Sementara itu, di gerbang depan sekolah.
" pak! pak penjaga!! " Cindy berteriak sambil berlari menghampiri penjaga yang sedang berjaga di gerbang.
" iya dek? " penjaga itu menoleh lalu menanyakan apa yang Cindy ingin.
" pak.. kunci.. kunci ruangan eskul ballet di lantai 3, apa bapak megang kunci itu?! " tanya Cindy dengan suara gemetar dan nafas yang tersengal.
" tadinya, saya yang pegang kunci ruangan itu dek.. tapi, sekarang lagi dipegang sama Kepala sekolah, dan kepala sekolah juga lagi ada acara di luar kota.. " jelas penjaga.
" sial! pak, tolong sekarang bapak ikut saya ke lantai 3, ya pak! " pinta Cindy. lalu Cindy mengambil sebongkah batu besar.
penjaga itu hanya mengangguk dan mengikuti apa mau Cindy, dan mengikuti Cindy yang berlari menuju lantai 3 membawa sebongkah batu besar.
Dinda, Tina, Angga dan bu Mala yang melihat Cindy berlari ke lantai 3 itu, ikut berlari mengikuti Cindy.
dan di depan pintu itu, Cindy memukul-pukul gembok yang mengunci ruangan eskul ballet. penjaga itu, mencoba menghentikan tindakan Cindy, namun Cindy berkata
" pak di dalam sini, ada teman saya yang butuh pertolongan saya! kalau bapak begini, dia gak akan bisa bebas!! " tegas Cindy sambil terus memukul gembok dengan batu besar itu.
akhirnya penjaga itu, ikut membantu Cindy, dan saat gembok itu terbuka, penjaga itu mendobrak pintu ruangan itu dibantu oleh Angga dan seorang anak lelaki lainnya.
Saat pintu itu terbuka, Cindy segera masuk dan kembali memukul kunci lemari. saat kunci lemari telah hancur dan pintu lemari terbuka, jasad Dara yang selama ini dikira hilang, keluar dari dalam lemari dan terjatuh ke lantai.
jasad Dara telah membusuk dan mengeluarkan bau busuk, bu Mala, segera menelpon polisi dan menyerahkan jasad Dara kepada polisi untuk dilakukan autopsi.
sayup-sayup Cindy mendengar suara di kepalanya, yang mengatakan
' terimakasih.. '
setelah itu, Cindy kembali jatuh pingsan dan demam nya kembali tinggi.
" gimana Cindy bisa tau ya? kalau di dalam ruangan ini ada mayat? Apa jangan-jangan Cindy itu indigo? " celetuk Tina saat menyaksikan Cindy yang kembali pingsan.
" bisa jadi.. " ujar Dinda.
Kejadian hari itu, membuat satu sekolah heboh dan para murid mulai membicarakan kembali kasus Dara yang pernah dinyatakan menghilang.
𝘚𝘦𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢~ 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪~
𝔖𝔢𝔩𝔢𝔰𝔞𝔦
𝘵𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘶𝘵𝘩𝘰𝘳 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘶𝘵𝘩𝘰𝘳 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬... 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘦𝘩..
𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘶𝘵𝘩𝘰𝘳 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘪𝘯 𝘥𝘦𝘩! 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘴 𝘋𝘢𝘳𝘢.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏