Malam terasa sangat dingin ketika aku berjalan di tengah hutan belantara. Sementara mata tajamku masih mengawasi perempuan yang berjalan seorang diri. Kupercepat langkah mendekatinya, tanganku bergerak lincah dengan tali menjerat leher perempuan yang kuanggap berdosa. Aku menyeringai. Pisau daging yang kubawa seolah mengambil kendali tubuhku, bergerak dengan ringan menusuk, menyayat, bahkan memotong tubuh tak berdaya yang tak lagi mampu menyuarakan kesakitannya.
"Aku bahagia!" teriakku pada dedaunan yang melambai-lambai, menjadi saksi bisu permainan malam ini. Lantas tawaku memecah keheningan.
***
Pukul 05.30 WIB
Pria renta itu mengumpat ketika mendapati gerbang sekolah masih tertutup rapat. Anwar, satpam sekolah yang selalu datang lebih dulu darinya pun, kini tak terlihat di pos. Terpaksa, ia harus memutar melewati hutan jika agar bisa masuk sekolah melalui pintu belakang dan segera melakukan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan.
Dengan langkah terseok, pria yang kerap disapa Pak Arjo berusaha berjalan secepat yang dia bisa untuk mencapai pintu belakang sekolah yang memang tak pernah dikunci. Namun, langkah pria tua itu terhenti pada radius dua meter dari pagar menjulang yang membatasi sekolah dengan hutan di belakangnya. Tubuh Pak Arjo bergetar hebat. Matanya menatap nanar pada pemandangan mengerikan yang tersaji di hadapannya. Seorang wanita dengan tubuh bersimbah darah bersandar di pintu belakang sekolah. Lehernya terlilit tali berwarna merah. Sementara wajah wanita itu juga dipenuhi darah hingga tak bisa dikenali.
Masih dengan tangan gemetar, Pak Arjo berusaha mengambil ponsel jadulnya untuk menghubungi polisi.
***
Jeanny baru saja bangun tidur ketika rekannya menelpon mengabarkan tentang penemuan mayat sepagi ini. Maka hanya dengan cuci muka dan gosok gigi, ia bergegas pergi usai meninggalkan catatan untuk suaminya yang masih terlelap.
Detektif wanita itu turun dari taksi yang ditumpanginya tepat di seberang hutan. Kemudian masuk menuju tempat kejadian perkara. Di sana sudah ada beberapa rekan kerjanya yang berjaga. Garis kuning telah dipasang di sekitarnya. Lalu mata Jeanny beralih pada korban yang meninggal dengan sangat mengenaskan. Luka sayatan di wajah dan lengan. Leher terlilit tali merah darah. Beberapa luka tusukan di dada dan perut serta kedua tangan dan kakinya yang tidak ada di tempat.
Jeanny kembali memperhatikan mayat itu dengan teliti. Keningnya berkerut, berusaha menganalisa kematian korban. Ketika melihat betisnya, napas Jeanny tertahan.
"Gerald! Lihat ini!" teriaknya memanggil salah satu rekan.
"Menemukan sesuatu?"
Jeanny mengangguk. Kemudian menunjukkan tanda titik hitam di betis korban.
"Sepertinya, aku pernah melihat ini," kening Gerald berkerut. Ia berusaha mengingat kapan dan di mana melihat titik hitam itu.
"Tunggu! Berapa jumlah titiknya?" Jeanny berseru tiba-tiba. Dengan segera, ia melihat kembali tubuh tak bernyawa di hadapannya. Lantas menghitung titik hitam tersebut.
"Lima!" seru Gerald mengejutkan Jeanny.
"Kau benar, Jeanny. Titik hitam itu polanya," wajah Gerald berubah pias, menyadari kemungkinan kasus ini adalah pembunuhan berantai.
***
Pukul 15.30 WIB
Seorang pria bertopi dengan seragam kurir restoran cepat saji dan wajah tertutup masker berjalan melewati pintu demi pintu. Sebelah tangannya membawa tas jinjing. Sementara tangan yang lain membawa makanan. Bibirnya bergerak pelan, membaca nomor di setiap pintu yang dilewatinya.
365, 366, 367, 368 ...,
369!
Bibir pucat di balik masker itu menyeringai lebar.
"Makanan datang!" teriaknya dari depan pintu.
"Sebentar!" terdengar sahutan dari dalam.
Selang beberapa menit, pintu terbuka, menampakkan wajah perempuan yang sangat dia kenal. Sembari menyerahkan pesanan, ia membuka masker yang menutup hampir seluruh wajahnya.
"Kau ...,"
"Boleh aku makan bersamamu?" lelaki itu bertanya.
***
"Kau milikku, Sayang. Aku membayar mahal untuk mendapatkanmu,"
Kupandangi langit malam berhias rembulan dan gugusan bintang-bintang yang turut menjadi teman.
"Malam yang indah. Bagaimana menurutmu? Sangat cocok untuk melakukan pembantaian, bukan?"
Dia terus menangis, entah takut atau kesakitan, aku sama sekali tak paham. Tapi, aku bahagia. Deritanya sungguh bisa menimbulkan perasaan senang membuncah dalam dada.
Lantas aku menghampirinya dengan tangan membawa pena tajam yang kupakai untuk mengabadikan setiap permainan menjadi karya yang menjual.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Kuukir titik hitam pada kakinya. Kemudian kuakhiri permainan dengan menusuk jantungnya hingga ia meregang nyawa. Lagi-lagi, aku tertawa bahagia.
***
Pukul 20.30
Jeanny baru pulang ketika melihat laptop milik suaminya terbuka. Ia menatap sekilas pada tampilan layar yang menunjukkan karya terbaru sang suami yang masih dalam proses penulisan. Penasaran, Jeanny membacanya.
Aku menyukai malam dan rembulan. Sebab mereka adalah perpaduan yang teramat indah untuk melakukan transaksi pun pembantaian. Dan malam ini, aku menunggunya pulang untuk kujadikan korban yang ke sekian dan mungkin pula yang terakhir.
Kuambil seperangkat alat penyiksaan kala melihatnya memasuki kamar yang kita huni selama ini. Aku ingin menggantungnya kali ini. Sebab mungkin akan tampak lebih baik jika membuatnya seolah bunuh diri. Maka itu, kusiapkan tali merah dengan simpul yang bisa kurapatkan nanti. Juga pisau dan pena untuk mengukir tubuhnya.
"Bagaimana rasanya membaca kisah tentang dirimu sendiri?" Abraham, lelaki yang Jeanny sebut sebagai suami kini menyeringai lebar pada sang istri.
"Apa kau tak ingin tahu rasanya jika menjadi korban? Aku bisa membunuhmu perlahan,"
Jeanny mundur. Napasnya tak lagi teratur. Matanya menatap ketakutan pada lelaki yang kini berubah menjadi monster kejam.
"Jadi ..., selama ini ... kau yang melakukannya?" Jeanny bertanya dengan suara bergetar.
"Maaf, Jeanny. Namun, mereka adalah milikku. Aku sudah membeli mereka cukup mahal," Abraham dengan tali, pisau, pena eksekusi miliknya berjalan mendekati dirinya.
Lantas Abraham bergerak lincah. Mengunci pergerakan istrinya dengan tali dan menyiksanya dengan pisau lipat dan pena eksekusi yang ia miliki seolah mengambil alih tubuhnya hingga begitu mudah menyiksa orang.
Air mata Jeanny terus mengalir di pipi mulusnya. Teriakan-teriakannya pun percuma sebab ruang itu kedap suara.
"Adakah pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?"
"Serahkan dirimu!" tanpa keraguan, ia memberi buah konspirasi yang disembunyikan selama 13.
Abraham tertawa lebar. Bukan itu jawaban yang dia inginkan. Namun, ia hanya balas dengan menatap tubuh istrinya yang seolah sedang berjuang mempertahankan nyawa dan kesadaran. Sembari menanti, ia melanjutkan mengetik kisah tentang sang istri.
Aku mulai dari wajah lembutnya, pola demi pola terbentuk dari sayatan yang kubuat. Kemudian aku menusuk betisnya dengan pena lancip yang sudah kusiapkan.
Satu ...,
Dua ...,
Tiga ...,
Empat ...,
Lima ...,
Enam ...,
Tujuh.
Korban terakhir. Gadis ke tujuh yang kubeli pada tahun ini. Istriku.
***
Setelah membunuh istrinya, Abraham menghilang. Ia meninggalkan catatan kecil untuk pihak kepolisian.
"Jangan mencariku jika hanya untuk bertanya tentang motif. Mereka adalah milikku dan aku berhak melakukan apapun pada milikku. Kalian tahu? Aku telah membeli mereka dengan harga yang sangat mahal untuk kubunuh. Sampai jumpa." (A)
END