Bulir bening embun pagi masih menempel di ujung rerumputan.
Angin pagi yang berhembus semilir, memaksa seorang pemuda bertubuh kurus, bersedekap mencari kehangatan di balik bajunya yang lusuh.
Awan hitam terlihat berarak, dan pemuda asing itu masih memandang rerumputan yang menghijau. Sesekali ia memandang ke arah tunas-tunas dedaunan Mimba.
Di tempat yang sunyi itu, ia selalu menanti kekasihnya yang menurutnya lama tak kembali. Setidak-tidaknya, di jalanan setapak tak jauh dari tempatnya berdiri, Ia bisa menyaksikan lemah gemulai dan anggunnya kekasih itu berjalan. Pun juga dengan senyum manis yang selalu mengembang dari bibir manisnya.
Mata lelaki itu nanar memandang gumpalan awan hitam. Rintik hujan mulai menetes membasahi bumi. Laki-laki itu tak bergeming dan tetap berdiri. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata dan sejurus kemudian, dia seakan-akan telah mendapatkan kekuatan baru. Ia tersenyum.
Di tempat itu dulu untuk pertama kalinya, ia telah jatuh cinta pada seorang gadis. Di tempat itu pula, Ia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya pada sang gadis. Sejak saat itu, ia merasakan telah hidup di alam fantasi. Suasana batin yang selalu diliputi rasa bahagia. Dia ingin selalu di sana, bersanding di atas rerumputan menghijau, di bawah rintik hujan nan mengundang. Memandang sejuta pesona yang hadir di depan mata.
Cinta pertama yang begitu indah. Rasa indah yang begitu luar biasa saat sang kekasih berada di dekatnya. Kekasih yang telah mengajarkan tangannya menari memainkan kalam. Kekasih yang telah mengajarkannya bagaimana memaktubkan suasana batin di atas perada dalam alunan sanjaknya. Kekasih yang telah membawanya ke dunia imaji, saban hari saban malam. Kekasih yang telah berikrar di hadapannya sepuluh tahun lalu. Ikrar cinta untuk selalu setia selamanya.
Tapi kini kekasih itu telah pergi. Pergi setelah sehari sebelumnya ia akan datang melamarnya. Kekasih itu telah memilih laki-laki lain. Itu baginya bagai hunjaman pedang menusuk ulu hatinya.
Sejak itu, malam-malamnya seperti membisu. Tak mampu lagi ia lukis bintang gemintang sebagai pelipur lara hatinya. Hanya kebisuan yang menyelimuti jiwa mendekap sunyi.
Bulir air mata menetes di pipi kusamnya. Walaupun hujan semakin deras mengguyur, ia tetap tak bergeming dengan isak tangis dan ratapan yang mulai terdengar.
Sepuluh tahun sudah berlalu dan ia tetap setia menanti di sana. Di sudut padang rumput tempatnya dulu pertama kali merajut cinta. Saat mentari dengan sinar keemasannya di ufuk timur sampai saat senja benar-benar berlabuh. Dia selalu di sana. Dia tahu dan yakin kekasihnya itu akan datang, dan ia takut kekasih itu datang saat ia berlalu dari tempat itu.
Lelaki itu mendesah pendek. setelah untuk sejenak ia terhanyut dalam pejaman matanya, ia mendongakkan kepalanya. Kedua tangannya di tengadahkan ke atas.
"Aku merindukan sang kekasih yang telah didekap sang pangeran. Aku menanti kekasih yang kata dunia telah menghianatiku. Tapi bukankah aku lebih mempercayaimu kekasihku? kau akan datang walau sekedar untuk meminta maaf?
oh angin...bawalah aku ke peraduan sunyi. Memandang wajahnya walau sejenak. Aku ingin bertemu. Aku ingin membelai wajahnya, walau tak akan ada lagi rintih. Walau tak akan ada lagi hasrat untuk bersatu kembali.
Aku akan tetap di sini kekasihku. Wajahmu akan selalu terlukis di setiap arah aku memandang. Karna anugrah indah mengenang indahmu".
Lelaki itu menghentikan rintihannya. Kepalanya tertunduk memandang jari-jari kakinya yang pucat. Angin menghempas keras, hujan semakin deras. Memandang awan yang hitam, tak ada harapan untuk menunggunya lekas berhenti. Ia akan pergi sembari menunggu hujan reda. Senja nanti ia akan kembali lagi untuk melanjutkan memori kisah silam yang terputus. Melanjutkan segala pengharapan untuk sang kekasih yang dinantinya.
Seorang perempuan bertubuh kurus, tiba-tiba keluar dari rerimbunan pohon turi yang tumbuh lebat di ujung jalan setapak, tak jauh dari lelaki itu tadi berdiri. Lama ia memandang dengan pandangan heran ke arah laki-laki asing itu, hingga saat laki-laki itu hilang di balik semak-semak, ia dengan langkah tertatih-tatih menahan hempasan angin, berusaha untuk tegak berdiri.
Di dekat bekas pijakan laki-laki itu ia terpaku. Saban hari ia saksikan laki-laki asing itu di sana, terkadang menangis dan sesekali berteriak dengan teriakan menyayat. Teriakan dan rintihan menyayat yang menggetarkan jala hatinya saat mendengarkannya. Ia tidak mengenal sama sekali lelaki asing itu, tapi setiap kali ia mendengar sajak-sajak yang dilagukannya, ia seperti diajak untuk terbang ke masa lalunya. Masa lalu yang romantic saat lelaki pujaannya membelai lembut rambutnya yang terurai di pangkuannya. Di sini, di tempat lelaki asing itu berpijak memandang langit. Lelaki asing yang telah mengingatkannya kembali pada seorang pemuda tampan yang telah menganugrahkannya bintang dan tersemat abadi dalam hati. Pemuda tampan yang telah ia tinggalkan dalam kenangan janji yang telah diikrarkan untuknya. Janji untuk sehidup semati. Lelaki pujaan hati yang telah mendahuluinya ke Nirwana. Ia telah mati saat beberapa lelaki hidung belang menindih tubuhnya bergantian.
Ia menyesal atas nasib yang telah berbuat tidak adil kepadanya, juga pada kekasihnya. Ia menyesal kenapa dulu ia harus menyerahkan segalanya untuk lelaki yang tidak ia cintai. Lelaki yang telah menikahinya sebagai tebusan utang orang tuanya yang tak mampu terbayar. Lelaki rentenir yang telah tega menjualnya pada tengkulak seks, melacurkannya dan sperma-sperma kotor pembawa penyakit membanjiri rahimnya. Ia terlunta, dan tertatih-tatih mengikuti arah hembusan angin. Dan haruskah ia mati di sini, sedangkan tempat itu terlalu suci untuk jasadnya yang kotor?, masih sudikah kekasih itu mengulurkan tangannya saat menyaksikan dirinya tenggelam dalam telaga neraka? Batinnya.
Perempuan itu berlutut. Setelah lama menatap bekas pijakan kaki laki-laki itu, ia lalu menjulurkan tangannya, menggenggam tanah dan mengusapkannya ke sekujur tubuhnya. Setelah itu ia bangkit, tanpa rintihan dan tanpa tangis ia kemudian berlalu pergi dan hilang di balik rerimbunan pohon turi.
Alunan kalam Ilahi menyapa lembut menjelang Ashar tiba. Lelaki itu datang lagi. Ia heran saat melihat di bekas pijakan kakinya berlubang. Dia menoleh ke sana kemari, namun ia tidak mendapatkan siapapun disana. Seperti biasa hanya kesunyian.
Lelaki itupun seakan-akan tidak peduli, ia terlihat takjub memandang pelangi yang membentang di hadapannya. Sore ini begitu indah, angin yang berhembus semilir lembut mencium wajah keringnya. Lelaki itu kembali tercenung, hal yang selalu diperbuatnya saat menjejakkan kakinya di tempat ini. Di tempat itu ia selalu sabar menanti musim demi musim yang datang silih berganti. Sepuluh kali ia melihat rerumputan mongering, dan dedaunan mimba kering saat musim kemarau, menggelar jubah panasnya ke seantero tanah. Sepuluh kali itu juga ia harus menyaksikan dedaunan dan rerumputan segar menghijau saat musim penghujan tiba. Namun bayangan kekasih itu tak lekang dimakan masa. Dia seolah-olah selalu hadir menggerogoti setiap ketenangannya. Setiap kali ia mencoba untuk menepis dan membuang jauh bayangan itu, setiap itu pula ia merasa tak berdaya kisah demi kisah indah menyergapnya. Tak tega, sungguh tak tega menghilangkan bayangan kekasih yang telah memberi segala-galanya baginya. Biarlah dunia menertawainya si bodoh penunggu padang, si bodoh yang masih terjepit oleh ketidak inginannya untuk melepas jerat-jerat penderitaan dari hatinya. Biar, biarkan. Di sini ia akan terus menanti kekasihnya. Ia akan datang walau mungkin pada hari ini, ia hanya akan mendapatkan tubuhnya tak bernyawa.
Lelaki itu pelan merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Kakinya yang tinggal tulang belulang tak sanggup lagi menopang sisa-sisa kekuatan dari tubuhnya untuk tetap berdiri.
Sepuluh tahun sudah ia menanti, dan selama itu tak kunjung ada warta dari burung bangau yang kembali dari utara. Cintanya hilang ditelan kebisuan, jejak langkah kekasih sirna seiring datangnya musim demi musim yang berganti. Tak ada lagi yang bisa dilihat dari jalan setapak yang penuh rerumputan liar. Jalan setapak yang pernah dilalui kasut suci sang kekasih. Sosoknya hilang ditelan ketidak tahuannya. Kenangan tinggal kenangan dan bulir air mata kesedihan menetes menyuburkan rerumputan.
“Tuhan sungguh agung Kau anugrahkan cinta pada setiap hati yang mendamba. Di atas pijakan ini kan kusematkan tanda kesedihan dan memori-memori indah yang tak sanggup lagi kupendam lagi dalam hatiku. Wahai kekasihku….aku masih berharap bisa bersua di sini denganmu ,walau hanya kebisuan yang meraja. Di sini, di pojok padang rumput. Kunanti kau cukup lama dengan segala pengorbanan yang kupersembahkan tulus di atas altar cinta. Kekasihku….! Aku sudah tidak punya daya lagi untuk memaksa sisa tenagaku bertahan lama menunggumu. Mungkin di kebiruan langit sana aku akan mendapatkan bayanganmu nyata membimbing tanganku menuju persandingan cinta…”.
Desahan panjang mengakhiri desah rintih lelaki itu. Ia terdiam. Perlahan matanya terpejam, dan setelah itu tak ada lagi hembusan bayu membelai tubuh keringnya. Ia membisu, terbang bersama segala angannya ke alam kegelapan. Ia terbaring kaku di atas rerumputan.
Rintik hujan mulai berjatuhan, bersamaan dengan itu seorang perempuan kurus keluar dari rerimbunan pohon turi. Lelaki itu telah lama terdiam saat ia sedang terbuai oleh alunan puitis yang disenandungkannya. Dan saat ia menanti cukup lama, tak ada tanda-tanda lelaki itu akan melanjutkan rintihannya. Dengan langkah sempoyongan perempuan itu mendekat penasaran dan tatapan matanya tertumbuk kepada sosok kurus yang terbaring tenang di atas rerumputan, tanpa nafas dan lelaki itu benar-benar menghayati tidurnya.
“Ah! Dia mati?. Perempuan itu kaget. Saat ia menyadari tak ada tanda-tanda kehidupan dari tubuh lelaki itu. Lelaki malang itu benar-benar telah hilang ke dunia lain. Bereinkarnasi dengan semua imaji yang terlarang. Mata perempuan itu nanar menoleh kesana kemari. Namun hanya pekikan burung yang terdengar dalam kesunyian senja.
“Malang nian nasibmu. Tapi kenapa kau pergi meninggalkanku sendiri, membawa kesejukan tembangmu. Adakah aku bisa menghadirkan nyata bayangan kekasihku tanpa alunan sajakmu?. Ah, tiada seorangpun disini, dan aku tidak tahu harus berbuat apa untuk memuliakan jasadmu”.
Perempuan itu kembali menoleh, namun lagi-lagi yang terlihat hanyalah kegelapan yang mulai menyelubungi semak-semak sekitarnya.
Dengan pelan perempuan itu meraih tangan laki-laki itu dan meletakkannya di atas dada. Namun tiba-tiba ia terperanjat, begitu melihat sebuah cincin bentuk hati terbelah di jari kurus lelaki itu. Cincin kusam yang samar-samar menampakkan beberapa huruf di tengahnya. Perempuan itu meraih tangan lelaki itu. Dengan tangan yang bergetar penuh kehati-hatian ia mencoba mengeluarkan cincin itu hingga terlepas dari jari lelaki itu. Perempuan itu mengusap cincin itu dengan ujung bajunya, berharap cincin yang kusam itu bisa sedikit memberinya isyarat tentang identitas lelaki itu. Matanya terbelalak. Walau pandangannya tidak begitu jelas, namun ia masih bisa membaca tiga buah tulisan dengan Abjad besar di cincin itu. “Rani”. Perempuan itu heran. Kebetulankah atau memang cincin itu adalah potongan dari cincin yang masih ia kenakan di jari hitamnya? Kalau memang ya, kekasihnyakah laki-laki yang kini terbaring tenang di hadapannya itu? Tapi bukankah kekasih itu sudah mati? Atau jangan-jangan sang bayukah yang salah memberinya berita? “Rani” itu memang nama panggilannya walaupun ada seribu lebih nama Rani di dunia ini.
Perempuan itu lalu melirik ke arah jari manisnya. Perlahan ia mengangkat tangan laki-laki itu, dan hampir-hampir mencium cincin yang ada di jarinya. Dia tidak perlu membaca sepotong tulisan pada mata cincinnya karena ia sudah tahu bahwa di sana tertulis abadi nama kekasihnya. Mahardika. Kalaupun cincin itu disatukannya dengan cincin laki-laki aneh itu, sudah pasti juga akan tercipta gabungan dua nama “Maharani”.
“Ah tidak, ini pasti hanyalah suatu kebetulan saja. Kekasihku tidak mungkin bangkit kembali dari kematiannya. Kalaupun ini adalah reinkarnasinya, aku tidak mau menerimanya. Aku tidak ingin dia melihatku dengan tubuhku yang nakjis ini”. Perempuan itu bangkit. Seperti tidak peduli lagi, ia terus melangkah meninggalkan tubuh kaku lelaki itu sendirian menuju rerimbunan pohon turi.
Perempuan itu merebahkan tubuhnya perlahan di atas rumput di dalam rerimbunan turi. Sejenak ia begitu terlena dengan lantunan tembang yang mulai dinyanyikannya. Setiap kali ada peluang bayangan laki-laki yang mungkin adanya kaitan di antara keduanya, menyelinap dalam pikirannya, ia berusaha membuangnya jauh dan menghalanginya dengan suara tembang. Hingga saat tatapannya ke langit menangkap beberapa ekor burung sriti terbang berputar-putar di atasnya, ia melonjak dan tiba-tiba bangkit. Ada sesuatu yang seperti tiba-tiba mengingatkannya. Perempuan itu mulai berjalan ke arah laki-laki itu. Walaupun tubuhnya lemah, ia berusaha semakin cepat mendekat. Sesampainya di sana, perempuan itu langsung membalikkan tubuh lelaki itu. Sepertinya ada yang coba dicarinya di balik punggung laki-laki itu.
Tangis perempuan itu tiba-tiba pecah. Erangan dan rintih pilunya terdengar memiriskan telinga senja. Suara pekikan burung sriti terdengar seperti ucapan belasungkawa atas tangis duka, yang mengagetkan penghuni savana. Sebuah Tato burung sriti terlihat membentang di punggung lelaki itu, saat perempuan itu membalikkannya. Gambar burung sriti dengan dua sayap yang siap terbang. Di satu sayapnya tertulis “Maha” dan di sayap yang lain tertulis “Rani”.
“Ini kudedikasikan untuk cinta kita Rani. Tato burung sriti Ini adalah bukti ketulusan cintaku. Selamanya aku akan mencintaimu”
Perempuan itu menggeleng seperti tidak ingin percaya. Namun dengan ditemukannya tato burung sriti itu, dan ingatannya tentang kata-kata yang pernah diucapkan kekasihnya dulu, saat memperlihatkannya lukisan burung sriti di punggungnya, sudah cukup untuk menghalanginya membantah kenyataan, tentang siapa sebenarnya lelaki itu. Itu bukan sebuah kebetulan, tapi sebuah kenyataan yang mau tidak mau harus diterimanya.
Perempuan itu lalu merebahkan tubuhnya di samping lelaki itu. Dengan tangis dukanya, ia terus menerus mencium wajah lelaki itu seraya membisikkannya kata-kata di telinganya.
“Tak kusangka ternyata kamulah yang selalu menemaniku di padang rumput ini kekasihku. Ternyata sajakmulah yang tiap hari aku dengar menghibur perasaan kalutku. Hari ini semoga harapanku menjadi kenyataan. Semoga Pemilik Cinta mau mencabut nyawaku untuk mempertemukanku denganmu di manapun Dia berkehendak. Kalau memang Dia menganggap kita lalai karena cinta, akupun dengan suka citaku akan terus memelukmu walau dalam kobaran panas bara neraka. Tapi Dia Maha Pengasih. Tempat untuk para pecinta adalah syurga, yang di dalamnya senantiasa menggema sajak-sajak tentang cinta. Aku datang kekasih kasihku…Aku datang”.
Kata-kata perempuan itu semakin pelan dan melemah, matanya mulai terpejam sedikit demi sedikit, seperti tak ingin luput dari memandang wajah laki-laki di depannya. Setelah untuk beberapa lama perempuan itu akhirnya membisu. Seperti tenggelam dalam tulang belulang yang menyembul di balik baju lusuh lelaki itu. Perempuan itu telah menghilang dari peredaran buana. Mengejar roh kekasihnya dengan beribu-ribu rindu yang lama terpendam.
Wahai Pemilik Jiwa yang agung
Pencipta cinta dan bahagia yang menyenangkan.
Pencipta Imaji terindah
Hingga jiwa lebih baik mati menunggu saat sajak yang termaktub menjadi kenyataan.
Inginku hanya merasakan damai dalam sajak.
Asaku hanya terbang bersama syairku
Tuntun aku membuatnya nyata….