Cahaya.
Rasanya aku begitu merindukan berkas itu. Terang dan silaunya selalu kuimpikan dalam tiap angan.
Aku merindukannya.
Merindu pada lapisan cahaya yang dulu kian kunikmati. Dan merindu pada terang yang dulu pernah mampu menembus retina. Rindu pada cahaya yang hanya dapat kulihat ketika mata ini terbuka.
Tapi tidak lagi.
Mata ini tak lagi dapat menerima cahaya. Suatu sistem didalamnya kacau sehingga cahaya tak lagi dapat masuk. Bukan karena lelah, tapi karena telah pada takdirnya.
Kini, yang dapat kulihat hanya kegelapan. Kegelapan yang meraja.
Selalu, dalam angan aku bertanya-tanya. Akankah mata ini dapat kembali menangkap cahaya? Meski mustahil dan berpeluang kecil, dalam doa selalu kulantunkan harapan itu.
Aku bersyukur atas hidupku jika kau bertanya. Namun, kadangkala aku tak berpikir demikian. Sebab hidup tanpa mampu menatap cahaya membuatku merasa mati. Karena ketika membuka mata, pemandangan yang ku lihat sama seperti ketika mata ini menutup.
Lantas apa bedanya?
"Garda?"
Suara panggilan itu dapat kudengar. Beberapa kali aku menoleh, mencoba mencari dari mana arah suara itu berasal. Siapa disana?
Aku mengenali suara itu. Tapi dalam kegelapan, rasanya hati ini meragu.
"Garda, ini Olivia."
Kembali suara itu terdengar merdu.
Olivia.
Gadis yang teramat kucintai sepanjang sejarah.
"Oliv?" Aku memanggil. Tangan ini menggapai udara, berusaha mencari sosoknya disekitar ku.
Tapi kemudian, sebuah pelukan hangat kuterima. "Miss you Garda." Suara bisikan Olivia terdengar lembut. Hembusan nafasnya dapat kurasakan di telinga, sementara tangannya kurasakan mendekapku erat.
Aku hanya mampu terdiam.
Entah kenapa dapat kutangkap suara parau dalam bicaranya. Tubuhnya bergetar dan tangan itu memelukku semakin erat.
Apa Olivia menangis?
"Oliv?"
Olivia melepas pelukannya. Kudengar suaranya berubah menjadi tawa yang terdengar pelan.
Hanya sebentar.
Setelahnya, Olivia bercerita tentang banyak hal. Tentang dosen pembimbing nya, tentang kuliah ku, dan tentang semuanya.
Tapi suaranya terdengar begitu dipaksakan. Aku ingin melihatnya. Hatiku seolah mendesak diriku agar menatapnya.
Andai aku tak buta, andai...
... kecelakaan itu tak terjadi.
Mungkin saat ini aku mampu menatapnya. Tak perlu aku merasa bahwa ia tengah bersedih jika aku mampu menatapnya. Ah, andai saja.
~♡. {MyAngle}.♡~
.
.
"Garda, aku dapat kabar baik!"
Aku ingat hari itu.
Olivia datang, menyerangku dengan pelukan erat dan tawa yang terdengar bahagia. Tanpa sadar aku ikut tersenyum mendengar tawa yang kembali muncul.
"Soal apa?" Tanyaku.
Olivia terkekeh. Suaranya yang riang membuatku ingin sekali melihat wajahnya.
"Harapanmu terkabul!"
Aku terdiam. Tak mengerti pada apa yang Olivia katakan.
"Ada malaikat yang akan memberikan matanya untukmu!"
Ah!
Aku ingat.
Olivia pernah bertanya apa harapan yang aku inginkan di ulang tahunku yang ke-21 dua minggu lalu. Saat itu, hanya satu harapanku.
Aku ingin ...
Ada malaikat yang mau mendonorkan matanya untukku.
Tentu saja itu bualan. Bukan berarti akan benar-benar ada malaikat yang mau mendonorkan matanya. Itu hanya ungkapan yang kuberikan untuk orang berhati layaknya seorang malaikat.
"Kamu akan bisa melihat lagi Garda! Ehe." Suara Olivia terdengar riang dan begitu alami. Mendengarnya tertawa sanggup membuatku merasa lebih baik.
Oliv, perlu kau ketahui...
Keberadaanmu dalam gelapku adalah sumber kekuatan untukku. Ketahuilah, tanpa dirimu, aku tak yakin bisa bertahan selama ini. Terlebih, sejak kecelakaan itu bermula.
Aku yang terlahir dalam keluarga serba sibuk, pada awalnya berpikir bahwa hidup ini tiada artinya. Tapi begitu mengenalmu, aku sadar. Anugerah terhebat yang diberikan tuhan untuk diriku adalah hidupku sendiri. Dan keberadaanmu, adalah hadiah tambahan yang tak kan pernah tergantikan oleh apapun.
"Oliv..."
"Yaa?"
Aku mencintaimu.
~♡. {MyAngle}.♡~
Hari itu tiba.
Setelah melakukan operasi seminggu yang lalu, kini waktunya perban ini dibuka. Rasanya jantungku bertalu begitu cepat. Rasa tak sabar akan reaksi terhadap cahaya nantinya membuatku begitu bersemangat.
Perlahan mata ini mengerjap, menyesuaikan pupil dengan cahaya yang kian menyerbu masuk. Awalnya kabur, tapi dalam beberapa kali mengerjap, semua terasa nyaman.
Akhirnya.
Air mataku menetes. Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku mampu kembali melihat dunia. Haru bercampur dalam rindu. Ya Tuhan, rasa ini membuncah begitu dalam.
"Oliv." Suaraku bergetar menahan bahagia yang menyerbu keluar. "Dimana Olivia?" Aku bertanya pada setiap kepala.
Bukannya menjawab pertanyaan yang ku lontarkan, mereka malah saling menatap.
"Ma, Pa, Oliv mana?" Kini aku bertanya pada kedua orang tuaku. Mereka yang dahulu tak pernah ada untukku entah kenapa kini selalu berada di dekatku.
Kurasa kecelakaan tiga bulan yang lalu itu memberi suka juga duka disaat yang bersamaan. Sebab semenjak kejadian itu, kedua orang tuaku jadi lebih sering berada di dekatku.
Papa maupun mama juga tak menjawab pertanyaanku. Mereka malah menuntunku keluar ruangan dengan kursi roda.
Dari sana rasa itu muncul.
Gelisah, takut dan sedikit guncangan kurasakan di dalam hati.
Kamar rawat 2001.
Aku menoleh, menatap dengan pandangan bingung pada orang tuaku. Dalam hati bertanya-tanya apa maksud mereka membawaku ke depan pintu ruang rawat ini.
Tanpa berkata, aku disuruh masuk.
Sama seperti ruangan yang kutempati sebelumnya. Semua di dominasi dengan warna putih. Bau obat memenuhi ruangan. Dan entah kenapa, aku rasa ruangan ini terasa lebih sesak.
"Garda?"
Olivia disana.
Dia tersenyum dalam duduknya. Senyum yang membuatku kian terus merindu.
Wajahnya masih sama cantiknya. Tubuhnya pun masih pendek seperti terakhir kali aku melihatnya. Hanya saja, sedikit kurus.
Olivia tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.
"Do you miss me Garda?"
Aku terpaku.
Tak mengerti.
Aku hanya mampu terdiam dikala senyumnya mengembang indah. Namun, hatiku berdenyut nyeri.
Dia...
... tidak menatapku.
Matanya terbungkus perban tebal.
Aku berdiri perlahan. Meninggalkan kursi roda, dan mendekat guna menatapnya dalam keterpakuan yang tak dapat kujelaskan.
"Oliv-"
"Iya Garda, I am your angle."
Satu fakta yang kulupakan dalam gelapku.
Olivia, mengidap komplikasi paru-paru dan kelainan ginjal.
Tuhan...
Aku memang ingin kembali menatap dunia, tapi tidak untuk melihatnya pergi.
"O-Oliv, kamu baik-baik aja kan?"
Kalut. Aku tak tahu harus berpikir bagaimana. Rasanya sesuatu yang keras seperti menggedor rongga dadaku.
Tapi Olivia tersenyum. Tanpa sebuah tipu daya, senyumnya mengembang dengan tulus.
"Aku tidak apa-apa."
Sebuah kebohongan yang terdengar seperti kebodohan.
"Tenang saja, aku tak membutuhkan mata itu lagi kok."
Bukan Olivia, bukan itu yang ku khawatirkan.
"Kamu nggak akan lagi merasa kesepian."
Tidak Olivia, tidak.
"Dan kamu-eh? Garda?"
Aku tak tahan untuk tidak memeluknya.
Olivia.
Yang ku takutkan sebenarnya adalah kehilangan dirimu. Aku tak tahu akan jadi apa diriku tanpamu.
"Jangan pergi..."
"Aku tidak pergi."
Bohong.
Kau berbohong.
Jika kau tak pergi, lantas kenapa nissan itu diukir atas namamu..
... Olivia Anandelhia.
-[END]-