"Apakah kau tahu, senja itu indah, mungkin senja menjadi salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah,"Langit berdiri di pantai, menatap matahari yang hampir terbenam, sambil menikmati angin yang berhembus ringan dan lembut, menyapu wajahnya.
Senja yang hanya terduduk memandang indahnya langit di sore hari itu, ikut berdiri, menghampiri Langit.
"Ya aku tau, bahkan lebih indah dari taburan bintang di langit saat malam hari, tapi mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?"Senja yang berdiri berdampingan dengan Langit, menatapnya dengan keningnya berkerut, menandakan dia tak mengerti arah pembicaraan Langit.
"Ga apa-apa, gue cuma merasa kalo lo itu terlalu cantik dan indah, seperti nama lo yang sesuai dengan senja itu, jadi lo ga seharusnya terus memikirkan dia, apalagi sampai menangis karena dia, lo tau apa hal yang paling gue benci di dunia ini,"Langit mendekatinya, menatap Senja, tatapannya sangat dalam. Senja hanya diam, menanti jawaban darinya.
"Tangisan lo, bukankah gue pernah bilang kalo gue ga suka lo nangis, tapi untuk kali ini gue membiarkan lo nangis, dan cuma mendengarkan cerita lo, karena itu salah satu cara buat melampiaskan emosi lo saat ini,"ucap Langit, menatap Senja sekilas, pandangannya kembali beralih ke matahari yang hampir terbenam
"Iya gue tau, makasih ya, lo emang sahabat terbaik gue,"Senja tersenyum tulus, menoleh sekilas, dan kembali menatap ke depan
"Senja,"panggil Langit kembali menatap Senja, kali ini tubuhnya memutar menghadap dia yang masih memandang pantai.
"Hm..."sahutnya.
"Tak bisakah langit dan senja menyatu, seperti pemandangan yang kita lihat saat ini,"Langit mengambil kedua tangan Senja, menggenggamnya erat, ditatapnya teman sekaligus sahabatnya sejak kecil itu, matanya yang sembab terlihat sangat jelas, dengan poni dan rambut hitam sebahu yang sengaja dibiarkan terurai, membuat rambutnya berterbangan kesana kemari karena tertiup angin, mengenakan hot pants berbahan jeans yang dipadukan dengan sweater abu-abu, membuat penampilannya semakin cantik di mata Langit.
"Langit, jangan mulai deh becandanya...ga lucu tau,"balas Senja terkekeh, sejak awal sebenarnya Senja tau perasaan Langit padanya, hanya saja dia terlalu takut untuk memulainya dengan Langit, takut perasabatan mereka hanya karena perasaan yang ada di hati mereka masing-masing.
"Iya iya hahaha...sori...sori...ya udah...daripada galau melulu, mendingan kita makan yuk...udah malem nih, gue laper hehehe..."balas Langit terkekeh, menampilkan deretan giginya, tawanya menular, membuat Senja ikut tersenyum bahagia. Mereka berjalan menuju mobil, menenteng sendal mereka masing-masing, sambil bergandengan tangan.
Langit menunggu antrian bus di halte bus, cuaca malam hari yang sangat dingin menusuk tubuhnya, ditambah dengan rintik hujan, sweater dan syal abu-abu pemberian dari Senja pun seakan tak cukup menutupi dinginnya malam. Matanya yang lelah bekerja semakin membuatnya tak bisa menahan rasa kantuk, namun segelas kopi di tangannya cukup membuatnya tetap bisa bertahan untuk tidak memejamkan mata.
Sepuluh tahun sudah dia berada di Korea, bekerja meneruskan hobinya, lelah sudah pasti, tapi semua itu tertutup oleh rasa senang dan bahagianya saat dia diterima bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Korea. Sepuluh tahun, waktu yang tidak sebentar baginya, merindukan Senja yang dia tinggalkan di Indonesia.
Setiap kali melihat hujan, dia selalu teringat padanya, karena Senja sangat menyukai hujan, entah apa yang disukainya dari hujan, berbeda dengan Langit yang sangat membenci hujan, karena baginya hujan itu sangat merepotkan.
"Slurrrpppp..."Langit menyeruput segelas kopinya, bus yang ditunggunya akhirnya tiba juga, dia berdiri menenteng tasnya, menaruhnya di atas kepala, lalu berlari masuk ke dalam bus. Setelah menempelkan kartu bayar bus miliknya, dia duduk dekat jendela bus.
Terdengar suara ponselnya berdering kencang, dilihatnya nama yang tertera di ponselnya, segera dia mengangkat telponnya.
"Hai..."sapa Langit, dilihatnya Senja sedang duduk di ranjang yang tak seperti rumahnya.
"Hai juga, gimana kabar kamu disana?"tanya Senja mencoba tersenyum.
"Baik...kamu gimana?tunggu...kok muka kamu pucet?terus itu lagi dimana?Senja...kamu ga apa-apa kan?ga lagi sakit kan?"Raut wajah Langit yang tersenyum berubah khawatir.
"Ga apa-apa kok, cuma sakit perut biasa aja hehehe...ini di rumah, udah mendingan, tadi udah minum obat,"balas Senja beralasan
"Beneran ga apa-apa?harusnya kamu istirahat, kenapa malah video call aku,"Langit masih khawatir, diliriknya arloji miliknya, jam menunjukan pukul delapan malam, artinya disana sudah jam enam.
"Kamu udah makan?makan dulu deh, abis itu tidur, istirahat lebih awal, cepet sembuh ya Senjaku, kalo kamu sakit ga ada yang bawelin gue, kan ga seru hehehe..."kekehnya menutupi kekhawatirannya.
"Iya, ya udah...aku tutup telponnya ya, kamu hati-hati, baru pulang kerja kan, selamat istirahat,"balas Senja tersenyum manis.
Panggilan berakhir, setelah sambungan video call terputus, Senja meringis kesakitan, terlihat selang bening yang terhubung di tangan kanannya, dia diinfus.
"Sayang, kenapa kamu ga bicara jujur sama Langit tentang kondisi kamu,"Dahlia, mama Senja yang sejak tadi mengintip di balik pintu, masuk ke dalam ruang rawat, menghampiri putrinya.
"Ga ma, aku ga mau dia khawatir, dia sedang mengejar impiannya, sambil menjalankan hobinya disana, dia jauh, aku ga mau dia jadi keipikiran nanti ma, ma...aku minta tolong ya, kasih surat ini ke dia nanti, saat mama ketemu dia,"Senja menyerahkan sepucuk surat yang sudah dilipat olehnya.
"Ya sudah, kamu istirahat ya sekarang, tidur...udah malem, mama keluar sebentar,"Dahlia tersenyum, menahan air mata yang sudah terbendung di matanya. Disambut anggukan oleh Senja, dia menuruti mamanya, berbaring di kasur rawat inap, di dalam ruang VIP. Tubuhnya memang tertidur dengan mata yang terpejam, tapi pikirannya tidak, dia tahu mamanya sedang berada di luar, di depan pintu sambil menangis.Dia membuka matanya, menatap jendela yang basah karena diguyur hujan deras. Setelah itu kembali memejamkan mata dan tertidur.
🌧🌩🌧
Hati Langit tidak tenang, pikirannya tak henti memikirkan Senja, firasatnya mengatakan Senja sedang tidak baik-baik saja. Sesampainya di rumah, dia menelpon Bosnya meminta ijin beberapa hari untuk kembali ke Indonesia. Berutung dirinya memiliki Bos wanita yang cantik, seumur dengannya, dan baik, dia diperbolehkan kembali ke Indonesia hanya tiga hari saja.
Persetujuan bosnya sangat penting baginya, maka setelah bosnya setuju, dia langsung memesan tiket untuk esok harinya untuk penerbangan pagi hari jam lima pagi.
Keesokan harinya, dia berangkat pagi-pagi sekali, menunggu penerbangan, pesawat yang bagus dan cuaca cerah yang mendukung, membuat penerbangan berjalan lancar dan cepat, hanya butuh waktu 4 jam untuk tiba di Indonesia. Setibanya di bandara, Langit kembali melirik arlojinya, jam menunjukan pukul enam pagi, sambil terus berjalan, dia mencoba menelpon Senja.
Satu kali tidak terjawab, dia terus mencoba, tapi tetap tidak terjawab, hatinya semakin resah, dia yang awalnya berjalan santai, semakin mempercepat jalannya dengan berlari kecil, mencari taksi, menuju ke rumah Senja.
Rumah besar dengan pagar besi hitam itu terlihat sepi, tak berpenghuni. Turun dari taksi, Langit terkejut melihat betapa sepinya rumah Senja.
"Bi...bi Inem..."teriak Langit, memanggil nama asisten rumah tangga Senja. Bi Inem muncul dari balik tanaman.
"Iya,"sahutnya, menghampiri pagar besi.
"Loh, den Langit, apa kabar?kapan pulang ke sini?"sapa Bi Inem, senang melihat Langit yang dianggap sudah seperti keluarga baginya.
"Baru sampai bi, oh iya...ini pada kemana kok sepi?Senja kemana?tolong panggilin dong bi,"
"Loh, den Langit ga tau?non Senja masuk rumah sakit den, kasihan den, sudah beberapa hari ini bolak balik rumah sakit, nyonya dan tuan juga menemani non Senja disana, katanya sakit kanker den, bibi ngeliatnya juga sedih den, sekarang non Senja kurusan,"cerita Bi Inem, Langit merasa seperti disambar petir di pagi hari.
"Ru...rumah sakit bi, se...sekarang dirawat dimana?"paniknya.
"Di Rumah sakit Citra Kasih den,"jelas Bi Inem, wanita paruh baya yang masih memegang gunting tanaman di tangannya.
"Oke, makasih bi,"
Langit kembali berlari, mencari taksi atau kendaraan apapun untuk bisa tiba di rumah sakit secepatnya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya kacau, teringat masa lalunya dan waktu yang dihabiskan bersama dengan Senja, arloji kesayangan yang dipakainya bahkan syal yang dipakainya di Korea kemarin adalah pemberian Senja, sehari sebelum keberangkatannya ke Korea.
Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menghampiri perawat yang berjaga di depan, mencari tahu keberadaan Senja. Setelah itu dia berjalan cepat menuju ruang rawat Senja. Terdengar suara isak tangis di depan ruang rawat, suara yang sangat dia kenali.
Langit membuka pintu ruang rawat, dilihatnya Dahlia mamanya Senja, menangis sekencang-kencangnya dibalik pelukan hangat suaminya, sambil terus memanggil Senja. Langit berjalan menuju tempat Senja terbaring kaku, ingin menangis tapi tidak keluar, saat berada di samping Senja, dia menyentuh tangan Senja, air matanya mengalir deras.
"Ga...Senja...ga...ga mungkin, Ja...lo jangan bercanda, Senja...gue disini, gue ada disini buat lo, lo harus bangun...ayo dong ini ga lucu Senja, SENJA...."tangisnya semakin kencang, berlutut memanggil nama Senja sambil menggenggam tangannya.
"Kata lo, gue ga boleh ninggalin lo, kata lo kita akan terus sama-sama dengan apapun hubungan kita, lo udah janji sama gue, ga akan ninggalin gue, tapi kenapa...kenapa lo pergi, lo jahat Ja...lo jahat..."
2 minggu kemudian...
Pantai itu selalu menjadi saksi, masih di pantai yang sama, di tempat yang sama, langit yang sama, yang selalu menemani indahnya senja. Langit berdiri seorang diri menikmati terbenamnya matahari dan angin yang berhembus ringan.
"LANGIT...."teriak Senja, berlari menghambur ke pelukan Langit.
"Lo ini yah...ga usah lari-lari kan bisa, kebiasaan deh,"protes Langit masih memeluk Senja dengan erat.
"Biarin weee..."Senja menjulurkan lidahnya meledek Langit.
"Jadi mau kemana kita sekarang?"tanya Senja dengan penuh semangat, setelah melepas pelukannya.
"Kayaknya lo udah sehat banget ya hehehe...bagus deh, karena hari ini gue akan ajak lo keliling dunia, ayo..."Langit menggandeng tangan Senja.
Kalau kalian bertanya apakah keajaiban itu ada, jawaban Langit tentu saja ada, karena dia menyaksikan sendiri, keajaiban yang datang padanya, Senjalah keajaiban itu. Hari disaat Senja dinyatakan meninggal, tiba-tiba saja, jantung Senja kembali berdetak, saat mendengar kata terakhir dari Langit dan beberapa hari kemudian Senja dinyatakan sembuh dari kanker yang diidapnya selama ini. Langit menepati janji pada bosnya yang hanya memberikan ijin waktu 3 hari saja. Langit kembali ke Korea dan menyelesaikan tugas-tugasnya disana.
Setelah itu, dia kembali menetap di Indonesia. Tak ingin lagi berpisah dari Senja, beberapa hari setelah Senja dinyatakan sembuh, Langit melamar Senja tepat di pantai dia berpijak saat ini dan Senja menerima lamarannya, menceritakan semua yang dirasakannya pada Langit.
Status hubungan mereka sekarang bukanlah teman biasa, melainkan sepasang suami istri, tapi status bukanlah hal penting bagi mereka. Karena bahagia tidak diukur dari status, melainkan dari rasa bahagia bisa bersama dengan orang yang disayangi.