Ibu ….
Tiada kata, selain terima kasih dan maaf yang bisa kukatakan pada engkau. Maaf karena selalu merepotkanmu dengan rengekanku sewaktu ku kecil dulu. Maaf untuk setiap kata yang telah menyakiti hatimu. Maaf untuk segala perilaku burukku. Dan … terima kasih karena telah membesarkanku hingga sekarang. Terima kasih untuk semua makanan enak yang Ibu siapkan. Terima kasih karena sudah mengajariku tentang kehidupan. Terima kasih atas segala perhatian dan kasih sayang yang tulus Ibu berikan padaku.
Namun ... semua itu kurasa belum cukup untuk mengganti semua yang sudah Ibu curahkan padaku. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, supaya Ibu diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Supaya bisa melihat aku sukses, serta supaya bisa melihat cucu Ibu kelak.
Teringat dulu sewaktu ku kecil. Ketika badai datang, Ibu menggenggam erat tangan kecilku. Genggaman Ibu yang hangat, membuatku merasa aman. Dan ketika petir menggelegar, Ibu langsung merengkuh tubuh kecilku yang sedang gemetar ketakutan. Pelukan Ibu yang nyaman, membuatku merasa tenang. Diriku yang kecil dulu tak takut lagi, karena aku bersama Ibu.
Saat badai reda, kami pun keluar rumah. Untuk melihat keadaan. Daun-daun berserakan, ranting pohon yang patah, beberapa tanaman bunga yang porak-poranda. Akupun mulai membantu Ibu, untuk membersihkan semua itu. Ya … membantu sebisa tubuh kecilku kerjakan. Saat semua sudah bersih, Ibu memujiku dan bilang terima kasih karena sudah dibantu. Walau kutahu, kalau waktu itu Ibu yang paling banyak membersihkan.
Setelah selesai membersihkan halaman rumah. Ibu pun memandikanku, kemudian membuatkan makanan hangat yang enak untukku. Bahagianya diriku saat kecil.
Bukan! Aku tak mengeluh dan seolah bilang kalau sekarang aku tidak bahagia. Tidak! Tapi aku bersyukur atas masa kecil indah yang kumiliki bersama Ibu.
Ketika aku mulai sekolah di TK, Ibu mengantarkanku dan bilang padaku.
“Jangan takut sayang, Ibu kan temani kamu. Mereka semua bukan orang jahat kok. Mereka itu Bu guru dan juga teman sekelasmu.”
Ucapan Ibu menenangkan aku yang sewaktu kecil tidak mau lepas dari Ibu.
Akupun ingat, saat itu aku malu-malu untuk menyapa teman sekelas. Hingga aku bersembunyi di belakang Ibu. Tapi Ibu menyemangatiku. Hingga aku percaya diri, walau masih dengan sedikit malu-malu. Akupun menyapa semua yang ada di kelas. Aku melihat Ibu, beliau tersenyum bangga padaku. Akupun bahagia.
Sepulang sekolah, aku bercerita kepada Ibu tentang apa yang kupelajari hari itu. Beliau mendengarkan setiap kata dengan senyuman bangga. Dan kita berjalan pulang ke rumah sambil bergandengan tangan. Walau kusadari sekarang, Ibu Pun tahu yang kulalui hari itu.
Setiap hari aku pun pergi sekolah. Kecuali untuk hari dimana banyak animasi untuk anak-anak tayang di televisi. Waktu itu aku belum hafal hari. Saat TK 0 Besar, aku baru tahu kalau itu disebut hari Minggu.
Ibu pernah membelikanku sebuah boneka Barbie. Boneka yang cantik, aku bermain dengannya setiap hari. Dan ku dandani dia dengan lipstik milik Ibu. Saat Ibu tahu, aku dimarahi dan diberitahu untuk tidak bermain dengan lipstik. Maafkan aku Ibu ….
Pernah suatu hari, Ibu memasak makanan kesukaanku. Sayur sop dengan irisan bakso, serta bermacam sayuran dan ayam goreng kremes. Aku makan masakan Ibu dengan gembira. Tidak ada yang bisa menandingi masakan Ibu.
Suatu hari, saat aku dan Ibu pergi belanja di pasar. Aku lepas dari genggaman tangan Ibu dan pergi melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Saat ku tersadar kalau Ibu tak berada di dekatku. Akupun menangis dan memanggil manggil Ibu. Tak lama kemudian, Ibu datang dengan wajah khawatir seraya bergegas memelukku.
“Maafkan Ibu, sayang. Ibu tidak mengawasimu dengan benar.” ucap Ibu yang masih memelukku. Walau aku sadar, bahwa yang salah aku dan akupun menangis.
“Maafkan aku Ibu, aku nggak akan jalan-jalan sendirian lagi. Ibu nggak salah kok,” ucapku dibarengi isak tangisku.
Ibu pun melanjutkan belanjanya kembali, sambil menggenggam erat pergelangan tanganku. Waktu pulang, Ibu membelikanku kue. Aku senang sekali.
Sesampainya di rumah, aku cuci tangan dan mulai memakan kue yang dibelikan Ibu. Tak lupa aku membaca doa sebelum makan.
Saat aku ada masalah di sekolah, aku tak berani menceritakannya pada Ibu. Tapi Ibu tau, ada yang aneh denganku. Dan beliau bertanya ....
“Kenapa sayang? Kok lesu gitu?”
“Nggak papa kok Bu. Aku cuma capek setelah sekolah seharian.” jawabku sambil tersenyum, tak mau menambah kekhawatiran Ibu. Tapi yang kulihat adalah wajah Ibu yang sangat cemas kepadaku.
Akhirnya, aku pun menceritakan masalah yang menimpaku. Masalah dimana aku dituduh mengambil uang teman sekelas. Hingga semua teman menjauhiku. Aku bercerita hingga menangis. Ibu hanya mendengarkan, sambil memelukku dan menenangkanku.
Setelah aku tenang, Ibu berkata .…
“Tenang sayang, semua akan ada balasannya.” ucap Ibu sambil tersenyum.
Aku yang sudah lega, karena menangis. Mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Ibu.
Seperti perkataan Ibu. Semua ada balasannya. Ternyata uang yang dibilang kucuri itu, ternyata dihabiskan sendiri oleh temanku yang menuduhku tadi. Karena orang tuanya dipanggil, sebab ia menunggak pembayaran SPP selama 3 bulan.
Teman sekelas yang lain minta maaf, karena sudah tak percaya padaku. Dan sekarang semua kembali seperti sebelumnya.
Pernah juga di suatu malam, dimana aku harus mengerjakan tugas hingga selesai. Ibu mengecek keadaanku sambil membawakanku secangkir teh hangat. Supaya nggak masuk angin, katanya. Mengingat itu aku jadi tersenyum.
Saat aku mulai memasuki perkuliahan. Ibu memberiku selamat dan senyum yang bahagia. Ibu terlihat bangga padaku yang bisa diterima di Universitas ternama. Hari-hari kulalui dengan belajar giat, karena aku tak mau semua yang Ibu curahkan menjadi sia-sia.
Saat kelulusanku, Ibu yang memakai gaun berwarna hijau kesukaan Ibu. Tersenyum memandangku yang memakai Toga. Terlihat wajah bahagia serta bangga yang nampak dari beliau.
Begitupun saat aku mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor. Ibu bersyukur dan berterima kasih, karena anaknya diberi kelancaran oleh Tuhan.
Akupun takkan melupakan ekspresi Ibu, saat kuberi gaji pertamaku kepadanya. Beliau terkejut dan berkata ....
“Tidak, Nak. Ibu tidak bisa menerima hasil kerja kerasmu.” ucapnya menolak.
“Ayolah, Bu. Ini untuk Ibu. Gajiku masih ada kok, Bu. Selain yang kuberikan pada Ibu ini.” jawabku sedikit memaksa.
“Baiklah, Nak. Terima kasih sudah memberi Ibu.”
Ibu akhirnya menerima uang yang kuberikan dan tersenyum tulus padaku. Namun ternyata, semua uang yang kuberikan pada Ibu. Ibu tabung. Aku tak tau, Ibu menabung untuk apa? Yang penting, aku sudah memberi Ibu.
Ibu ....
Tiada habis perhatianmu padaku. Ketika aku pulang kerja dengan wajah pucat. Ibu segera memeriksa keningku yang ternyata panas. Aku Pun diantar Ibu ke kamar dan dibaringkan setelah mengganti pakaian yang kukenakan. Ibu merawatku dengan kasih sayang tulus.
Keningku dikompres dan Ibu juga membuatkan bubur untuk kumakan. Ibu menyuapiku, seperti saat aku kecil dulu. Aku bahagia, karena Ibu selalu ada untukku.
Ibu merawatku hingga demamku reda. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, agar ia memberi Ibuku umur yang panjang serta kesehatan. Supaya aku bisa membahagiakannya.
Suatu ketika, saat ada seorang laki-laki yang datang ke rumah dan ingin melamarku. Ibu hanya bilang ....
“Saya akan mengikuti keputusan anak saya.” Ibu berkata bahwa ia akan setuju dengan segala keputusan yang aku ambil.
Aku mengiyakan, karena kami memang sudah saling kenal dan saling menyukai. Ibu pun merestui pilihanku. Karena Ibu yakin, kalau ia pantas untuk anaknya ini.
Semua sudah direncanakan, hingga hari Akad serta pesta. Saat calonku memberi uang belanja untuk keperluan pesta. Ibu berkata ....
“Tidak usah, Nak. Ibu sudah menyiapkan semuanya.” ujar Beliau. Yang akhirnya kutahu, bahwa itu adalah uang yang aku berikan untuk Ibu. Ia kumpulkan untuk digunakan sebagai dana pernikahanku.
Ibu … kau mengajariku apa itu cinta. Apa itu kasih sayang. Serta apa itu perhatian. Banyak yang kau ajarkan padaku. Kedisiplinan, keberanian, pengorbanan, kepercayaan, kepedulian dan segala yang tak bisa kusebutkan satu persatu.
Semua itu hanya bisa kukenang dan akan kupraktekkan semua ajaran yang engkau berikan padaku, Ibu.
Kini, kulihat kerutan keriput di wajahmu yang lembut, garis-garis halus terlihat di tepi matamu yang teduh. Pipimu yang dulu segar, kini layu dimakan usia. Ibu. Kuteteskan air mata ini, saat aku memandangmu.
Tanganmu yang dulu kuat menggendong dan menuntun kami hingga kami dewasa, sekarang terlihat seperti tak berdaging dan terasa akan patah jika mengangkat sesuatu yang berat.
Ibu kusimpuhkan diri ini di pangkuanmu. Memohon maaf dan restu mu. Supaya aku bisa menjadi seperti Ibu.
Ibu ... tiada yang bisa menggantikanmu di lubuk hatiku. Karena engkau adalah pelitaku. Yang selalu menerangi jalanku. Yang selalu memberikan kehangatan di malam yang dingin.
Ibu ... tanpamu entah apa yang akan terjadi padaku yang sangat kecil dulu. Apa aku bisa hidup dengan diri yang untuk menggerakkan tangan dan kaki saja masih susah.
Ibu ... aku sangat bersyukur. Karena Tuhan membiarkanku menjadi anakmu, Ibu. Tiada kata selain syukur dan bahagia yang bisa kugambarkan.
Ibu ... doa-doamu sangat berharga bagiku. Doamu bagaikan cahaya harapan saat digelapnya keputusasaan.
Aku sayang Ibu ... karena Ibu adalah wanita pertama yang mengajariku segalanya tentang dunia ini.
Ibu ... tanpamu dunia ini akan sangat gelap hingga aku tak bisa melihat indahnya dunia. Karena Ibu melindungiku dari segala hal yang mengancam kebahagiaanku.
Aku sayang Ibu. Ibu adalah segalanya bagiku. Tanpa Ibu, aku tak bisa menjadi seperti aku yang sekarang.
I love you Mom.
VR.Stylo♪