🍂 Malam itu, aku ditugaskan untuk menjaga adikku yang baru saja lahir karena orang tuaku akan melihat rumah yang akan kami beli dan tempati nantinya. Ya, aku dan keluarga akan pindah dari rumah yang kami tinggali saat ini.
"Nak, jaga adikmu yaa. Ibu dan Ayah mau mensurvei rumah yang akan kita beli dan tempati nanti," ucap ibuku dengan ragu.
Aku tak tahu, mengapa ibuku mengatakan hal itu dengan ragu.
"Apa ibu akan lama?" tanyaku dengan rasa takut.
Bayangkan, Ibu dan Ayahku pergi untuk melihat rumah itu sedangkan aku dan adikku yang baru saja lahir beberapa bulan yang lalu berdua di dalam rumah.
"Tidak, kami tidak akan lama," ucap ayahku meyakinkan.
Tapi tetap saja aku tidak percaya.
Setelah berpamitan, Mereka pergi menuju rumah yang kami bicarakan tadi. Aku berusaha agar tidak terlelap karena ada seorang bayi yang harus aku jaga. Ya, adikku bisa diajak kompromi pada saat itu karena ia tidur dengan pulas dan hal itu membuat diriku tidak kerepotan sama sekali.
Setelah beberapa menit berlalu, Ibu dan Ayahku pulang. Ayahku meletakkan sepeda motornya di garasi sedangkan ibuku sudah masuk ke dalam rumah untuk berbicara padaku. Wajah ibuku tampak sangat khawatir dan aku rasa ada yang aneh dari sikapnya setelah melihat rumah itu.
"Bu, bagaimana? Apa rumahnya cocok untuk kita tempati?" tanyaku yang khawatir dan ingin segera mendengar jawaban dari ibuku.
Ibu masih diam tanpa mengatakan apapun. Tiba-tiba Ayahku datang dan menjawab pertanyaanku.
"Ayah rasa cocoklah buat kita. Rumah itu luas dan besar dan Ayah rasa jika kita renovasi pasti akan jauh lebih Indah dan rapi."
Ibuku yang mendengar jawaban dari ayahku tampak tidak setuju.
"Kalau Ibu tidak setuju, Ibu ragu akan rumah itu. Rumah itu tampak tak berseri," ucap ibuku yang masih dalam keadaan cemas.
Aku yang mendengar kedua orang tuaku berdebat tidak ikut campur. Aku hanya mendengar, Bagaimana aku mau ikut campur sedangkan rumah itu sendiri aku tidak tahu bagaimana bentuk dan rupanya.
"Huff..." aku pun mendengus kesal.
"Lebih baik kita cari yang lain saja," saran ibuku.
"Tapi Ayah rasa, rumah itu sudah bagus. Kalau kita cari yang lain, belum tentu dapat yang seluas itu," ucap Ayahku dengan sedikit penekanan.
Ibuku hanya diam dan tak berkata lagi, begitu juga denganku yang tidak tahu menahu soal rumah karena pada saat itu aku masih berumur 12 tahun.
🍂🍂🍂 Seminggu berlalu, Ayahku tetap dengan pendiriannya. Kami telah menempati rumah baru kami yang katanya luas dan besar itu. Ya, memang benar. Rumah itu sangat luas dan besar tapi sangat disayangkan, Kami harus merenovasinya terlebih dahulu agar tampak berseri.
"Hmmm... lebih nyaman rumahku yang dahulu," gumamku. Tapi memang begitu kenyataannya.
Adikku sedikit rewel saat kami memasuki rumah baru itu.
"Kenapa adik Bu?" tanyaku bingung.
"Mungkin kelelahan dia," jawab ibuku dengan ekspresi yang tak dapat dipahami.
Hari pertama memasuki rumah itu aku sudah merasa ada yang aneh tapi aku tidak tahu apa yang aneh itu.
🍂🍂🍂Pukul 11.00 malam, aku baru sempat menyetrika seragam sekolahku yang akan aku kenakan besok.
"Huff.. lelah rasanya," aku berkata dalam hati.
Suasana di rumah itu sangat hening, dikarenakan ibuku sedang berada di kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dariku karena rumah itu memang luas dan memiliki lorong yang dapat ditemui sebelum menuju kamar mandi. Ayahku sedang terlelap tidur dan begitu juga dengan adikku yang baru saja menyelesaikan tangisnya ntah karena apa.
"Arghhhhhh" aku menjerit tiba-tiba. Kau tahu? Aku menjerit karena wayar listrik setrika itu menyetrumku secara tiba-tiba. Aku sudah periksa tapi sepertinya baik-baik saja.
Jeritanku itu cukup lama membuat adikku terbangun. Adikku menangis tapi itu tak berlangsung lama dan dia terlelap kembali.
"Ada apa ini? Baru sehari saja sudah begini" ucapku dalam hati merasa mulai ada yang aneh dan tidak beres.
🍂🍂🍂Hari-haripun berlalu, setiap hari ada saja kejadian aneh yang aku alami. Dari kesetrum listrik, mendengar suara kaki berjalan di atas atap serta ayunan yang berayun dengan sendirinya yang terletak di samping rumahku.
Hingga suatu malam... Aku baru saja pulang sekolah pukul 07.00 malam. Aku tak sempat membersihkan tubuhku karena sangat lelah. Aku tidur di atas tempat tidurku bersama dengan adikku. Disaat mataku mulai terlelap terlihat sesosok bayangan hitam yang sangat besar berdiri di hadapanku. Aku sangat terkejut sebenarnya namun karena mataku yang tidak bisa terangkat akhirnya aku ssetengah sadar melihat sesosok bayangan hitam itu. Aku ingin bangun rasanya tapi tidak bisa. Tubuhku terasa berat seketika. Aku tidak bisa bergerak sama sekali tapi sosok bayangan itu masih berada di hadapanku.
"huhuhu" aku menangis karena tubuhku tak bisa digerakkan. Rasanya sangat nyata tapi seperti fatamorgana juga. Aku terus berusaha untuk bersuara agar sosok itu pergi dari hadapanku. Saat itu pandanganku tidak begitu jelas. Tapi aku yakin itu nyata.
"Nak.. ada apa?" Ibuku membangunkanku. Ternyata ibuku mendengar aku menangis dengan suara pelan.
"Ibu..." ucapku tanpa melanjutkan kata-kata. Aku takut mengatakannya karena apa ibuku percaya?
"Ada apa,Nak?" tanya ibuku lagi.
"Bu ... besok saja aku cerita"
"Baiklah kalau begitu. Tidurlah dan baca do'a sebelum itu."
Aku mengangguk, aku masih tidak berani untuk tidur saat ibuku sudah tak lagi berada di kamarku.
"Itu apa yaa?" Aku bertanya-tanya dalam hati yang membuat aku tidak bisa tidur malam itu.
🍂🍂🍂Pagi hari, aku bercerita pada ibuku tentang kejadian itu. Ibuku hanya diam mendengar penjelasanku sedangkan Ayahku tidak percaya sama sekali.
Di teras rumah.
"Pak baru pindah ya?" tanya salah satu tetangga kami.
"Iya Pak," jawab Ayahku antusias.
Ekspresi bapak itu agak aneh menurutku, dia memasang wajah seperti orang yang cemas sama seperti ibuku saat pulang dari rumah yang kami tinggali ini tempo lalu.
🍂🍂🍂 Sore itu, temanku yang memiliki indra keenam berkunjung ke ruamh baruku. Dia juga tampak cemas saat masuk kedalam rumah itu.
"Ada apa, La?" tanyaku.
Kila masih tidak menjawab.
"La?" tanyaku lagi.
"Hmm... Kau nyaman tinggal disini?" tanya temanku.
"kenapa emangnya?" tanyaku penasaran.
"Aku melihat banyak" ucapnya.
"Maksudnya?" tanyaku tidak paham.
"Gimana yaa ngomongnya.. itu" ucap Kila ragu.
"Apa sih?" aku sudah mulai heran karena Kila sungguh lama mengatakannya.
"Aku melihat banyak sosok disini. Aku sarankan kalian pindah ya" ucap temanku.
"Ada apa? Banyak?" aku pura-pura saja tidak paham agar Kila mau menceritakan semuanya dengan detail.
" Ya, ada sesosok wanita berambut panjang dan pakaian putih sedang duduk di ayunanmu itu" dia menunjuk ayunanku yang berada di samping rumahku.
"Dan aku melihat dua sosok hitam besar di antara pagarmu ini," ucapnya lagi yang membuat bulu kudukku merinding.
"Dan satu ada yang di dapur dan di atap rumahmu, wujudnya sama seperti yang di pagarmu itu," ucapnya. Terlihat mata Kila memerah dan ingin menangis.
Aku yang mendengar hal itu cukup kaget. Berarti yang aku lihat selama ini benar adanya.
Ibuku mendengar semua cerita dari Kila dan Ibuku segera bertindak.
🍂🍂🍂Sore itu juga, ayahku sedang berkebun di halaman depan rumah kami.
"Pak, bagaimana? betah tinggal disini?" tanya tetangga di dekat rumah kami. Itu adalah bapak yang bertanya pagi tadi.
"Aman Pak. Kenapa yaa bapak bertanya seperti itu?" tanya ayahku penasaran.
"Tidak pak, tidak. Saya hanya heran saja. Kenapa setiap malam, rumah bapak lampunya selalu mati?" tanyanya serius.
"Ah.. tidak pak. Kami selalu menghidupkannya," ucap ayahku jujur. Ya, kami memang selalu menghidupkan lampunya.
"Tapi pak, apa tugas dua orang itu Pak?" tanyanya bingung.
Ayahku tampak kebingungan mendengar pertanyaan dari tetangga.
"Ada-ada saja bapak ini. Tidak ada orang selain keluarga saya yang tinggal di rumah ini," ucap Ayahku yang tidak percaya.
"Hoh kalau begitu saya yang mungkin salah lihat, ayok pak" ucap tetangga itu dengan wajah tampak bingung sambil melajukan sepeda motor miliknya.
🍂🍂🍂 Hari demi hari, keadaan keluarga kami semakin kacau tanpa kami sadari itu sudah berlangsung lama. Dan di tambah lagi aku baru saja jatuh dari tempat tidurku tanpa sebab apapun dan lututku berdarah sangat parah. Darahku menetes tak hentinya. Aku sulit untuk berjalan ke sekolah. Ntah apa penyebab aku jatuh, akupun tak mengerti. Tapi tepatnya kemarin sore sebelum kejadian itu, aku sempat melihat sesosok anak kec yang berlari menuju kamar ketiga dari rumah kami. Memang kamar itu tidak kami gunakan. Kosong tidak ada apapun karena kamar itu belum di renovasi. Masih tampak gelap dan lembab.
Saat itu aku sedang mengangkat pakaian dari belakang rumahku. Namun, saat aku berjalan dan seketika kakiku terhenti karena tiba-tiba sesosok anak kecil sedang berlari menuju kamar itu. Aku yang melihat itu seketika mati rasa dan terdiam membeku di tengah-tengah lorong rumahku.
"Apa itu tadi?" gumamku denga wajah tegangku yang baru tersadar akan keadaan pada saat itu.
Aku menjadi merinding dan langsung segera berlari dari lorong itu menuju kamarku sambil membawa pakaian yang baru saja aku angkat dari jemuran.
🍂🍂 Dan sebenarnya masih banyak hal aneh yang aku rasakan. Tapi ntah mengapa aku dan adikku saja yang meraskan hal-hal aneh seperti itu. Dari sosok putih yang sedang menangis di ayunan yang berada di samping rumahku. Sesosok anak kecil yang berlari, tangisan bayi, serta anjing yang menggonggong setiap malam jum'at tepat pukul jam 2 malam.
Kejadian-kejadian itu membuat aku resah dan tidak tahan lagi apalagi keadaan keluarga kami yang sedang kacau. Aku memberanikan diriku untuk berbicara kepada ibuku tentang semua hal yang sudah aku alami selama tinggal di rumah itu.
🍂 Aku menceritakan semuanya kepada ibuku.
"Kenapa baru cerita sekarang?" tanya ibuku.
"Karena aku takut Bu. Aku takut ibu tidak percaya."
"Bagaimana kalau kita jual saja rumah ini. Ibu juga sudah tidak tahan dengan keadaan keluarga kita yang seperti ini." Ibuku mengatakannya dengan serius.
Ayahku yang mendengar hal itu awalnya tampak tidak setuju. Tapi aku dan ibuku meyakinkannya untuk mau menjual rumah itu. Dan akhirnya ayahku setuju.
🍂🍂 Sudah dua tahun lamanya kami menjual rumah itu. Tapi dari sekian banyaknya pembeli, tidak satupun yang jadi. Hingga suatu hari, aku dan kelaurgaku sudah ingin sekali menjual rumah itu karena ayahku baru sadar, bahwa rumah itu memang harus dijual.
"Rumah ini rumah titipan" ucap orang pintar tersebut. Bisa dikatakan seperti Ruqyah.
Ibu dan Ayahku tampak heran dan belum mengerti maksud dari perkataan orang tersebut.
"Ya rumah ini adalah rumah titipan. Semua sosok makhluk gaib itu tidak bisa pindah atau hilang dari rumah ini. Pemilik rumah ini sebelumnya, ada sesuatu hal yang di letakkan di rumah ini sebagai penjaga mereka pada saat itu agar tidak ada yang berani sembarangan memasuki rumah ini," orang pintar itu menjelaskan dengan panjang lebar.
"Jadi, maksud bapak rumah kami ini sulit untuk dijual?" tanya ibuku.
"Ya mungkin seperti itu," ucapnya.
"Jadi bagaiamana? Apa yang harus kami lakukan agar kami bisa pindah dari rumah ini?" ucap ibuku.
Ayahku hanya diam tanpa mengucapkan apapun.
"Setiap hari bacalah surat Yasin dan Ayat kursi. Semoga dengan cara itu, semua makhluk disini rela melepaskan kalian untuk pindah dari rumah ini. Karena makhluk gaib disini sudah nyaman tinggal bersama kalian. Mereka tampaknya belum mau menerima orang lain yang menempati rumah ini," saran orang pintar itu.
Akhirnya kami membaca ayat-ayat suci setiap pagi dan malam tanpa henti. Dan beberapa tahun kemudian, rumah itu terjual tapi dengan harga yang tidak sepadan. Tapi kami menerimanya, Dan akhirnya kami bisa lepas dari rumah yang dikatakan sebagai "RUMAH TITIPAN"
Tapi saat kami sudah pindah ke rumah lain yang lebih nyaman, aku sempat bermimpi. Muncul dalam mimipku sesosok wanita yang memakai baju putih berdiri di jendala Rumah Titipan itu sedang melihat kearahku. Dia tampak marah.
Aku terbangun, ntah apa maksud dari mimpi itu.
"Aku kan sudah pindah dari rumah itu. Kenapa dia masih menerorku?" tanyaku pada malam itu.
"END" 💖
Hi... readers, thank you sudah mau membaca cerpen horor tulisanku sampai akhir...🙏🏻
🍂Jangan lupa like and comment yaà~