Judul dari bahasa Jawa yang diplesetkan, artinya dari pada balikan sama mantan lebih baik mencomot yang lain.
Selamat membaca.
***
Hari itu suasana mendung, Una menatap nanar kepada Papanya. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan papanya. Papanya menginginkan Una menikah dengan laki-laki pilihannya.
“Pa, Una sudah dewasa sudah 25 tahun, Una bisa mencari pasangan sendiri ” Una berucap dengan memelas.
“Papa tahu nak.. Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu buat kita..” Wijaya, Papa Una memegang tangan Una mencoba meyakinkan.
“Pa.. Hati Una sakit pa.. Kenapa papa memaksakan kehendak pada Una? ” kata Una lirih.
“Kau sudah punya kekasih nak?” tangan Wijaya mengelus kepala Una dengan penuh rasa sayang.
Una tergagap, ia tidak bisa menjawab, ia memang tidak punya kekasih, belum ada laki-laki yang bisa membuatnya jatuh hati. Una menggigit bibirnya, menahan risau hatinya.
Melihat buah hatinya risau, hati Wijaya juga merasa sedih.
“Papa sangat menyayangimu nak, kau tahu itu. Kebahagiaan mu adalah yang paling utama buat papa. Jika kau sudah punya kekasih, papa ingin berkenalan, jika memang laki-laki itu baik buatmu, papa akan menolak lamaran ini. ” Tangan Wijaya menggenggam erat tangan Una.
Otak Una mengatakan ingin berbohong pada papanya, hatinya tidak mampu. Bagaimana pun papa sangat menyayanginya Una takkan tega membohongi orang yang juga disayanginya. Una menggeleng lemah.
Wijaya tersenyum lega, “Kamu bertemu saja dulu dengan Vano, kalau belum bertemu bagaimana kamu bisa langsung menolak.”
“Pa, kenapa sih papa menjodohkan Una dengan teman papa? ” Tanya Una.
Wijaya menghela nafas panjang, menahan rasa sedih yang menggumpal.
“Kita berhutang budi kepada om Yusuf, hutang budi yang senilai dengan nyawa. Seandainya om Yusuf meminta nyawa papa, pasti papa beri..” Yusuf berucap kedua matanya menerawang jauh ke depan
“Apa maksud Papa? ” Una sangat heran dengan reaksi papanya. “Apa papa berhutang sangat banyak, terus dibantu om Yusuf?”
Wijaya tersenyum sedih, “Jika hanya harta Papa tidak akan memaksamu, membuatmu menikahi orang yang tidak kamu kenal ..”
Wijaya mengambil nafas panjang lagi, “Waktu itu kau masih kecil, kau mungkin tidak ingat.. Oh ya kejadian itu waktu kamu Papa titipkan sama Budhe Sri ya… Umurmu 15 tahun saat itu, Papa sangat repot, Papa menitipkanmu pada budhe agar kamu ada yang mengurusi. ”
“Oh.. Yang waktu Una menginap di tempate Budhe hampir 1 bulan? ” Una mengingat-ingat.
“Betul. Waktu itu mamamu sebenarnya transplantasi ginjal, mamamu mendapat donor ginjal dari Yessy istri Yusuf. ” jelas Yusuf sedih.
Una terdiam, kini ia memahami kenapa papanya meminta untuk menerima perjodohan ini. Bukan sekedar balas budi, tapi memberikan sebuah penghormatan atas pengorbanan tante Yessy.
“Dan kau tahu Una... Tante Yessy dulu itu meninggal karena ginjalnya rusak..” tanpa terasa air mata Wijaya mengalir.
“Papa merasa sangat bersalah, amat sangat bersalah. ”Desis Wijaya.
“Tapi jika waktu dibalik pun Papa tetap akan meminta Yessy untuk mendonorkan ginjalnya pada mamamu..” Isak Wijaya.
Ia benar-benar menangis sekarang. “Papa egois ya Un.. Papa egois.. Papa dan almarhum mamamu tidak bisa berhenti merasa bersalah pada om Yusuf"
Sekarang Una benar-benar ikut menangis, seandainya ia dalam pilihan yang sama ia pasti juga memilih hal yang sama, meminta tante Yessy untuk mendonorkan ginjalnya untuk mamanya.
Digenggamnya tangan Wijaya, papa Una “Baik Pa, Una menghormati keputusan Papa. ”
Wijaya memeluk erat, anak semata wayangnya, “Terima kasih Una, Terima kasih sudah mengerti Papa. ” Sedikit beban dihatinya terangkat.
“Besok sore kita bertemu dengan mereka bagaimana? ” desak Wijaya.
“Kok cepat sekali Pa? ” Cetus Una.
“Lebih cepat lebih baik” senyum Wijaya menggoda. Ia ingin menghalau aura kesedihan yang tadi melingkupi mereka berdua.
“Baiklah Pa. ” Jawab Una. ‘Kalau hal ini bisa membahagiakan dua belah pihak kenapa tidak, lagi pula lebih cepat mengenal calon suaminya bakalan lebih baik, akan lebih cepat beradaptasi’ batin Una.
*****
Sore itu pukul 15.30 Una dan Wijaya sudah duduk di sebuah restoran yang lumayan terkenal, dilihat dari meja yang hampir terisi penuh.
“Om Yusuf, sudah ada di parkiran Un, bentar lagi ke sini..” Kata Wijaya melihat Una yang matanya jelalatan, Wijaya mengira kalau Una sibuk mencari-cari orang yang akan dijodohkan dengannya.
“Oh..” Una hanya menjawab singkat. Sebenarnya dari tadi Una hanya ingin mengalihkan perhatian saja agar tidak merasa deg-degan.
“Itu, mereka sudah sampai. ” Wijaya mencolek tangan Una.
Una menoleh ke arah pintu masuk ‘Whatt!!!’ Una kaget setengah mati. Una mengatur jantungnya yang berdetak tidak karuan, tangannya mencengkeram ujung tuniknya, Una menghela nafas panjang berkali-kali, mencoba meredakan jantungnya yang bertalu-talu tidak terkendali.
‘Apa memang Vano yang ku kenal itu yang dijodohkan dengan aku? ’ wajah Una pucat pasi. Una mengambil air minum nya, untuk melegakan tenggorokan nya yang terasa kering.
Dua orang laki-laki menghampiri meja mereka, “Sudah lama mas? ”Tanya Yusuf pada Wijaya “Anakku ini dandannya kelamaan, pengen tampil perfect katanya” Yusuf tertawa pelan.
“Una terlihat makin cantik saja.. Kamu senangkan, calonmu begini cantik. ”Kata Yusuf pada Vano.
“Una, perkenalkan anak om yang bandel ini namanya Vano. ”
Vano tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada Una.
“Kami sudah kenal kok om. ” Una menatap tajam kepada Vano.
“Oh ya, wah.. Malah kebetulan kalau begitu. Mereka memang berjodoh ya mas..” Yusuf tersenyum lega.
“Kalau begitu kalian berteman sejak kapan? ” Tanya Wijaya.
“Kami sudah lama berteman Om” jawab Vano sambil tersenyum ke arah Una, “Iya kan? ”
Ketiga laki-laki itu melihat ke arah Una, Una mengambil air minum lagi, rasanya ia ingin keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Tapi demi Papa dan om Yusuf, Una menahan diri.
“Iya Om.. Kami sudah kenal, akrab malah ” Una melihat ke arah Vano sambil tersenyum sinis, entah mengapa hati Vano kebat-kebit.
“ Wah ini ndak usah pake lama mas, langsung saja mereka kita nikahkan..” seru Wijaya.
“Benar itu..” Yusuf tertawa gembira menyetujui perkataan sahabat nya.
“Kita langsung pilih tanggal saja kalau begitu mas. ” Lanjut Yusuf.
Vano bernafas lega, Una menunduk sambil meremas kedua tangannya, una berusaha menahan emosinya, sambil tersenyum sinis “Kami dulu pernah pacaran Om..” Sambil menatap tajam ke arah Vano.
“Una..” Vano berusaha menyela, ia tampak pucat.
Kedua laki-laki yang tampak tertegun,
“Terus kenapa kalian pisah? ” Tanya Yusuf penasaran.
“Kami pisah karena salah paham Pa. Una cemburu kemudian kami putus. ” jawab Vano cepat, Vano berusaha mengkode Una agar tidak meneruskan kata-katanya.
“Ohh, anak muda memang biasa kalau cemburu-cemburu, besok lagi kalau sudah menikah masih perlu kok cemburu, yang penting komunikasi ” cetus Wijaya sambil tersenyum lega.
“Betul Pah.. Dulu memang kami putus karena Una cemburu” Una tersenyum tenang, ketiga laki-laki itu menjadi lega dengan perkataan Una.
“Una cemburu karena sahabat Una dihamili oleh Vano” jawab Una melepaskan bom.
Seketika ketiganya diam, Vano memucat.
“Itu bukan anakku Un..” Bela Vano.
Una tersenyum sinis, “Tapi benarkan kamu tidur dengan Risa, sahabat ku? ”
Vano menelan ludah terdiam.
Yusuf mengepalkan kedua tangannya merasa sangat malu dengan kelakuan anaknya.
“Itu sudah masa lalu Un.. Semua sudah beres tidak perlu diungkit lagi ” jawab Vano berusaha tenang. Tatapan ketiga orang itu terasa menusuknya.
“Lalu, bagaimana dengan bayinya? ” Tanya Yusuf.
“Di aborsi om..” Jawab Una cepat.
“Apa!!” ‘Plakkk’ Yusuf langsung menampar Vano.
“Maaf, mas Wijaya, tampaknya perjodohan itu tidak bisa dilanjutkan, saya sungguh malu dengan anak saya. ”
Yusuf berbicara dengan nada yang pelan tapi menahan amarah, bunyi tamparan itu menarik perhatian beberapa orang.
Wijaya mengangguk lemah, ia tidak menyangka kalau pertemuan ini akan begini jadinya.
“Ayo kita pulang kita harus bicara ” sentak Yusuf pada Vano.
“Om..” Panggil Una. “Saya punya ide, tentang perjodohan ini”
Vano merasa lega, jika Una masih mau menikah, ayahnya pasti tidak akan terlalu marah padanya.
Yusuf kembali duduk,
“Ya Una, om ingin mendengar pendapat mu, tapi kalau kau ingin membela Vano. Maaf itu tidak bisa”
“Tidak om, saya tidak akan membela Vano, itu adalah masalah keluarga om Yusuf. ”
Una menghela nafas panjang menguatkan hati mengungkapkan isi hatinya.
“Om, saya ingin menikah dengan om Yusuf saja. ”
Wijaya mendengar perkataan Una, tiba-tiba tersedak walau ia tidak minum. Ia tidak percaya dengan pendengarannya, Una ingin menikahi sahabatnya.
“Kau! Kau perempuan murahan! Kau mengejar harta Ayahku kan? ” geram Vano.
“Vano, Hati-hati kalau bicara! ” sentak Yusuf, ia merasa tidak enak hati dengan sahabatnya Wijaya.
“Kau tidak sepenuhnya salah Vano,” senyum Una Sinis.
“Tapi.. Jika kalian berdua dibandingkan sebagai 2 lelaki single, kau jelas kalah telak! ” Ejek Una.
“Ayahmu, tidak kalah tampan darimu bahkan lebih tampan, uang? Uang ayahmu jelas lebih banyak! Bukannya selama ini kau pacaran sana sini dengan uang ayahmu. Dan yang lebih penting Ayahmu orang yang setia. Aku tidak akan menyerahkan hatiku untuk laki-laki brengsek seperti kamu. "
Vano mengepalkan kedua tangannya, ia merasa sangat dipermalukan.
“Kau mencoba balas dendam kan? ”Desis Vano.
“Tidak ” kata Una santai
“Saat aku datang kesini, aku dengan ikhlas akan menikah. Tapi melihat kau yang menjadi calon ku terus terang aku lebih baik jadi perawan seumur hidup”
Una tersenyum memandang ke arah Yusuf
“ Om, saya benar-benar serius dengan perkataan saya, kalau om bersedia menikahi saya, saya akan sangat bahagia. ”
Yusuf terdiam, sambil menatap kedua mata Una.
Wijaya duduk terpaku, ia benar-benar tidak bisa berkata-kata. Una menengok ke arah papanya, ia menyadari papanya masih terkejut, tapi Una sudah tidak tahan ingin segera pergi dari tempat itu.
‘Nanti di rumah saja’ bisik Una pada papanya.
“Om, Papa dan Una pulang saja duluan ya.. Maaf..” Una beranjak tanpa menunggu jawaban, keduanya duduk terpaku mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.