MUSIM hujan kali ini adikku bertingkah tak seperti biasanya. Mendadak ia takut dengan hujan. Padahal, setiap kali hujan turun, ia selalu berlarian ke tanah lapang di depan rumah sambil melakukan gerakan memukul, menendang dan melompat ke sana kemari. Tak lama kemudian, anak-anak tetangga pun menyusul untuk bermain bersama. Begitulah, hujan selalu mengirimkan kebahagiaan kepada mereka.
Aku sempat terkejut saat mendengarnya berteriak. Kupikir ada perkelahian kecil di luar sana yang membuat adikku harus menangis. Ia tak mengatakan apa pun. Tingkahnya aneh. Ia bergegas mengambil kursi plastik dan menaiki lemari pakaian. Dengan tubuh menggigil basah, Ia meringkuk sambil menangis di atas sana.
Situasi membingungkan itu membuat kami saling melempar pertanyaan.
“Ada apa, Nak? Ayo turun, biar bapak bantu!” pinta bapak mengulurkan tangan.
“Sini, Nak, Ibu peluk…!” rayu ibu dengan suara getir.
“Kau berkelahi dengan siapa, Dik?” tanyaku tak tinggal diam.
Tak ada jawaban. Ia masih tetap menangis tersedu. Kami pun berjaga-jaga dan tak lagi memaksanya untuk turun. Selama itu, kami hanya menunggunya di bawah dengan pikiran kami masing-masing.
“Aneh..!” seru bapak sambil mengencangkan sarungnya. “Jangan-jangan alam kembali mengirimkan isyarat kepadanya,” ucap bapak berusaha mencari jawaban.
Aku dan ibu saling bersitatap. Ucapan bapak mengingatkanku dengan peristiwa enam bulan lalu. Peristiwa yang membuat kami yakin bahwa adikku bisa menangkap isyarat alam melalui tubuhnya.
Pernah kami menceritakannya kepada orang-orang, namun sebagian mereka mengangggap adikku sedang melantur. Usianya memang masih tujuh tahun, tapi bukankah kebenaran bisa datang kepada siapa saja?
"Tak usah pedulikan kata orang-orang. Anak-anak atau dewasa, itu hanya soal umur, dan jika adikmu berbicara sesuatu yang penting, maka dengarkanlah," nasehat bapak ketika itu.
Adikku telah diberi anugerah oleh Tuhan untuk bisa merasakan tanda-tanda alam. Semua berawal enam bulan lalu, selepas mandi di sungai, di sekujur tubuh adikku mendadak tumbuh bintik-bintik merah dan gatal.
Setahu kami, sungai yang selama ini kami gunakan untuk mandi dan mencuci pakaian tak pernah mengirimkan penyakit kepada penduduk di kampungku.
Adikku bilang, sungai mulai kotor dan mendatangkan penyakit. Ikan-ikan di sungai akan segera mati. Kami pun sontak terkejut mendengarnya. Kalimat itu ia ucapkan berulang-ulang dan membuat bapak memutuskan memanen ikam di keramba meski belum waktunya.
Saat itu, aku mengikuti bapak pergi mendatangi keramba ikan yang sengaja tempatnya berjauhan dari pemandian sungai. Keputusan bapak membuat para pemilik keramba lainnya pun heran. Sudah bisa kuduga, mereka tertawa saat bapak menceritakan tentang adikku.
"Omongan anak kecil kamu percaya. Tubuhnya saja yang lemah atau bisa saja dia mandi di sungai sambil bermain di pohon jingah," ucap mereka agar bapak membatalkan niatnya memanen ikan, menunggu sampai waktunya tiba.
"Dia berbicara tentang sungai kita. Lagi pula, aku sudah memeriksa sendiri gatal di kulitnya. Bukan dari pohon jingah," jawab bapak mempertahankan pendapatnya.
Aku sepakat. Kami semua di kampung ini berpuluh-puluh tahun lamanya sudah bersahabat dengan pohon jingah. Turun temurun kami diajarkan caranya menghindari gatal akibat pohon itu, bahkan jika lalai, ciri-ciri gatalnya pun kami tahu. Satu lagi, meski tampak tak berguna, kami tahu cara memanfaatkan buahnya untuk dijadikan sambal yang rasanya khas di lidah. Ya, sambal jingah, teman makan ketupat yang lezat.
Keputusan bapak sudah bulat. Aku pun langsung membantunya menarik jaring apung ke permukaan. Kami tak peduli jika ikan nila yang kami panen dihargai murah karena belum layak jual.
Hari itu juga aku ikut bapak ke pasar mengendarai mobil pick up. Lima gentong besar penuh berisi ikan nila kami bawa ke pasar.
Aku adalah saksi betapa bapak sangat mempercayai isyarat alam yang dititipkan lewat adikku. Sehari setelah bapak memanen ikan, warga kampung mendadak riuh mendapati ikan-ikan mengapung di permukaan air. Tak hanya di keramba mereka, tapi ikan-ikan liar di sungai pun juga bernasib sama.
Hari itu, sungai di kampung kami mendadak berwarna putih. Permukaan air tertutup oleh ikan-ikan mati yang meruapkan bau busuk menyengat. Satu hal yang membuatku heran adalah, bintik-bintik merah di sekujur tubuh adikku perlahan pulih dan sembuh tanpa meninggalkan bekas.
Begitulah adikku. Ia menjadi buah bibir sejak peristiwa ikan-ikan mati tanpa diketahui penyebabnya. Orang-orang di kampung kami bahkan terpecah menjadi tiga kelompok. Ada yang percaya dengan anugerah yang dimiliki adikku, ada yang ragu-ragu dan menganggapnya kebetulan, dan sisanya tidak percaya sama sekali dengan anugerah semacam itu.
Kabar tentang ribuan ikan yang mati dan cerita orang-orang tentang adikku tersebar dengan cepat. Gara-gara semua itu, kami menjadi repot sendiri. Banyak tamu dari kota berdatangan untuk menemui adikku. Termasuk para juragan ikan, mereka jauh-jauh datang hanya untuk mengatakan sesuatu yang ganjil, bahkan berterimakasih kepada bapak. Mereka bilang, musibah ikan-ikan mati justru melambungkan harga ikan di pasaran.
“Bisa laku tiga kali lipat dari harga normal,” ucap salah seorang juragan ikan sambil menyodorkan amplop berisi uang. “Bagi-bagi rejeki,” sambungnya.
Mereka pun memaksa ibu untuk menerima amplop itu karena bapak menolaknya. Kuperhatikan amplop itu cukup tebal, namun bapak menggelengkan kepala sebagai isyarat agar ibu juga menolak pemberian itu.
Tak ada pilihan lain, para juragan setuju dengan saran bapak untuk diberikan kepada para pemilik keramba ikan yang terkena musibah. Setelah mereka pergi, kulihat wajah ibu tampak cemberut dan langsung pergi ke dapur menggandeng adik. Bapak teramat peka dengan situasi semacam itu, ia pun pergi menyusul ibu.
Dari balik pintu, aku mendengar dengan jelas bapak mengucapkan sesuatu yang tak terpikirkan olehku.
“Uang seperti itu bukan rejeki namanya. Justru akan menjadi fitnah. Bagaimana jika orang-orang tahu kalau kedatangan para juragan ikan untuk memberikan uang? merek bisa saja menuduh kita bekerjasama dengan para juragan ikan untuk meracuni sungai.”
Tak jelas apa yang terjadi kemudian. Pastinya, orang-orang kota pun tak lagi berdatangan ke rumah setelah dilarang bapak menemui adikku. Hebat sekali adikku itu. Orang-orang mau datang dari jauh hanya untuk menemuinya. Padahal mereka harus melewati jalan beraspal yang telah rusak bertahun-tahun lamanya. Mereka bahkan rela memberikan imbalan dari setiap air yang ditiup oleh adikku. Apa susahnya meniup air? Bukankah itu cara termudah mencari uang ketimbang mengayunkan cangkul?
Bapak seolah tahu apa yang sedang kupikirkan. Ia pun meminta agar kami segera berkumpul di ruang keluarga.
“Adikmu bukan dukun. Setiap hari alam selalu berkirim pesan. Adikmu kebetulan bisa menangkap pesan itu.Jika kita biarkan orang-orang terus berdatangan dan tidak sesuai harapan mereka, kita akan dapat masalah nantinya,” tegas bapak.
***
Sudah enam bulan berselang, sejak peristiwa ribuan ikan yang mati, tidak ada lagi alam menitipkan pesan kepada adikku. Sehari-hari, ia seperti anak-anak pada umumnya, bermain, menangis dan juga meminta uang jajan. Keramba-keramba di sungai pun sudah kembali di isi bibit ikan. Sayur yang kami tanam pun sudah berkali-kali panen.
Kami melupakan semua yang telah terjadi, termasuk tentang adikku. Orang-orang tak lagi membicarakannya. Ingatan itu justru tumbuh kembali ketika bapak mengucapkannya. Wajah kami mendadak pias. Rasa takut diam-diam menyelinap paksa. Bagaimana jika alam kembali mengirimkan pesan kepada adikku?
Tatapan kami kembali tertuju kepada adik. Bapak berusaha merayu agar adik mau berbicara.
“Ayolah, Nak. Jangan buat kami cemas!”
“Sini, Nak. Biar ibu periksa badanmu.” Ibu lantas menaiki kursi yang semula digunakan adik memanjat lemari pakaian. Aku pun penasaran dengan kondisi tubuh adikku, apakah sama seperti waktu itu?
Ibu memeriksa lengan dan membuka separuh baju adikku dan memberi isyarat dengan menggelengkan kepala.
“Begini saja, sebaiknya kita tanyakan kepada anak-anak yang bermain bersamanya tadi,” usul bapak.
“Tapi di luar masih hujan lebat,” jawab ibuku.
“Ketimbang harus penasaran seperti ini,” ucap bapak tak sabar dan bersiap-siap melangkah pergi.
“Aku ikut,” pintaku menerobos hujan yang begitu lebat.
Kami pun menemui anak-anak yang masih tersisa bermain di tanah lapang. Kata mereka, adikku sempat ke ujung jalan dan tak berhenti memandangi pegunungan di depan sana. Semua terkejut ketika adikku tetiba menjerit ketakutan dan berlari menuju pulang.
Aku segera mengikuti langkah bapak yang langsung berlari ke ujung jalan. Saat tiba, mataku hanya bisa samar-samar memandangi pegunungan itu. Jaraknya tak jauh. Aku sering ikut bapak pergi ke sana untuk mengumpulkan buah kemiri atau ketumbar dan pulangnya membawa kayu bakar. Itu pun sudah lama kejadiannya. Sekarang sudah tidak bisa lagi karena ada perusahaan yang menguaasai pegunungan itu. Mereka memangkas, menggali dan menebangi banyak pepohonan.
Kuperhatikan bapak seperti mencari isyarat yang membuat adikku menangis ketakutan. Ia pandangi terus pegunungan di depan sana. Sesekali ia usap tetesan air hujan di wajahnya dengan jari tangan. Aku hanya diam melihat keanehan tingkah laku bapak. Ia duduk di tanah sambil memejamkan mata. Setelah itu ia menempelkan telinganya ke tanah.
“Ada apa, Pak?” tanyaku berusaha mencari tahu.
Bapak tak langsung menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. “Kamu pulang dan temui adikmu sekarang. Bapak akan menyusul sebentar lagi.” ucapnya.
Setelah itu aku tak tahu apa yang bapak lakukan. Sekuat tenaga aku menerobos hujan agar segera tiba di rumah. Dari luar terdengar suara ibu seperti sedang menangis. Aku pun bergegas masuk tanpa memedulikan pakaianku yang sudah basah.
“Mana bapakmu? Coba lihat tingkah adikmu semakin aneh,” ucap ibu dengan suara serak.
Aku ceritakan tentang bapak sekadarnya saja. Perhatianku justru tertuju kepada pakaian yang berhamburan di lantai. Adikku terlihat sibuk mengemasi pakaian itu dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kita pergi sekarang, Kak. Ayo pergi..!” rengeknya menarik tanganku.
"Kenapa, Dik? Ceritakan kepada, Kakak..! jawabku berusaha menenangkannya.
“Air, Kak. Banyak air di sana.”
Ibu langsung berdiri mendengar ucapan adik. Dengan wajah keheranan, ibu memastikan sekali lagi. “Kamu yakin melihat banyak air?”
Bukankah di luar memang sedang hujan? Wajar jika banyak air. Baru saja aku ingin mengatakannya, ibu lebih dulu memintaku untuk memanggil bapak. Sungguh hari yang melelahkan. Tubuhku langsung menggigil membayangkan harus menerobos hujan kembali.
Bapak mungkin benar, setiap hari alam selalu berkirim pesan. Adikku hanya kebetulan bisa menangkap pesan yang dikirimkan alam ke kampung kami. Tanpa menunda lagi, bapak sempat mengajak orang-orang untuk meninggalkan kampung menuju tempat yang lebih aman. Seperti dugaanku, tak semua orang percaya dengan cerita bapak.
Hujan belum juga berhenti. Dengan mengendarai mobil pick up yang penuh dengan barang-barang, kami hanya bisa menandangi genangan air di sepanjang perjalanan. Kuperhatian adikku sudah tidur di pangkuan ibu. Sementara bapak menceritakan kejadian saat memintaku pulang ke rumah. Ternyata bapak pergi ke sungai. Ia melihat air sudah meluap-luap. Bahkan ia sempat mendengar suara gemuruh air dari atas pegunungan sana.
Dengan tubuh menggigil sisa basah hujan, bapak memintaku agar terus menyetir sejauh mungkin. Sesekali kuperhatikan kaca spion di samping kanan. Dalam keremangan cahaya lampu mobil, aku terkejut saat melihat air meluap-luap di belakang sana. Tanpa sadar, aku menepikan mobil untuk memastikan apa yang baru saja kulihat.
“Kenapa berhenti?” tanya bapak.
“Istirahat sebentar, Pak,” jawabku beralasan. Tanpa sepengetahuan bapak, aku menolehkan wajah mencari tahu apa yang terjadi di belakang sana. Mungkin aku sedang demam, hanya itu yang bisa kupahami saat tak menemui luapan air yang tadi sempat kulihat. []