Di seonggok batu cadas ini aku masih duduk termenung memandang gersangnya bebukitan di depanku. Udara senja mulai terasa dingin membelai tubuh kurusku yang bertelanjang dada. Dua puluh lima tahun yang lalu aku sering menghabiskan masa kecilku di sini. Di sini, di seonggok batu cadas di tepi waduk yang kerontang tak jauh dari laut. Dua puluh lima tahun yang lalu pula hamparan bebukitan itu begitu hijaunya sehingga memaksa imaji kecilku untuk terbang ke atas sana. Walau gelap semakin menyelubungi, aku masih enggan menggeser tubuhku, seakan-akan ada magnet aku dipaksanya untuk terdiam dan termangu di sana.
“Nak, ini nenek bawakan melon untuk kamu, nanti kalau semangkanya sudah besar-besar, kamu pasti nenek ajak ke sawah. Tapi ingat kamu harus rajin-rajin mengaji biar bacaan qur’annya jadi lancar”
Ah, kata-kata nenek yang merdu setelah pulang dari sawah itu seakan-akan baru saja mampir di telingaku. Dan kini, setelah dua puluh lima tahun lamanya, perempuan tua berwajah teduh itu seperti masih menyisakan bayangnya di antara sapuan kemerah-merahan pendar matahari di atas bukit, tersenyum dan membelai lembut rambut keritingku lewat hembusan sang bayu.
Mengingat itu aku jadi ingin menangis. Waktu terlalu cepat bergulir dan memaksaku jauh ke sebuah masa yang sampai dua puluh lima tahun kini aku sulit menerimanya. Bahkan aku sering termenung, berhayal dan berharap aku tetap seperti aku dua puluh lima tahun yang lalu. Masa kecil yang indah dan penuh canda tawa. Dan ada rasa takut yang selalu terbersit di benakku saat tahun demi tahun usiaku terus bertambah. Tambah usia berarti aku akan jadi tua dan beban yang akan aku pikul semakin kompleks dan rumit. Aku akan tua dan tentunya kematian terasa dekat kepadaku. Aku takut mati dan ingin menikmati hidup seribu tahun lagi bersama orang-orang terkasihku, bahkan kalau bisa kekal selamanya.
Namun kini, saat kesendirianku aku merasa tiada siapapun di sisiku. Hanya ada celoteh burung camar dan ombak yang tiada henti-hentinya menghempas bibir pantai. Di mana kampung halamanku dua puluh lima tahun yang lalu yang sejuk dengan lambaian dedaunan nyiur? Keluarga kecilku, teman sepermainanku dan pastinya Syifa, gadis manis yang selalu menebarkan senyum tipisnya nan menggoda ke setiap mata yang memandang? Kemana mereka? Kenapa hanya aku yang termenung di sini bagai batu karang yang kesepian tanpa hempasan ombak?
Aku tak kuasa lagi menahan derai air mataku. Kenangan demi kenangan yang datang seperti belati yang menghunjam dadaku. Dunia seperti benar-benar telah berakhir dan sesuatu yang aku takutkan benar-benar telah terjadi. Maut telah menambah lebar jarak perpisahanku dengan keluargaku, teman-temanku dan syifa gadis kecilku. Padahal baru kemarin aku mengabarkan kepulanganku kepada mereka . Tentang kerinduanku akan aroma pasir putih lautku, suara merdu nyanyian burung camar dan rembulan purna yang dulu sering aku dan teman-temanku menikmati pendar indahnya di tepian laut. Dan saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah ini setelah dua puluh lima tahun menghilang di tanah rantau, yang kutemukan hanyalah puing-puing sisa keganasan gelombang pasang tadi pagi. Mereka semua telah pergi dan saat ini yang pantas aku salahkan hanyalah Tuhan. Tuhan yang otoriter. Tuhan yang berkehendak semau-Nya menumpahkan amarah dan sifat Mutakabbir-Nya. Keluargaku, teman-temanku dan tentunya syifa ikut dimusnahkan.
Tak satupun sesuatu yang ditinggalkan untuk menghapus kerinduan anak yang hilang selain foto buram yang hanya menyisakan wajah kecilku. Wajah kedua orang tuaku laksana lukisan nikala yang hanya bisa kuhadirkan lewat ingatan masa laluku.
Terdengar suara azan mendayu-dayu dari kejauhan. Aku menghela nafas pendek seraya menundukkan kepala lemah. Suara azan itu telah menambah sayatan baru di luka batinku. Mungkin untuk saat ini aku sudah tidak punya tenaga dan kekhusyuan untuk sekedar menjawab seruannya. Dan mungkin Tuhan akan sedikit maklum dengan keadaanku ini. Aku bukan wali atau orang shaleh yang bisa memaknai musibah demi musibah sebagai sebuah ujian yang akan melapangkan jalanku menuju surga. Aku hanyalah setitik nyawa yang dijejali berbagai kerinduan yang kandas dipersimpangan jalan. Dan kini, saat semuanya telah menghilang dan meninggalkanku sendiri, aku merasa sudah tidak bisa lagi untuk berpikir bahwa aku ini adalah hamba Tuhan.
Malam semakin gelap. Hembusan angin terasa dingin menusuk sum-sum. Sesekali suara batukku menggema memecah suara gelombang laut yang sesekali terdengar. Walau kaki terasa lemas, kupaksakan saja untuk bangkit dan perlahan melangkah menyusuri puing-puing reruntuhan. Isak tangisku semakin menjadi-jadi saat langkah kakiku terhenti di sebuah tumpukan jerami basah yang tersangkut sebuah patok besi yang dulu menjadi batas halaman rumah kami dengan tetangga sebelah. Aku menghempaskan tubuhku lemah. Ini atap gedekku” bisikku lirih. Di sini rumah kecilku dulu berdiri kokoh, di sini, di dekat patok besi dimana tumpukan jerami tersangkut. Di sini dulu, tepatnya di beranda kecil kami nenek sering menghabiskan waktu ba’da isya’ denganku untuk mendongeng sebelum aku terlelap tidur. Di sebelah beranda, dapur tempat ibu memasak dan dengan nyanyi sumbangnya mengiringi cuit-cuit burung malam. Di halaman rumah, ayah dengan tubuh kekarnya saban malam selalu sibuk menyiapkan peralatan melautnya dan esoknya sebelum matahari terbit, aku dan ibu dengan gembira dan penuh doa harap akan menyongsong kedatangannya kembali ke rumah.
Sekarang, kemana mereka? Kenapa tak kudengar lagi suara terompah nenek? Tidakkah dia akan mendongeng untukku seperti masa kecilku dulu? Dongeng tentang Balang simbar, Doyan medaran dan tentunya dongeng favoritku, Cuplak dan Gerantang. Kemana ibu? Kenapa tak terdengar lagi suara berdenting sendok dan gelas baja dari secangkir kopi pahit yang dibuatkan untuk ayah? Dan kemana juga lelaki hitam kekar itu? Kenapa dia belum juga terlihat memeriksa mesin sampan kecilnya? Tidakkkah ia akan pergi melaut esok pagi? Oh, suara riuh burung laut seakan-akan menanti nya dan akan mengiringi kepergiannya ke laut lepas.
Tubuhku tiba-tiba begitu lemas. Dan tanpa kusadari tubuhku tiba-tiba telah terjatuh di tanah. Tersedu sedan dalam tangis sembari memeluk patok besi. Tiba-tiba perasaan menyesal menyeruak dalam hatiku. Menyesal karna tidak termasuk korban saat musibah laut pasang besar itu terjadi. Kejadiannya tentu tidak stragis ini jika hari itu aku ikut syahid bersama mereka. Dan saat ini mungkin aku dan mereka semua akan tersenyum di balik jendela surga menikmati irama musik surgawi dan sabda-sabda daud memuji Tuhannya.
Tapi tidak lama kemudian mata nanarku berubah bagai mata dewandaru yang jalang. Seperti bisikan yang entah datang dari mana tiba-tiba menyemut mengerubungi perasaanku. Melihat sebilah bambu yang tergeletak tak jauh dari tempatku bersimpuh, aku merasa seperti penyembah iblis yang sedang memanggil malaikat kegelapan menghampiriku. Tanpa pikir panjang, kuraih saja bilah bambu itu dan perlahan menodongkannya tepat ke jantungku. Suara gedebur ombak bagai nyanyian lirih yang seakan-akan mengiyakan pilihanku. Dan seakan-akan bayangan demi bayangan masa laluku hadir dan mengucapkan selamat datang kepada tamu baru yang telah lama dinantikan kedatangannya. Tapi sebelum pisau itu benar-benar mendekat ke jantungku, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berat menghantam kepalaku. Pandanganku menjadi gelap dan tak lama kemudian aku tak sadarkan diri.
Aku seperti melihat mereka semua, ibu,ayah, perempuan tua bermata teduh, teman-teman kecilku, dan tentunya syifa yang berdiri berjejer di atas balkon sebuah istana yang begitu menakjubkan. Tapi ada yang aneh dari raut wajah tanpa senyum saat melihatku mencoba bangkit dari lubang lumpur yang hendak menenggelamkanku. Saat aku lambaikan tangankupun mereka tetap tak bergeming dan tak terlihat tanda-tanda ingin menolongku.
“Ayah, ibu, nenek, teman-teman, dan gadis kecilku syifa, aku datang! Ulurkan tangan kalian agar aku bisa memeluk kalian. Cepatlah karna lumpur ini sepertinya hendak menenggelamkanku”. Teriakku memohon.
“Lihatlah muka dan tubuhmu yang kotor hai Balang Simbar, pakaianmu compang-camping dan baumu yang tak sedap. Kami tidak punya hak untuk membawa tubuhmu yang kotor itu ke tempat yang suci ini. Ini tempat Tuhan untuk hamba-hamba pilihan-Nya. Kamu hanya pengemis yang memaksa diri lari dari kenyataan agar segera terbebas dari derita hidup yang menderamu. Kamu pecundang dan enyahlah dari sini!
Aku terbengong. Menggeleng kepala tak percaya mendengar kata-kata perempuan tua berwajah teduh, bagai suara petir yang mengagetkan urat syarafku.
“Kembalilah. Jangan rusak keceriaan kami dengan rintih dan ratapmu yang sia-sia itu. Kami sudah tenang di sini. Kembalilah nak. Kembalilah”.
Suara terakhir perempuan tua itu seperti membawaku kembali ke alam sadarku. Nafasku seperti dihentak-hentakkan dan keringat dingin mengalir deras membasahi tubuhku. Kurasakan kepalaku terasa sakit dan sekujur badanku terasa remuk.
Aku mencoba mendongakkan kepalaku. Matahari terlihat satu galah dari balik bukit. Aku lihat setengah pelepah pohon kelapa melintang di dadaku. Rupanya setengah pelepah pohon kelapa itulah yang jatuh dan menghantam kepalaku hingga aku tak sadarkan diri dan bertemu dengan arwah-arwah itu.
Kepalaku kemudian tertunduk. Penuh penyesalan aku mencoba bangkit dan melangkah pelan menyusuri bibir pantai. Dua puluh lima tahun sudah kutinggalkan desa ini dan kini aku kembali dengan kesendirianku. Kejadian ini akan jadi pelajaran dalam hidupku. Ada banyak cara Tuhan menguji hamba-Nya. Ada banyak jalan Tuhan mencintai hamba-Nya. Hidup memang pasti akan berakhir. Ada pertemuan ada perpisahan. Ada cinta adapula benci. Ada hidup ada juga mati. Inilah siklus kehidupan yang tidak dapat dihindari. Hanya para kesatrialah yang mampu memahami hikmah di balik setiap bencana dan musibah, dan aku yakin aku mampu melakukannya. Selamat tinggal desaku. Selamat tinggal kenangan yang tak akan kukenang lagi….