Di Suatu tempat yang terdapat bangunan yang menjulang tinggi, terdapat seorang gadis yang memegang sebuah map berwarna coklat yang didalamnya berisi beberapa dokumen untuk melamar pekerjaan.
Gadis itu pun masuk ke dalam gedung tersebut guna mengikuti wawancara yang akan dilakukan beberapa saat lagi.
"Anaya Khemu, silahkan masuk ke ruang wawancara!" Panggil seseorang.
Anaya Khemu, nama gadis yang akan melakukan wawancara di sebuah perusahaan bernama JO Corp. Dimana perusahaan ini merupakan perusahaan terbesar di negara ini.
Perusahaan yang sudah memiliki cabang di berbagai belahan dunia ini pun menjadi incaran semua orang. Tak terkecuali Anaya yang sedari dulu bermimpi untuk bekerja disana yang mungkin kedepannya akan mengubah nasibnya yang selama ini sudah bekerja keras menghidupi dirinya.
Anaya pun sudah duduk di sebuah kursi yang tersedia disana.
"Nona Anaya, setelah saya membaca Curriculum Vitae milik saudara, saya merasa sedikit tertarik melihat kompetensi dan nilai yang saudara dapatkan." Ucap seorang pria yang berada di hadapannya.
Nampak Anaya yang sudah sedikit tegang dengan kalimat selanjutnya yang akan dikatakan orang yang sudah hampir paruh baya tersebut.
"Karena itu, saya akan memberikan anda pekerjaan yaitu menjadi sekretaris dari CEO. Apakah kamu bersedia?" Tanyanya kembali.
Anaya tampak terkejut. "A-anu pak, saya masih tidak yakin dan belum memiliki pengalaman di bidang itu." Ucapnya terbata.
"Tenang saja, kami akan menyuruh seseorang untuk melatih mu." Ucap pria tersebut.
Anaya tampak berfikir, setidaknya jika dia bekerja sebagai sekretaris maka uang yang akan dia dapatkan akan banyak dan mampu untuk membayar beberapa hutangnya.
"Baik pak! Saya terima pekerjaan ini dan saya akan melakukannya dengan sungguh-sungguh!" Ucap Anaya penuh keyakinan.
"Bagus, kamu bisa bekerja mulai besok." Ucap pria paruh baya itu lagi.
"Terimakasih pak!" Ucap Anaya lalu membungkuk dan berlalu pergi dari ruangan itu.
*
Sepanjang perjalanan tampak Anaya sedang bersenandung kecil lalu menuju halte bus terdekat. Sebenarnya Anaya memiliki sebuah sepeda motor walaupun tidak bagus atau jelek-jelek amat asalkan bisa dipakai itu sudah cukup baginya. Namun, sepeda motor tersebut tidak dipakai karena harga BBM saat ini sedang melonjak sehingga dia beralih menggunakan kendaraan umum.
'Aku harus mempersiapkan diriku untuk besok! Semangat Anaya! You can do it!' batinnya berucap.
Namun, disaat dia akan menuju halte bus, tanpa sengaja dia menyenggol seseorang sehingga membuat kopi yang dibawa orang itu mengenai pakaian mahalnya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja." Ucap Anaya.
Tapi pria yang dimintai maaf hanya menatap nyalang Anaya lalu berbalik pergi dengan langkah besar meninggalkan Anaya sendirian disana.
'Astaga apa yang kau lakukan Anaya!!!' pekiknya dalam hati.
*
Keesokan harinya.
Anaya sedari tadi fokus belajar dan memperhatikan Mbak Yeni yang menerangkan bagaimana menjadi sekretaris yang baik dan benar.
Karena dia sendiri mendengar rumor bahwa sang CEO adalah orang yang kejam dan sangat teliti. Jika membuat satu saja kesalahan kecil maka akibatnya tidak akan bisa dibayangkan.
"Terimakasih Mbak Yeni sudah membimbingku." Ucap Anaya.
"Sama-sama, sudah tugasku membimbing mu. Sudah ya aku akan kembali ke departemen ku. Ingat tugas pertamamu sekarang adalah membawakan berkas ini." Ucap Mbak Yeni seraya menunjuk tumpukan dokumen.
"Siap mbak!" Jawab Anaya.
*
Anaya pun membawa dokumen itu memasuki ruangan CEO.
Tok… tok… tok!
"Masuk!" Ucap seseorang dengan suara bariton nya.
"Maaf pak, ini adalah berkas yang harus anda tanda tangani." Ucap Anaya lalu menaruh berkas tersebut di meja.
"Hemm." Ucapan Anaya hanya dijawab dengan deheman membuat Anaya sedikit jengkel.
"Jika tidak ada keperluan lain, saya undur diri pak." Ucap Anaya lalu berbalik. Baru saja hendak meninggalkan ruangan Anaya kembali dipanggil oleh sang CEO.
"Tunggu! Siapa yang menyuruhmu keluar? Saya belum menyuruhmu! Duduk dan tunggu saya sampai selesai." Ucap CEO menunjuk kursi dihadapannya untuk Anaya duduk.
"Ta-tapi pak pekerjaan saya bagaimana?" Tanya Anaya gugup.
CEO itu menatap tajam Anaya. "Kamu baca tanda nama di atas meja ini!" Titah sang CEO.
Sorot mata Anaya pun menuju sebuah papan nama yang ada di atas meja. "Vero Kendrick Jonas, CEO JO Corp." Ucapnya pelan namun masih bisa didengar.
"Sudah dibaca? Lain kali panggil namaku ketika kita sedang berdua seperti ini!" Titah Vero. Anaya pun mengangguk pasrah.
Satu jam berlalu, Anaya pun sudah terlihat sangat lelah menunggu Sanga atasan mengecek berkasnya. Tiba-tiba Vero bangkit lalu menarik pergelangan tangan Anaya.
"Ada apa pak? Kita mau kemana?" Ucapnya sedikit meringis karena tangannya yang ditarik.
Vero melirik Anaya sekilas. "Sudah, ikut saya makan siang dan ingat apa yang kita bicarakan satu jam yang lalu!" Ucapnya.
"Tapi pa- Vero."
"Shutttt!" Vero menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Anaya. Lalu berjalan menuju lobi dimana mobilnya sudah terparkir di depan pintu masuk.
20 menit berlalu, mereka pun sudah sampai di restoran dengan makanan yang sudah terhidang di atas meja. Baik Vero dan Anaya sama sekali tidak ada yang bersuara.
"Ekhem, terima kasih atas makan siangnya pak." Ucap Anaya disaat sudah selesai makan.
"Hem, anggap saja sebagai acara penyambutan mu." Ucap Vero lalu berlalu menuju membayar makanan dan menuju mobil, meninggalkan Anaya yang tertinggal jauh di belakangnya.
"Dia benar-benar orang yang aneh." Gerutu Anaya karena ditinggal.
*
Satu tahun kemudian.
Selama setahun ini performa kerja Anaya sangatlah melambung pesat. Bahkan dia mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya dengan baik.
Dan itu juga tak luput dari pengamatan Vero. "Anaya kau sangat hebat. Tidak sia-sia aku memperhatikanmu." Gumamnya dari ruangannya.
"Mungkin saat ini adalah saatnya." Gumamnya lagi.
Vero pun memencet tombol telepon yang akan terhubung ke asisten kepercayaannya. "Panggil Anaya, suruh dia menghadap ke ruangan ku!" Titahnya.
Selang beberapa menit seseorang mengetuk pintu ruangan khusus CEO milik Vero.
Tok… tok…. "Permisi pak."
"Masuk!" Ucapnya sedikit keras.
Vero pun bangkit dari kursi kebesarannya disaat melihat Anaya yang sudah memasuki ruangannya.
"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya Anaya.
"Anaya Khemu, melihat performa mu selama setahun bekerja di sini saya akan memberikanmu sebuah hadiah." Ucap Vero.
Mata Anaya pun berbinar. "Hadiah? Apa pak?" Ucapnya antusias. Siapa juga yang akan menolak hadiah?
Vero tersenyum smirk. "Hadiahnya yaitu, jadilah istriku." Ucap Vero dengan santainya.
Anaya pun terkejut bukan main. "APA!!! Bapak jangan bercanda! Saya tidak mau!" Pekiknya.
"Aku bersungguh-sungguh sayang, dan jangan menolak ingat pemilik perusahaan ini adalah aku." Ucap Vero.
"Tapi pak-"
Vero pun memotong ucapan Anaya. "Aku akan memberikanmu dua pilihan." Ucap Vero yang membuat Anaya sedikit lega. "Yang pertama aku akan menaikkan jabatanmu dan jadilah pacarku." Lanjutnya lagi.
"Bagaimana bisa begitu pak! Itu tidak adil!" Protes Anaya.
"Aku rasa kamu akan tertarik dengan pilihan kedua." Ucapnya terjeda. "Pilihan kedua yaitu aku akan menaikkan jabatanmu dan jadilah istriku." Vero melanjutkan kalimatnya.
Anaya tercengang. "Saya tidak akan memilih keduanya karena sama-sama merugikan ku." Ucap Anaya.
Vero mendekati Anaya lalu berbisik tepat di telinganya. "Kau tidak ada diposisi menolak, karena yang dirugikan disini adalah aku. Kamu harus bertanggung jawab karena sudah menyiram diriku dengan segelas kopi satu tahun yang lalu." Ucap Vero.
Degh!
Jadi Vero adalah orang aku tabrak dulu? Mampus! Batin Anaya.
"Ma-maafkan saya Pak, waktu i-itu tidak sengaja." Ucap Anaya dengan wajah yang sudah ketakutan.
"Jadi, bertanggung jawablah dengan menikah denganku." Ucap Vero menggenggam tangan Anaya.
Anaya menatap netra milik Vero, hanya memastikan apakah sang atasan sedang mempermainkan dirinya atau tidak. Namun, yang dilihatnya hanyalah keyakinan.
"Tapi, pak bolehkah kita mulai dari pacaran terlebih dahulu?" Tanya Anaya.
Kini giliran Vero yang terkejut. "Ka-kau menerima ajakan ku?" Tanya Vero memastikan.
Anaya hanya mengangguk mantap. Dengan cepat Vero memeluk Anaya dengan erat.
Sementara Anaya hanya membalas pelukan Vero. Apakah keputusanku sudah benar? Walaupun hatiku belum mencintai Vero setidaknya aku akan mencoba. Anaya membatin.
End.
Terimakasih sudah membaca😍😘
Maaf jika alurnya abstrud 😅