2 gadis itu sedang asyik bermain sosial media di dalam rumah di atas sofa merah yang lumayan rapuh karena sudah tua. Nama mereka adalah Nurwala dan Cahaya, Nurwala lah pemilik rumah tersebut, dan saat ini Cahaya datang ke rumah Nurwala untuk pertama kalinya.
Kedua orang tua mereka sama-sama sedang bekerja di kantor, jadi mereka selalu merasa kesepian tiap sore dan malam.
Mereka baru saja berkenalan 1 Minggu lalu di sekolah. Masa SMP mereka masih baik-baik saja hingga saat ini.
👻👻👻
1 Minggu yang lalu, ketika mereka masih baru saling mengenal.
"Kamu tahu, namamu sama seperti diriku yang sangat menyukai cahaya," Nurwala mencoba berterus terang kepada Cahaya.
"Kenapa suka sama cahaya?" Cahaya penasaran.
"Cahaya membuatku bisa melihat dengan jelas walau malam hari telah menyambutku. Cahaya juga melambangkan kesucian, hati yang bersih nan damai. Dia teman kecilku dalam kegelapan," ucap Nurwala.
"Berarti kalo lagi gak dalam kegelapan, kamu gak mau berteman dengannya dong?" tanya Cahaya sambil tertawa.
"Ya gak gitu juga konsepnya, nak," Nurwala sedikit mendorong Cahaya ke samping sambil ikut tertawa.
Cahaya semakin memperbesar volume tertawanya.
"Aku juga menulis sedikit kata-kata untuk diriku sendiri di atas kertas. Mirip-mirip puisi gitu. Mau membacanya?" Nurwala bersiap untuk membuka resleting tasnya.
Cahaya mengangguk dan menghentikan tawanya. Nurwala pun membuka resleting tasnya, lalu dia mengeluarkan sebuah kertas HVS.
"Aku selalu membawanya kemanapun, agar orang lain dan diriku sendiri mengenal diriku yang sesungguhnya," katanya sambil memberikan kertas itu pada Cahaya.
Cahaya pun menerimanya, lalu membacanya.
Begini isinya:
~~~
Cahaya jika dihancurkan akan menjadi gelap.
Lalu apa yang terjadi jika menghancurkan gelap?
Apakah bisa?
Andai matahari seketika menghilang, gelap gulita menyirami dunia, terang tak terlihat lagi oleh mata.
Lalu bagaimana cara menghilangkan gelap itu? Menghilangkan bulan? Bukankah bulan juga memiliki cahaya yang dipantulkan oleh matahari?
Tolong jaga cahaya ini, aku pun selalu mengizinkan cahaya bertebaran di rumahku ketika malam telah tiba.
Jika di dalam rumahku sedang mati lampu, aku punya lilin sebagai penggantinya.
Jika kamu melihat rumahku gelap dalam jangka waktu yang lama, itu berarti aku sedang tidak berada di dalam rumah. Tapi jika aku berada di dalam rumah dan rumahku tetap gelap gulita, berarti itu bukanlah diriku.
~~~
"Kata-kata yang sangat indah," Cahaya tersenyum.
"Iya dong. Itu tulisan aku sendiri," Nurwala berlagak sombong.
Tapi yang bagian akhir terdengar agak mengerikan. Kalau jika dia berada di dalam kegelapan total, berarti dia siapa? Cahaya hendak bertanya, tapi perasaan Cahaya gak enak sama Nurwala.
3 hari setelah mereka saling kenal, Nurwala pun berulang tahun. Cahaya memberikan hadiah berupa lampu belajar berwarna ungu dengan polkadot berwarna putih kepada Nurwala saat Nurwala mengadakan pesta ulang tahun di sekolah, mengingat dia yang amat menyukai cahaya.
"Iiiiih bagus banget. Makasih banyak, ya," Nurwala begitu kegirangan ketika melihat lampu belajar yang amat cantik itu.
"Yaelah, lampu belajar doang. Lagian aneh banget sih, hadiah ulang tahun kok lampu belajar? Gak sekalian kasih kompor gitu, biar makin aneh? Kan sama-sama menghasilkan cahaya gitu loh!" celetuk salah satu teman sekelasnya yang bernama Dono.
"Banyak omong, lu," balas teman Cahaya yang lain.
"Iya nih. Dari pada lu, gak kasih hadiah apa-apa ke Nurwala, tahunya cuma minta traktiran ke yang ulang tahun. Padahal kan harusnya yang berulang tahun itu yang diperlakukan bagai raja!" balas temannya Cahaya yang lainnya lagi.
Semua kelas pun dipenuhi oleh tawa. Dono kini memasang wajah yang penuh malu.
👻👻👻
Beberapa hari kemudian saat malam hari, Cahaya ingin meminta lilin kepada Nurwala untuk percobaan IPA besok, mengingat Nurwala yang menyimpan amat banyak lilin karena Nurwala amat suka dengan cahaya. Cahaya sudah memberitahunya lewat chat sebelumnya kalau Cahaya ingin meminta lilin padanya. Dia lupa membelinya saat sore hari. Dan saat dia mencari toko yang masih buka di malam hari, hasilnya nihil.
Tapi ketika Cahaya sedang menuju rumah Nurwala, terlihat bahwa rumah Nurwala seperti tidak ada penerangan sedikitpun.
"Loh, dia gak ada di dalam rumah?" tanya Cahaya, entah pada siapa.
Ternyata Nurwala ada di dalam rumah!
"Hai Cahaya," Nurwala melambaikan tangannya di atas teras.
Astaga! Kenapa dia tinggal di rumahnya yang gelap itu?
Apa jangan-jangan itu bukanlah diri Nurwala, seperti yang tertulis pada puisi itu!
Cahaya memundurkan langkahnya sedikit, agak waspada. Tapi dia butuh lilin dari Nurwala. Bagaimana ini?
"Ah, h...hai, lilinnya ada kan?" tanya Cahaya takut-takut.
"Ada dong! Yuk masuk ke dalam," Nurwala pun masuk ke dalam rumah, tak menunggu Cahaya.
Dengar dan lihatlah! Dia memiliki lilin, tapi tiada setitik cahaya dalam rumahnya.
Apa sebenarnya yang ada dalam dirinya Nurwala?
Tapi karena Cahaya amat butuh lilin untuk besok, dia terpaksa untuk memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah Nurwala yang diselimuti kegelapan.
👻👻👻
Hawa dingin dan gelap membungkus Nurwala dan Cahaya. Tapi Nurwala terlihat santai-santai saja.
"Kok rumah kamu gelap gini sih? Rumah orang lain aja pada terang-benderang, tuh?" tanya Cahaya gugup.
"Papaku lupa bayar listrik nih. Jadi gelap gini," dia menjawab dengan santai pula, seolah itu bukanlah suatu masalah baginya.
Mereka berdua sedang menuju kamar Nurwala untuk mengambil lilin tersebut.
"Terus kok kamu gak nyalain lilin? Bukannya kamu harus nyalain lilin biar kamu bisa melihat dengan jelas?" tanya Cahaya lagi. Dia benar-benar aneh malam ini, bukankah dia suka dengan cahaya?
Dia tidak menjawab. Hanya diam dan hening.
Ya ampun, Cahaya jadi ngeri sendiri liatnya.
Cahaya mencoba mengeluarkan HP miliknya dari saku celananya, lalu mencoba menyalakan senter HP miliknya secara diam-diam. Cahaya menahan tombol memperkecil volume selama 3 detik, dan senter HP pun menyala.
Tapi tak lama kemudian cahaya dari HP itu redup seketika tanpa sebab. Cahaya sudah mencoba menyalakannya lagi, tapi tak membuahkan hasil.
"Mmm...mmm..." gumam Nurwala ketika mereka sudah sampai di dekat pintu kamar Nurwala. Gumaman tersebut terdengar seperti musik seram.
"Ka... kamu kenapa," tanya Cahaya sambil mundur sedikit ke belakang, kembali waspada. Karena dia mulai tahu kalau orang yang kini berada di depannya memang bukanlah Nurwala, sesuai dengan isi puisi itu.
"Gak apa-apa kok. Yuk, masuk ke dalam, aku kan mau memberikan lilinnya ke kamu," Nurwala tetap terlihat santai.
Mereka berdua pun berjalan menuju kamarnya Nurwala.
Sesampainya di sana, Cahaya melihat lampu belajar yang telah hancur berantakan, seperti habis di banting! Cahaya dapat melihatnya walau samar-samar karena gelap. Dan lampu belajar itu rupanya lampu belajar yang pernah Cahaya hadiahkan ke Nurwala!
"I... itu kenapa lampu belajar yang pernah aku hadiahkan hancur lebur gitu?" tanya Cahaya. Rasa takutnya semakin menonjol.
"Duh maaf, aku tak segaja menjatuhkannya," Nurwala tetap saja menjawab dengan santai.
Cahaya menggeleng. Tidak, itu pasti bukan karena tak sengaja.
"Aku cari lilinnya dulu, ya," Nurwala pun membuka laci ungunya.
"I...i...iya, selamat mencari," kata Cahaya mempersilahkan, tapi mulutnya bergetar.
Ketika pandangan Nurwala sedang menuju laci, Cahaya diam-diam keluar dari kamarnya Nurwala, lalu dia berlari dalam kegelapan ini, menuju pintu keluar.
Tapi tiba-tiba pintu tersebut tertutup dengan sendirinya!
"Astaga!" Cahaya panik.
Cahaya sudah berusaha untuk membuka pintu itu dengan sekuat tenaga, tapi sia-sia.
"Kenapa tidak bisa dibuka? NURWALAAAA..." Cahaya memanggil Nurwala. Tapi yang dipanggil tidak menjawab.
Jantung Cahaya berdegup kencang, suasana ini amat menyeramkan.
Cahaya mencoba menyalakan HP nya untuk meminta pertolongan ibunya. Tapi layar HP nya mati tanpa sebab, sama seperti senter HP tadi.
"Mmm...mmm..." gumaman seram itu terdengar lagi.
"NURWALAAAA...." Cahaya mencoba untuk memanggilnya sekali lagi.
Pandangan Cahaya beralih ke saklar lampu yang tertempel di dinding. Cahaya pun mencoba menekannya.
Ternyata sebuah lampu dapat menyala! Nurwala berbohong soal ayahnya yang lupa membayar listrik.
Tiba-tiba saja lampu itu pecah seperti kaca yang dibanting, membuat Cahaya sedikit kaget.
"Mmm...mmm..." gumaman itu terdengar lagi.
Kini Cahaya tahu, setiap ada cahaya yang dinyalakan di rumah ini, gumaman itu akan terdengar.
Kini Cahaya tahu, orang yang tadi dia temui memang bukan Nurwala.
Tapi yang masih belum Cahaya ketahui adalah, siapa sesungguhnya yang ada dalam diri Nurwala?
Nurwala ingin mencari tahu. Dia pun berlari ke arah kamar Nurwala.
Mengejutkan. Sudah tidak ada Nurwala di dalam kamar itu.
"NURWALAAA, KAMU DIMANAAAA?" Cahaya tetap memanggil dengan sebutan "Nurwala" walaupun dia tahu kalo diri itu bukanlah diri Nurwala lagi. Mungkin dia dirasuki sesuatu, pikirnya.
Cahaya tak sengaja melihat laci yang masih terbuka lebar yang tadi dibuka oleh Nurwala. Dia pun menuju ke arah laci itu, memeriksa isinya.
"AAAAAA..." Cahaya menjerit karena panik.
Bagaimana Cahaya tidak kaget? wajah laki-laki tanpa mata yang penuh dengan darah yang lehernya telah terpotong tersimpan dalam laci itu! Wajahnya pun dipenuhi bekas luka.
Sebelum Cahaya bertanya-tanya siapa lelaki itu, dia sudah terkapar duluan di atas lantai, di tengah kegelapan yang menyelimuti rumah Nurwala.
Cahaya jatuh pingsan.
👻👻👻
"Nak... Bangun nak..." suara samar-samar terdengar lewat telinga Cahaya.
Cahaya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
Dia melihat sesosok wanita di depannya.
Apakah itu ibunya?
Cahaya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sekali lagi, sambil berharap bahwa sosok yang di depannya adalah ibunya. Pandangannya pun sudah jelas.
Cahaya kecewa, ternyata sosok wanita yang di depannya adalah ibunya Nurwala.
Rumah Nurwala sudah terang benderang oleh lampu-lampu. Hujan deras membasahi jalanan di luar.
"Tante..." ucap Cahaya lirih.
Cahaya mendapati dirinya di atas tempat tidur, dan di sampingnya ada Nurwala yang kini terbaring lemah.
"Nurwala..." Cahaya memanggilnya sambil menegakkan dirinya untuk duduk.
"Nurwala pingsan, nak," jawab ibunya Nurwala.
"Ouuuh," Cahaya mengangguk. "Om mana?" tanyaku.
"Dia masih di luar. Sebentar lagi pasti pulang," jawabnya lagi.
"Ouuuh," Cahaya mengangguk lagi.
Dalam benak Cahaya terdapat pertanyaan mengenai diri Nurwala. Mengapa Nurwala...
"Cahaya, akan Tante jelaskan kenapa Nurwala terkadang hidup dalam kegelapan, walau dia amat suka tinggal di dalam penerangan," baru saja Cahaya ingin bertanya-tanya soal itu, jawaban itu malah akan terjawab sebentar lagi.
Cahaya bersiap untuk menyimak.
"Dulu Nurwala memang suka dengan cahaya, salah satu alasannya adalah karena lambang kesucian. Dan sifatnya pun memang sesuai dengan cahaya, berhati baik dan lemah lembut. Tetapi beberapa tahun kemudian kakak laki-laki nya Nurwala terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, merokok, geng motor, dan semacamnya, hidup dalam kegelapan. Dia ingin mengajak Nurwala untuk ikut-ikutan, jelas Nurwala menolak keras. Tapi kakaknya memaksa terus, dan Nurwala tetap bersikeras untuk menolak. Suatu hari kakaknya meninggal saat tawuran. Setelah kakaknya meninggal, arwahnya merasuk ke dalam tubuh Nurwala tiap malam jika Nurwala sedang dalam kondisi lemah, mematikan cahaya di sekitar rumah sampai benar-benar gelap, sama seperti sifatnya dulu semasa hidup, sebagai bentuk kekesalannya karena Nurwala selalu menolak mentah-mentah ajakan kegiatan busuknya. Dia tidak kunjung jera walaupun dia sudah meninggal karena ulahnya sendiri," ibunya Nurwala menjelaskan dengan panjang lebar sambil menangis.
Nurwala memang baik, walaupun ajakan kakaknya pasti membuatnya resah, Nurwala tetap hidup dalam kebaikan.
Cahaya menatap Nurwala yang masih terbaring lemah sambil tersenyum lebar. Sungguh anugrah terindah karena dapat memiliki teman yang baik seperti sekarang.
👻👻👻
Cahaya pulang dengan payung merah pemberian ibunya Nurwala, dia meminjamnya untuk hari ini. Hujan deras masih membasahi jalanan dari tadi, seolah awan menyuruh bumi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, di rumah Nurwala, ibunya sedang berbaring di samping Nurwala sambil mengelus rambut anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Andai ayahmu tidak mendukung kakakmu untuk terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, pasti kamu dan kakakmu bisa mengikat rasa persaudaraan yang baik. Maafkan ibumu yang dulu memutuskan untuk cerai dengan ayahmu, nak. Ibu takut kamu juga sama seperti kakakmu dan memudarkan cahaya yang tersematkan dalam diri dan hatimu."
Ibunya Nurwala pun mengambil potongan kepala yang menyebabkan Cahaya jatuh pingsan sebelumnya.
"Dulu kamu memang suamiku, aku istrimu. Tapi sekarang istilah itu bukan lagi untuk kita berdua," ucap ibunya Nurwala kepada potongan kepala itu sambil menyimpannya di tempat yang amat aman.
👻👻👻
Sementara itu ketika Cahaya sudah dalam setengah perjalanan,
"Oh iya, aku lupa minta lilin!" Nurwala menepuk dahinya.
Cahaya pun berbalik arah setelahnya, masih ditemani hujan yang semakin deras.
Tapi saat Cahaya telah sampai ke rumahnya Nurwala, Cahaya menangkap pandangan ibunya Nirwana lewat jendela. Terlihat ibunya Nirwana sedang memegang wajah laki-laki yang terpotong, lalu menyimpannya kembali ke laci...
~ TAMAT ~