namaku bara. aku adalah seorang penulis amatiran. sudah banyak cerita yang aku tulis dan di jadikan sebuah buku namun penjualan dari buku yang aku tulis hanya sedikit. perlahan para editor meninggalkanku dan sekarang aku menjadi seorang penulis tanpa nama.
arrghhh....
erangku frustasi.
aku menjambak kasar rambut hitam pendekku. aku bingung, aku frustasi. karya-karya yang aku tulis hanya menjadi sebuah lelucon. tanpa pembaca tulisanku hanyalah sebuah buku kosong.
kali ini aku menyandarkan tubuhku pada kursi kerjaku. aku menatap langit-langit kamarku.
' apa yang harus aku lakukan?'
' bagaimana membuat pembaca tertarik dengan tulisan dari bukuku?'
aku diam dengan pemikiran yang terus berkecamuk di dalam kepalaku. aku bangkit dari dudukku dan pergi keluar rumah.
hahhhh....
' mungkin saja dengan begini aku akan mendapatkan inspirasi.' pikirku.
aku melangkahkan kaki dengan bosan menyusuri setiap jalan di komplek perumahanku. kadang aku menendang batu-batu kecil di jalan. aku melihat beberapa anak yang sedang bermain kejar-kejaran dan ada juga yang asik menaiki sepeda.
' enaknya jika menjadi mereka.' pikirku.
aku melangkahkan kakiku hingga tanpa sadar aku sudah berada di ujung komplek. di ujung komplek itu ada sebuah rumah yang lama sekali tidak berpenghuni mungkin ada sekitar 15 tahunan. rasa penasaranku mulai bangkit, tanpa rasa takut aku memasuki pekarangan rumah itu. aku melompati pagarnya yang berkarat dan di luar pekarangannya ada kolam ikan yang sudah tidak terpakai bahkan isi kolam itu penuh dengan sampah daun kering.
aku melangkah masuk menuju pintu masuk rumah. aku memutar ganggang pintunya searah jarum jam dan pintunya terbuka. suara decit pintu tua terdengar begitu keras, debu yang menempel pada ganggang pintu begitu tebal bahkan debu itu telah beralih ke tanganku. segera aku meniup debu-debu yang menempel di tanganku.
ketika aku melangkah masuk ke dalam rumah aroma pengap menyengat masuk ke dalam indra penciumanku membuat aku sedikit terbatuk. aku sama sekali tidak memperhatikan sarang laba-laba yang menggantung di langit-langit rumah itu hingga beberapa menempel pada pakaianku.
aku terus masuk ke dalam sampai aku menemui sebuah pintu. aku mencoba membukanya, rupanya itu adalah sebuah kamar. kasur dan lemari masih ada meskipun sudah tua. di dalam kamar itu juga ada meja rias yang memiliki kaca yang lumayan besar.
aku melihat sebuah buku berwarna merah di atas meja rias. aku menghampirinya lalu mengambil buku itu. di luar sampul buku itu tertulis jelas.
JANGAN DIBACA!
namun bukannya takut, aku malah semakin penasaran untuk membukanya.
aku membuka halaman pertama buku itu. nampaknya buku itu seperti sebuah cerita, aku segera menutup buku tanpa menyelesaikannya ketika aku mendengar suara gaduh di luar kamar. aku segera mencari sumber suara kegaduhan itu. rupanya seekor kucing hitam telah menjatuhkan sebuah lukisan.
aku hanya menghela nafas lega, segera aku pergi dari rumah itu dengan membawa buku merah itu di tanganku.
besok harinya aku menemui nathan sahabatku dia adalah seorang penerbit. sudah lama aku bekerja sama dengannya.
" nat, nih aku ada cerita baru." ujarku sambil melempar buku merah itu ke atas mejanya.
" apa ini?" tanya nathan kebingungan.
" ceritalah." sahutku santai.
" udah kamu tinggal copy aja bukunya. di perbanyak gitu, lalu jual." ujarku enteng.
nathan hanya menghela nafas lalu menuruti permintaanku. sementara aku kembali ke rumah, aku mau bersantai beberapa hari karna aku sudah menyerahkan sebuah cerita pada bulan ini.
aku menghempaskan tubuhku di atas kasur ketika aku sudah sampai di rumah. karna lelah aku langsung terlelap tidur.
tringg....
tringg....
handphoneku berbunyi. aku mengerjapkan mataku beberapa kali lalu melihat ponselku.
nathan menelpon.
" ada apa?" tanyaku pada nathan di telpon, mataku masih ngantuk.
" bara." ujar nathan setengah berteriak.
" apa?" sahutku sedikit kesal.
" kamu tidak akan percaya ini. coba kamu lihat email." perintah nathan di telpon.
setengah mengantuk aku bangkit dari kasur dan melihat email masuk di laptopku. aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. penjualan bukuku laris manis bahkan menjadi best seller, bahkan ada notifikasi uang masuk melalui banking.
aku mengecek saldo rekeningku. aku terkejut ketika melihat angka yang sangat fantastis.
" halo." panggil nathan di telpon.
" ya, aku masih disini." sahutku sambil mengutak-atik laptop takut terjadi kesalahan.
" bara buku yang kamu kasih itu laris manis. perusahaan untung besar, harusnya sejak dulu kamu buat cerita seperti ini." tutur nathan bangga.
" ehm...baiklah. lain kali aku akan buat cerita baru yang lebih bagus lagi." sahutku optimis.
" ya, baguslah. aku tunggu ceritamu yang lainnya." ujar nathan sembari menutup telpon.
aku masih mengutak-atik laptop, rasanya masih tidak percaya kalau aku mendapatkan keuntungan sebesar ini. beberapa jam kemudian, setelah puas memastikan, aku menutup laptopku lalu aku melompat kegirangan. aku ke kamar mandi sebentar untuk membasuh diriku lalu berangkat menuju mall dan membeli beberapa keperluanku itu juga termasuk camilan untuk aku simpan di dalam kulkas nantinya.
aku begitu senang hari ini, berkat buku yang aku temukan di rumah kosong itu aku bisa makan enak. bahkan mungkin sampai bulan depan.
aku memilih daging sapi segar di dalam supermarket dan memilih juga beberapa sayuran untuk aku santap malam nanti. setelah selesai memilih barang belanjaan aku segera membayar di kasir depan.
aku mengeluarkan beberapa lembar uang setelah itu aku pulang mengendarai motor. sesampainya di rumah aku meletakkan belanjaan aku tadi di atas meja makan lalu menyotir belanjaan setelah itu aku masukan ke dalam kulkas sebagian lagi aku letakkan di dalam lemari.
rasanya aku mulai lelah. aku masuk ke dalam kamarku dan merebahkan tubuhku di atas kasur perlahan aku masuk ke dalam alam mimpi.
jam 19.00 wib
aku terbangun. rupanya aku tidur cukup lama sampai malam begini aku baru bangun. aku segera menuju dapur karna perutku mulai lapar, aku memasak daging dan sayur yang aku beli tadi.
setelah selesai aku duduk dan menyantap makananku tadi. rasa dagingnya sangat enak, aku memotong dagingnya dan makan dengan lahap. tiba-tiba ada sesuatu menyangkut di tenggorokanku. aku terbatuk bahkan tidak bisa berhenti, aku mencoba mengambil sesuatu yang menyangkut di dalam mulutku itu dengan tangan.
ketika aku sudah mendapatkannya dalam genggamanku, aku segera menariknya keluar dari mulutku. aku terkejut itu seperti telinga manusia, dengan takut aku melemparnya kesembarang arah. bahkan makananku di piringpun berubah menjadi daging dengan penuh kuah darah. melihat itu aku buru-buru berlari menuju kamarku dan langsung menutup pintu. belum sempat aku menuju kasurku, pintu kamarku di ketuk.
seketika aku langsung menoleh ke pintu kamar yang di ketuk itu. aku memundurkan langkah kakiku menuju kasur, saat aku sadar bahwa aku hanya tinggal sendirian di rumahku. aku langsung menerjang kasurku sambil memeluk selimut.
tukk..tuk..
suara pintu masih di ketuk. aku semakin mempererat pelukanku pada selimut.
tukkk...tukk...
lagi.
tukkk...tukkk...
tukkk...tukkk...
tukkk...tukkk...
kali ini semakin cepat. aku hanya bergidik ngeri sambil terus memperhatikan pintu kamarku.
hahaaa....haaa.....
hahaaa....haaaa....
suara tawa itu bergema beberapa saat lalu seketika menghilang. bulir-bulir keringat yang menempel di keningku perlahan semakin banyak bahkan nafasku-pun tersengal-sengal.
aku begitu ketakutan.
aku terus memeluk selimut sambil membaringkan tubuhku, lama-kelamaan akupun tertidur.
3 hari kemudian
tringg....
tringg....
ponselku berdering. aku membuka mataku perlahan dan menggapai handphoneku yang berbunyi.
" halo." ujarku sambil mengucek mata.
" bar, kamu udah lihat berita di televisi, belum?" ujar nathan dengan nada ketakutan.
aku segera bangkit dari kasurku lalu menghidupkan televisi melalui remote control.
" pemirsa akhir-akhir ini banyak kasus kematian aneh yang terjadi di berbagai kota. hampir 150 kasus kematian dengan ciri-ciri yang sama yaitu memakai gaun atau memakai pakaian merah sambil memegang sebuah buku novel di pelukannya. apakah itu hanyalah sebuah kebetulan atau hanya motif dari si pelaku. kasus ini masih di selidiki oleh pihak berwajib" terang pembawa acara itu di dalam televisi.
tubuhku membeku seketika seakan mati rasa.
" bar...bar...kamu masih di sana kan?" tanya nathan di dalam telpon.
aku segera sadar saat mendengar suara nathan di telpon.
" ya..iya. aku masih di sini. nathan, kamu tunggu aku ya. aku segera ke kantor." kataku sambil menutup telpon.
aku melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh menuju kantor. sesampainya di sana aku segera memarkirkan kendaraanku dan langsung menemui nathan.
" than." panggilku sambil tersengal akibat berlari.
" mana buku itu?" tanyaku pada nathan yang masih kebingungan melihatku.
" buku apa?" tanya nathan tidak mengerti.
" buku merah yang aku suruh kamu copy dan terbitkan sebelumnya." jelasku yang masih ngos-ngosan.
segera nathan mengambil salah satu copy-an buku itu lalu menyerahkannya padaku.
aku segera membaca buku itu satu-persatu. namun aku tidak menemukan ada hal yang aneh. ceritanya pun seperti cerita pada umumnya.
seorang wanita yang mencintai seorang lelaki, awalnya hubungan mereka baik-baik saja sampai lelaki itu selingkuh dan wanita itu dibunuh. namun di akhir buku ada sebuah catatan.
JANGAN DIBACA!
aku mencintaimu.
namun apa yang aku terima darimu tidak lebih dari sebuah pengkhianatan.
cintaku hanya kamu bayar dengan kepalsuan bahkan kamu dengan tega membunuhku.
rasa sakitku cukup mendalam dan akan menghantuimu.
biarkanlah dendamku menuntutmu. mendatangimu.
mencarimu.
dan membawamu bersamaku.
tiba-tiba bulu kudukku merinding dan atmosfer di sekitarku menjadi sangat dingin. perasaanku benar-benar tidak enak ketika membaca buku itu.
" than, aku pulang dulu ya." ujarku pamit.
" kamu kenapa?" tanya nathan.
" kamu sakit ya?" tanyanya lagi sambil melihatku lebih jelas.
" aku benar-benar ngga enak. aku pulang dulu ya." ujarku sambil meninggalkan nathan.
tak aku hiraukan suara nathan yang terus memanggilku. aku segera melajukan kendaraanku menuju rumah kosong saat aku pertama kali mendapatkan buku itu. aku segera melompati pagarnya lalu masuk ke dalam rumah itu kemudian aku menuju kamar tempat dimana aku menemukan buku itu.
aku terkejut ketika melihat ke dalam kamar itu. seorang wanita dengan gaun merah panjang tengah duduk di meja rias. rambutnya yang panjang si punggung itu menjuntai. aku terdiam tak bergerak bahkan akupun tak bisa bersuara sedikitpun.
wanita itu berjalannya terseok-seok menghampiriku. aku berusaha memejamkan mataku ketika dia mulai begitu dekat denganku.
" akhirnya kamu datang." suara serak wanita itu tepat di kupingku.
" aku akan membawamu bersamaku." sambungnya lagi.
seketika aku merasakan leherku seperti di cekik. aku membuka mataku namun aku tak bisa melawannya. cekikannya makin lama makin kuat dan membuatku sesak nafas. sakitnya sungguh luar biasa hingga aku tidak merasakan apa-apa lagi.
besok harinya di berita koran.
di temukan seorang pria meninggal di depan rumah kosong, kemungkinan dia mengalami kecelakaan tunggal. jasad pria itu memakai pakaian merah namun anehnya pria tersebut meninggal sambil memeluk buku merah.
berita lainnya di koran
di temukan kembali kematian tidak wajar akibat buku merah, seorang pria meninggal di depan rumah kosong.
nathan di ruang kerjanya syok berat padahal baru kemarin dia melihat bahwa bara baik-baik saja namun sekarang dia sudah tidak bernyawa sekarang. bahkan sekarang sekeliling kantornya penuh wartawan.
berita-berita lain di televisi dan koran terus bermunculan tentang petaka buku merah. nathan berinisiatif menarik semua buku merah yang beredar lalu membakarnya. perasaan nathan mulai tenang ketika buku itu sudah habis dia bakar.
di tempat lain di rumah kosong
buku merah itu masih ada di tempatnya berada di meja rias seperti sebelumnya.
JANGAN PERNAH DIBACA!
ATAU DIA AKAN MENDATANGIMU.
Tamat.
terimakasih bagi para pembaca cerpen saya. 😍😍
jangan lupa klik tombol ❤ sebagai dukungan dan komentar kalian saya tunggu karna itu berharga untuk saya. ☺☺
sekian dan terima kasih 🙏🙏