Beberapa warga masih tampak meramaikan sebuah acara pernikahan anak Pak Lurah. Desa Gending cukup ramai malam itu, terlihat dari sekian banyaknya lalu lalang para warga yang datang.
Seorang wanita muda sedang menari dengan lihainya di atas panggung. Gemulai tubuhnya seiring berjalannya lagu Jawa yang dinyanyikan sinden. Paras ayu dan kulitnya yang kuning langsat membuat para pria hidung belang berkerumun mengelilinginya.
Tidak sedikit pula yang memberikan saweran kepada Gendhis. Meskipun awalnya malu, tetapi kebutuhan ekonomi yang sulit membuat Ghendis harus mengambil pekerjaan itu demi membayar hutang orang tuanya.
Sementara itu Bagus kekasihnya juga berasal dari kalangan biasa. Ia hanya kuli panggul bangunan. Hasil kerjanya sebagian sudah diberikan untuk membantu Gendhis membayar hutang, namun ternyata itu belum cukup.
"Wah, jika Gendhis mau menjadi istri mudaku, aku akan memberikan satu ladang tebu di daerah Ngronggo untuknya," seru lelaki berkumis tipis.
"Tidak mungkin, Gendhis hanya akan menjadi istriku, kamu tuh sudah mempunyai istri empat, masih mau tambah lagi?" tanya lelaki bertubuh tambun.
"Biarin aja, aku kan calon lurah di sini, jadi mau nambah istri berapa pun ya terserah aku!"
"Wes, angel lak ngunu!" ucapnya dengan logat Jawa.
(wes= sudah, angel= sulit, lak ngunu = kalau sudah begitu)
Lelaki tinggi berkumis tipis itu tersenyum menyeringai. Salah satu istrinya yang ikut masih memijat bahunya. Sementara istri yang lainnya berdiri di belakangnya sambil menunggu perintah dari suami mereka.
Di rumah Gendhis, para centeng dari Pak Lurah sedang menagih hutang di sana. Kedatangan mereka memang sengaja menghindari Gendhis agar bebas menyiksa kedua orang tua itu.
Gendhis yang baru saja turun dari panggung segera dijemput oleh kekasihnya, Bagus. Kedua muda mudi itu bercengkerama selepas Gendhis tampil.
"Setelah ini kita pulang, kan Dek?"
"Iya, Mas. Tadi sudah pamit sama pemilik rumah mau pulang cepat, Simbok masih sakit."
"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita pulang segera, aku bawa sepeda soalnya."
"Iya, Mas."
Gendhis lalu menutupi kulit bahunya yang terbuka dengan kain selendang miliknya. Sementara itu setelah Gendhis naik ke boncengan, Bagas segera mengayuh sepeda miliknya.
Berbekal obor kecil yang dibawa di tangan, mereka menyusuri jalan desa yang masih minim penerangan. Melewati pematang sawah lalu ladang kebun yang penuh dengan tanaman tebum
"Dek, kapan kamu mengakhiri pekerjaan ini. Aku tidak sanggup melihat tubuh kamu diumbar dan dinikmati lelaki lain," ujar Bagus penuh rasa khawatir.
"Kalau Mas Bagus menginginkan aku berhenti, aku akan berhenti Mas. Hanya saja utang Bapak masih belum lunas. Oleh karena itu aku masih bekerja, maaf ya, Mas."
"Semoga saja setelah ini kita bisa segera melunasi hutang Bapak, Aamiin."
"Aamiin, makasih ya, Mas sudah menemaniku sejauh ini."
"Sama-sama, Dek."
Gendhis semakin mengeratkan tangannya di pinggang Bagus. Cahaya bulan purnama sebagai saksi cinta mereka selalu terjaga sepanjang waktu.
Bapak Ghendis adalah seorang kuli di ladang Pak Lurah. Dulu karena ibunya sering sakit-sakitan, ekonomi yang kurang membuat Bapak Gendhis harus berhutang pada Pak Lurah hingga tidak terasa hutangnya semakin banyak.
Tubuh yang sudah tua itu tidak mampu jika harus bekerja di ladang lagi. Sehingga mau tidak mau Gendhis harus bekerja sebagai penari Ronggeng agar uangnya bisa digunakan untuk mencicil hutang-hutang ayahnya.
Namun, kedua mata Gendhis terbelalak ketika melihat Bapak dan Ibunya diseret paksa keluar dari rumahnya. Bagus dan dirinya segera berlari ke arah kerumunan orang itu. Sepeda yang mereka naiki dibiarkan tergeletak begitu saja karena terlalu panik.
Centeng Pak Lurah menoleh ke arah Gendhis. Senyum mereka tersungging ketika melihat kemolekan tubuh Gendhis.
"Lah ini anaknya sudah pulang, ayo segera lunasi hutang Bapak kamu!"
Kedua tangan Gendhis diraih oleh dua orang centeng dan dibawanya ke hadapan pimpinan mereka. Sementara langkah Bagus dicekal oleh dua centeng lainnya.
Awalnya Bagus sempat berkelahi dengan mereka, namun saat lengah tengkuk Bagus langsung dipukul dengan bilah kayu hingga ia jatuh tersungkur. Bagus pun memuntahkan da-rah segar.
"Mas Bagus ...." teriak Gendhis.
Melihat kekasihnya terluka, Gendhis murka. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya ia mencoba menggigit dan mencakar dua centeng yang menahannya tadi.
Namun, para centeng tersebut malah menertawakan mereka. Wajah kedua orang tua Genghis juga sudah babak belur. Belum lagi luka lebam pada tubuhnya semakin membuat Gendhis geram.
"Kalian apakan Bapak dan Simbokku?"
"Tentu saja mereka menanggung akibat karena kalian telat bayar hutang, memangnya apa lagi yang bisa membuat mereka sampai seperti itu?"
"Bukankah aku bilang temponya besok pagi, kenapa kalian datang malam-malam begini!" ucap Ghendis dengan berapi-api.
"Kalau Pak Lurah bilang malam ini, ya harus malam ini, tidak perlu menunggu pagi, anak manis ...."
Diusapnya wajah Gendhis yang cantik itu, tetapi karena muak Gendhis meludahinya.
"Cuih! Tangan kotormu tidak pantas untuk menyentuhku!"
"Dasar ronggeng sok cantik, beraninya kamu meludahiku!"
Ditariknya kuat-kuat sanggul milik Ghendis hingga rambutnya terurai. Kedua centeng masih memegangi kedua tangan Gendhis agar ia tidak bisa lari.
"Kau berani denganku! Maka bayarlah kelakuanmu dengan tubuhmu ini, ha ha ha ...."
"Dasar se-tan alas!"
"Argh!"
Selendang Gendhis ditarik paksa hingga terlihat bahunya yang putih bersih. Pemimpin para centeng itu menelan salivanya berulang kali.
"Ternyata kamu sangatlah cantik Gendhis, pantas saja banyak yang mengincarmu. Akan tetapi sebelum aku menyerahkan dirimu pada Pak Lurah, alangkah baiknya aku menikmatinya terlebih dahulu," ucapnya sambil menyeringai.
"Mas Bagus, toloooong!" teriak Gendhis saat kain jariknya disobek.
Bagus yang melihat hal itu segera bangkit dan mencoba memukul para centeng tersebut. Sayang, satu timah panas berhasil mendarat tepat di jantung Bagus.
DOR
Entah darimana centeng itu mendapatkan pistol, tetapi yang sudah pasti terjadi maka akan terjadi. Da-rah segar mengucur dari dada Bagus. Hingga ia pun ma-ti seketika.
"Mas Bagusssss ...." teriak Gendhis dengan berlinang air mata.
Penderitaan Gendhis tidak sampai disitu. Melihatnya tidak berdaya, pemimpin para centeng tersebut benar-benar berbuat keji pada Gendhis. Di bawah sinar bulan purnama, Gendhis dinikmati oleh pemimpin para centeng dengan bringas.
Selepas ia berhasil mengambil ke-pe-rawa-nan Gendhis dengan paksa, ia meninggalkannya begitu saja bersama mayat kekasihnya, Bagus. Sementara itu mayat kedua orang tua Gendhis diseret dan dibuang ke sungai untuk menghilangkan jejak.
Di sisa-sisa kesadarannya, Gendhis memunguti kain untuk menutupi tubuhnya yang polos. Di bawah sinar bulan purnama ia masih bisa melihat sebuah celurit yang tertinggal.
"Aku bersumpah, di tanah ini tidak akan ada gadis perawan lagi meskipun ia belum menikah! Semuanya akan ternoda dengan cara yang sama denganku!" sumpah Gendhis sebelum mengakhiri nyawanya.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil celurit itu dan langsung melayangkan ke lehernya.
SRASH
Gendhis mengakhiri hidupnya malam itu juga. Da-rah yang berceceran membuktikan betapa ia sangat putus asa terhadap nasibnya. Sejak saat itu pula kutukan Gendhis berlaku.
Beberapa tahun berikutnya, banyak gadis yang kehilangan ke-pe-rawa-nannya dengan misterius. Hingga banyak wanita yang tidak laku. Namun para lelaki di desa itu tidak bisa keluar dari desa dan terpaksa menikah dengan wanita yang sudah tidak per-awan.
Selepas kutukan Gendhis meneror para warga, tidak banyak keluarga yang berani tinggal di kampung itu. Kebanyakan hanya orang tuanya saja yang tinggal, sementara itu anak-anak mereka tinggal di luar desa karena takut terkena kutukan Gendhis.
Pernah suatu kali ada seorang warga pendatang yang tidak percaya akan hal klenik dan ternyata kutukan itu terjadi. Justru yang mengambil ke-pe-rawa-nan gadis itu adalah pamannya sendiri yang dirasuki oleh roh jahat. Setelah sadar dengan perbuatannya, sang paman menjadi seperti orang gila sama halnya dengan gadis yang menjadi korbannya.
Tujuh puluh lima tahun kemudian.
Ada sekelompok remaja yang sedang melakukan study banding. Ada dua remaja putri dan empat remaja putra. Semuanya berasal dari kota besar. Mereka sengaja dikirim ke sana untuk meneliti kenapa hanya para orang tua yang tinggal di sana, sementara itu anak-anak mereka keluar desa dan populasi di sana sangat sedikit.
Salsa, Iren, Dio, Jovan, Elang dan Jaka adalah nama-nama remaja itu. Salsa yang merupakan anak orang kaya, Dio, Jovan dan Elang adalah tiga sekawan anak bengal. Jaka dan Irene adalah siswa paling berprestasi di sekolah.
Tujuan mereka hanya satu, mendapatkan informasi tentang populasi di desa itu yang sangat sulit untuk digali.
Tanahnya yang lembek karena hujan semalam, rupanya membuat suasana desa itu sedikit 'anyep'. Salsa pun mengerutu sepanjang jalan.
"Aduh, kenapa kita dikirim ke desa seperti ini, sih?"
"Sabar, Sa. Lagi pula kita cuma lima hari kok di sini."
"Kamu bisa sabar, kalau aku sih enggak. Lihat noh, masa iya berak aja sampai nungging di sungai!"
Memang saat mereka lewat sungai tadi, Salsa dan yang lainnya melihat ada beberapa warga yang antri di depan sebuah bilik yang mengapung di sungai. Beberapa saat kemudian ada benda kuning terjatuh dan mengambang di aliran air sungai. Seketika Salsa ingin muntah tapi tertahan.
"Buahahaha ... kamu kok detail sekali sih Sa ngucapinnya. Ya emang ini resiko kalau tinggal di desa dan sebuah pedalaman gitu," ucap Jovan dengan entengnya.
"Udah, udah sebaiknya kita segera mencari rumah kepala desa untuk meminta ijin."
"Siap Ibu Iren yang cantik," ucap Jovan kemudian.
Sementara itu yang lainnya hanya terdiam sambil memperhatikan sekitar.
Namun, sejak mereka menginjakkan kaki di desa itu, arwah Gendhis sudah memperhatikannya dengan seksama. Sorot matanya penuh dengan amarah dan kebencian.
Pakaian yang ia kenakan berlumuran da-rah, dengan aroma anyir dan busuk menjadi satu. Aroma balas dendam terasa begitu kuat. Hingga Irene yang notabene sangat sensitif pada hal-hal mistik sedikit merasa panas saat ia menginjak tanah bekas tempat Gendhis bunuh diri.
"Kenapa tubuhku menjadi panas?" gumam Irene sejenak.
"Kamu kenapa berhenti mendadak, Ren?" ucap Jaka yang tiba-tiba berdiri di belakang Irene.
Sontak saja Iren terkejut lalu menoleh, ia mengusap tengkuknya. Tiba-tiba saja Jaka berbisik, "Apa kamu bisa merasakan keberadaannya?"
"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Iren heran.
"Tentu saja, itu karena aku sama seperti kamu."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Jaka segera menyusul teman-temannya, lalu Iren pun melakukan hal yang sama.
"Nah, itu rumah Pak Lurah!" celetuk Salsa.
"Tumben Salsa pinter, wkwkwk."
Mulut Salsa sudah mengerucut karena hal itu, lalu kemudian mereka mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi, spada, anybody home?"
"Lah dalah, nggak enek uwong!" seru Elang dalam logat Jawa Timur.
(Ternyata, tidak ada orang)
"Ya sudah kita balik!"
Kriet ....
Tiba-tiba saja, pintu rumah Pak Lurah terbuka lebar. Dari dalam sana muncul seorang lelaki tua paruh baya dengan membawa sebuah tingkat.
"Cari siapa, Nak?"
"Cari Pak Lurah, apa ada di rumah?"
"Saya Pak Lurah di Desa Gending ini, kalian siapa?"
"Perkenalkan saya Salsa, sedangkan itu Iren, Jaka, Jovan, Dioa dan yang gondrong itu Elang. Kami dari Fakultas A mau buat study banding di desa ini, Pak."
"Oh, trus?"
"Ha-ah, eh, ini surat ijin resmi dari kampus, Pak."
"Ya, sudah silakan kalian lanjutkan tujuan kalian di sini. Kalau kalian butuh tempat kos, Bapak punya satu rumah di belakang untuk kalian menginap."
"Wah, terima kasih banyak."
Setelah mengantar para mahasiswa tadi, kini Pak Lurah kembali dalam kegelapan.
'Kenapa gadis itu sangat mirip dengan Gendhis?' gumam Pak Lurah.
Malam harinya.
Remang-remang Salsa melihat ke arah semak-semak belukar. Meskipun malam itu bulan purnama, tetapi angin yang berhembus terlalu kencang hingga membuat rambut Salsa menari-nari.
"Boo ...." Jovan tiba-tiba saja muncul di belakang tubuh Salsa untuk mengagetinya. Salsa yang penakut segera berteriak.
"Jova...aan!" pekiknya kesal sambil memukul-mukul badannya.
Jovan hanya terkikik melihat kekasihnya marah-marah.
"Kamu tuh ngapain di sini, Sayang. Malam-malam bukannya tidur malah melamun di halaman."
"Suntuk tau, jalan-jalan, yuk!" ajak Salsa.
Karena ia juga merasakan hal yang sama, Jovan menyetujui usulan kekasihnya itu. Akhirnya tanpa sepengetahuan teman-temannya mereka menyusuri jalan desa dengan membawa senter.
Penerangan di desa tersebut tidak terlalu terang, hanya beberapa lampu yang menyala itupun sangat redup menurut mereka. Sesaat sekelebat bayangan hitam melesat di hadapan Salsa dan Jovan.
"A-apaan itu tadi?"
Jovan menggeleng, "Nggak tau, Sal."
"Mending kita balik, yuk!"
Saat mereka berbalik, terdengar suara gamelan di tengah ladang, tentu saja keduanya tertarik untuk mendekati lokasi itu. Keduanya larut dalam acara pesta malam itu.
Seorang gadis cantik menari di atas panggung dengan dikelilingi laki-laki, lalu sesaat kemudian gadis itu menoleh ke arah Salsa dan tiba-tiba saja wajahnya berubah sangat menakutkan, namun Salsa tidak bisa bergerak dan berbicara sampai akhirnya ia pun pingsan.
Iren dan Jaka kebingungan karena dua personil mereka hilang. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera mencari keduanya dengan bantuan Pak Lurah dan beberapa warga.
"Kalian harus mati, kalian sudah membuat aku sengsara dan terpisah dengan kekasihku!" ucap Gendhis di dalam tubuh Salsa.
Rupanya, ke-empat teman Salsa adalah anak cucu dari para centeng yang pernah membunuhnya di masa lalu. Saat melihat Jaka dan yang lainnya dengan bringas Salsa menyerang mereka hingga membuat Pak Lurah ketakutan dan malah berlari. Para warga yang tahu jika Salsa kesurupan segera memanggil dukun setempat untuk menyembuhkan Salsa.
"Kalian harus mati sama sepertiku!"
Iren yang merupakan anak cucu pimpinan centeng langsung terkapar di tanah, lalu ketiga pemuda temannya langsung merobek pakaian yang dikenakan Iren.
Ia berontak minta tolong tetapi warga tidak ada yang mampu menolongnya karena kaki mereka ditahan oleh kekuatan amarah Gendhis.
Saat pakaian yang tersisa hanya tinggal pakaian dalam, Jovan siuman lalu berteriak.
"Jangan lakukan itu Gendhis mereka tidak berdosa!"
Gendhis yang masuk ke dalam tubuh Salsa menoleh, dilihatnya kekasihnya itu berdiri tegap di sana.
"Mas Bagus, tetapi mereka membuatku sengsara dan bahkan tega membu-nuh kedua orang tuaku dan kamu ...." ucapnya tergugu.
Bagus yang sedang menempati tubuh Jovan mendekati Gendhis.
"Jangan biarkan dendam menahanmu di bumi ini. Kasihan mereka tidak tahu dosa nenek moyang mereka!"
Iren menangis tergugu ketika tubuhnya menjadi tontonan. Seketika tubuhnya menegang lalu kilas balik tragedi tragis yang menimpa Gendhis berputar di kepalanya.
Ia mengenal betul sosok lelaki yang berbuat keji pada Gendhis. Itu adalah kakeknya, ia teringat akan pesan sang kakek sebelum meninggal untuk mengembalikan sebuah kalung pada seorang gadis, tetapi ia lupa namanya.
Ya, kalung yang selalu berada di sakunya itu mirip sekali dengan yang dipakai Gendhis.
"Itukah gadis yang dicari kakek?"
Penglihatan Iren kembali, ia segera memunguti pakaiannya dan mengambil sebuah kalung.
"Gendhis, aku minta maaf atas nama kakekku, ini milikmu, maaf kakek sudah lama ingin mengembalikan ini kepadamu, tetapi rupanya Tuhan tidak menginjinkan hal itu dan telah memanggil lebih dulu sebelum bertemu denganmu."
Gendhis tersenyum kecut. Kalung itu memang sangat berharga untuknya. Terlebih itu pemberian dari Bagus.
"Saat ini aku tidak butuh kalung itu, tetapi yang aku butuhkan adalah darah kalian!"
"Maka matilah kalian di tanganku!" teriaknya sambil melesat ke arah Jaka dan teman-temannya.
SRASH
Serangan Gendhis berhasil melukai bahu mereka hingga mengeluarkan banyak da-rah. Ia pun tertawa melengking hingga membuat para warga menutupi telinganya karena sakit.
"Ha ha ha, begitu saja sudah takut, kalau bukan ada Mas Bagus di sini, aku pastikan kalian meregang nyawa!"
Bagus berhasil menekan amarah Gendhis, apalagi kalung pengikat cinta mereka sudah kembali. Beruntung Gendhis masih memiliki hati mulia. Ia akan berhenti meneror mereka dengan catatan, jasad miliknya dan Bagus harus dikebumikan dengan layak.
"Aku akan mengampuni kalian dengan satu syarat."
"A-apa itu?" tanya Iren.
"Kebumikan jasad miliku dan Mas Bagus dengan layak. Setiap harinya makam kami harus bersih dan selalu terawat!"
"Ba-baik, Mbak."
Ketiga teman Jovan akhirnya pingsan setelah kekuatan Gendhis berhasil ditarik. Sementara itu Salsa dan Jovan juga kembali pada tubuhnya. Mereka tidak sabar dengan apa yang barusan terjadi tetapi Iren membimbing jalan mereka.
Dengan kekuatan batin Iren, akhirnya tulang belulang milik Gendhis dan Bagus bisa diketemukan. Akhirnya keduanya dikebumikan di sana. Arwah Gendhis dan Bagus tersenyum ke arah Iren dan berterima kasih kepadanya.
Sejak saat itu pula, kutukan Gendhis berakhir.
TAMAT