“Tanamlah mawar ini. Jika tumbuh dan mulai berbunga, bawalah kemari dan saat itulah aku akan memberimu jawaban.”
***
Aku tidak tahu bagaimana memulainya. Tak seperti biasa ia datang tanpa mengirimkan pesan. Di hadapanku kini berdiri seorang lelaki yang tak lama lagi akan menagih janjinya setelah sekian lama bersabar.
Kuperhatikan jejak lelah di wajahnya terlihat jelas. Bukan lelah karena perjalanan jauh, tapi lelah karena menunggu jawaban. Rambutnya pun kini telah memanjang hingga menyentuh bahu. Bahkan ia tak lagi mencukur janggutnya. Apakah ia terlalu sibuk merawat mawar itu sehingga tak memedulikan dirinya sendiri?
Tidak mungkin. Setangkai mawar itu tak mungkin tumbuh. Semua itu hanya ide gilaku saja. Baiklah, aku ceritakan semuanya dari awal. Setelah sekian lama kami berteman, dia pernah mengutarakan perasaannya. Saat itu aku tidak bisa memberinya jawaban. Di satu sisi, aku ingin jujur mengatakan kalau ia sudah terlambat. Ada lelaki lain yang mengisi hatiku. Namun, aku juga tidak ingin kehilangan seorang lelaki sebaik dan setulus dirinya.
Seandainya ia mengutarakannya tiga bulan lalu, saat ia mengajakku menikmati senja di salah satu kedai yang menyuguhkan es krim rasa vanilla. Seharusnya itu menjadi senja yang manis, waktu yang tepat untuk melumuri hatiku dengan perasaan yang ia pendam selama ini.
Sebenarnya aku pun berharap sama. Apalagi yang harus ia tunggu? Aku yakin ia tahu isi perasaanku. Namun itu tidak terjadi. Setelah melewatkan senja bersama, ia pun mengantarku pulang begitu saja tanpa memintaku menjadi kekasihnya. Sungguh melelahkan. Sejak itu, aku katakan kepada diriku sendiri. Dia hanya ingin berteman! Kubuang semua perasaanku terhadapnya sebelum tumbuh mengakar.
Sampai akhirnya, ia datang lagi di waktu yang lain untuk mengutarakan isi hatinya. Terlambat. Aku sedang belajar mencintai lelaki lain. Rasanya tolol sekali, bukan? Meski masih menyimpan perasaan kepadanya, tetap saja aku tak ingin menyakiti kekasihku. Masih teringat jelas semua terasa canggung hari itu.
“Kenapa diam?” ucapnya penasaran.
Aku bingung memberi penjelasan. Kusibak rambutku lantas mengikatnya dengan gelang karet. Kubalas tatapan matanya sambil tersenyum. Sungguh, akulah kepingan yang terbelah. Aku pun berusaha mengalihkan perhatian. Berpura-pura ingin menyeduh segelas kopi kesukaannya. Kupikir, dengan menghindarinya sebentar, bisa menenangkan pikiranku. Ternyata, tidak.
Di dapur, aku hanya mondar-mandir sambil mendekap gelas kosong. Rasanya ingin menangis saja. Aku tidak tega membuatnya kecewa.
Dengan tergesa aku menyambar air panas di dalam termos dan mengambil dua sendok kopi lalu menambahkannya dengan sedikit gula. Dari balik korden tipis penutup kaca, kuperhatikan ia tampak gelisah. Aku segera menemuinya kembali. Sorot matanya memandang ke arahku seperti tak sabar menunggu jawaban.
Dalam diam yang dalam, aku seperti mendapatkan jawaban yang pantas untuknya. Kuraih setangkai mawar putih yang tergeletak di atas meja lalu kukembalikan kepadanya. “Bawalah mawar ini lalu tanamlah. Jika tumbuh dan mulai berbunga, bawalah kemari dan saat itulah aku akan memberikan jawaban.”
Rasanya lega sekali bisa mengucapkan kata-kata itu. Aku sendiri penasaran menunggu reaksinya setelah mendengar semua ide konyol yang kutawarkan. Kupikir ia berhak protes dengan syarat tersebut, tapi ia justru hanya tersenyum dan setuju begitu saja.
Berbulan-bulan lamanya ia tak menemuiku lagi. Sebagai gantinya ia lebih sering menelponku untuk menceritakan kabar setangkai mawar yang ia tanam. Pernah ia menceritakan tentang perasaannya yang hancur ketika menyaksikan tangkai mawar itu mulai keriput dan harus menjaganya siang dan malam.
Entah mengapa aku merasa kasihan dan bersalah karena tak berterus terang. Sedikit pun aku tidak menyangka kalau ia akan melakukannya. Setiap kali pembicaraan kami selesai, aku hanya bisa menutup wajahku dengan telapak tangan sambil berkali-kali mengucapkan kalimat maaf.
Seandainya aku tahu kalau itu hanya akan membuatnya tersiksa, aku pasti memilih jujur mengatakannya sejak awal. Perasaan bersalah akhirnya membuatku selalu ingin mendengar kabar tentang mawar yang ia tanam, sebenarnya aku lebih peduli dengan dirinya, bukan mawar itu. Saat ia tidak memberi kabar, aku memberanikan diri menghubunginya lebih dulu.
“Bagaimana kabarmu? Eh, maksudku dengan mawar yang kau tanam?”
“Aku masih berusaha membuatnya tumbuh,” ucapnya terdengar seperti putus asa dan membuatku semakin tersiksa.
Sampai akhirnya aku mendapat kabar yang tak pernah kuharapkan. Ia menceritakan kalau tangkai mawar itu berhasil tumbuh. Dadaku bergetar. Perasaan cemas dan bingung membuatku seperti kehilangan diriku sendiri. Aku tak percaya bisa melakukannya. Berpura-pura ikut senang padahal berharap mawar itu segera mati.
“Aku tidak sabar ingin memperlihatkannya kepadamu,” ucapnya terdengar gembira dari seberang sana.
“Apakah sudah mulai berbunga?” tanyaku sedikit gugup.
“Masih kuncup, mungkin bulan depan sudah bisa kubawakan kepadamu.”
Jantungku berdesir. Spontan aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Kau yakin tidak menanam tangkai mawar yang salah? Kau yakin selama ini benar-benar menanamnya?”
Entah apa yang ia pikirkan setelah mendengar pertanyaanku. Satu hal yang pasti, aku menyesal dengan sikapku sendiri. Kenapa aku harus menanyakan sesuatu yang terkesan meragukan kesungguhan hatinya selama ini.
***
Seperti yang sudah kuceritakan di awal, lelaki itu kini sudah ada di sampingku. Kami seperti berada di garis waktu yang beku. Lebih banyak diam, seperti dua orang yang baru saling mengenal. Bahkan aku sempat meminta maaf karena menolak ajakannya pergi menonton film.
“Sebenarnya aku penasaran dengan mawar itu, kenapa tak kau tunjukkan sekarang?”
Dia tersenyum dengan sorot mata memandang jauh ke depan sana lalu memberikanku setangkai mawar putih. “Apa kau tidak ingin mendengar cerita bagaimana aku merawat mawar itu?”
“Boleh…” jawabku tak bersemangat.
“Sebenarnya aku tidak berhasil menanam tangkai mawar itu," ucapnya langsung terdiam.
“Maksudmu? Lantas mawar ini?”
“Semua yang kuceritakan melalui telpon, tentang tangkai mawar yang keriput, daun yang mengering, sebenarnya adalah tentang diriku sendiri.”
“Jangan bercanda, aku sedang serius,” balasku.
Ia pun menarik napas panjang. “Jangan berpikir aku tidak mencobanya. Aku sudah menanyakan cara menanam mawar kepada banyak orang. Mereka justru menertawakanku. Mereka bilang, itu mustahil. Tangkai mawar terlalu kecil untuk ditanam. aku harus menggunakan batang yang berukuran besar."
Sejak awal aku sudah tahu soal itu. “Jadi kau membeli mawar ini?” tanyaku kemudian.
“Ceritanya belum selesai. Aku tidak peduli dengan ucapan mereka. Aku masih berusaha menanam tangkai mawar itu. Sampai akhirnya ada seorang perempuan penjual bunga mawar bersedia membantuku. Dia sempat meneteskan air mata saat kuceritakan alasan bersikeras harus dari tangkai mawar itu.”
“Menangis? Terus..?” tanyaku penasaran.
“Hampir setiap hari ia datang ke rumahku. Dia menyaksikan bagaimana aku bersikeras agar tangkai mawar itu bisa tumbuh. Siang malam aku merawatnya dan berkali-kali jatuh sakit. Kuanggap sebuah keajaiban ketika ia bilang aku berhasil menanam tangkai itu."
“Jadi mawar ini?” Aku semakin dibuatnya penasaran.
“Dia yang merawatnya hingga tumbuh.”
“Kau yakin masih dengan tangkai mawar yang sama?”
Dia terdiam untuk menarik napas dalam. “Tak kuijinkan pikiran seperti itu bersarang di kepalaku. Dia sudah berusaha dan kami pun merawatnya bersama-sama. Akhirnya mawar itu tumbuh dengan dua tangkai.”
“Ini hanya satu…” selidikku membuatnya tersenyum.
“Karena aku ingin membiarkannya tetap tumbuh dan merawatnya setiap hari.”
Itu adalah kalimat terakhir sebelum ia memutuskan pamit pulang. Kulepaskan kepergiannya dengan perasaan hampa. Tubuhku mendadak terasa layu. Air mataku lolos begitu saja. Saat ingin membawa gelas ke dalam rumah, baru kusadari gelas itu masih penuh berisi kopi, hanya ada bayangan wajahku yang begitu muram. []