Santi dan Zain adalah dua anak yang dipertemukan dan menjadi sahabat sejak Taman Kanak - kanak sampai SMA, bahkan hingga maut memisahkan mereka berdua.
Zain anak yang pintar, tidak pilih - pilih teman.
Santi adalah anak yang cerewet, tapi kepintarannya tidak kalah dari Zain. Namun Santi tidak suka bermain dengan teman cewek. Karena sifat - sifat itulah yang menjadikan mereka bersahabat sejak kecil hingga remaja. Mencari ilmu di sekolah yang sama, meski tak jarang mereka beda kelas.
Saat SMA, mereka memilih sekolah favorit di kota S, yaitu SMA N 1 dan mereka dipertemukan di kelas yang sama yaitu X-6. Persahabatan itu makin erat. Tak ada rasa cinta antara mereka meski bukan tidak mungkin untuk mereka pacaran di usia mereka saat ini.
Zain terpilih menjadi salah satu anggota OSIS. sedangkan Santi lebih memilih Organisasi lain atau ekstrakurikuler yang berhubungan langsung dengan alam karena kecintaannya pada alam dan Santi sudah terbiasa bertemu dengan makhluk astral. Mungkin bisa dikatakan jika Santi anak Indigo.
Zain selalu membantu Santi menggunakan Logika meski Santi tak kalah pandai darinya. Sebaliknya, Santi selalu membantu Zain menyelesaikan masalah menggunakan perasaanya.
Suatu ketika, Sekolah akan menerbitkan majalah siswa dengan nama MeKar yang merupakan singkatan dari Media Karya.
Seluruh Siswa SMA N 1 berhak membuat karya tulis berupa Artikel, Cerpen, Puisi, Cerber dan lain - lain. Karya yang lulus seleksi akan diterbitkan di MeKar dan akan mendapat Kompensasi sesuai jenis karya yang dibuat.
Santi yang memang memiliki hobi menulis merasa tangannya gatal untuk segera menuangkan isi otaknya dalam bentuk tulisan. Namun ia memilih untuk menulis di rumah agar tak ada teman - teman sekelas yang mengetahui serta mencontoh hasil karyanya.
MeKar terbit setiap tiga bulan sekali. MeKar edisi pertama telah terbit. Setiap siswa wajib membeli majalah tersebut. Santi langsung membayar uang MeKar melalui bendahara kelas dan segera membuka daftar isi untuk melihat keberadaan halaman Cerpen.
Setelah menemukan halaman Cerpen, Santi langsung melihat pengarangnya NISa X-6. Melihat inisial namanya tertulis di sana, Santi tersenyum sendiri. Cerpen dengan judul "Berlayar" nya tersenyum menghiasi halaman itu.
"Hey, ada apa senyum - senyum sendiri?" Suara Henny teman sebangku Santi mengagetkannya.
Santi yang kaget langsung menutup Majalahnya.
"Eh... Enggak kok, ga ada apa - apa!"
"Kalau ga ada apa - apa, kenapa kamu senyum - senyum sendiri? Awas kesambet lho!" Henny menggoda Santi.
Belum sempat dijawab oleh Santi, tiba - tiba dua teman mereka datang Feny dan Tri.
"San, kamu sudah membeli majalahnya?" Tanya Tri pada Santi.
"Iya nih, Tri. Kebetulan uang jajanku cukup buat bayar majalah!" Santi menjelaskan pada Tri.
Mereka berteman karena tempat duduk mereka yang berdekatan. Santi duduk di bangku paling depan bersama Henny sedangkan Tri dan Feny duduk di belakangnya.
~~~
Setelah satu Minggu MeKar terbit, Zain masuk kelas membawa tiga amplop panjang berwarna cokelat ditangannya bersamaan dengan bel istirahat berbunyi. Di setiap amplop tertulis nama inisial si pemilik dan kelasnya
"Apa itu, Zain?" Tanya salah seorang teman ketika berpapasan dengan Zain di pintu kelas.
"Ini uang kompensasi karya yang sudah masuk MeKar." Zain menjelaskan.
Teman - teman yang mendengar percakapan itu langsung berlalu keluar kelas untuk istirahat karena mereka
tidak membuat karya apapun, atau ada sebagian yang membuat tapi tidak lulus seleksi untuk diterbitkan. Jadi sangatlah tidak mungkin mereka mendapatkan uang itu.
Hanya tersisa Santi, Henny, Tri, dan Feny yang masih memasukkan alat tulis ke dalam tas dan mengambil uang saku mereka untuk pergi ke kantin.
"OSIS rapat tentang apa Zain?" Melihat kedatangan Zain, Tri langsung bertanya karena tau Zain dapat surat dispensasi OSIS untuk Rapat.
"Tentang ini!" Zain menjawab pertanyaan Tri sambil memperlihatkan amplop yang dipegangnya.
"Apa itu?" Tri penasaran dengan isi amplop itu.
"Ini uang kompensasi karya yang masuk MeKar edisi triwulan ini!"
"Punyaku ada ga, Zain?" Tri bertanya seolah dia telah membuat karya dan lulus seleksi, padahal dia sama sekali tidak membuatnya. Karena dia suka dan pandai sekali dalam pelajaran Matematika.
"Ada nih!" Zain memberikan amplop kosong yang baru diambil dari depan pintu kelas sebelah. Namun isinya sudah diambil oleh pemiliknya.
Seluruh Siswa kelas X-6 telah saling memahami, sehingga jarang sekali ada pertengkaran antara mereka.
Zain duduk bergabung dengan keempat teman ceweknya.
"Nih, punya kamu!" Zain memberikannya pada Feny karena Zain paham inisial nama lengkap Feny yang ditulis FE. Feny suka mata pelajaran kimia dan membuat puisi dengan judul "Aku Cinta Kamu". Ya, kamu yang dimaksud Feny dalam puisi karyanya adalah Kimia bukan kekasihnya.
"HW X-6!" Zain berpikir sejenak dan menyerahkan amplop kedua pada Henny.
NISa X-6, itulah tulisan yang tertera pada amplop ketiga. Zain mengambil Absensi kelas dan mencari nama teman yang diawali huruf N. Disitu ada nama lengkap Santi yang memang diawali huruf N, tapi jika disingkat maka hasilnya NIS bukan NISa.
Zain putus asa dan kembali duduk di dekat Tri yang sedang membuka amplop milik Feny dan Henny.
Zain meletakkan amplop terakhir itu di meja yang terletak di tengah - tengah mereka.
"Kenapa, Zain? Buat aku?" Tri mulai lagi.
"Milik siapa ya kira - kira amplop ini?" Zain berharap bisa menemukan pemilik amplop itu.
"Kok masih nanya sih, Zain? Itukan inisial nama Santi! Tri menjelaskan.
"Benarkah?" Zain tidak yakin dengan jawaban Tri karena sedari tadi Tri selalu mengajaknya bercanda.
"Tuh, ada kamus Bahasa Inggris di sampingmu dengan inisial yang sama. Coba aja kamu buka halaman pertamanya dan lihat nama yang ada disitu! Feny menjawab sambil menunjuk kamus milik Santi yang memang belum dimasukkan ke dalam tas.
Zain mengikuti petunjuk yang diberikan Feny dan menemukan nama lengkap Santi di halaman pertama kamus itu.
Zain menyerahkan amplop ketiga pada Santi yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah sahabat terbaiknya kebingungan mencari namanya.
Santi menerima amplop yang diberikan oleh Zain, namun setelah itu Tri langsung merampasnya dari Santi dan membukanya karena dia ingin tau jumlahnya dan minta di traktir.
Santi yang senang berbagi, segera mengajak teman - temannya makan bersama di kantin sekolah dengan uang yang didapatkan dari hasil menulisnya.
Henny menyerahkan amplop miliknya pada Santi karena puisi yang dibuatnya masuk rubrik puisi MeKar, namun puisi yang dimaksud adalah milik Santi yang dikumpulkan ke sekolah dengan nama Henny.
Zain memahami jalan pemikiran Santi karena bukan sehari dua hari mereka bersahabat. Zain mengusulkan agar Santi membuat Dua cerpen untuk terbitnya MeKar tiga bulan berikutnya.
Awalnya Santi menolak karena menurut penjelasan Guru Bahasa Indonesia, ada dua kolom Cerpen di majalah MeKar akan tetapi tidak boleh diisi oleh satu nama agar nama - nama yang lain memiliki kesempatan yang sama mengisi halaman Cerpen.
Zain tetap dengan usulnya, Santi akan membuat dua Cerpen dengan nama yang berbeda. Satu atas nama Santi sendiri, yang satu lagi atas nama Zain. Jika kedua cerpen tersebut lulus seleksi dan memenuhi dua kolom cerpen maka Zain akan memberikan uang kompensasi atas nama Zain pada Santi.
Mendengar penjelasan Zain, akhirnya Santi setuju untuk membuat Cerpen. Satu cerpen untuk Zain dengan judul "Aku Ingin Adik Perempuan" yang mengisahkan dua anak laki - laki yang menginginkan adik perempuan.
Satu cerpen untuk dirinya sendiri, Santi menulis dengan Judul "Sahabat Sejati" yang mengisahkan tentang dua orang yang bersahabat sejak kecil hingga dewasa. Satu cewek dan yang satu lagi cowok. Persahabatan mereka tidak pernah putus hingga Si cowok meninggal karena kanker otak.
~~~
Ketika tiba saatnya mengumpulkan karya tulis, Zain memilih cerpen yang berjudul "Sahabat Sejati" milik Santi untuk diganti dengan namanya. FZR itu inisial milik Zain.
Indah terkejut saat Zain lebih memilih cerpen dengan judul tersebut.
Ketika Zain pergi, Santi tiba - tiba berteriak "Zain...., aku ga mau kehilangan kamu!"
Entah apa maksud Santi, kalimat itu keluar secara tidak sengaja dari mulut mungilnya.
Zain berlalu ke ruang OSIS tanpa mempedulikannya.
Satu Minggu kemudian, MeKar edisi triwulan kedua Terbit. Di bagian Cerpen 1 terpampang Cerpen dengan judul "Sahabat Sejati" karya FZR X-6. Di bagian Cerpen 2 terisi oleh Cerpen "Aku ingin Adik Perempuan" karya NISa.
Seperti biasa Santi segera membayar pada bendahara kelas. Setelah melihat dua Cerpennya masuk MeKar, Santi bukannya senang melainkan merasa sedih. Mata batinnya bereaksi. Santi melihat kejadian yang ditulis dalam cerpen "Sahabat Sejati" akan benar - benar terjadi padanya dan Zain.
Zain datang, dia kaget melihat sahabatnya menangis sambil memegang MeKar yang sedang terbuka.
"Kamu kenapa menangis, San ? Bukankah dua Cerpen mu berhasil mengisi bagian Cerpen kali ini?" Zain duduk di depan Santi dan menanyakan kesedihan sahabatnya.
"Aku ngga apa - apa, Zain!" Santi menghapus air matanya dan menyembunyikan perasaannya pada Zain.
~~~
Tiga tahun berlalu, Zain maupun Santi sibuk dengan pelajaran dan organisasi masing - masing.
Meski begitu mereka tetap bersahabat dan saling membantu sehingga mereka lulus dengan nilai yang memuaskan.
Kali ini Zain dan Santi kuliah di tempat yang berbeda. Zain pergi ke ibu kota Propinsi, sedangkan Santi hanya kuliah di Kampus Swasta di kotanya sendiri.
Satu semester hampir usai. Santi menghadapi Ujian semester pertama. Hari pertama Santi ujian. Dia sedang berjalan sendiri memasuki area kampus. Di jalan menuju kelas, dia teringat akan sahabatnya. "Zain, kamu kemana? Tidak pernah mengabari aku?" Santi bergumam.
"Hai, kamu di ruang berapa?" Helmi menyadarkan Santi dari lamunannya.
"Eh... Aku di ruang 22!" Jawab Santi.
Ruang 22 berada di dekat Lobby kampus sehingga mereka memilih duduk di Lobby karena ujian akan dimulai tiga puluh menit lagi.
San! Helmi mulai membuka pembicaraan.
Ya! Santi menjawab singkat sambil membaca buku.
"Setauku kamu adalah Sahabat Zain sejak kecil karena kalian selalu satu sekolah, iya kan?"
Santi terkejut tiba - tiba Helmi menanyakan tentang Zain padanya.
"Iya, kenapa Mi?" Santi mulai menutup bukunya dan mulai memperhatikan Helmi.
"Tapi kenapa kamu tidak datang saat Zain meninggal dunia?"
"Apa? Zain meninggal? Kapan? Karena apa?" Santi menghujani Helmi dengan banyak pertanyaan.
Helmi menjelaskan bahwa Zain meninggal satu bulan yang lalu. Zain meninggal karena kanker otak. Hal itu bermula saat Zain mendaftar kuliah di Ibu Kota. Zain pingsan dan di bawa ke rumah sakit oleh kakaknya yang kuliah di kampus yang sama dan mengantar Zain ke kampus saat itu.
Zain mengidap kanker otak Stadium 4. Zain makin kurus, rambutnya mulai rontok. Meski demikian keadaannya, Zain tetap masuk kuliah hingga bulan kemarin dia dirawat di Rumah Sakit Propinsi dan meninggal.
Santi merasa menyesal, bukan hanya karena kepergian Zain. Santi menyesali Cerpen yang pernah di buatnya saat mereka SMA dengan judul "Sahabat Sejati". Kini sahabatnya telah pergi untuk selamanya.
Karena Dosen penguji sudah datang, Helmi dan Santi memasuki ruang 22 untuk ikut ujian.
Hanya satu mata kuliah yang diujikan hari ini. Pulang kuliah Santi langsung mengajak Helmi pulang dan mampir ke makam Zain.
Di sana Santi menangis. "Maafkan Aku, Zain!"
"Sudahlah, Santi! Ikhlaskan kepergian Zain supaya dia tenang di sana!" Helmi mencoba menghibur teman semasa SMA nya itu.
Sebelum pulang, Santi dan Helmi mendoakan Zain di dekat makamnya.
~~~SELESAI~~~
Jangan lupa tinggalkan jejak, dan komennya ya? Terima kasih!😘😍🥰