Hampir dua jam seorang gadis duduk di bangku taman, menunggu seseorang yang datang menemuinya. Hari semakin larut, gadis tersebut mengambil nafas berulang kali agar bisa tenang.
“Jingga!” panggil seseorang dengan nada berat khas seorang lelaki.
Gadis yang bernama Jingga itu menoleh dan menatap sang lelaki yang tidak jauh dihadapannya. “Malam,” ucap Jingga memperlihatkan senyumnya.
Malam berjalan mendekati Jingga lalu duduk di sampingnya.
“Jingga kok suka senja?” ledek Malam menatap Jingga yang sedang menikmati langit yang berwarna jingga itu.
“dari senja aku belajar, walaupun sebentar ia tetap memberikan rasa bahagia buat penikmatnya,” kilah Jingga tak mau kalah dan menatap Malam dengan penuh permusuhan.
Malam berdecak pelan, menarik sudut bibirnya ke atas secara perlahan kemudian mengacak-ngacak rambut Jingga.
"ya, setidaknya kamu tidak seperti senja. Memberikan keindahan sebentar lalu perlahan tergantikan malam,” Malam memegang jari tangan Jingga begitu erat, seakan tidak rela melepaskan tautan tersebut.
“Malam kenapa kamu juga suka malam? Padahal malam itu kan gelap!” seru Jingga menatap Malam meminta penjelasan.
Malam menatap lurus langit berwarna jingga itu. “ah, gelap mengajarkan aku arti kesendirian,” jawab Malam seenaknya.
"apa sih kamu, kamu engga akan sendirian Malam,” ujar Jingga.
“ia aku tahu, kamu harus janji ya untuk tetap bersama aku,” ujar Malam mengangkat jari kelingkingnya.
“Jingga janji Malam,” Jingga menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Malam.
Keduanya menikmati senja hingga tak terasa bahwa hari mulai gelap. Malam dengan udara yang sejuk, dan bintang-bintang berkelip di langit yang cerah.
Malam dan Jingga pun beranjak pergi meninggalkan taman tersebut.
Di perjalanan pulang, hanya terisi kecanggungan antara Jingga dan Malam.
“Malam,” panggil gadis itu membuat si pemilik nama menoleh dan menaikkan salah satu alisnya.
“Apa iya senja dan malam akan selalu menjadi dua hal yang berbeda?”
Malam terdiam memikirkan kata-kata senja.
“Malam selalu ada setelah senja datang, senja mungkin selalu jadi favorite semua orang, tapi hanya malam yang akan selalu ada,” jawab Malam asal.
“Apa senja bisa selalu bersama malam?”
Malam menoleh dengan raut muka yang sangat sulit diartikan. Ia merasa bukan ini arah pembicaraan yang Jingga maksud.
Tawa gadis itu pecah ketika melihat raut wajah Malam. Jingga memukul pelan lengan Malam, “Aku bercanda kali, serius banget Pak,”
Malam mencubit pelan pipi Jingga. “Ada-ada saja kamu itu Sen,”
“Ih, kok manggil aku Sen sih?” rengek Jingga sambil mencondongkan bibirnya kedepan.
Malam tersenyum simpul saat melihat wajah Jingga yang sangat menggemaskan kala sedang merengek, Tangan Malam terulur menyentuh jidat Jingga.
"Ih Malam, ini apa lagi megang-megang jidat aku? Iya-iya aku tahu kok, jidat aku emang lebar,” ujar Jingga seraya mengusir tangan Malam.
“Aku pegang jidat kamu bukan karena jidat kamu lebar, tapi kayanya kamu demam deh, soalnya aku jarang banget lihat kamu bercandaan gini,” balas Malam.
Jingga yang jidatnya masih dipegang oleh Malam, menampakan wajah masam lalu melepaskan tangan Malam dari jidatnya.
“Kabur!” teriak Jingga lalu berlari sekencang mungkin menjauhi Malam sambil tertawa. Sontak saja Malam yang melihat langsung mengejarnya.
“Jingga! Tunggu aku,” ucap Malam.
Jingga yang merasa dipanggil langsung berbalik badan kemudian mendekat ke arah Malam.
“Apa?” tanya Jingga.
Malam memegang tangan Jingga dengan lembut. “Sebelumnya aku mau minta maaf karena aku gak bisa selamanya bisa sama kamu.”
“Tapi kenapa Malam? Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku? aku salah apa? Kalau aku ada salah maaf Malam ....” Malam menghentikan ucapan Jingga dengan meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Jingga.
“Shuut! Aku sayang kamu sampai kapan pun, jangan pernah beranggapan seperti itu. Tapi jika takdir berkata lain aku bisa apa?” ucap Malam dengan tatapan sendu.
“Ada apa Malam?” tanya Jingga.
“Tidak ada apa-apa Jinga. Lupakan apa yang aku ucapkan tadi,” ucap Malam memeluk Jingga dengan erat seakan tidak ada hari esok untuk melihat gadisnya.
“Andai kamu tahu Jingga,” lirih Malam dengan sangat pelan.
“Malam bicara apa?” tanya Jingga.
“Tidak ada.”
“Jingga berharap kita bisa bersama-sama sampai maut memisahkan,” ucap Jingga menatap Malam dengan begitu dalam.
“Kalau Malam udah gak ada gimana Sen?”
“Malam bilang apa sih? Kan tadi Malam yang bilang jangan beranggapan seperti itu, terus kenapa Malam bilang seperti itu?”
“Yaudah .... sekarang kita pulang yuk!” ajak Malam. Jingga hanya menganggukan kepalanya tanda bahwa ia setuju.
Keesokan harinya
“Hallo?”
“.....”
“Apa?!”
“Gak... gak mungkin.”
“.....”
“Jingga kesana sekarang.”
Sesampainya di rumah sakit.
“Mama!” teriak Jingga di lorong rumah sakit.
“Jingga,” lirih Mareta bunda Malam.
“Kenapa bisa seperti ini Ma?” tanya Jingga.
“Malam kecelakaan Jingga, mobil yang Malam pakai me--,” belum sempat Mareta melanjutkan ucapannya, suster pun keluar.
“Ada ibu pasien?” Tanya suster, Mareta sontak langsung bangkit.
“Saya! Saya ibunya sus, kenapa?”
“Dipersilahkan masuk.” Dengan segera
Mareta pun masuk ke dalam.
Saat di dalam Malam sudah sadar, namun ia terlihat tidak berdaya dengan perban di kepalanya.
Perlahan dokter dan suster lainnya mulai keluar membiarkan keduanya bertemu. Malam menatap mata Mareta, lalu dengan cepat Mareta menghampiri Malam dengan derai air mata.
“Ma?” Panggilnya dengan suara yang sangat pelan sekali.
Mareta tidak kuasa menahan tangisnya, ia mengambil salah satu tangan anaknya.
“Iya, ini mama sayang ... ini mama ....”
“Dingin, Ma.” Mata Malam berkaca-kaca membuat Mareta semakin terisak.
“iya, sayang ... kamu kuat, mama tahu kok,” Mareta mencium tangan Malam.
“Maafin Malam, Ma ....”
“shuttt ... jangan bicara seperti itu, Mama udah maafin, please kamu kuat,” ujar Mareta yang sudah berderai air mata.
“Malam sayang banget sama Mama,” suara parau Malam semakin menyakitinya.
“Malam juga sayang banget sama Jingga Ma.”
Mareta naik ke atas kasur dan segera memeluk anak sulungnya.
"Bilang ke Jingga ya, Ma. Malam minta maaf,” lirihnya.
“Sayang ... please ... jangan ngomong gitu,” Mareta merasa sakit luar biasa ketika mendengar suara parau anaknya.
“Bantu Malam syahadat, Ma.”
“Malam ....” Mareta bergetar.
“Malam mohon.”
“Sayang kamu kuat.”
“Bantu Malam, Ma. Syahadat ....”
Mareta benci situasi ini, demi apapun ia sangat membencinya. Namun disisi lain ia tidak tahu harus apa, anaknya meminta itu padanya.
“dengerin mama ya,” mareta mendekatkan bibirnya pada telinga Malam.
“A-a-ashadu an laa,” ajak Mareta dengan nada bergetar.
“Ash ... ash-asha ... du.”
Mareta menarik nafasnya.
“Ashadu an laa, ilaaha ilallah ....” air mata Mareta berlinang.
“Ashadu ... hh ... an laa, ilaa ...,” Malam menarik nafasnya. Matanya tertutup dengan tiba-tiba, yang membuat Mareta menangis sejadi-jadinya.
“Enggak ... ya Allah, Malam ....”
“Bangun Malam!” teriak Mareta.
Jingga yang mendengar teriakan Mareta, dengan segera ia menerjang keras pintu bercat putih polos itu. Ia melihat seorang lelaki sedang memejamkan matanya dengan kulit yang memucat dan ia pun langsung menghampirinya.
“Ma, Malam kenapa?” Tanya Jingga dengan raut muka yang sangat syok.
“Malam, jangan seperti ini. Bangunlah ku mohon! Bukan kah kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku?” sentak Jingga menggoyang-goyangkan tubuh yang telah terbaring tak berdaya.
“jangan menipu ku Malam! Aku tau kamu sedang tidur. Bangun! Bangun! Malam!” teriak Jingga menggema di seluruh ruangan itu.
Jingga semakin tak terkontrol ketika melihat tidak ada pergerakan dari Malam. “Malam kamu tahu? Aku sangat mencintaimu, aku menyayangimu Malam. Bangunlah!” Jingga meraung-raung mencengkram erat tubuh Malam yang sudah tidak berdaya.
Mareta menghampiri Jingga.
“Malam suruh bangun, Ma.” Ujar Jingga seraya menangis. Mareta pun langsung memeluk Jingga.
Tubuh Jingga melemas, ia tidak kuat untuk berdiri. Jingga terduduk di lantai menatap pilu sang kekasih, Kini semua pergi meninggalkannya sendiri. Semua berubah, tidak ada canda tawa Malam. Tidak ada gurauan Malam. Tidak ada yang memarahi Jingga ketika ia memakan mie instan.
Dan pada akhirnya LDR yang paling jauh adalah ketika salah satu pasangan tidak dapat menggenggam jari bersama.