Phsycopath Love
Menjadi kekasih dari seorang laki-laki tampan memanglah keuntungan bagi Dhea gadis cantik dengan rambut panjang yang seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang mrlihatnya bagitu juga dengan Andre, laki-laki dengan gelaran ketos cuek itu kini menetapkan Dhea sebagai kekasihnya.
Pertemuan mereka tidaklah begitu romantis, karena kejadian malam itu tanpa di sengaja ketika Dhea baru saja pulang dari rumah Sera karena hari sudah terlalu larut Dhea pun memutuskan untuk berjalan karena tidak ada kendaran umum yang melintas pada jam dua belas.
Jalan besar tapi seolah penghuninya hanya Dhea sendiri, tapi ketika Dhea berjalan melewati sebuah gang ia mendegar rintihan seseorang yang tampak kesakitan. Dhea takut tapi rasa prikemanusiannya tidaklah bisa di bendung ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam gang tersebut.
Baru beberapa langkah Dhea berjalan tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri seolah tau keadaan di depannya mungkin saja mengerikan, tapi bukan Dhea namanya jika tidak menuntaskan rasa penasarannya tersebut.
Dengan langkah pelan Dhea mencari suara tersebut. Namun, ketika sampai di mana suara itu berasal Dhea di tujukan di sebuah gedung tua tak berpenghuni apalagi penerangan di sana begitu minim membuat Dhea seketika takut.
Lalu, Dhea berjalan pelan menuju gerbang dan Dhea seketika mundur ketika melihat seorang laki-laki sedang memasukan beberapa potongan tubuh manisia ke dalam kantong plastik hitam ya, Dhea yakin itu tubuh manusia karena terlijat tangan, kepala serta kaki tersebut.
Dhea takut, risau, binggung. Apa yang dia harus lakukan sekarang. Lalu dengan keberanian Dhea mengelurkan ponsel berniat menelfon polis, karena gugup Dhea tidak sengaja menjatuhkan handphonenya hingga menimbulkan suara nyaring.
"Akh!" teriak Dhea langsung berlari, ia takut sekarag ia tidak mau mati muda apalagi orangtuanya yang bekerja banting tulang untuknya ia tidak mau.
Bruk!
Dan bodohnya Dhea tersandung kerikil yang entah kapan berada di sana membuat rasa takut Dhea semangkin bertambah, 'Mama, Dhea enggak mau mati muda tolongin Dhea mama," batin Dhea sambil meramalkan doa-doa agar orang tadi tidak menemukan dirinya.
Di saat Dhea akan berdiri, ia kembali duduk karena kakinya terasa ngilu dan kemungkinan kakinya terkilir apalagi ada beberapa sudut kaki Dhea yang terluka hingga mengeluarkan darah.
"Ach!" rintih Dhea ketika ada seseorang yangenyentuh lukannya dan Dhea refleksenoleh ke depan di mana ada seorang laki-laki kini tengah menghapus darah dari kaki Dhea dengan menggunakan tisu.
"Makanya jalan hati-hati, dasar ceroboh," ocehnya pada Dhea.
"Kau siapa? Jangan sentuh aku," tolak Dhea sambil berusaha berdiri ia takut sekarang apa jamgan-jangan laki-laki itu adalah pembunuh tadi apa ia akan membunuh Dhea dengan sadis seperti tadi, 'tidak-tidak, amit-amit," guman Dhea membuang fikirannya.
"Aaa!" teriak Dhea karena ketika ia berdiri kakinya sekolah bergeser dari sendinya hingga Dhea ambruk. Namun, tidak jatuh ketanah tapi di pelukan laki-laki tadi yang menghapus darah dari kakinya, laki-laki itu mengenakan hoddie hitam, topi, dan masker senada.
Dan jangan lupakan ada sebuah rantai kalung berbentuk gembok di lehernya, Dhea tersadar dari lamunannya dan segera melepas pelukan laki-laki tersebut.
"Jangan pernah lari atau menolakku Dhea Apriliani," ucapnya menyebutkan nama lengkap Dhea hingga membuat Dhea mematung dan berbalik menata laki-laki di belakangnya.
"J--jadi benar kau yang membunuh orang tadi?" tanya bodoh Dhea.
"Jika benar memangnya kenapa? Apa kau akan melaporkanku pada polis, dan saat ini aku sedang baik hati jadi ku peringatkan jangan membuang waktumu hanya sekedar menelfon polisi karena semua itu tidaklah berguna karena polisi saja takut padaku, jadi jangan bermimpi lepas dariku sekarang, Sayang," jelasnya membuat Dhea ambruk seketika.
"Tolong lepaskan aku, aku tidak akan menelfon polisi tapi tolong lepaskan aku," mohon Dhea mundur dengan cara menyeret tubuhnya sendiri karena ia tidak bisa berdiri karena kakinya yang terkilir.
"Diamlah!" bentaknya lalu mengendong paksa Dhea ala bridal style menuju jalan besar dan emtah sejak kapan ada mobil di depan, mobil itu tampak sangat mahal membuat Dhea berfikir siapa laki-laki ini.
Dhea tanpa menolak pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan setelah itu tanpa pembicaraan apapun mobil itu melaju entah kemana? Dan Dhea ia sudah pasrah sekarang satu mobio dengan seorang pembunuh atau lebih tepatnya psikopat kemungkinan sisa waktu hidupnya akan sedikit lagi.
Mobil lalu berhenti di sebuah gedung besar dan teryata itu adalah apartemen mewah yang hanya di sewa oleh orang-orang kaya saja.
Laki-laki itu keluar lalu membukakan pintu dan mengendong Dhea kembali dan entah kenapa Dhea hanya diam di perlakukan seperti itu ia seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi seteruanya.
Ruangan 332 lantai empat di sanalah Dhea dan laki-laki itu berhenti sekali-kali Dhea melihat orang-orang yang berlalu lalang tampak menunduk ketika mengetahui laki-laki ini masuk ke dalam lift.
Sesampai di ruangan tersebut Dhea di dudukan di sebuah sofa panjang nan lembut ia lalu melihat sekeliling yang tampak sangat mewah barang-barang tersusun rapi begitu juga dengan lukisan-lukisan yang tampak berkelas tinggi.
"Ulurkan kakimu," ucap laki-laki itu mengangetkan Dhea yang tampak melamun sambil memerhatian selurih ruangan.
"Tahan sebentar," perintahnya seketika Dhea merasakan tangan laki-laki itu memengang kakinya dan dengan sekali hentakan tulang Dhea terasa menyatu kembali dengan tempatnya walaupun terasa sakit tapi seketika rasa sakit itu hilang dan lenyap.
"Terima kasih atas bantuanmu apa aku sudah boleh pulang dan siapa kau?" tanya Dhea.
"Reihan panggil aku Rey saja," ucapnya singkat sambil memberikan plester di beberapa daerah kaki Dhea yang terluka.
"Terima kasih Rey, dan maaf atas yang tadi dan aku pasti akan tutup mulut, jadi ku mohon biar kan aku pergi," pinta Dhea.
"Orang melihatku membunuh pasti keesokan harinya akan ikut terbunuh tapi kau, jika ingin aku melepaskanmu itu tidaklah mudah, ada syaratnya," ucap Rey duduk di samping Dhea.
"A--apa?" tanya Dhea.
"Jadilah kekasihku dan kupastikan kau akan selamat dari maut, bagaimana? Tapi tidak perlu ku tanyakan kau harus tetap mau karena aku tidak menerima sebuah kata penolakan apapun, oke, Dhea sayang," ucapnya menyeringai seperti iblis.
"Kau akan menjadi miliku selamanya, Dhea sayang."
Tamat