Namanya Pak Ahmad. Nama panjangnya Ahmad Gajali. Orang-orang di kampungnya biasa memanggilnya Pak Memet, Pak Amat atau kadang-kadang pak Gajali. Umurnya kurang lebih empat puluh tahunan. Tubuhnya tinggi kurus, mata sipit dan muka lebar dan dipenuhi jenggot tebal yang mulai memutih.
Sehari-hari Pak Ahmad bekerja di sawah peninggalan Almarhum Ayahnya yang luasnya hanya satu petak. Sebenarnya bagian yang harus diterima Pak Ahmad lebih luas dari itu, sekitar sembilan petak jika dibagi menurut pembagian hukum Islam. Tapi saudara tua Ayahnya bermain curang dan hanya menyisakan satu petak lahan untuknya. Sebenarnya Pak Ahmad sempat tidak terima tapi ia selalu ingat pesan Almarhum Ayahnya sebelum meninggal, untuk tetap menahan diri dan sabar menerima keadaan apapun yang diberikan Allah.
"Orang yang curang, Insya Allah segala usaha yang dikerjakannya tidak akan barokah". Pesan Almarhum Ayahnya.
Dan kata-kata Almarhum Ayah Pak Ahmad terbukti dengan sangat melaratnya kehidupan Pamannya. Seluruh sawah dan harta kekayaannya menjadi sitaan Bank.
Dan padi yang kini ditanam Pak Ahmad tinggal menunggu waktu saja untuk dipanen. Hasil sawahnya nanti akania tabung separuhnya untuk biaya sekolah anaknya, Pardi. Ia bertekad, Pardi harus bisa sekolah setinggi mungkin biar kelak jadi orang sukses.
Kadang-kadang jika sudah tidak ada lagia yang harus dikerjakan, ia akan menghabiskan waktu sehariannya dengan membuat anyaman dari bahan rotan di rumahnya. Hitung-hitung buat cadangan belanja Pardi yang setiap hari merengek minta dibelikan sosiz goreng kesukaannya.
Tapi hasil anyamannya belakangan ini tidak seperti waktu ketika warga masih menggunakan bahan-bahan tradisional dalam kebutuhan rumah tangga mereka. Sales-sales yang kerap datang kekampung itu, membuat warga lebih nyaman menggunakan alat-alat rumah tangga yang lebih modern. Praktis Ia hanya menganyam jika ada penduduk kampung yang masih setia memesan anyaman buatannya, walaupun itu sangat jarang sekali.
Pak Ahmad tinggal dengan anaa semata wayangnya yang kini berusia delapan tahun. Istrinya sudah delapan tahun meninggal dunia saat melahirkan Pardi.
Sebelumnya, ia sudah lama mendambakan seorang anak yang akan menambah kebahagiaan dalam rumah tangganya. Baru di saat umurnya menginjak empat puluh tahun, cita-citanya kesampaian. Tapi itupun harus dibayarnya mahal dengan kehilangan istri tercintanya.
Saat itu ia baru sadar, bahwa ia terlalu memaksa Tuhan untuk mengabulkan permintaannya di saat kondisi kesehatan istrinya yang memburuk.
Kehilangan istri merupakan saat-saat terburuk bagi Pak Ahmad. Ia harus merasakan kesepian yang mendalam. Bayangnnya tentang suasana rumah yang berwarna dengan kehadiran Pardi, justru menjadi kenyataan yang terbalik. Ia merasa kesepian, lebih-lebih ketika harus mengurus Pardi yang masih membutuhkan air susu ibunya.Tidak ada uang untuk membeli susu formula bayi. Jangankan susu, untuk membeli dotnya saja ia merasa kewalahan. Sebagai ganti susu, ia membuatnya sendiri dari beras yang ia tumbuk halus dan menyaringnya agar air yang dihasilkan benar-benar bersih.
Mendung masih menggelayut di atas langit desa. Hujan yang sesekali disertai kilat yang menyambar semakin deras mengguyur, membut Pak Ahmad gelisah di dalam rumah. Ingin sekali ia keluar rumah untuk sekedar ngobrol dengan tetangga, hitung-hitung untuk menghilangkan kegelisahannya. Akan ada banyak solusi yang mungkin bisa ia dapatkan dari obrolan dengan tetangga terkait kondisi cuaca yang tak menentu akhir-akhir ini. Tapi sepertinya warga lebih memilih berdiam diri di rumah masing-masing. Hujan deras yang tak kunjung berhenti memaksa penghuni desa menghabiskan waktu di dalam rumah.
Menunggu hujan yang tak kunjung reda, bahkan terdengar semakin deras saja, membuat Pak Ahmad kembali teringat Almarhumah istrinya. Kalau dia masih ada, tentunya hari ini ia tidak akan merasa kesepian. Akan ada banyak obrolan panjang yang sedikit tidak bisa menghalau rasa gelisah di hatinya.
Melihat cuaca yang tidak menentu seperti itu, wajar kalau Pak Ahmad, bahkan seluruh penduduk kampung yang mayoritas mengandalkan sawah sebagai sumber penghidupan mereka gelisah. Padi sebentar lagi akan dipanen, dan kalau hujan terus mengguyur seperti itu, bisa dipastikan padi-padi itu akan rusak. Kalaupun tidak miring dihempas angin, kemungkinan bulir-bulirnya yang sudah padat berisi itu akan mengeluarkan tunas baru. Itu artinya Petani akan gagal panen. Dan akan berakibat penduduk akan banyak kelaparan.
Melihat keadaan seperti tahun-tahun yang lalu saja, saat surplus beras di bumi gora (lombok) ini melebihi kebutuhan penduduknya, masih saja ada yang kelaparan. Erasmus, busung lapar, kurang gizi, dan entah apa lagi namanya Pak Ahmad tidak tahu. Istilah-istilah seperti itu cuma ia dengar dari tetangga-tetangga yang punya televisi. Kata mereka, anak-anak perutnya membuncit, kurus dan kulitnya mengeriput.
"Itu gejala atau tanda-tanda busung lapar Pak Memet. Kalau Pak Memet menemukan tanda-tanda seperti itu, cepat bawa anak Pak Memet ke Puskesmas". Kata salah seorang tetangganya saat Pak Ahmad penasaran dengan istilah itu.
Tapi ia merasa Pardi tidak memiliki gejala-gejala seperti itu. Alhamdulillah tubuh Pardi bagus dan sehat walau hanya makan bubu ubi jalar dan susu dari air tumbukan beras.
Jika panen padi tahun ini gagal sebab hujan yang terus mengguyur, ia tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi. Yang jelas, perut warga yang sudah nyaman makan nasi, mau tidak mau harus makan ubi-ubi jalar yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Mengharap datangnya beras untuk rakyat miskin, beras itu kadang-kadang harus jatuh ke tangan orang-orang yang jauh dari kategori miskin.
Pak Ahmad bangkit dari duduknya, di sisi ranjang tempat anaknya Pardi terbaring. Setelah mencium keningnya, Ia meraih sebuah kursi plastik warna putih di sampingnya dan membawanya ke dekat jendela. Rokok pilitan yang sedari tadi dipermainkannya di tangan kini sudah nyanggong di bibir hitamnya. Tangan hitamnya bergetar menahan dingin saat mengambil pemantik api dari saku baju. Tatapannya terus menatap nanar ke arah langit hitam. Berkali-kali ia menghela nafas panjang, berharap rasa gelisah dan cemas yang tak kunjung hilang bisa segera terusir. Namun, melihat hujan yang sepertinya akan berdurasi panjang, rasa cemas dan gelisahnya semakin bertambah.
"Inna Lillahi wa inna ilayhi rojiun" .
Terdengar tiga kali lamat-lamat di antara derasnya hujan yang turun. Pak Ahmad mengernyitkan keningnya dan mencoba mendengarkan dengan seksama. Tapi suara hujan terlalu berisik, membuat Pak Ahmad sama sekali tak mendengar apa-apa.
Kembali Pak Ahmad menghela nafas. Akhir-akhir ini, banyak sekali warga yang meninggal dunia. Sudah Tujuh orang warga yang meninggal dunia, terhitung sejak dua minggu yang lalu. Penyebabnya macam-macam. Ada yang kena muntaber, flu burung dan yang terbanyak adalah demam berdarah, bahkan ada juga yang tidak pernah sakit sama sekali.
Dan ia tidak bisa menafikan, setiap kali ia mendengar kalimat istirja' (pemberitahuan orang meninggal dunia), ia selalu ketakutan. Itu mulai ia rasakan sejak meninggal istrinya. Ia selalu merinding dan merasakan suasana yang mengerikan melihat orang sekarat dan meninggal dunia.
Seseorang bertelanjang dada dengan sepotong daun pisang di kepalanya terlihat berlari-lari kecil di halaman rumahnya. Ia segera bangkit dan membuka pintu.
"Pak Heri? mari masuk Pak Heri" kata Pak Ahmad saat orang yang dipanggilnya Pak Heri sudah berada di depannya.
"Saya di luar saja pak Memet, sayaa cuma sebentar karna saya harus ke rumah Pak Karim juga". Kata Pak Heri sambil menghalau air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Lo kok buru-buru Pak, memangnya ada apa". Tanya Pak Ahmad.
"Begini Pak Memet, mungkin Pak Memet belum sempat mendengar pengumuman tadi di Masjid karna suara hujan. Makanya saya ke sini untuk memberitahukan warga yang jauh rumahnya dari masjid".
"O ya saya baru ingat. Memangnya siapa yang meninggal Pak" Tanya Pak Ahmad penasaran.
"Nenek Rukayah Pak Memet". Kata Pak Heri setengah berteriak karna hujan semakin deras saja. Pak Ahmad mengernyitkan keningnya. Dia mendengar apa yang di katakan Pak Heri, tapi ia merasa pendengarannya salah. Ia mengarahkan kupingnya lebih dekat ke arah Pak Heri.
"Nenek Rukayah yang meninggal Pak Memet. Baru saja, kurang lebih dua puluh menit yang lalu". Pak Ahmad terpaku, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari Pak Heri. Pak Ahmad benar-benar mematung. Ia baru sadar ketika Pak Heri meninggalkannya.
Pak Ahmad mengusap dadanya berkali-kali dan ia mulai membaca Istighfar. Sosok tua Nenek Rukayah seperti masih tersenyum di hadapannya. Dia masih saja belum percaya bahwa Nenek baik itu telah meninggal dunia secara tiba-tiba.
Lepas azan magrib Perempuan tua itu masih di rumahnya. Bahkan ia sempat balik lagi ke rumahnya hanya untuk memastikan Pardi sudah tidur. Ia sempat mendengar perempuan tua itu mendongeng untuk Pardi hingga bocah itu tertidur. Dan kini ia harus mendengar berita tentang kematiannya.
Maut memang begitu tiba-tiba tanpa diketahui kapan akan menjemput. Dia masih ingat kekeh nyaring Nenek Rukayah memecah keheningan rumah saat sesekali berkunjung ke rumahnya. Tak jarang juga ia khusyu' ketika mendengar petuah-petuah bijak dari perempuan tua itu, terutama tentang kematian. Nenek Rukayah seperti tahu kalau Pak Ahmad selalu merasa ketakutan mendengar kematian.
"Maut itu layaknya seperti tamu Nak Ahmad. Datang secara tiba-tiba dan mengambil segala yang kita miliki dan dicintai. Namun ia tidak datang begitu saja. Banyak tanda-tanda untuk sebagai pelajaran buat kita untuk bersiap-siap menghadapinya. Rambut yang mulai memutih, tatapan mata yang mulai buram, kekuatan tubuh yang mulai melemah dan usia yang semakin bertambah. Itu semua adalah tanda-tanda yang tampak, yang hanya bisa di pelajari oleh orang-orang yang berakal. Untuk dijadikan bahan perenungan untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin mengahadap Sang Pencipta. Hanya amal baiklah yang akan menjadi teman, yang akan membantu kita saat tak seorangpun bisa menolong kita.
Satu lagi Nak Ahmad, kamu tahu Aku ini hidup sebatang kara. Jika nanti Aku meninggal dunia, sempatkanlah memberikanku sedikit syafaat di malam pertama kematianku".
Lamunan Pak Ahmad terbuyar oleh suara tangisan dari arah belakang. Pak Ahmad buru-buru menoleh dan segera melangkah ke arah Pardi yang sudah duduk di tepi ranjang. Pak Ahmad meraihnya lalu menggendongnya.
Hujan perlahan mulai reda. Awan hitam yang masih menggelayut di atas sana seperti masih enggan meninggalkan langit desa. Terdengar suara azan subuh mendayu bersama angin yang sesekali masih terdengar menghempas.
Setelah melaksanakan shalat, Pak Ahmad segera mengambil payung yang tergantung di tembok. Sambil menggendong Pardi, ia berlari-lari kecil meninggalkan rumahnya.
Suasana sudah terlihat ramai di depan sebuah rumah kecil beratapkan ilalang kering, diantara rerimbunan pohon bambu yang tumbuh lebat di sekeliling rumah. Para lelaki di kampung itu mulai berdatangan bergotong royong mempersiapkan acara pemakaman nenek Rukayah. Beberapa perempuan terlihat bergerombol membawa kendi-kendi berisi beras dan mengumpulkannya di sebuah karung besar yang telah di persiapkan. Pak Ahmad sendiri bersama beberapa orang terlihat sibuk merangkai potongan bambu untuk keranda nenek Rukayah.
Rintik-rintik hujan masih berjatuhan dari langit yang masih mendung. Terlihat Pardi kegirangan bermain-main air genangan bersama anak-anak yang lain. Walaupun Pak Ahmad beberapa kali melarangnya, tapi Pardi tidak mendengarkan dan terus meloncat-loncat kegirangan bersama anak-anak yang mulai terpancing aksinya.
"Yah, Ayah sedang buat apa? Pak Ahmad menoleh. Tiba-tiba saja Pardi sudah ada di belakangnya. Pak Ahmad tersenyum.
"Lagi buat keranda". Jawab Pak Ahmad. Sesekali menghalau tangan Pardi yang mulai mengganggu pekerjaannya.
"Untuk apa keranda itu Ayah". Tanya Pardi ingin tahu.
Pak Ahmad terdiam. Ia terus merangkai potongan-potongan bambu sambil berusaha mencari jawaban yang pas untuk Pardi.
"Keranda itu untuk rumahnya Nenek Rukayah". Jawab Pak Ahmad setelah beberapa saat terdiam.
"Memangnya Nenek Rukayah tidak punya rumah, kenapa harus tidur di sini? Terus rumahnya yang itu untuk apa". Tanya Pardi sambil menunjuk ke arah rumah Nenek Rukayah. Pertanyaaan dari seorang anak kecil yang tak ia sangka-sangka menjadi panjang seperti itu.
Pak Ahmad terdiam. Kini ia memandang wajah Pardi. Pertanyaan yang sangat sulit jika itu menyangkut kematian. Pak Ahmad mendesah panjang dan mengelus kepala Pardi.
"Sudah, sekarang Pardi maen sana sama teman-temannya. nih ada uang untuk beli sosiz, jangan lupa ajak teman-temannya ya". Setelah menerima uang dari ayahnya, Pardi segera berlari ke arah teman-temannya.
Sebelum azan maghrib berkumandang , prosesi pemakaman Almarhumah Nenek Rukayah sudah selesai. Orang-orang yang mengantar jenazah Nenek Rukayah satu persatu mulai meninggalkan tempat pemakaman. Hanya Pak Ahmad yang masih tertegun menatap kuburan nenek Rukayah. Perempuan tua itu memang bukan siapa-siapa dalam keluarganya. Tapi bagi Pak Ahmad, Nenek Rukayah begitu penting dan sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri dan nenek bagi anaknya, Pardi. Dialah yang selalu menghiburnya saat ia kehilangan istri tercintanya. Dia juga yang selalu memberinya petuah-petuah bijak saat ia mengeluh tentang penderitaan hidup yang dijalaninya. Bila malam tiba, ia selalu menyempatkan diri mampir ke rumahnya hanya untuk memastikan Pardi sudah tidur. Kalaupun Pardi belum tidur, dengan senang hati ia akan mendongeng sampai bocah itu benar-benar tertidur. Malam ini Pak Ahmad benar-benar merasa kehilangannya.
Setelah beberapa saat Pak Ahmad seperti terlarut dalam komat-kamit mulutnya membaca wirid, iapun kemudian bangkit dari tempatnya bersila. Pardi yang sudah pulas di pangkuannya kemudian dibopongnya dan segera beranjak meninggalkan pemakaman yang mulai lengang.
Hujan kembali turun dengan lebatnya, saat Pak Ahmad belum terlalu lama duduk melepas penatnya. Setelah membaringkan Pardi di atas ranjang, matanya kembali terpaku menatap langit yang tak kunjung mengasingkan awan mendung yang melingkupinya. Rasa cemas dan gelisah sepertinya tak akan pernah sirna, selama awan masih menampakkan sayap hitamnya di langit. Bertambah gelisah saat sesekali terdengar ratapan dan teriakan dari tetangga sebelah. Teriakan yang mengarah pada umapatan yang ditujukan tak lain kepada Yang menurunkan hujan. Sesekali terdengar gemeretak giginya. Seperti menahan amarah yang sesekali muncul karna terpancing teriakan tetanggga sebelah.
"Manusia memang makhluk yang sulit dimengerti. Terlalu panas, mereka akan berteriak kepanasan dan mengeluh hujan tak kunjung datang. Hujan datang, merekapun akan mengeluh dengan bermacam-macam alasan. mereka selalu lupa ketika mereka berjaya, mereka tak pernah memuji sang Pencipta. Giliran diberi cobaan, mereka dengan seenaknya menyalahkan Sang Pencipta.
Intinya Nak Ahmad, apapun yang dikehendaki Allah, tetaplah sabar dan tawakkal. Yang punya langit, bumi dan segala isinya adalah Allah, bahkan yang kita miliki. Jangan pernah menganggap-Nya tidak adil. Allah tidak akan menurunkan musibah di luar batas kemampun hamba-Nya. Percayalah di balik setiap musibah itu pasti ada hikmah yang tersembunyi di dalamnya".
Amarah dan rasa kesal yang tiba-tiba menyelinap di hati Pak Ahmad seketika musnah saat nasehat bijak Almarhumah Nenek Rukayah menyadarkannya. Nenek Rukayah memang sangat menyayanginya, walaupun ia sudah tiada, namun segala nasehat bijaknya selalu datang saat dibutuhkan.
Pak Ahmad menghela nafas panjang. Sebatang rokok pilitan selesai di buatnya. Setelah itu ia langsung menyulutnya.
"Yah, Ayah". Pak Ahmad menoleh. Dilihatnya Pardi tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Pak Ahmad segera meraih tubuh Pardi dan meletakkannya di pangkuannya.
"Kenapa kamu bangun nak. Ini sudah malam. Ada apa nak".
Pardi menatap sayu ke arah Pak Ahmad.
"Pardi mau didongengkan Nenek Rukayah. Pardi juga mau makan sosiz sambil mendengarkan dongeng Nenek Rukayah".
Pak Ahmad segera memeluk tubuh kecil Pardi. Rupanya Pardi merindukan sosok Nenek Rukayah yang saban malam datang mendongeng untuknya.
"Nenek Rukayah sedang pergi ke tempat yang sangat jauh nak. Dia sedang pergi ke rumah saudaranya. Mungkin seminggu lagi dia akan pulang dan mendongeng lagi untuk Pardi". Pak Ahmad mencoba menenangkan Pardi.
"Tapi belikan Pardi sosiz ya Yah. Pardi lapar".
"Kalau Pardi lapar Pardi makan saja. sudah sana duduk biar Ayah siapkan makanan". Kata Pak Ahmad. Tapi Pardi menggeleng dan mulai menangis. Ia hanya menginginkan sosiz bakar kesukaannya.
Merasa tidak bisa lagi membujuk Pardi, Pak Ahmad bangkit dan mengambil baju koko putih yang tergantung di tembok. Dikeluarkannya beberapa uang receh dari sakunya dan mulai menghitung.
"Tapi kalau Ayah pergi, nanti Pardi sama siapa di rumah". Bisik Pak Ahmad di telinga Pardi.
"Nenek Rukayah" Jawab Pardi singkat tanpa beban. Pak Ahmad memandang anaknya dengan tatapan berat. Dielusnya kepala Pardi lalu membaringkannya kembali di atas ranjangnya.
"Sambil menunggu Ayah, Pardi tidur dulu ya. Nanti kalau Ayah sudah pulang, Ayah akan bangunkan Pardi". Pardi mengangguk kecil dan terlihat berusaha memejamkan matanya.
Dengan berat hati Pak Ahmad keluar dari rumahnya. Ia mulai berlari-lari kecil menghindari genangan air di sepanjang jalan. Sesekali berhenti dan menoleh ke belakang. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyerbu hatinya saat ia sadar semakin jauh meninggalkan anaknya sendirian. Ia merasa harus kembali, tapi saat mengingat Pardi tak akan diam sebelum permintaannya dipenuhi, dengan berat hati ia kembali melangkahkan kakinya.Hingga di depan sebuah warung kecil di simpang jalan desa, Ia menghentikan langkahnya.
Suara dentang jam dinding telah menunjukkan pukul 10 malam. Hujan perlahan mulai reda. Pak Ahmad masih asik terbawa obrolan dengan beberapa pengunjung warung, sambil menunggu sosiz pesanan Pardi dibakar. Tidak ada tema lain dalam obrolan mereka, hanya seputar cuaca dan nasib padi yang mereka tanam. Hampir satu jam Pak Ahmad di sana hingga pemilik warung memberikan sosiz pesanannya.
"Anakmu siapa yang jaga Pak Memet". Tanya pemilik warung pada Pak Ahmad. Sontak Pak Ahmad kaget. Ia baru sadar telah meninggalkan anaknya begitu lama. Ia buru-buru memasukkan pesanannya ke dalam kresek hitam lalu berlarian menembus gelapnya malam.
Pak Ahmad menghentikan langkahnya tepat di pintu pagar pekarangan rumahnya. Ada sesuatu yang bergerak-gerak disalah satu dahan kering pohon jambu dekat dapur rumahnya. Pak Ahmad mendekat dan Pak Ahmad begitu kaget ketika seekor gagak hitam terbang ke atas atap rumah. Pak Ahmad mengusap-usap dadanya sambil berjalan memasuki rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Ia mendapati Pardi seperti sudah lelap dalam mimpi indahnya. Pak Ahmad meletakkan kresek berisi sosiz di atas sebuah nampan plastik. Setelah meneguk segelas air di atas meja, ia lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi.
Malam semakin beranjak larut. Suara sisa hujan di dedaunan sesekali terdengar terjatuh menimpa genangan air di kubangan samping rumah. Suara kodok dan melata malam terdengar bersahutan mengiringi perjalanan malam.
Pak Ahmad menguap. Kantuk yang mulai menggerayangi keawasan matanya memaksanya bangkit dan melangkah menuju tempat tidur. Hawa dingin begitu menusuk. Pak Ahmad meraih selimut di atas bantal lalu menyelubungi tubuhnya dan berbaring di dekat Pardi.
Mata Pak Ahmad yang telah sayu karena kantuk yang mendera tiba-tiba terbelalak.Jantungnya berdegup hebat. Nafasnya tertahan saat ia merasakan ada sesuatu yang aneh di tubuh Pardi. Sesuatu yang sangat dingin. Seperti sedang memegang balok es. Pak Ahmad melonjak bangun. Sejenak dipandanginya tubuh Pardi dalam kegelapan dengan rasa cemas dan was-was. Matanya awas seperti ikut menahan suara-suara yang akan menghalau apa yang kini berputar di kepalanya. Hingga kemudian ia bangkit dan segera menyalakan lampu teplok di dinding rumah.
Cahaya temaram lampu teplok perlahan mulai menerangi suasana gelap dalam rumah. Kini Pak Ahmad mematung menatap wajah Pardi yang tampak pucat. Perasaan takut dan cemas semakin menggerogoti ketenangannya.
Pak Ahmad dengan sekuat tenaga berusaha lebih mendekat ke arah Pardi. Sekali lagi ia mencoba menyentuh tubuh Pardi yang tampak bisu dengan mata setengah terbelalak dalam selimut tebalnya. Pak Ahmad menggelengkan kepalanya disertai desahan kecil dari tangis yang tertahan. Pak Ahmad luglai dalam duduknya. Urat-urat nadi dan jantungnya seperti akan menunggu waktu untuk meledak dan tercerai berai. Mulutnya menganga dengan tangis yang mulai terdengar pilu menatap langit-langit rumah.
Dengan tubuh yang lunglai Pak Ahmad mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa lemah sehingga tanpa disadarinya telah bersandar di tembok rumah. Ia terus menggeleng menampakkan ketidakterimaannya. Sesekali Ia mencoba menenangkan dirinya dengan gelengan kecil, bahwa apa yang dilihatnya bukan yang sebenarnya. Pardi anaknya memang sedang terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya.
Benar, anaknya benar-benar sedang tertidur pulas, sangat pulas. Besok pagi-pagi buta ia akan terbangun dan akan mendapati sosiz goreng kesukaannya tepat di samping ia tertidur. Dan besok ia akan mengajaknya ke sawah melihat padi-padinya yang telah menguning. Membuatkannya suling dari batang padi, dan kali ini pasti akan mendapatkan burung kutilang yang telah lama diincarnya.
Tiba-tiba Pak Ahmad tersenyum dan bangkit. Dia berfikir ada baiknya malam ini ia pergi memeriksa padi di sawahnya selagi hujan reda, dan selagi Pardi masih tertidur. Batin Pak Ahmad menghibur diri.
Pak Ahmadpun benar-benar melaksanakan niatnya. Setelah mengambil senternya, Ia pun segera bergegas keluar rumah.
Langkahnya ringan menyusuri jalan setapak yang gelap menuju sawahnya, hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di sawahnya.
Mata Pak Ahmad awas mengikuti kemana arah cahaya senter diarahkannya, menyusuri batang demi batang padi. Pak Ahmad meringis dengan sedikit senyum yang dipaksakan.
Kondisi buruk yang tersuguhkan di depan matanya kembali mengeruhkan pikiran Pak Ahmad yang kalut. Semua tentang kekacauan malam ini perlahan mulai merubahnya menjadi sosok Pak Ahmad yang berbeda.
Keyakinan yang ia buat-buat untuk menghibur hatinya tentang anaknya yang memang telah membeku menjadi mayat di atas tempat tidur akhirnya kandas juga. Anak itu benar-benar telah mati dan kini meninggalkannya sebatang kara. Tuhan telah mengambilnya dengan sewenang-wenang. Padi yang ia tanampun sudah roboh dan menyatu dengan tanah. Tak ada yang bisa ia dapatkan lagi dari sawah itu. Lantas apa gunanya lagi ia hidup jika harus sendiri.
Mata Pak Ahmad seperti bola api yang menyala di tengah gelap malam. Giginya mengatup satu sama lain, menggeretak keras menahan amarah yang memuncak. Ia kepalkan tangannya ke atas seperti sedang menantang.
"Setan apakah yang membuat nasibku semalang ini! Sekejam apakah Tuhan yang telah menjadikan takdirku seburuk ini! Dimanakah Tuhan yang katanya welas asih dan penyayang? Kenapa Dia seenaknya saja merampas segala-galanya dari hidupku.
Setan...! Anjing...! kembalikan anakku!Kembalikan semuanya! Kembalikan sebelum aku sendiri yang akan bertindak sebagai Tuhan. Kembalikan anakku kalau tidak ingin aku sendiri yang akan mengobrak-abrik kerajaan-Mu. Tuhan setan...! teriaknya lantang.
Hujan yang tadinya telah reda tiba-tiba kembali turun dengan derasnya. Begitupun dengan guntur yang menggelegar memekakkan telinga. Kilat menyambar-nyambar di langit.
Sebuah kilat seperti membelah langit menghantam tubuh Pak Ahmad, sehingga membuatnya terpelanting ke tengah sawah. Tak hanya itu, percikan kilat yang menyambar membakar batang-batang padi di tengah sawah, membuat Pak Ahmad berteriak kesakitan.
Keesokan harinya, Penduduk desa terkejut melihat potongan kepala tergeletak di tengah hamparan sisa-sisa padi yang terbakar. Walaupun kepala itu telah gosong, tapi penduduk segera mengenalinya. Dia adalah Pak Ahmad, biasa dipanggil Pak Memet, dan terkadang ada juga yang memanggilnya Pak Gajali.