Perbukitan Panah Hijau, 13 Maret 1995
Sore itu, seorang anak kecil bernama Clara tengah bermain masak-masakan dengan boneka favoritnya.
Itu adalah boneka beruang berwarna putih pemberian dari ayahnya saat ia ulang tahun ke- 6. Ia begitu menyayangi boneka itu seakan boneka itu benar-benar hidup.
Ditambah ia adalah anak tunggal, ia merasa boneka itu adalah teman yang selalu menemaninya dimanapun dan kapanpun. Ia akan menangis seharian bila boneka itu hilang dari pandangannya.
“Clara! Pulang, Nak! Hari sudah mulai gelap,” teriak ibunya Clara dari teras rumah.
Clara tidak begitu mendengarkan. Ia malah asik mengobrol dengan bonekanya, dan memberikan ‘teh’ kepada bonekanya.
“Beru, minum ya. Tehnya enak, loh!” ujar Clara dengan menirukan suara putri kerajaan yang sering ia lihat di acara teater mingguan di pasar.
Lalu Clara melihat ke arah pepohonan di depannya. Ia melihat sosok anak laki-laki seusianya melambaikan tangan ke arah Clara. Clara pun langsung bangkit.
“Hei! Sini kamu! Ayo main sini!” seru Clara.
Anak laki-laki itu hanya melambai tanpa menjawab apapun. Clara yang penasaran, langsung menggandeng bonekanya dan mendekati sosok tersebut.
“Clara! Jangan ke sana, Nak! Berhenti!”
Clara bukannya berhenti, malah semakin mempercepat langkahnya. Bonekanya sedikit terpental-pental.
“CLARA! KEMBALI!” Ibunya berteriak.
Clara sama sekali tidak menggubris. Hingga ia berhasil mendekati anak laki-laki tersebut.
Anak laki-laki itu diam menatap Clara. Wajahnya pucat, dan nafasnya sangat berat. Perlahan kabut tebal mulai mengelilinginya.
“Hai, kamu siapa? Ayo main di rumahku!” ujar Clara.
Namun anak laki-laki itu hanya diam. Matanya mulai melotot dan memerah.
“Berikan boneka itu!” serunya.
Clara pun ketakutan dan memeluk bonekanya.
“Jangan! Ini temanku! Dia tidak boleh pergi!” seru Clara.
Ia mulai memundurkan langkahnya.
Anak laki-laki itu semakin mendekat. Matanya sudah mengeluarkan sinar merah terang.
“Cepat berikan! Atau kau kubunuh!” serunya.
Clara pun berlari meninggalkan anak laki-laki tersebut. Namun sekitarnya berubah menjadi hutan belantara. Padahal tadi ia hanya mendekati pepohonan liar yang tumbuh di kebun Clara.
“Mama! Tolong aku!”
Clara pun terjatuh karena tersandung akar pohon yang besar. Anak laki-laki tadi langsung menangkap Clara dan mencoba menariknya.
“Lepaskan aku! Mama, tolong!” Teriakan Clara semakin menjadi.
“Tidak ada yang bisa menolongmu, Clara! Berikan bonekamu, cepat!”
Clara menangis histeris, “Tidak mau! Lepaskan aku!”
Clara pun didorong ke sebuah pohon besar. Anak lelaki itu pun mencekik leher Clara dengan kedua tangannya.
“Kalau kamu tidak mau memberikanku boneka itu, maka berikan nyawamu kepadaku!”
Clara pun semakin tidak bisa bernafas. Boneka itu akhirnya terlepas dari genggamannya, bersamaan dengan lepasnya nyawa Clara dari raganya.
***
15 Maret 1995
“Clara dimana, Pa!” Wanita yang merupakan ibu dari Clara itu terus menangis di pelukan suaminya.
“Aku sudah meminta pihak kepolisian untuk mencarinya, Ma. Tenang saja,” ujar suaminya.
“Clara masih kecil, Pa! Dia pasti ketakutan di sana!” Wanita itu semakin histeris.
Sudah tiga hari sejak menghilangnya Clara secara misterius. Dua hari pertama, hanya ditemukan baju dan sandal kecil berwarna merah muda milik Clara. Bajunya masih utuh, tidak robek sedikitpun. Itu menjadi kejanggalan pertama dari pihak kepolisian. Garis polisi dipasang seluas satu hektar kebun itu.
Tak lama kemudian, seorang polisi pun datang menghampiri mereka berdua. Polisi tersebut membawa boneka yang sudah kotor.
“Maaf, Tuan. Ini yang saya dapatkan di tempat kejadian perkara,” ujarnya sembari menyerahkan boneka tersebut.
“CLARA!” teriak ibu Clara sembari mengambil dan memeluk boneka kotor tersebut.
Pencarian pun terus dilakukan hingga seminggu lamanya.
***
Suatu malam, ibu Clara hanya terdiam di kursi tamu. Tatapannya kosong menghadap pintu depan. Matanya sudah membengkak. Ia kesulitan untuk menangis lagi.
Suaminya yang menyadari hal itu, langsung menepuk pelan wajah istrinya.
“Ma! Jangan terus-terusan seperti ini! Sadar Ma!”
Ibunya Clara hanya diam tak bergeming.
Tiba-tiba, tangannya pun terangkat dan menunjuk ke arah pintu depan yang terbuka.
“Clara! Itu Clara, Pa! Aku melihatnya!” serunya.
Suaminya langsung menggoyangkan tubuh ibunya Clara.
“Dia sudah dinyatakan meninggal, Ma! Sadarlah, Ma! Surat pernyataannya baru saja turun tadi sore!”
Ibu Clara tidak menggubris suaminya. Ia justru bangkit dan mengejar bayangan anaknya itu. Suaminya pun mengejar Ibu Clara, hingga mereka memasuki kebun yang menjadi jalan menuju dunia lain ; sebuah hutan berkabut.
“Clara! Pulang, Nak! Mama tidak akan memarahimu!” seru ibunya Clara.
Suaminya yang ada di belakangnya turut berhenti, dan memerhatikan sekitarnya. Jelas ia dan istrinya berada di tempat yang asing. Pepohonan tinggi menjulang, dan kabut putih tebal menyelimuti sekeliling mereka.
“Ini dimana?” gumam sang suami.
Ibunya Clara sepertinya tidak memerhatikan keadaan sekelilingnya yang berbeda. Dalam pikirannya hanya ingin bertemu Clara, anak semata wayang.
Beberapa menit kemudian, bayangan anak laki-laki yang pernah ditemui Clara muncul dihadapan mereka secar tiba-tiba.
“Mundur, Ma!” seru sang suami.
Bukannya mendengar seruan suaminya, ibu Clara malah mendekati anak laki-laki itu. Ia berpikir, bisa jadi ia menjadi petunjuk baginya.
“Nak, kamu tadi lihat anak perempuan seusiamu main ke sini?”
Anak laki-laki itu hanya diam. Tatapannya sangat tidak ramah.
Ibu Clara pun akhirnya menundukkan kepalanya untuk bertanya kembali.
“Nak, kamu …”
Crash! Wajah ibunya Clara langsung diserang oleh anak laki-laki misterius itu dengan sebilah benda tajam berukuran sedang di genggamannya.
Sang suami pun berlari sekencang kencangnya meninggalkan ibu Clara yang tengah dihabisi oleh anak laki-laki itu. Ia terus berlari mengikuti jalan hutan.
Namun ia malah berhenti di sebuah jurang dalam yang berjarak beberapa meter lagi dari hadapannya.
Di saat itu juga, si anak laki-laki misterius itu muncul di belakangnya. Benda tajam yang ia bawa sudah berlumuran cairan merah segar.
Beruntungnya, suami itu langsung berbalik arah membelakangi jurang.
“Nak, itu benda berbahaya. Letakkan benda itu ya, anak baik,” ujar sang suami dengan nada ketakutan.
Anak laki-laki itu semakin mendekat dengan senyuman jahat. Sedangkan sang suami mundur selangkah demi selangkah, hingga langkahnya terhenti di ujung jurang.
“Clara sangat pelit, tidak mau memberikan bonekanya padaku. Kalian juga harus turut membayar semuanya!” seru anak laki-laki itu seraya mengangkat benda tajam yang ia bawa.
Sang suami itu pasrah dengan apa yang akan terjadi, ia pun menutup matanya.
“Jangan sakiti Papaku, orang jahat!” Suara gadis kecil tiba-tiba menggema dari atas.
Sang suami pun terkejut, ia pun membuka matanya.
Keadaan langsung berubah total. Ia berada di kamar seorang diri. Ia langsung bangkit dan keluar dari kamarnya karena ia mendengar keramaian. Itu adalah para pelayat yang datang ke acara kematian ibu Clara, istrinya.
Pikirannya semakin kacau. Ia menjerit histeris sehingga beberapa pria memegangnya dan menenangkannya.
“Apa perlu dirukyah (pembacaan doa dalam agama Islam bagi orang yang terkena gangguan jin) lagi?” tanya seseorang yang memegang tangan kanannya.
“Ini kelihatannya tidak seperti tadi lagi, Pak. Dia sadar sepenuhnya,” timpal pria lain yang memegang tangan kirinya.
“Siapkan air, Bu Ijah! Buat papanya Clara,” seru pria lainnya.
Papa Clara hanya bisa menangis, dan berteriak histeris atas apa yang dia lihat saat ini. Betapa terpukulnya hatinya karena kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi ; istri dan anaknya.
***
30 tahun kemudian, di Fantury City
Gadis itu mengusap benda pipih di tangannya sembari menunggu kereta bawah tanah. Ia menggerutu sedari tadi, sebab harusnya teman-temannya sudah berkumpul di stasiun 007 tepat waktu.
“Ayolah! Keretanya 15 menit lagi, dan belum ada yang datang selain aku?” Gadis itu terus mengomel sembari memeriksa jam tangannya.
Ia mencoba menghubungi mereka dengan ponselnya, namun nihil. Panggilan selalu berakhir balasan otomatis bersuarakan wanita.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat melakukan panggilan.”
Gadis itu menekan kasar layar ponselnya. Lagi-lagi tidak aktif.
“Operator cerewet!” gerutunya.
Tidak lama kemudian, datang tiga orang yang menghampiri gadis tersebut. Mereka terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan. Salah satu laki-laki dari mereka bernama Frendi melambaikan tangan ke gadis itu.
“Hai, Arin! Maaf kami ter …”
Buk! Buku majalah yang ada di genggaman gadis itu sukses mendarat ke kepala Frendi. Gadis itu bernama Arin.
“Kenapa kalian bisa terlambat separah ini!?” seru Arin. Ia sudah nampak kesal dengan teman-temannya.
“Tadi kita kejebak macet, Rin. Dan supir truk si*l*n itu menyenggol mobil taxi kita,” jelas Kevin, temannya.
“Lalu, ponsel kalian kenapa mati? Aku menelfon kalian berkali-kali! Aku bosan dengan jawaban operator ‘Nomor yang anda tuju tidak aktif,’ terus menerus!” protes Arin sembari menirukan suara operator yang ia dengar.
“Kami sengaja menyetel mode pesawat, Arin. Niat kami untuk menghemat baterai,” balas Kevin.
“Sudah! Cukup! Kita akan bersenang-senang, teman-teman. Jangan ribut karena ini,” Rena akhirnya melerai.
“Lagian, Arin repot banget harus memarahi kita, dan tidak mendengarkan alasan kita,”
“Kevin!” seru Rena.
“Oke! Maafkan kami, Arin,” ujar Kevin lagi.
Arin hanya diam. Ia memang tidak menyukai keterlambatan. Namun, mau tidak mau, kali ini ia harus toleran.
“Baik. Lain kali kalau terjadi seperti ini, cepat kabar aku!” balas Arin.
Teman-teman Arin pun bernafas lega.
Tak lama kemudian, kereta yang dinantikan pun datang. Satu persatu orang bergantian masuk dan keluar gerbong. Mereka segera menempati kursi mereka masing-masing.
“Rin,” Rena yang bersebelahan dengan Arin mulai mengawali pembicaraan.
“Hm, ada apa?”
“Kamu, yakin dengan perkemahan kali ini? Perbukitan Panah Hijau, loh!”
Arin mengangguk dan memberikan brosur tempat tujuan mereka, “Tempat itu di sewa lebih murah dan pemandangannya juga indah dari yang lain.”
Rena pun membaca brosur itu, walaupun sebelumnya ia sudah pernah membacanya.
“Entahlah, Rin. Aku seperti tidak yakin dengan tempat itu.” Rena mengembalikan brosur itu kembali.
“Ck! Ayolah, kalian ingin berkemah dengan harga yang murah, bukan? Aku sudah mencari di setiap tempat yang sama murahnya dengan tempat ini. Tapi tidak ada. Aku juga punya paman yang menjadi tour guide di sana.”
Rena terdiam. Ia pun menatap ke jendela kota dan melihat pemandangan.
“Ren?”
“Iya?”
“Kau tidak keberatan, kan?”
Rena terdiam kembali. Pandangannya tidak beralih sedikitpun.
“Ren?”
“Aku tidak keberatan, Rin. Jangan khawatir,” balas Rena tanpa menoleh.
Arin hanya mengangguk, dan membiarkan rasa tidak enak di hatinya menghilang dalam perjalanan.
“Ada rumor yang mengatakan, perbukitan yang akan kita datangi punya sisi gelapnya, Rin. Makanya disewa lebih murah.” Rena kembali bersuara.
“Sisi gelap?” tanya Arin.
“Iya. Di sana banyak warga yang menghilang secara misterius. Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu penyebabnya.”
“Jadi, itu yang membuatmu ragu?”
Rena terdiam sesaat.
“Begitulah. Firasatku menghantui kepalaku sejak mendengar tempat itu. Setelah aku telusuri memang banyak hal ganjil di sana.”
Arin mengangguk. Ia mengalihkan pandangan ke kursi Kevin dan Frendi berada. Mereka malah asik bermain dengan gadget mereka masing-masing.
“Kita bisa …”
“Tidak perlu, Rin. Tidak usah dibatalkan.” Rena akhirnya menoleh ke Arin.
“T-Tapi, Ren, kau …”
“Aku akan mengikuti kalian. Kita harus bersama, ingat?”
Arin tersenyum dengan keputusan Rena, “Kau serius mau ikut? Aku siap untuk memesan tiket untukmu.”
Rena menggeleng, “Tidak, Arin. Kau sudah berusaha. Mana mungkin aku mengecewakan teman terbaikku ini?”
Rena dan Arin pun saling berpelukan. Frendi dan Kevin yang menyaksikannya, hanya bisa terdiam.
“Vin, cewek kalo pelukan aman, ya? Coba kita yang pelukan,” bisik Frendi.
“Loe mau?” Kevin pun tertawa lepas.
Frendi pun menepuk bahu Kevin dengan keras, “Ngawur, loe!”
***