"Aldi... Bisa kita bicara?" ucap Maya dengan wajah berseri-seri.
Ia kini berada di sebuah taman.
"Ya. Bicara saja." ucap Aldi dengan wajah datar.
Di mata Maya, Aldi terlihat cool dan tampan. Ia sangat terpesona berkali-kali melihat Aldi.
"Emm... A-ku.. emm, aku sudah lama mau bicara sama kamu. Sebenarnya sudah lama aku suka sama kamu. Kamu suka gak sama aku?" ucap Maya memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Aldi, setelah sekian lama ia memendamnya.
Walaupun ada perasaan malu di hatinya, tapi ia telah bertekad.
"Deg." dalam hati Aldi.
"Gila ni cewek. Kenapa coba harus ngomong gitu. Gimana jawabnya nih ?" ucap Aldi dalam hati.
Aldi pun terdiam beberapa saat.
"Gimana di?" tanya Maya.
"Duh, maaf ya Maya. Lebih baik kamu cari cowok lain aja yang lebih baik dari aku." ucap Aldi.
Ia menolak dengan halus.
Dengan polosnya Maya kembali bertanya.
"Loh, kenapa? Aku kan sukanya sama kamu ?" ucap Maya dengan wajah sendu.
"Gak tega sih sebenarnya lihat Maya. Tapi gue gak suka sama Lo Maya. Yasudah lah, terpaksa gue ngomong daripada dia berharap terus sama gue." ucap Aldi dalam hati.
"Maaf Maya. Aku gak suka sama kamu." ucap Aldi memperjelas.
"Deg." Hati Mata sakit bagaikan di tusuk ribuan jarum.
Matanya berkaca-kaca.
"Tapi Aldi.." ucap Maya dengan suara tercekat.
"May, sekali lagi maaf. Tapi aku gak bisa." ucap Aldi.
Aldi pun berbalik pergi dari hadapan Maya.
Sedangkan Maya menangis terisak-isak, dadanya terasa sesak. Hatinya sakit ketika Aldi menolaknya. Padahal ia sudah memprediksi kemungkinan Aldi menolaknya.
Tapi tetap saja, ia merasa sakit teramat dalam. Ia pun pulang dengan keadaan kacau.
Sesampainya di kamar, ia menangis pilu, bahkan berteriak. Berjam-jam ia menangisi Aldi. Ia begitu lama menyukai Aldi, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu, lebih tepatnya sejak pertama kali Maya melihat Aldi.
Selama 2 tahun ia memendam perasaannya, dan selama itu pula ia berusaha merangsek masuk ke dalam hati Aldi.
Harusnya Maya sadar dari dulu. Bahwa Aldi tak akan menerimanya. Dimulai dari chat yang jarang di balas padahal pada teman yang lainnya selalu di balas.
Dengan akun media sosial yang di blokir beberapa kali. Sampai Maya membuat akun baru dan kembali menghubungi Aldi.
Ia menanyakan kenapa akunnya di blokir, Aldi bilang tidak sengaja ke pencet. Dan dengan bodoh dan polosnya, Maya percaya dengan kata-kata tidak sengaja itu.
Ternyata benar, cinta itu bisa membuat mu bodoh.
Malam itu Maya menangis terisak-isak di kamarnya yang ditinggali dengan 2 orang temannya.
Kedua temannya saling melirik.
Mereka pun memeluk Maya dan menepuk-nepuk nya sebentar. Lalu membiarkannya tenang terlebih dahulu.
Setelah beberapa jam, akhirnya Maya pun berhenti menangis.
Luna bertanya.
"Maya kamu kenapa menangis ?" ucap Luna.
"Aku ditolak sama Aldi." ucap Maya masih dengan meneteskan air mata tapi tidak separah sebelumnya.
"Hah, serius? Memangnya kamu menyatakan perasaan kamu ke si Aldi itu?" ucap Luna dan Hana.
"Hemm." ucap Maya mengangguk.
"Uhh, sabar ya. Jahat banget sih Aldi. Emang dasar ya." ucap Hana dan memeluk Maya.
"Iya, bukan salah Aldi kok kalau dia gak suka sama aku. Cinta memang gak bisa dipaksakan. Tapi, aku cuma sakit hati aja kok saat ini. Aku gak nyalahin dia. Memang akunya aja yang keterlaluan main hati." ucap Maya sambil menangis.
"Hemm, sabar ya." ucap Luna dan Hana.
"Hemm." ucap Maya dengan suara tenggorokan tercekik.
Setelah lelah menangis ia pun tertidur dengan lelap. Wajahnya bengkak karena menangis, matanya perih dan panas.
Jam 2 pagi ia pun pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Di ruang tv ia masih melihat Luna belum tidur dan sedang berbicara via handphone dengan suara kecil.
Maya pun lewat dan masuk toilet.
Setelah ia selesai menggunakan toilet, ia pun masuk kembali ke dalam kamar melalui ruang tv.
Samar-samar ia mendengar Luna berbicara dengan seorang pria.
"Nelpon siapa Lun?" tanyaku pada Luna.
"Temen." ucapnya.
Aku pun mengangguk.
Aku mendengar nya ia berbicara "Di Di Di" beberapa kali.
"Luna kamu mencurigakan sekali. Kamu pasti sedang bicara dengan Aldi di handphone. Sedang apa? membicarakan ku ? atau kamu ada apa-apa sama Aldi?" ucap ku dalam hati.
Air mata pun kembali menetes dari mataku.
Darimana Maya bisa menebak siapa pria yang berbicara dengan Luna ?
Itu karena ia tahu siapa saja kontak di handphone Luna. Mereka bertiga berteman dekat dan satu kamar. Dan tidak ada privasi tentang handphone masing-masing.
"Luna memang cantik. Tidak seperti aku yang buruk rupa." ucap Maya dalam hati dengan sedih.
Maya merasa di khianati oleh Luna.
Tapi ia tidak berhak marah kan?
Siapa Maya? bukan siapa-siapa Aldi.
Beberapa waktu berlalu ia kini sudah mulai melupakan Aldi.
Ia juga tahu Aldi masih sering kontek dengan Hana dan Luna. Dan lebih intens dengan Luna lebih tepatnya.
Tapi Maya sudah tidak peduli.
Ia kini menerima siapapun pria yang mengajaknya berpacaran. Dalam seminggu bisa sampai 4 kali gonta-ganti pacar.
Ia pun memposting nya di akun sosial medianya. Hanya untuk membuat Aldi menyesal saja.
Tapi, Aldi tidak merespon apa pun. Hanya melihatnya saja.
Dengan di lihat oleh Aldi pun Maya sedikit merasa senang.
"Huh, dasar Maya bodoh. Sudah lupakan Aldi, ia memang tidak ada perasaan untuk mu." ucap Maya ketika Aldi tak meresponnya.
Hingga 6 bulan berlalu, Maya sedikit-sedikit melupakan Aldi.
Ia pun kembali bertemu dengan Aldi di suatu tempat teman-temannya berkumpul.
Maya, Luna, Hana lewat di hadapan Aldi dan Yudi. Yudi pun menyapa.
"Hi, girls. Gak salaman dulu nih, main lewat aja." ucap Yudi. Hana dan Luna pun tersenyum dan menyalami Aldi dan Yudi.
Maya yang dibelakang Hana pun tidak terlalu terlihat.
"Maya sini lah." ucap Yudi tersenyum.
Yudi ialah teman Aldi. Ia tampan dan ramah. Sayangnya ia sudah memiliki kekasih.
Dengan malu-malu Maya pun keluar dari belakang Hana.
"Halo." ucap Maya tersenyum ramah.
Ia pun mengulurkan tangannya pada Yudi.
"Wow. Maya, pangling sekarang ya. Makin langsing. hehe." ucap Yudi.
Ia sedikit wow dengan perubahan berat badanku.
Ya, memang ku akui. Berat badan ku sedikit berkurang karena pola makan yang lebih sedikit karena terlalu lelah dengan pekerjaan sampai lupa makan.
"Hem, hanya sedikit, hehe." ucap ku tersenyum.
Aldi yang berada di sebelah Yudi pun memandangiku dengan terpesona.
Terlihat dari matanya yang melihatku lama tanpa berkedip .
Maya pun merasa puas di dalam hatinya. Kini ia sudah move on dari Aldi, dan BB yang turun membuat perut buncitnya menjadi rata.
"Apa kabar, Maya?" ucap Aldi ramah. Tidak datar seperti biasa beberapa bulan lalu.
"Yah. Jauh lebih baik." ucap Maya tersenyum manis.
"Kita duluan ya, daa ... " ucap Maya tersenyum manis. Tak terlihat ada raut kesedihan di wajahnya.
"Cantik." ucap Aldi dalam hati. Dengan mata yang terus memandang kepergian Maya.
"Jangan nyesel, bro." ucap Yudi menepuk bahu Aldi.
"Apaan sih Lo. Kagak." ucap Aldi terciduk.
*selesai*